Merayakan Cinta Bersamamu

Ahmad Bawazier
Karya Ahmad Bawazier Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Januari 2016
Merayakan Cinta Bersamamu

MERAYAKAN CINTA BERSAMAMU

Di teras indah itu, aku bersamamu menatap siluet lampu kota, menjamah selaras mata berjuta taburan bintang di angkasa, melihat persawahan dan laut di kejauhan. Atau kau memilih aku membawamu ke sebuah hamparan taman seluas lapangan bola dengan merah, kuning dan hijaunya. Mengitari mata persawahan yang menguning, atap-atap rumah penduduk dan gedung kota, juga kita bisa menelanjangi luasnya laut nan biru. Atau juga, kau memilih duduk berdua berhadapan dengan jamuan pengugah selera, diiringi gesekan biola yang memainkan nada klasik nan syahdu semacam not-not halus dan liuk ritme mendayu, bersulang gelas dan bersitatap dalam senyum. Oya.. Aku lupa, jika yang terakhir itulah yang kau pilih, kau pun akan dapati aku sejenak beranjak dari meja jamuan kita, mengambil sebuah gitar dengan senar-senar mahal dan kunci yang teratur kemudian memainkannya di atas panggung, mempersembahkan petikan-petikan pelan beruntun, mencipta nada indah untukmu meski dengan petikan kunci rumit namun memukau.ini. persembahkan untukmu. Mana yang kau pilih? Terserah padamu sebenarnya.. aku hanya menuruti mau-mu. Ayo pilih!

***

Sudah menahun sejak rancangan-rancangan pesta itu meriak di otak-ku. Mengenalmu di tengah perjalanan panjang dari segenggam dunia ?tak pasti?, lebih maya dari sebuah rencana yang saat itu menjadi muara pikiran. Namamu.. ya, namamu ?berpendar? itulah arti dari nama yang kau sandang dalam sua awal kita. Tepat, rasa itu berpendar-membias seiring waktu dalam senyap-senyap obrolan kaku (namun melankolis) dan kikik-an tawa malu yang dibuat tertahan. Saling bertanya tentang banyak hal, meski pertanyaan-pertanyaan itu kadang lebih bisa disebut hanya sebatas make conversation atau pemecah keheningan suasana dan selalu begitu, tak pernah berbuah menjadi bulat sebuah topik yang panjang untuk dibicarakan. Belum ada yang istimewa, hanya saja ia semakin berpendar, seperti sandangan namamu, ?berpendar?. Bla-bla-bla.. aku lelah jika harus merunut setiap sekmen cerita ini yang telah bertahun lamanya. Karena bukan itu, tapi skema mimpi-lah yang akan ku buat. Ya, mimpi-ku, bukan kita. Entah mungkin pikiranmu sama atau berbeda, tak peduli. Aku, bahagia dengan duniaku. Membawanya selalu seolah nyata, menceritakan apapun tentang kau sebagai tokoh utama, padahal aku memiliki berbilang tokoh-tokoh istimewa lainnya. Jadi, kau hanya bagian dari pemutaran sekmen yang membekas, Dhiya. Karena saat ini jarak kita hanya seperti muara jatuhnya daun sejak tertiupnya oleh angin ?tak berarti, begitu dekat. Tapi entah ku rasa ini jauh, sejauh tujuan para kafilah dagang yang menyusur hamparan pasir luas yang juga sesak oleh badai yang menerpa, suram. Ya, jarak antara kita suram. Tak peduli, sekali lagi, aku hanya ingin melukisakan seindah mungkin deretan kata dalam sebuah prosa tentang mimpi cinta bersamamu, hingga puncak mimpi itu berbatas pada sebuah perayaan. Perayaan yang ku damba adalah setelah kelelahan-kelelahan yang kita jalani dalam menggurat jejak hadir begitu nyata. Aku akan menceritakan perjalanan (kita) itu seperti kau melihat bola salju besar yang menggelinding, hanya luarnya. Terlihat ringkas dan menyeluruh, tak begitu menilik jelas.

Ya, rasa itu berpendar seperti sandangan namamu saat awal sua ?kita. Sejurus kemudian membentuk bulir-bulir rindu. Meski tak pernah melihatmu dengan tatapan mata sempurna-nyata, garis itu sempurna membentuk lekuk-an dari bentuk wajahmu. Seperti apa dirimu? Tak sulit membayangkanmu (kok? Entahlah), seperti sebuah pertanda. Aku jauh lebih mengenal rupamu dalam semu-semu mimpi saat itu. Semakin membuncah, menyeruak memenuhi permukaan di bibir hati, penuh. Ini simpulnya, ?A-k-u, men-cin-ta-i-mu?. Terbata, karena masih terselubung ragu, bahwa benar itu ?cinta?. iya kah? Sekali lagi, entahlah. Tapi sudahlah, aku memilih percaya saja pada rasa ini, toh titah sang hati adalah ketulusan. Sejak itu, kau dan aku memulai dari kekakuan, senyap-senyap senyum senang, di lain waktu ada ketegangan atau sedu-sedan dan kadang terjatuh di dalam kubangan marah dan kegalutan. Semakin menguatkan, saat kau merajuk, aku merajuk. ?Kau terdiam seringkali saat itu, menjauh dalam keadaan tak pasti, memejamkan matamu atau apalah... ya, diam itu tepat. Karena aku pun akan mendiamkanmu, beberapa lama, agar tak sulit merjut kembali bingkai ke-akraban, membiarkannya mencair terlebih dahulu, biar dibakar api amarah agar kebekuan tak lagi ada.

Ah.. ya, denganmu aku butuh banyak ungkapan-ungkapan filosofis meski sekedar untuk menggambarkanya, karena alirmu begitu kuat ?hingga kini. Dirimu, yang lebih menggetarkan dari sekedar petikan-petikan gitar atau bakan dentum sebuah ledakan. Kau selalu saja membuat otak berputar untuk mencari-cari banyak perbendaharaan kata, agar semua maksudku tersampaikan, agar kau mampu menjamah hati dengan sebuah sentuh pengertian. Namun selalu juga, sekali lagi... selalu juga terjerembab dalam kubangan berisi lumpur kecewa dan sengal yang tertahan. Menyatkitkan. Tak mengapa, seiring waktu yang tersampaikan oleh masa, aku mulai terbiasa dengan itu semua ?senyum, kegembiraan sejurus kemudian (seringkali) ditutup dengan sesak di dada?, sungguh menguatkanku. Hingga puncak itu terasa meyakinkan, dan begitu meyakinkan tak lagi terbata mengucap, bahwa ini ?cinta?, betul ?atau perlu aku mengeja?.. ?C-I-N-T-A?. Sempurna!

?

?

Dan sampailah pada saatnya... perayaan cinta bersamamu. Bagaimana harus aku gambarkan? Semeriah mungkin aku pikir, karena mimpi ?aku mohon? tak perlu dibatasi, jangan disekat. Aku mohon!

Baiklah, perayaan ini akan aku buka dengan sebuah persembahan, hanya untukmu.. dari milik Rumi dalam Diwan,

(petikan gitar memecah hening, memainkan intro pembuka yang lembut)

Cinta,?

Sekalipun cinta telah kujelaskan dan ku uraikan panjang lebar

Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu dengan keteranganku sendiri

Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terangnya

Namun, tanpa lidah ternyata cinta lebih terang, sedangkan pena tergesa-gesa menuliskannya

Kata-kata pecah berkeping-keping ketika sampai kepada cinta

Dalam mengruaikan cinta, akal terbaring tak berdaya bagaikan keledai terbaring dalam lumpur

Maka cinta sendirilah yang mrnguraikan cinta dan percintaan..

?

Separti aku di hadapanmu, menggeram tak menentu, bergemuruh dalam diam beribu ucap. Tak sepatah kata-pun, tak sepoong frasa jua. Terkulai dalam kecintaan yang membumi, kepadamu, Dhiya. Saat perayaan ini

  • view 217