Menggelora Cinta di Ranah Dakwah

Ahmad Bawazier
Karya Ahmad Bawazier Kategori Motivasi
dipublikasikan 23 Januari 2016
Menggelora Cinta di Ranah Dakwah

MENGGELORA CINTA DI RANAH DAKWAH (AFB)

Tergelitk ketika membaca sebuah artikel di sebuah majalah lama dengan judul ?Ekspresi Cinta Aktivis Dakwah? untuk melanjutkannya dalam pembahasan santai-sesantai al?a soup chiken. Bicara ?cinta? tak pernah bisa lepas dari nuansa romantisme yang berkaitan erat dengan ?sang hati?, dimana hati merupakan sumber segala bentuk ?kehalusan? dalam bentuk rasa. Sebagaimana Syaikh Yahya ibn Hamzah Al-Yamani dalam kitab kontemporernya mengenai pembahasan pelatihan jiwa. Nama hati menunjukan realitas yang lembut dan bersifat ketuhanan (lathifah ilahiyyah). Lathifah ini adalah hakikat manusia ialah yang dititah, dituntut, diberi pahala dan dihukum. Jika bicara ?cinta? pada keumumannya akan menemukan realitas berbeda yang sebenarnya jauh dari keterkaitannya dengan hati. Kalaupun ada, itu sifatnya hanya ?selewat-sesaat?. Ia lebih berupa nafsu yang implikasinya jika tak dibarengi dengan pembinaan robbani akan terkena satu hakikat (dari beberapa hakikat lathifah yang disebut di atas) bahwa ia hanya akan mendapat hukuman karenanya. Berbeda halnya, bicara cinta dengan variasi warna yang semuanya terbimbing oleh spiritualitas (keagamaan), ya.. inilah dimana perasaan cinta dalam diri manusia ?terhadap manusia yang lainnya? hadir dan menjadi bagian yang mewarnai pentas perjuangan dakwah para aktivisnya.
Pamor para aktivis dakwah telah menggeliat dari era 80-an ketika pemikiran-pemikiran islam yang lebih (dinilai) ?segar-muda? mulai menjalar di berbagai perguran tinggi nusantara. Tulisan-tulisan Muhammad Abduh, Mawlana Maududi dengan gaya reformis islamnya menuju pemurnian agama dengan tanpa menolak gagasan dan banyak ide baru. Bertambah militan dengan tersebar juga risalah milik Imam As-Syahid Hasan Al-Banna dalam ?Memoar?-nya juga Ma?alim Fii Thariq, Fi Zhilalil Qur?an oleh As-Syahid Sayyid Quthb. Para aktivis dakwah tersebar memenuhi kota-kota metropolitan yang hedonis untuk menyampaikan pesan-pesan moral dengan gaya ?anak muda? yang lebih bisa diterima. Terorganisir dalam beberapa harakah dakwah dengan warnanya masing-masing. Mengemban tugas dakwah yang merupakan warisan para nabi. Dakwah adalah sebuah kerja berat yang membutuhkan, menguras segala potensi yang ada. Ia bertumpu pada ilmu yang dimiliki, ruhani yang sentiasa tersirami energi robbani dan jasad yang dituntut kuat agar segala aktivitas dakwah dapat dijalani dengan se-enerjik mungkin=hasil yang optimal.


Amal Dakwah

Dalam dunia dakwah dan para aktivisnya, berdakwah secara infiradhi adalah kewajiban bagi masing-masing person. Ia akan memulainya dari diri sendiri ?Ibda? bi nafsik?, memperbaiki segala kekurangan yang ada pada diri, mempertahankan hasil dari perbaikan untuk kemudian menjadi teladan, terutama setelah itu seorang aktivis dakwah memulai dakwahnya kepada keluarga sebagai mad?u di tahap awal yang ini merupakan implementasi dari firman Allah Swt.

?Dan berilah peringatan kerabat-kerabatmu yang terdekat? (QS. As-Syu?araa : 214)

Dan selanjutnya kiprahnya akan lebih luas, yaitu menjadi role model bagi masyarakat. Dalam menjalankan aktivitas dakwah di masyarakat seorang aktivis dakwah membutuhkan kerja keras dalam dakwahnya, karena yang ia hadapi bukanlah orang-orang yang otomatis mengenalnya yang besar potensi menerima apa yang ia sampaikan. Tapi ia akan berhadapan dengan banyak orang dengan berbagai karakter yang mesti dibenahi. Maka jika sendiri tak mampu menjalankan terbiyahnya pada masyarakat, dalam sebuah harakah dakwah akan ada sebuah kerja sama dengan yang lainnya, artinya bersama dalam menyampaikan gagasan-gagasan dan dalam pembinaan (?Amal Jama?i) sehingga sesuatu yang terkadang sulit untuk dihadapi menjadi lebih ringan jika dijalani bersama. ?Amal jama?i ini akan dikerjakan bersama kawan seperjuangan dalam dakwah, tujuannya selain untuk meringankan beban dakwah yang ada pada personal aktivis dakwah adalah juga untuk mengeratkan ukhuwah antara sesama kader dakwah.
Amal dakwah yang dilakukan bersama memiliki banyak potensi untuk meng-goal-kan harapan-harapan yang telah menjadi cita-cita pada sebuah harakah dakwah. Namun kiranya seorang atau sekelompok kawan biasa dalam kerja jama?ah kadang tak terlalu menggedor semangat yang ada, atau masih kurang bisa mensinergikan potensi. Karena kita tahu, aktivis dakwah bukanlah seperti malaikat yang mampu mengerjakan sendiri apa-apa yang dititah Rabb-nya, atau jika iya, ia lebih bisa disebut seperti seekor kuda pacuan yang dalam sebuah arena ?balap kuda? sang doki mesti terus memecutnya agar tetap berlari kencang. Aktivis dakwah juga ?bukan seperti sebagian orang bilang? bahwa mereka hanya sibuk mengurusi urusan dakwah; pergerakan, kaderisasi dan aktivitas sosial. Seolah mereka menutup diri dari banyak hal yang berkenaan dengan fitrah kemanusiaannya. Mereka tetap manusia yang butuh akan nutrisi-nutrisi manusiawi yang dipasok dari luar dan dalam, yang terkadang kebutuhan itu mesti dihadirkan agar kewajiban serta tugas-tugasnya sebagai manusia biasa (disamping sebagai seorang special pengemban dakwah) dapat terpenuhi dengan baik.
Kita mengenal sebuah pribahasa dari perbendaharaan lama yang menggaung ke seluruh penjuru dunia,

?Di balik lelaki hebat, ada perempuan yang berjasa?.

Mari mengambil contoh dari orang-orang sukses terdahulu yang salahsatu penggedor dalam kerjanya adalah para wanita yang hadir dalam kehidupan mereka. Seorang pengemban misi dakwah terberat, Rasulullah Al-Musthafa Saw mungkin beliau akan kebingungan dan sakau berkepanjangan ketika menerima wahyu pertama yang dibawa Jibril as. padanya jika tak ada selimut tebal dan pelukan hangat serta ucapan penenang dari wanita se-kharismatik bernama Khadijah. Khadijah dengan menawan-lembut menghangatkannya berucap.

?Tidak sama sekali, Dia (Tuhan) tidak akan menghinamu selamanya, engkau adalah orang yang selalu menyambung silaturahmi, membawakan (makanan) dan membantu yang lemah, menghormati tamu dan menolong dalam kebaikan?

Tidak lain, ucapan Khadijah pada diri Rasulullah yang sedang sakau itu merupakan suntikan nutrisi pembangkit kesadarannya. Hingga beliau terbangun dan memulai jalan dakwahnya dari ini. Apa yang terjadi jika waktu itu tak ada Khadijah dengan kasih sayangnya sebagai seorang teman ?sehati?? Akankah Muhammad terbangun dan berdakwah dan digelari Allah sebagai rasul-Nya? Akankah risalah wahyu Allah tersampaikan kepada umat manusia? Jika saja ?perempuan luar biasa? itu tak ada. Tapi Allah telah mengaturnya sedemikian sempurna sebagai percontohan untuk manusia menyelami fitrahnya.

?Dan diciptakan manusia itu lemah? (QS. An-Nisaa : 28)

Jika Muhammad di-suport dengan kelembutan Khadijah di awal gerbang dakwahnya. Lain hal dengan Hamka seorang ulama besar nusantara pemikir kelas atas dan mufasir handal di era pergolakan Indonesia, meski Hamka adalah ?pendakwah ulung?, istrinya hanyalah tukang masak biasa. Pernah sekali ketika Hamka diundang untuk berceramah, istri beliau juga diminta maju kedepan untuk memberi sepatah-dua patah kata. Anggapan orang ?istri penceramah, pun pandai berceramah?. Tapi apa yang terjadi, setelah sang istri naik-berdiri di podium, ia hanya berkata, ?Saya hanya tukang masak bagi seorang penceramah?. Ya, hanya pelayan yang kebetulan diikat dalam hubungan suami-istri, namun setidaknya Hamka pun bisa berjasa dan menghasilkan banyak gagasan dengan karena ?merasa? kenyang, nikmat dan terpasok gizinya dengan masakan yang dibuat oleh istri beliau. Dan banyak lagi yang mereka berhasil meraih kesuksesan oleh karena salahsatunya di kehidupan mereka ada perempuan-perempuan agung. Syaikh Umar Tilmisani sampai pula masih merasa tersinergikan yang hadir dalam bentuk kesetiaan meski istrinya telah lama wafat.

Tentang peran perempuan bagi seseorang, Umar bin Al-Khattab pernah bertutur, ?Jadilah bocah di depan istrimu, namun jadilah lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu?.
Perkataan Umar menunjukkan betapa besar pengaruh yang perempuan berikan bagi lelaki, dimana kekuatan yang berasal dari syahwat menjadi pendorong terbesar untuk hadirnya hasil yang maksimal dalam amal. Meminjam apa yang ditulis Anis Matta dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia, bahwa syahwat besar kepada perempuan memang banyak ditemukan di kalangan para pahlawan di medan perang dan politik. Syahwat besar itu berguna mengimbangi kekuatan lain yang sangat dahsyat dalam diri mereka; kekuatan amarah (al-quwwah al-ghodhobiyyah). Kekuatan terakhir inilah yang memberikan energi dan gairah untuk menghadapi risiko, meremehkan musuh, mengalahkan ketakutan kepada kematian, dan menikmati ketegangan jangka panjang.

Merah Jambu Arena Dakwah

Kalau di atas sudah berbelit dengan sedikit teori ?dakwah harakah?, sekarang mari masuki dunia yang agak nyata dengan bahasan berbahasa santai ?sebenarnya?. Bicara cinta yang ada di kalangan orang-orang biasa, itu hal yang biasa juga. Tak jauh dari istilah pacaran yang diisi dengan nge-date? bareng; dinner, lunch break time, shopping, nonton atau bahkan yang lebih parah chek-in di hotel. Begitulah, tak jauh ujungnya akan terjerumus pada maksiat kepada Allah=ZINA. Siapa yang meragukan betapa besarnya dosa yang ditanggung karena zina?

Diantara banyaknya syubhat cinta yang menjerumuskan ternyata masih ada ?tradisi? percintaan yang lebih sopan dan jauh dari nuansa perzinahan. Ya.. inilah yang menjadi sorot utama kita, ?Tradisi percintaan aktivis dakwah?. Di dalamnya terdapat keunikan-keunikan tersendiri, kisah-kisah yang romantisnya itu betulan tak dibikin melankolik namun dibungkus oleh kesadaran spiritual alias agamis. Tapi bukan juga agama dijadikan kedok untuk bermaksiat seperti juga menjerumuskan sebagian dari saudara kita yang katanya aktivis dakwah, ternyata jatuh juga dalam lubang ?buaya?, pacaran. Dengan di-embel-embel-i ?Pacaran Islami?. Lalu sperti apa sebenarnya ?Tradisi percintaan aktivis dakwah??

Aktivis dakhwah bercinta? Bisa saja, dan sangat mungkin, karena cinta tak berbatas kalangan atau kelompok tertentu. Semuanya bisa merasakan bunga-bunga cinta, tak terkecuali satu-pun. Malah kalau mau kita telusuri, perjalanan cinta para aktivis dakwah lebih romantis ketimbang cara bercintanya kalangan yang lain. Dalam tradisi percintaan mereka tak bisa lepas dari dua kata kunci yang nantinya berkaitan..?Dari kesabaran panjang, akan ada buah yang membahagiakan?. Kisah cinta mereka begitu detail dan teratur. Lebih bisa dicermati jika mengurai perjalanan panjang aktivis dakwah dalam bercinta, ini dia..

Jalan ini

Pemuda, adalah sumber semangat yang tak pernah padam yang mampu melangit luaskan berbagai macam gagas-pikiran. Maka itu tak heran jika kebanyakan pegiat harakah dakwah adalah orang-orang muda yang masih terasa membara. Ketika aturan dalam sebuah lingkup kerja ada dan dirasa mendukung, mereka sigap mentaatinya, namun ada kalanya jiwa memberontak itu hadir manakala ada yang dirasa ?tak bisa tidak? mesti diperbaiki, tak tanggung dengan segala daya mereka akan merubahnya. Tak peduli apa dan sebanyak apa yang dihadapi, intinya mereka ingin berbuat yang terbaik. Jika mau melihat nyatanya, laman-laman maya penuh bertebaran dengan banyak gagasan-ide dari banyak anak muda yang tergabung di berbagai kelompok pergerakan (islam), lebih dari itu ketika ada hal yang menggugah akan didapati jalanan penuh dengan konvoi beribu-ribu manusia menyuarakan kencang orasi mereka. Isinya tak lain sebagian besar mereka adalah pemuda. Sungguh mengagumkan; yang ada pada mereka adalah semangat yang tak terbantahkan. Inilah yang dihasilkan, ketika semangat pemuda dibimbing dalam bimbingan robbani, akan tercipta kader-kader militan. Halaqah-halaqah tarbiyah yang diadakan harakah dakwah islam memang betul pengaruhnya, dari murobbi-murobbi yang ada mendidik para pemuda dan menanamkan agar islam benar-benar menjadi pedoman dari segala aspek kehidupan. Mulai dari mu?as-sasah dakwah, muamalah hingga sistem pemerintahan. Para aktivis dakwah akan berbuat apa-pun; meluangkan waktu, menyisihkan tenaga juga materi demi mendapatkan tarbiyah terbaik warisan para nabi. Walau badai menghadang! (Kata Andra ?n The Backbond )

Dari apa yang didapat dalam halaqah, seorang aktivis dakwah akan tenggelam dalam renungan panjang tafakur dan tadarrus. Jika sudah betul ia pahami apa yang disampaikan murobbinya, tak tunggu waktu, ada atau tak ada tugas dalam kelompok, karena merasa hal tersebut adalah kewajiban, segera ia akan menyampaikannya kepada target dakwah. Dengan tujuan, agal apa yang ia terima, segera diamalkan bukan hanya oleh dirinya seorang, tapi saudaranya yang lain. Tentu sesama muslim.
Aktivis muda yang terlampau semangat, kadang juga akan menemukan masalah-masalah yang harus dihadapi dan diselesaikan, baik dalam lingkup kelompoknya atau dengan yang lainnya. Bisa saja, masalah itu datang dari diri sendiri atau kawan seperjuangan atau juga dari masyarakat yang enggan menerima apa yang di-dakwah-kan. Seperti telah disebut di atas, aktivis dakwah butuh bukan sekedar kawan seperjuangan biasa. Jika ia adalah lelaki, maka kawan itu adalah yang mampu melembutkan pikiran serta gerak-nya. Jika ia sebaliknya, maka sang kawan adalah yang menguatkan batin-perasaanya.

Dan kau hadir

Kawan biasa, sudah biasa. Jika halaqah atau diskusi pun tiada yang berbeda. Tidak monoton memang, tapi rasanya masih kurang dinamis. Begitu katanya. Maka mulai, ketika sampai waktunya ada keinginan untuk ?apa yang orang bilang? merasakan cinta. Aktivis dakwah akan mencari kawan ?sehati? yang mampu menggedor lebih semangatnya, disela sibuknya aktivitas dakwah. Menginginkan kawan se-ideal mungkin, satu harakah atau satu visi-misi setidaknya, sama-sama aktivis dakwah. Mencari-cari di sudut-sudut kampus ?bidadari? itu, atau barangkali bisa menemukannya di berbagai event dakwah. Atau jika serius, akan tanya sang murobbi, ?adakah yang cocok untuk ana, ustadz??. Ini baru awal pencarian, romantis bukan?

Waktu berlalu, dari hari ke hari, minggu ke minggu atau bisa jadi bulan ke bulan. Seorang kawan menyela di obrolan santai, ?Akhi, ini barangkali antum berminat... ana ada teman akhwat yang sedang cari pendamping?. Inilah saat-saat yang begitu membahagiakan ?meski belum seberapa? apa yang dicari dan dinanti datang juga, kesempatan yang ?gampang-gampang sulit? sebenarnya untuk didapatkan. Tapi begitulah Allah Maha menetapkan dengan segala kesempurnaan penetapan, akhirnya cita-cita menyempurnakan separuh agama serta mencari suporter? ?sehati? pun diberikan-Nya juga. Rezeki memang tak kemana. Tapi sebelum melangkah lebih jauh, masih banyak proses yang juga yang harus dilewati, bisa saja proses itu mudah atau sebaliknya, proses yang menentukan langkah berikutnya kelak. Perasaan campur aduk hadir ketika itu, dimana; bahagia, karena calon sudah ada, bingung, menghadapi proses selanjutnya bahkan takut, memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi tak diinginkan. Tapi siapa yang mau berkepanjangan dalam perasaan resah jika ia percaya bahwa Allah akan memudahkan jalan hamba-Nya. Dengan menyongsong pagi, sang aktivis dakwah itu memulai langkahnya dengan ?Bismillah?, semua akan dihadapi, apa-pun yang terjadi. Jika benar ?si dia? adalah jodohnya.

Panas dingin step-1 to step-2

Ini tahap awal dari beberapa tahap kedepan saat memulai. Tapi belum apa-apa, demam sudah menjalar. Bisa dimaklum, pemuda yang aktiv di lingkungan dakwah akan merasakannya. Yap.. panas dingin saat ta?aruf dengan calon yang ditawarkan sudah biasa, karena menghadapi lawan jenis bukan termasuk kebiasaan dengan frekuensi sering dalam aktivitas kesehariaannya. Di kampus, ketika yang lain asik bercengkrama tanpa batas dengan lawan jenis, aktivis dakwah malah sibuk menulis atau membaca buku. Di kafe, ketika orang-orang makan berdua dengan lawan jenisnya yang bisa dipastikan mereka bukan mahrom, aktivis dakwah hanya makan sendiri ditemani laptop atau android dengan ?play mode on-murotal atau kajian? plus headset jadi hiasan telinga. Maka sekali lagi, wajar jika di momen ini ketika waktunya berhadapan dengan perempuan, sang aktivis pun keok. Bukannya banyak kata memperkenalkan diri ?mungkin saking terpesonanya? dia hanya manggut-manggut atau jawab simple, ?iya?. Sekalipun bertanya, tak lain hanya sebuah copy?-paste dari pertanyaan lawan. Betul memang, butuh kesabaran, butuh mental kuat menghadapi tahap demi tahap yang ditawarkan dalam menjalani proses pendapatan cinta sebenarnya. Ini jika sang calon meminta langsung mendatanginya ?tentu dengan ditemani orang tua perempuan atau mahrom?, bagaimana kalau diminta menemui dulu murobbinya? Bayangkan apa saja pertanyaan pamungkas murobbi sang calon. ?Antum liqo? dimana??, ?Berapa juz antum hafal Al-Qur?an... coba lanjutkan ayat ini atau baca surat anu??, ?Bisa bahasa arab??, ?Kitab atau risalah apa dan siapa saja yang antum pernah baca dan tamatkan??. Wah.. pusing rasanya. Belum apa-apa sudah K.O.
Jika dalam ta?aruf ada kecocokan dan si perempuan ok!, step berikutnya adalah khitbah. Sebenarnya masalah meng-khitbah tak menjadi keharusan, toh Al-Qur?an hanya membolehkannya tanpa memerintah atau melarang. Jika sudah cocok keduanya-siap, tinggal tentukan hari pernikahan. Maka saat-saat ini pula, banyak-banyaklah berdoa dan tawakkal kepada Allah. ?Jika memang dia jodohku, maka dekatkanlah hatiku dan hatinya. Jika dia bukan jodohku, maka kuatkanlah aku dengan ketetapan-Mu?. Di awal pencarian sudah terbukti romantis, dan sekarang terbukti pula di tahap setelah pencarian bertambah romantismenya. Tak peduli berapa lama ta?aruf yang dijalani, ta?aruf dalam waktu singkat namun memuaskan tentu lebih baik.

Pesta Percintaan

Alhamdulillah Terlewati. Meski harus berpeluh dalam menjalaninya, tahap di awal yang melelahkan berlalu juga. Tinggal satu langkah lagi untuk memulai hidup baru dan semangat baru; wedding. Bagi aktivis dakwah pernikahan merupakan momen yang benar-benar harus menjadi satu bentuk ibadah. Pernikahan erat kaitannya dengan syari?at, tak boleh ternodai oleh hal-hal yang merusak ibadah ini. Baik dalam bentuk maksiat perorangan atau kolektif. Maka itu, pernikahan bagi pegiat dakwah dirancang sedemikian rupa agar memenuhi sunnah-sunnah Rasul, dijauhakan dari segala bentuk hiburan yang melalaikan. Kalaupun ada sedikit penyeling, hanya diisi dengan nasyid-nasyid? bahagia layaknya di hari ?Ied. Mempelai laki-laki dan perempuan akan ada di tempat yang berbeda. Namun keduanya memiliki rasa yang sama, ?mendebarkan?. Sang aktivis dakwah yang dinobat sebagai ?pangeran? di hari itu akan berada di banyak kerumunan saksi yang siap mengucap do?a kebaikan untuk mereka. berprilaku setenang mungkin agar prosesi ijab qobul lancar dijalani. Seraya berucap dihadapan wali, ?Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan?. Sempurna sudah kebahagiaannya.
Ucapan syukur dari sepasang pasutri baru tak henti mengalir. Kadang, air mata bahagia pun jadi warna di part bahagia itu. Do?a kebaikan mengalir dari setiap orang yang hadir atau yang hanya mendo?akan dari jauh. Barakallahu lakuma wa baraka ?alaikuma wa jama?a baina kuma fii khoir. Romantisme lebih terasa lagi di saat itu, saat dimana satu untuk yang lainnya telah halal sebagai sepasang suami-istri.

Perahu kecil di dermaga

Kalau diperhatikan dari sub judul ?Merah Jambu di Arena Dakwah? plotnya bisa dikata cepat. Setiap poin dari sub judul yang dijabarkan hanya memuat 200 sampai 300 kata saja. Tidak menuliskan detail tentang hubungan percintaan yang muluk-muluk. Inilah yang dimaksud, sudah maklum dalam tradisi percintaan aktivis dakwah jauh dari istilah ?perjalanan panjang bercinta? sebelum menikah. Karena semuanya akan lebih berarti dan terasa dijalani setelah menikah; tak ada pacaran, sebelum menikah. Artinya tak ada istilah jalan bareng, nge-date? atau yang lainnya yang dilakukan berdua kecuali setelah menikah. Inilah garis besar dari ?tradisi? bercintanya para aktivis dakwah. Semuanya karena setiap dari mereka memegang teguh bahwa prinsip mempertahankan keyakinan serta menjunjung aturan agama adalah sebuah keharusan. Jika sudah begitu, semua yang hendak dilakukan akan ditimbang sesuai ajaran agama.
Selanjutnya adalah babak baru dimana keduanya menjalani hidup berdua. Sepasang pasutri itu berharap kebaikan dalam segala relung kehidupan mereka, sebagai implementasi dari do?a barakah yang diucapkan saat awal pernikahan. Beraharap keberkahan atas segala kebaikan yang ada pada kehidupan mereka; barakallahu laka, juga berharap keberkahan itu datang dari segala kepiluan serta kesedihan yang mungkin sesekali menjadi bumbu rumahtangga; wa baraka ?alaika, juga dengannya senantiasa memohon agar ditetapkan ketaatan keduanya pada Allah dan selanjutnya wa jama?a bainakuma fii khoir; agar terhimpun segala kebaikan itu pada keduanya selalu. Jikalah pernikahan yang dijalani ini dipersepsikan sakinah, mawaddah warahmah maka Imam Ibnu Katsir memaknai lii taskuni ilaiha ?dengan empat makna; lita?ifu biha, lita?tafu ma?aha, li tamilu ilaiha dan li tatmiu biha. Ialah lita?tafu ilaiha, menikah idealnya bagi seorang muslim yang taat akan menempatkan pada posisi menjaga kesucian diri masing-masing pasangan, untuk tidak kemudian terjatuh pada perbuatan dosa dan maksiat. Hal ini merupakan pondasi awal pernikahan. Yang selanjutnya akan menyiratkan lita?tafu ma?aha, mengikatkan diri dengan-nya. Menumbuhkan sikap saling menjaga antara dua orang yang diikat dalam hubungan rumahtangga. Keduanya tidak akan melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan sebagai bentuk kewajiban kepada selain dari masing-masing; tidak mengumbar syahwat kepada selain suami atau istrinya. Kemudian li tamilu ilaiha, agar memiliki kecenderungan kepada-nya (rumahtangga) dan apa yang menjadi bagian daripadanya; kecenderungan yang syar?i terhadap istri atau suami, anak dan bahkan keluarga masing-masing. Ini merupakan tarbiyah bagi diri seseorang yang diikat dalam pernikahan untuk tidak tumbuh padanya ke-egoisan. Yang terakhir dalam memaknai sakinah ini adalah diharapkan akan hadirnya sebuah ketenteraman yang dinamis, bukan ketentraman posesif. Ketenteraman yang dirasakan oleh semua anggota rumahtangga dan tidak mengekang, bukan malah sebaliknya. Ketentraman posesif, contoh; suami jadi berat untuk pergi jihad karena terlalu mencintai istrinya atau istri menjadi ragu untuk menyempurnakan syari?at karena suami menuntut untuk tetap tampil modis tanpa memperhatikan batasan syar?i. Dan itulah makna sakinah yang termaksud untuk memaknai sebuah pernikahan. Hal tersebut yang harusnya tertanam atau menjadi konsep dalam kerangka rumahtangga aktivis dakwah serta kaum muslim lainnya. Terlebih sepasang pasutri itu adalah insan-insan yang mendedikasikan diri untuk dakwah, maka mawaddah menjadi sesuatu yang menggelorakan masing-masingnya untuk berprestasi demi terwujudnya maslahat diri, keluarga dan masyarakat. Dengan ini tentu dapat lebih lagi memaslahatkan dakwah. Karena bersatunya dua insan yang cita-citanya sama tertuju di jalan Allah akan mampu mensinergikan kekuatan dakwah itu sendiri. Ditambah dengan hikmah yang merupakan buah dari rahmat Allah ?warahmatuhu?, sebagai bentuk aplikasi dari sifat penyayang Allah Swt menjadikan setiap apa yang dilakukan terasa lebih halus namun berarti atau bahkan lebih dari berarti, yaitu berkesan.
Pada kesimpulannya, rumahtangga yang dibangun oleh aktivis dakwah seyogyanya tak pernah lepas dari pundi-pundi tarbiyah yang telah ada dalam halaqah-halaqah dakwah. Apa-pun yang dilakukan oleh keduanya selalu terbimbing oleh ketentuan-ketentuan syar?i. Masing-masing akan saling mendukung dalam kebaikan yang menjadi cita-cita bersama. Jika saja salahsatu dari keduanya mengalami ke-futur-an, maka salahsatu itu pun jadilah penumbuh semangat, suporter yang lebih ramai dan lebih menggedor lagi daripada suporter sepakbola. Andaikata masalah datang, maka menghadapinya dengan berdua meski berpeluh dan berdarah-darah akan lebih terasa hasil indahnya kelak. Karena semua itu; keterikatan yang kuat dan teratur antara keduanya merupakan penyiram dari tumbuhnya bunga-bunga cinta. Cinta yang luarbiasa, cinta yang mensinergikan potensi untuk terpancarkannya agama Allah. (*)