Bayi Seperempat Pekan

Bayi Seperempat Pekan

Ahmad Bawazier
Karya Ahmad Bawazier Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Februari 2016
Bayi Seperempat Pekan

Bayi ? Pekan

Di kamar rawat itu, di sebuah rumah sakit bersalin, seorang perempuan berumur tiga sampai empat puluhan tahun itu menangis tergugu haru. Sang suami memeluknya erat membenamkan wajah perempuan itu di dadanya. Mata suaminya pun tak lagi ragu meneteskan linangan kesedihan, mulutnya bergumam menyabarkan istrinya. Sambil matanya menatap ke langit-langit, seolah memberi tanda, "Ya Tuhan, tabahkan kami atas ujian ini".

Kenangan lelaki hampir paruh abad itu pun melayang ke hitungan masa sembilan bulan lalu. Saat lelah menyapa seharian di perantauan, mengurusi pekerjaan kantor yang menumpuk, kertas-kertas berisi ini-itu membuatnya pening. Sebuah suara dering telpon membumbung telinga si pemilik mata yang sejenak terpejam itu. Suara perempuan memulainya di ujung sana,

"Hallo.. Assalamu'alaikum Ayah"

"Wa'alaikum salam, iya Maam ada apa?" Jawab lelaki itu masih bernada lelah

"Mama punya kabar bagus buat Ayah. Ayah sibuk nggak?" suara perempuan itu kian ceria, setengah berteriak

"Apa sih Maam? Ayah lagi rehat kok" timpalnya sambil menghembus nafas

"Ayah Alhamdulillah Ayah.. Mama hamil lagi, Yaah.. Alhamdulillah"
Suaranya bercampur ?seperti? dengan tawa

"Oya? Mama bener hamil lagi? Alhamdulillah" tiba-tiba wajah lelah lelaki itu berubah sedemikian rupa, gembira

"Iya, Yaah"

"Ok! Nanti sore Ayah pulang ya. Bye see you. Assalamu'alaikum"

Telponnya masih tergenggam, wajah lelaki itu kian terlihat riang. Kabar dari istri tercintanya menutup semua lelah. Esok hari, esoknya lagi dan terus esok dan esok lagi hingga waktunya nanti, titipan Tuhan akan hadir di keluarga kecilnya. Entah dia seorang pangeran atau putri. Jika yang lahir adalah pangeran, maka hanya ada satu putri di keluarga itu, yaitu putri keduanya. Jika seorang putri yang lahir, maka genaplah jadinya; dua putra dan dua putri.

Hari dan minggu pun berganti, juga bulan yang terus berjalan. Terasa lama di penantian ini. Alunan kehidupan pasang surut dengan not-not yang meninggi atau turun di ritme sendu. Namun nada-nada itu terharmoni sebagai kebahagiaan, bahwa tak lama lagi ?pasti? buah cinta baru, anggota keluarga baru akan mewarnai, menambah riuh orkestra hidup mereka, keluarga kecil itu.

Waktu berlalu dan berlalu, perut perempuan itu makin membesar. Kontraksi-kontraksi makin terasa di jelang kehadirannya. Tak menunggu lama, selang beberapa hari..

"Ayah pulang dulu ya Nak, Mama mau lahiran"
Katanya pada putri perempuannya

"Jaga rumah ya, Nak" tambah lelaki itu lagi

"Nanti kalau udah sampai, kabari aku ya Yaah tentang Mama dan dede kecilku" balas putri remajanya itu

"Iya, doakan semoga Mamamu lancar melahirkan" ucapnya sambil tersenyum sejenak dan beranjak pergi

Sepanjang jalan, lelaki itu dengan perasaannya beradu. Wajahnya menampakkan kegalutan. Ia bahagia putranya ?ya, yang akan lahir adalah seorang putra, setelah USG berbulan lalu? akan segera lahir. Namun ia gundah, mobil yang dinaikinya terasa lama memacu. Berisik para pedagang asong makin memeka telinga. Batuk-batuk bus yang mungkin sudah tua, dan pasti asapnya mengepul hitam di jelang sore. Delapan jam di perjalanan dengan rasa tak tentunya terbayar, ketika ia berlari di lorong rumah sakit dan menemui soerang dokter.

"Gimana istri saya teh, Bu dokter?"
Wajah lelaki itu menampak cemas wajahnya

"Alhamdulillah sehat pa, mangga tos tiasa ditingali. Bayi-na oge sehat insyaAllah. Normal" ?1;
Jawab dokter perempuan muda berhalis tipis dengan senyum manis itu diiringi senyum

"Alhamdulillah, mangga atuh ibu, bade ningal pun bojo heula. Mung ari bayi-na kantos tiasa ditingal sareng dicandak?" ?2;
Sedikit tanya lagi dari lelaki itu

"Mangga, Pa. Hapunten panginten bayi-na teh teu acan tiasa dicandak sanaos sehat oge. Tapi bilih bade ningal mah mangga di ruang bayi, Pa" ?3;
Dokter perempuan muda itu menjelaskan lagi

"Mangga Pa, dikantun" ? tambah Bu dokter dengan senyum dan berlalu

Lelaki itu beranjak menemui istri tercintanya.

Menurut pihak rumah sakit, bayi mereka baik-baik saja di hari kedua. Namun anegnya putra kecil lelaki itu tak mau air susu ibunya. Ada masalah. Hari itu juga tak lama perawat memasukkannya ke sebuah inkubator. Kekhawatiran pun mencekam perasaan pasangan itu, juga anak-anaknya yang lain; si Kakak, si Teteh dan si Adik ?yang menurut tradisi sunda, anak kedua dari hitungan terakhir disebut 'pangais bungsu'?.

Kecemasan mereka kian menjadi, ketika bayi dan adik yang dinanti sekian bulan lamanya itu memburuk. Jauh dari lelaki itu dan istrinya, putri mereka dan kakak lelakinya menyela do'a pada Tuhan. Si Adik ikut menangis bersama lelaki itu ?ayahnya? dan ibunya yang masih terbaring lemah setelah melahirkan. Perasaan duka berkecamuk di dada-dada mereka.

Hingga sore itu, sebuah nada telpon berdering lagi di tas seorang anak perempuan dengan yang sedang berjalan menikmati hari beranjak sore. Di ujung telpon itu, suara perempuan dengan suara parau namun terdengar tegar berkata,

"Adik bayi sudah meninggal, Nak"

???

Sebuah tulisan tentang seorang sahabat yang kehilangan adik tercinta dan didambanya yang baru saja terlahir, namun sudah kembali diambil Tuhan.
Semoga adij bayi menjadi tabungan akhirat bagi Ayah dan Ibunya yang kelak menggiring mereka ke surga-Nya.

Hidup ini singkat, kawan. Betapapun lamanya kau rasakan kehidupan.

???

1. Silahkan sudah bisa dilihat. Bayinya juga sehat.

2. Mari, Bu. Mau melihat istri saya dulu. Lalu bayinya sudah bisa diambil dan dilihat?

3. Silahkan, Pak. Maaf bayinya belum bisa diambil andaikan sehat juga. Tapi kalau mau lihat di ruangan bayi.

4. Mari, Pak saya tinggal

  • view 267