Dunia kita sama

Ahmad Bawazier
Karya Ahmad Bawazier Kategori Motivasi
dipublikasikan 26 Januari 2016
Dunia kita sama

Duniaku, Duniamu

(International day of person with disabilities)

?

Seorang anak terduduk di pojok kelas. Sulit menggambarkan apa yang dia rasa ketika yang lain berlomba menunjukkan diri "ini aku". Berusaha tertawa atau tersenyum jika yang lain tertawa atau tersenyum. Matanya mengitari seluruh siswa peserta orientasi sekolah yang memenuhi dua kelas yang dinding tengahnya terbuka menjadi aula. Dia, hanya diam atau ?berbagi sedikit kata dengan orang di dekatnya ?mungkin teman di sekolah lamanya?. Ekspresi wajahnya tak mudah untuk ditebak.

?

Ada rasa yang lain menyelinap di dada banyak anak lainnya, ketika panitia acara membuka berbungkus nasi ?dengan rasa aneh karena banyak campuran dari tiap bungkus nasi lain yang berbeda dari setiap anak dengan wadah agak besar. Memulainya dari anak di pojok belakang, menyuruhnya mengaduk dengan "jemarinya", memakan beberapa suap untuk kemudian mengelilingi anak lainnya setiap perbaris agar memakannya juga. Ya, setumpuk nasi campur yang diaduk "jemari" seorang anak di pojok belkang. Rasa itu berubah ?tak perlu disebutkan bukan? Semua harus makan.

?

???

?

Namanya Zane, kecelakaan bertahun lalu mengubah kondisi fisiknya. Saat terjadi kerusuhan antar warga di salahsatu pusat pasar daerah sebuah bom rakitan berdaya ledak rendah menimbulkan kebakaran. Zane malang, dirinya menjadi sasaran kobaran api yang menjilat hampir seluruh bagian luar tubuhnya. Zane divonis mengalami cacat permanen dari hampir seluruh bagian tubuhnya yang terbakar, meski beberapa kali melakukan operasi tak terlalu berpengaruh sedikitpun. Meski awalnya berat menerima kenyataan bahwa kini dia berbeda, ada semangat lain yang tumbuh begitu cepat, kepercayaan dirinya tak sulit untuk dibangun. Semua karena semangat jiwa, dukungan keluarga dan lingkungannya. Nampaknya kondisi sosial desa lebih bersahabat bagi Zane seorang yang mengalami disabilitis. Zane sangatlah beruntung, Mengingat kondisi masyarakat dalam memperlalukan difabel berbeda-beda ?antara desa dan kota terdapat perbedaan sikap yang sangat mencolok dalam hal perlakuan, ada yang bersifat apatis tidak memperdulikan bahkan menganggap difabel itu tidak ada ?hanya memperdulikan diri mereka sendiri, ada juga yang bersifat sebagai pemberdaya, yaitu mereka yang senantiasa memberdayakan kaum difabel agar dapat melakukan berbagai hal yang seharusnya mereka dapatkan. Hak-hak yang ?telah dipatenkan dalam Undang-Undang difabel pasal 6 berbunyi: ?? kesamaan kesempatan bagi penyandang cacat dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan dilaksanakan melalui penyediaan aksesibilitas ?? . Aksesibilitas dan kesempatan bagi difabel sangatlah luas cakupan nya, tidak hanya sekedar fasilitas umum saja. Namun, sikap masyarakat terhadap difabel sendiri merupakan syarat mutlak perwujudan keadilan pemberdayaan dan pemberian hak-hak yang sama terhadap kaum difabel. Mereka sama-sama memilki hak dan kewajiban, yakni hak untuk mendapatkan pendidikan yang setara dan sama rata, Tidak ada pengecualian. Kewajiban untuk dapat hidup mandiri, berkarya dan menjalankan rutinitas sebagaimana mestinya tanpa dicemooh, dihujat bahkan dikasihani. Ya, itu merupakan pembunuhan mental yang perlahan namun dalam tusukan nya.

?

Fasilitas umum secara keseluruhan belum optimal, meskipun sebagian telah memenuhi kriteria aksesibilitas maximal yang tidak berat sebelah antara difabel dan non difabel . Pernah suatu hari aku menjumpai seorang penyandang tuna netra yang pemberani, beliau memberanikan diri menaiki bus meskipun ?aku tahu, itu sulit dan aku pun mendapati nya langsung. Seorang ibu yang duduk di sebelahku berbisik ?? bapak itu kan sudah bolak-balik duakali ?kasihan, saya sebenarnya iba, namun saya takut dia hanya memanfaatkan ketidakmampuan nya untuk menipu ??. Luarbiasa. Inilah fenomena dan penerimaan masyarakat terhadap kaum difabel. Pemerintah masih perlu menata dan memperbaiki sarana yang maximal seperti keterjangkauan fasilitis, baik untuk difabel ataupun non difabel. Menyediakan perangkat yang bersifat verbal (dapat didengar), visual (dapat dilihat) atau tanda-tanda yang dapat dirasa dan diraba agar kemandirian kaum difabel dapat dirasa tepat dan aman terutama nyaman bagi keseluruhan. Hal ini meliputi berbagai fasilitas seperti escalator landai, jalanan, transportasi, toilet, tempat-tempat rekreasi, kesehatan dan pendidikan. Jika hambatan pembangunan aksesibilitas yang berkeadilan terhambat karena masalah dana. Maka, sebenarnya pemerintah dapat meng optimalkan dan mensiasati nya dengan cara membangun satu fasilitas yang dapat digunakan bersama dan tidak ada fasilitas yang benar-benar dikhususkan bagi difabel saja, melainkan aman bagi kaum difabel dan nyaman bagi kaum non difabel.

?

Mengenal Zane lebih dekat ketika masa pertengahan SMA. Meski pertama kali melihatnya tak berempati, tapi Zane berbeda di posisinya sebagai difabel. Ada kepercayaan diri luar biasa di setiap aktivitas Zane ?seperti, atau memang percaya diri itu sudah terbangun telah lama. Zane mampu mengubah respon orang-orang di sekitarnya. Sikap Zane yang humble dan periang memikat siapapun untuk berkawan dengannya ?termasuk aku?.

?

Zane tak pernah mendapat perlakuan berbeda dari teman-teman di sekolah atau dari guru-gurunya. Jika pun ada, hanya olok-olok tak berarti yang tak perlu Zane tanggapi, olokan kecil dari anak "lorong" di sekolah. Zane mungkin tak berprestasi secara akademik, tapi hobinya bisa menjadi satu kebanggan tersendiri. Meski agak menyeramkan, Zane lihai meng-gedor gas motor di track lurus sepi dengan kecepatan tinggi ?ini menyebalkan?, selain itu kesukaannya adalah memetik senar gitar dengan lagu mendayu dan menggocek si bundar di lapangan futsal. Sebenarnya kembali kepada penyandang disabilitas itu sendiri, seberapa tangkas dia mengenal dan memahami dunia disamping dukungan sarana dan prasarana serta sikap penerimaan di masyarakat untuk menciptakan keserasian dan ketentraman dalam meniti indahnya kebersamaan dan dunia penuh cinta, saling rasa, tenggang rasa, dan saling berpegang kuat satu sama lain.

?

Zane, penyandang disabilitis di sekolahku, tetap bersemangat, berkarya dengan apa yang ia bisa dan percaya diri yang diharap tak pernah padam.

?

???

?

Tentang orang-orang dengan kebutuhan khusus membuatku mengingat sebuah lagu milik musisi kenamaan, Sami Yusuf. Beberapa lagunyanya bertemakan humanity cukup menyentuh siapa saja yang mendengarkannya. Salahsatu yang berkesan adalah lagu berjudul "Forgotten Promise". Meski lagu tersebut diperuntukkan atas tragedi kemanusiaan di Afrika, dimana pangan yang kurang menjadi penyebab ribuan anak-anak benua hitam menderita gizi buruk. Namun pesan dalam lagu begitu universal, bahwa sejatinya manusia sebagai makhluk sosial sudah terikat dengan janji untuk saling membantu mengulur tangan pada setiap kekurang yang ada pada manusia lainnya. Janji yang secara naluri terbentuk dengan sendiri, meski mungkin tanpa ikrar yang nyata. Inilah yang disebut panggilan jiwa.

?

Di sebuah pohon rindang berdaun keemasan,

Tiga burung berbulu perak bertautan,

Dua ekor di ranting serupa bercengkraman,

Satu ekor di ranting berbeda merintih tertahan.

?

Tiga tatapan bermuara dalam satu pusat

Dua ?tsaling bertatap dan melesat

Satu menatap dan terkulai dalam semilir,

Kaki nya terluka tergores runcing nya takdir.

Tangan. Siapa bilang burung tak ber tangan?

Paruh adalah tangan nya.

?

Satu ekor terbaring haru.

Dua ekor terbang haru.

Bertemu. Dihampiri,

Dua paruh memberi makanan

Satu paruh ?menerima makanan

Seperti itulah seharusnya kita hidup.

?

Dari estimasi penduduk bumi 6,4 miliyar jiwa pada 2004 data yang didapat dari Global Burden of Dease bahwa sekitar 1 miliyaran lainnya adalah penyandang disabilitis atau dengan klasifikasi 978 juta jiwa penyandang disabilitis sedang hingga parah dan 185 juta lainnya mengalami disabilitis parah. Artinya 1 miliyar dari 6,4 miliyar jiwa adalah orang-orang yang membutuhkan perhatian khusus, respon yang sesuai dengan keadaan mereka. Respon baik yang sesuai dengan kondisi para penyandang disabilitis-lah yang dibutuhkan hadir di tengah-tengah setiap bangsa. Respon yang hadir sebagai implementasi dari panggilan jiwa sebagai makhluk sosial, meski mungkin tanpa konvensi-konvensi yang diadakan seharusnya janji-janji sosial itu tercipta. Zane adalah satu dari sedikit kaum difabel yang beruntung dengan lingkungannya. Tapi di luar sana, di belahan sudut bumi yang lain, masih ada penyandang disaibilitis mengalami krisis jiwa karena kurangnya respon dari setiap individu dalam kelompok masyarakat (society) bahkan karena itu luput dari perhatian pemerintah, nasib mereka bisa ditebak.

?

Para penyandang disabilitis umumnya memiliki kejiwaan yang sama dengan perkembangannya yang sama pula. Mereka memulianya dari tingkatan terendah, dimana krisis kejiwaan yaitu penolakan terhadap kondisi yang ada, hal ini adalah masa tersulit yang dialami kaum difabel. Kemudian fase selanjutnya adalah masa membangun kepercayaan diri yang juga bukan hal yang mudah, banyak yang harus dilewati dan dilawan. Yang terakhir adalah dimana mereka keluar dari krisis kejiwaan, saat kepercayaan diri dan semangat berbuat lebih baik terbentuk dalam diri mereka, mulai menerima.

?

Semua proses yang dialami orang-orang dengan kebutuhan khusus tidak bisa mereka lewati dengan sendiri. Maka dibutuhkan respon juga dari individu, kelompok masyarakat juga pemerintah. Respon individual salahsatunya dengan berempati secara pribadi terhadap kaum difabel dengan berkawan atau ikut membangun kepercayaan diri lewat bantuan-bantuan sang bersifat pembelajaran. Tak begitu jauh dengan respon individu, dimana kelompok masyarakat juga menjadi penentu keberhasilan penyandang disabilitis untuk bisa keluar dari krisis kejiwaan. Karena lingkungan masyarakat yang memiliki nuansa sosial dan mudah menerima merupakan tempat yang baik bagi kaum difabel untuk berkembang. Dan sudah tentu respon individu atau masyarakat terhadap penyandang disabilitis akan bisa berjalan baik dan terarah jika Pemerintah ikut berperan memberi kewenangannya, dengan memberikan pelayanan yang sesuai bagi kaum difabel; baik layanan publik dan kaitannya dengan kewarganegaraannya atau lainnya. Pengadaan program-progam penyedia solusi bagi masalah kaum difabel melalui acuan perundang-undangan atau lembaga.

?

Mereka adalah saudara kita, mereka sama, hanya saja Tuhan memberi menampakkan hal yang terlihat sebagai kekurangan di atas banyak kelebihan yang mereka miliki. Dan kita adalah gambaran sebaliknya, Tuhan menampakkan kelebihan dan menyembunyikan kekurangan ?yang sejatinya ada. Maka inilah saatnya menunaikan janji kita yang hampir terlupa di setiap tahunnya andai tak ada satu hari yang mengingatkan tentang mereka.

?

Ulasan sederhana ini, hanya satu dari banyak pengingat tentang janji sosial kita sebagai manusia.

?

  • view 154