Puisi dari Negeri yang dirampas

Ahmad Bawazier
Karya Ahmad Bawazier Kategori Puisi
dipublikasikan 23 Januari 2016
Puisi dari Negeri yang dirampas

"Menulis?adalah sebuah keberanian"
?Pramoediya Ananta Toer?

Bismillah
Mengawali trilogi seri jihad "Hijratuna"
Judul pertama "Gelanggang Syahid di Persada Nusantara"

Sebuah puisi dari Negeri yang dirampas

Hari ini aku melihat
Mataku terlampau terbelalak
Berpeluh tangis dan lebam
Memerah membara

Asa melepas meleluasa
Melangit meninggi mengaroma
Melesat melampaui mimpi para durjana
Tentang sepotong tanah diantara bentang-bentang bumi
Tentang sepenggal langit dari selakasa langit semesta

Di sana, di bumi para Nabi
Bumi pijakan para Syuhada
Tempat Mujahid menyongsong fajar dan senja
Sebuah penantian atas dua pilihan suci
Kemenangan atau kematian

Di sana, jasad-jasad tanpa kepala
Tubuh-tubuh tak bertangan tak berkaki
Badan penuh luka berbias wajah pucat berseri
Sedang wewangi darah membubuh semangat para pembela

Kata mereka,
Pelangi kami mungkin hanya dua warna
Menggurat di biru lelangit
Atau melukis malam-malam hari
Warna panas mengapi juga legam asap pembakaran

Ini nikmat, saudaraku
Sebuah jalan dipijak berkeping-keping hati
Melawat bukit-bukit terjal
Pun safana rumput nan melapang
Beriring bau mesiu,
Ritme dentuman mortar,
Rentetan peluru yang terbuang,
Diselimut riuh teriak takbir
Takbir, entak penghabisan atau kemenangan

...

"Bismillah, akan ku semai ini di Nusantara"
Lirihnya dalam hati

???
To be continue

  • view 185