LGBT dan Rusaknya Etika Kaum Beragama

Ahmad Bawazier
Karya Ahmad Bawazier Kategori Motivasi
dipublikasikan 26 Januari 2016
LGBT dan Rusaknya Etika Kaum Beragama

LGBT dan Rusaknya Etika Kaum Beragama

Siang tadi mendapat screen shoot postingan tentang sebuah ormas mendata kemudian mengusir sekelompok orang-orang dengan orientasi seks tertentu. Miris.

Tentang LGBT, sebenarnya ini isu lama yang entah tiba-tiba saban hari ini mencuat. Padahal sudah pula lumayan lama redup sejak 26 Juni 2015 pemerintah Amerika Serikat melegalkan nikah sesama jenis.

Soal LGBT adalah persoalan yang kompleks. Menyangkut banyak hal, kaitannya dengan kepribadian juga sosial. Persoalan yang mestinya ditanggapi dengan tenang, santun dan beradab. Bukan malah provokasi intimidasi dengan bahasa yang memuat diksi tak santun, terlebih disampaikan oleh yang mengaku akademisi.

LGBT dalam dunia psikologi dikategorikan bukan sebagai penyakit; misal gangguan jiwa. Namun sebagai karakter unik yang dimiliki seseorang dalam ini adalah seksualitas.

Orang-orang dengan keunikan kecenderungan seks yang berbeda dengan norma pada umumnya inilah yang lebih sering jadi bulan-bulanan intimidasi sosial, terlebih agama.
Dianggap berpenyakit, berbahaya, menular dan abnormal. Harus dijauhi.

Perlu diketahui sekali lagi. 1)LGBT bukan penyakit 2)Tidak menular. Tentang bahaya atau tidak tergantung sudut pandang apa yang digunakan. Dan memang secara norma selain tidak normal di sisi lain terkadang ia adalah kelainan. Tapi bukan untuk dijauhi.

Dalam persoalan kelompok masyarakat seperti ini (LGBT) penyelesaiannya ada di tangan pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dengan kebijakan yang berasas pada kemanusiaan dan masyarakat dengan respon sosial yang bersahabat.

LGBT sebagai warga masyarakat terlebih di negara berdemokrasi yang menjunjung nilai-nilai hidup manusia. Mereka layak mendapatkan layanan dari pemerintah sebagai penyelenggara negara juga hak sosial bermasyarakat.

Namun disayangkan yang ada, sekelompok orang malah merusaknya lebih jauh. Menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dan bersikap intimidate terhadap hak-hak individual. Lebih parah prilaku itu didasari keber-agama-an.

Padahal lebih jauh imbas prilaku anarkis atas nama agama bisa berbuah buruk pada tatanan sosial. Tentu pada agama itu sendiri yang juga bagian tatanan sosial tersebut. Kebencian terhadap agama lebih meningkat. Siapa yang salah?

Terkadang juga kaum beragama dengan argumen-argumen agamanya kerap kali melawan keilmiahan nalar. Disamping itu teks-teks suci mereka dibungkus dengan emosi. Penyampainnya jadi tak tepat dengan konteks yang ada.

Maka peran agama bukanlah menengahi. Agama biarlah jadi opsi ?pilihan? dalam proses penyelesaian. Dalam polemik kejiwaan orang-orang dengan karakter tertentu pada akhirnya juga dituntut untuk mimilih kepastian. Dalam soal LGBT, pilihannya adalah antara menjadi LGBT atau orang beragama.

Simpulnya, ketika ada persoalan yang kaitannya dengan kemanusiaan maka menjawabnya dengan gaya manusia. Manusia itu memanusikan manusia. Bukan dengan gaya Tuhan.

Menghakimi itu kekuasaan Tuhan. Tentang hasil penghakimannya adalah privacy Tuhan. Privacy, seperti agama dan urusan 'kelamin' adalah ranah pribadi. Bukan persoalan kolektif.

Tidak setuju dengan LGBT? Mungkin kata 'terserah' jadi opsi paling tepat.

"Aku Gay, gimana dong?"

"Ya TERSERAH. E-Ge-Pe?"

???
Salam damai
AFB

?

  • view 363