Senja 15 tahun lalu

Amalia Nur Cahyani
Karya Amalia Nur Cahyani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 April 2016
Senja 15 tahun lalu

SENJA 15 TAHUN LALU
Oleh: Amalia Nur Cahyani

“Hey,, ,nglamun aja!!!” terdengar suara Dilla dari dalam rumah membangunkanku dari lamunanku di teras rumahnya.
“Dilla..haduhh..apa kabar kamu???” Aku segera bangkit menyalaminya. memeluknya sambil cipika cipiki seperti anak perempuan umuMnya.
“Alhamdulillah baik,,,ihh,,,gila yaaa kamu,,masih aja kayak 15 tahun lalu, rambut kriwil itu makin tambah kriwil aja, ni kaca mata juga makin tebel aja, apa kabar juga kamu?” canda Dilla sambil mencubit lenganku dengan geregetan
“hehehe,,iya doonkk,,ini rambut kriwil keramat tau’!!! Alhamdulillah baik juga,,Gimana kabar Bapak Ibu kamu?? Nggak berasa yak udah 15 tahun aja aku nggak kesini..Nggak ada perubahan yang berarti sama rumahmu ini. Ini cat teras rumah tahan seumur hidup yak? Perasaan kok sama aja sama 15 tahun lalu..nih pot-pot bunga juga masiih aja betah ditaruh di sudut tangga, kamu juga kok tetep aja ceking kayak 15 tahun lalu hahaha” tawa kerinduan selama 15 tahun kami meledak dalam tempo yang bersamaan
“Ahh..sialan kamu..Aku udah dari sononya ceking,,mau Aku makanin nasi sebakul tiap hari tetep aja segini,,,cacingan barangkali yaa aku hehe. Kabar Bapak Ibu baik, mereka sering tu nanyain kamu, gila,,15 tahunan kamu nggak pernah nongol lagi kesini,,biasanya tiap hari nongkrong juga disini,,gelantungan kayak monyet di pohon jambu ” jawab Dilla ikut menimpali candaanku
“haha,,lho iya..mana pohon jambu merahku,,kok nggak ada??” tanyaku
“mati. Merana dia kamu tinggal pergi gitu aja,,udah nggak ada yang gelantungan lagi tiap hari ngajakin maen,,nggak ada yang nyayang-nyayang, diciumi, diajak ngobrol kayak orang sinting”
“hahaha,,ohh,,pohon jambu merahku,,maafkan daku sayaaang” ekspresiku seolah-olah menyesal udah ninggalin si pohon jambu kesayangaku itu.
Aku dan Dilla tenggelam dalam nostalgia masa kecil kami 15 tahun lalu. Begitu banyak hal seru yang tak bisa kami lupakan. Tentang kenakalan-kenakalan dan tingkah konyol kami 15 tahun lalu. Tentang imajinasi kami setelah membaca cerita pendek tentang ikan ajaib yang bisa ngomong yang akhirnya membuat kami percaya begitu saja dan akhirnya memancing ikan di parit samping sekolah dengan benang jahit yang kami beli di warung dekat rumahku. Konyol sekali bukan? Dilla adalah temanku sejak Aku TK hingga sekarang. Kami tak memiliki ikatan saudara sama sekali, tapi Aku menganggapnya sudah seperti keluarga sendiri. Adakalanya kami juga marahan karena beberapa hal kecil, tapi itu tak lama, barangkali tidak ada 24 jam kami sudah baikan kembali, lalu kami berdua ketawa-ketiwi cengengesan di atas pohon jambu kesayangan kami yang letaknya di depan rumah Dilla, dekat badug sebelah kiri teras rumahnya yang memudahkan kami untuk memanjat pohon jambu itu. Pohon jambu rumah Dilla kami anggap sebagai markas kami. Begitu imajinasi kami tentang rumah pohon para kurcaci di cerita-cerita fiksi yang kami baca dari majalah Bobo di masa kecil kami dulu.
Jarum jam sudah menunjuk ke angka 4 dan 6. Tepatnya pukul 16:30 WIB. Tak terasa hampir 1 jam Aku dan Dilla bernostalgia tentang masa kecil kami, kerinduan kami silam 15 tahun ini serasa tidak bisa dibendung lagi. Hingga akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Dilla
“kamu yakin siap buat kesana???”
Aku mengangguk dengan tatapan kosong kearah halaman rumah Dilla. Antara siap dan tidak siap. Antara benci, takut, sedih, tapi rindu yang sangat dalam. Beberapa hari sebelumnya Aku memang sudah menghubungi Dilla jika Aku ingin pulang ke tempat tinggal masa kecilku. Dan salah satunya ke tempat itu. Ujung jalan setapak yang menanjak, pohon asam jawa, dan senja itu.
***
Semburat senja di ufuk barat selalu memberikan keindahan tersendiri bagiku. Degradasi warna antara merah dan orange serta guratan samar-samar warna gelap di sekelilingnya menjadikannya nampak anggun dan indah serta menentramkan. Duduk di ujung jalan setapak yang menanjak ini, di bawah pohon asam jawa ini membawaku kembali pada kenangan teridahku semasa kecil bersama Bapak. Mungkin ini satu-satunya kenangan terindah yang kuingat bersama Bapak, bersama senja sore.
Kurasa tak pernah ada yang berubah dengan senja itu. Dari dulu, masa kecilku hingga aku kini sebagai manusia yang aku pikir dewasa. Senja itu tetap sama. Selalu membuatku terkagum oleh keanggunannya. Sama ketika pertama kalinya dalam hidupku aku diperkenalkan denganmu, semburat senja sore.
“Mego”, begitulah dulu pertama kali Bapak menunjukkan dirimu padaku. Kala itu aku tak mempermasalahkan apakah namamu mego ataupun senja karena pikiranku masih terlalu sibuk dengan dunia anak-anak dan untuk pertanyaan apakah langit indah sore itu bernama senja atau mego tak terbesit sedikitpun dalam otakku. Yang ku rasa hanyalah rasa takjub. Seindah masa itu. Masa aku kecil bersama Bapak dan senja sore. Sungguh bahagia.

Aku sengaja untuk datang lagi di tempat ini. Setelah 15 tahun aku sempat berusaha untuk menghapus kenangan tempat ini. Sama halnya usahaku untuk menghapuskan kenangan dan senjaku bersama Bapak. Tak ada yang berubah. Senja di ujung jalan setapak ini masih sama seperti 15 tahun lalu. Pematang sawah yang terhampar luas dihiasi burung-burung Blekok yang ada di berbagai sudut sawah. Anak-anak kecil yang ceria bersama layang-layang yang membumbung ke angkasa. Ujung jalan setapak yang menanjak ini. Dan pohon asam Jawa ini. Nampak tak jauh berbeda dengan dulu. Hanya saja, kini terlihat pohon Asam Jawa itu tak nampak tak segagah seperti 15 tahun lalu ketika aku berada di bawahnya bersama Bapak untuk menikmati senja. Ia tampak merana. Seolah ia juga merasakan derita batinku sejak 15 tahun silam, sakit dan merana. Tak nampak 1 helai pun daun yang menghinggapinya, meranggas, pun juga sedikit ranting yang tersisa. Yang terlihat hanyalah rumah-rumah keluarga Rayap yang hidup bahagia dengan menggerogoti perlahan kehidupan pohon Asam Jawa ku bersama Bapak dan senja kami.
***
“creeeng..”
15 tahun lalu ku dengar suara benda pecah dari dalam rumah. Segera saja kucari sumber bunyi itu. Aku tak menemukannya. Yang aku temukan hanya Ibu yang tengah menangis tak bersuara seorang diri di ruang makan. Tak ada siapa-siapa selain Ibu. Kulihat hanya ada pecahan vas bunga dan gelas berserakan di depan almari ruang tengah. Tak tega untuk sekedar bertanya, Aku langsung menghampiriny dan kupeluk Ibuku yang masih berderai air mata. Tapi aku tetap memilih untuk diam. Tidak bertanya apa hal yang telah terjadi. Aku tahu pertanyaanku nanti bisa jadi akan semakin menambah air mata Ibu berderai lebih banyak. Dan aku juga tahu, kalau pun Aku bertanya Ibu tak akan memberitahuku. Ibu selalu berusaha tampak kuat dan tegar dihadapnku. Seolah sedang tak terjadi apa-apa dalam keluarga kecilku 15 tahun lalu.
Semenjak kejadian siang itu, semalam tak kulihat Bapak di rumah. Ibu pun juga lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, entah apa yang dilakukan. Aku tak tahu. Aku lebih memilih diam dan mengahabiskan malam ini dengan menyelesaiakan PR sekolahku dan segera bergegas tidur. Tapi sayangnya kantuk tak kunjung datang menghampiriku. Aku hanya terdiam sendiri sampai tengah malam. Sendiri dalam kamar bersama langit-langit kamar yang gelap karena hanya sedikit sinar yang merambahnya. Boneka anjing pemberian Bapak, rak-rak buku di samping ranjag tidur,coretan-coretan gambarku yang melekat di dinding dekat pintu, mereka semua seperti ikut berpikir keras tentang kejadian tadi siang. Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Ibu dan Bapak???
Ditengah ketermenunganku di malam yang larut dan penuh tanya tiba-tiba ku dengar suara pintu terbuka. Memang ada 2 pintu di rumahku yang mengeluarkan suara “ ngiiikkk…” ketika ada orang membuka atau menutupnya. Entah apa penyebabnya Aku masih berpikir itu tak penting bagiku. Aku segera meloncat panik dari tempat tidurku. Khawatir jika ternyata maling yang masuk kerumahku tengah malam begini, apalagi Bapak juga sedang tidak di rumah. Bisa saja maling itu dengan mudah menyakitiku dan Ibu. Dengan perasaan was-was dan jantung yang berdegup tak karuan seperti saat pertama kali Aku mengikuti lomba cerdas cermat se-kecamatan. Lebih dari itu bahkan pikirku. Aku pikir sesaat aliran darah berhenti beberapa detik tak memasuki serambi dan bilik jantungku hingga rasanya Aku lemas. saking takutnya untuk sekedar mengintip siapa yang masuk rumah tengah malam begini. Perlahan mulai ku intip dari lubang kunci pintu yang kecil nampak seorang lelaki sedang merebahkan tubuhnya di kursi yang tepat berada di depan kamarku. Kamarku memang terletak di depan ruang tamu yang ada kursi panjang tepat menghadap ke kamarku. Dengan jantung yang masih berdegup kencang kucoba untuk mengatur kembali nafasku yang sempat hilang beberapa detik. Sosok laki-laki itu Aku mengenalnya, ternyata Bapak. Hatiku sedikit tenang dan segera kurebahkan kembali tubuhku ke kasur. Kembali mencoba berbincang dengan langit-langit kamar yang daritadi ku hamburi banyak pertanyaan dari pikiranku. Namun dia tetap diam. Dan Aku kembali melayang-layang dalam pertanyaanku atas apa yang sedang terjadi dengan Ibu Bapakku dan Aku tak pernah mendapatkan jawabannya.
***
Sejak 15 tahun lalu aku tetap memilih banyak diam. Tak bertanya apapun meskipun sebenarnya Aku sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak sampai hati untuk menghamburkan berbagai pertanyaanku kepada Ibu. Hingga pada akhirnya secara perlahan dan pasti waktu selama 15 tahun ini dengan sakit menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ku tanyakan pada langit-langit kamarku setiap malam. Pada almari tua disudut kiri kamarku. Perlahan Aku tahu. Dan Aku juga merasakan apa yang mungkin sedang dirasakan oleh Ibu. Tak seperih perasaan Ibu mungkin, tapi itu sangat melukaiku. Aku merasa sakit. Dan luka itu masih membekas meskipun telah lebih se-dasawarsa berlalu.
Sudah tak terhitung berapa kali dalam 15 tahun ini aku mencoba untuk berdamai dengan luka ini. Aku merasa lelah, sangat lelah dan tersiksa. Namun lagi-lagi aku gagal untuk mengalahkannya. Semakin kucoba untuk mengalahkannya semakin Aku kalah. Sama halnya dengan senja. Aku tak akan pernah bisa menhilangkannya. Karena itu adalah bagian dari hidupku, hidup Bapak, dan hidup semua Makhluk Tuhan. Tak akan bisa hilang, karena itu adalah Kuasa Tuhan. Sama halnya dengan lukaku ini, bagian hidupku. Tak akan bisa hilang kecuali saat hidupku benar-benar hilang. Kembali pada-Nya. Sama halnya Ibuku kembali pada-Nya.
***
Dilla menepuk pundakku. Seolah dia bisa membaca pikiranku yang sedang menatap nanar kearah senja dan mengingat kembali cerita 15 tahun lalu.
“Aku rindu keluargaku. Rindu Bapak, Ibu” kataku lirih
Dilla tak berkata apapun bahkan kini ia ikut menatap kosong kerah semburat senja itu.
“Bagaimana kabar bapakmu sekarang?”
“entah!!” ku jawab singkat
Sejak ia tertangkap dan mendekam di bui tak sekali pun Aku menjenguknya. Sebenarnya aku sangat rindu. Tapi bertemu dengan Bapak setelah kejadian itu sama saja Aku menikamkan pisau ke jantungku sendiri. Mematikanku seketika. Hukuman seumur hidup itu setimpal menurutku untuk Bapak atas semua kekejiannya. Atas kematian Ibu yang tragis dan juga bekas luka di hati ini. Bekas luka yang sulit terhapus dan bahkan tak kan bisa terhapus.
Entahlah,,,setan apa yang merasuki Bapakku. Dia yang dulu baik, penuh perhatian kepadaku dan Ibu, yang sangat mencintai keluarganya berubah 360 derajat semenjak bersama wanita itu. Aku membenci wanita itu. Sangat benci. Wanita asing yang menghancurkan kebahagiaan keluargaku dalam sekejap mata, wanita asing yang membuat bapak dengan sadis melukai kami, Aku dan Ibu hingga akhirnya Ibu berakhir dengan kejam di tangan laki-laki yang sangat dicintainya itu.
“hmmm…” ku tarik nafas dalam-dalam dan memjamkan mataku. Mencoba menata kembali puing-puing hati dan kehidupanku yang bercerai berai selama 15 tahun ini. Mencoba mengobati kembali luka batin 15 tahun lalu yang perlahan menggerogoti hati, pikiran, dan kesenangan hidupku yang indah. Belajar dan terus belajar untuk mengikhlaskan. Mengembalikan dan menyerahkannya kembali pada-Nya. Tentang apa yang telah terjadi dalam hidupku adalah ketetapannya. Sama halnya Dia menetapkan senja indah 15 tahun lalu tetap indah sampai sekarang. Meskipun berbalut gelap di sekelilingnya itu semakin menambah keindahannya.

SELESAIJ


  • Ujank Ahmad Solihin  
    Ujank Ahmad Solihin  
    1 tahun yang lalu.
    lebih dari seutas makna yang hadir dari goresannya ... SSS Saya Suka Sekali

    Saya dapat kosakata baru pula ni "Semburat"
    hmmm pengen tahu sekali.
    Goresan karya itu lebih terasa dengan balutan bahasa-bahasa yang tak biasa kita gunakan dalam percakapan sehiggga yang membacanya juga bisa membawa makna.

    Kembali mencoba "berbincang dengan langit-langit kamar" yang daritadi ku hamburi banyak pertanyaan dari pikiranku. = Kental sekali penggunaan majas perbandingannya

    Salam Inspirasi

    • Lihat 3 Respon

  • Nugroho Tri Wibowo
    Nugroho Tri Wibowo
    1 tahun yang lalu.
    Disuka deh, bagus