Bunga Desembermu

Alya Syifa Desyanti
Karya Alya Syifa Desyanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Juni 2016
Bunga Desembermu

Hari ini hujan sangatlah deras. Sudah sejak pagi tadi langit mencurahkan airnya seakan tak mengenal lelah. Padahal saat ini jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan langit sudah mulai menggelap. Saat ini aku terduduk di teras rumah sambil menikmati teh panas yang anak kita buatkan. Mataku melihat sendu pekarangan rumah yang ditanami bunga-bunga dan tanaman hias, tempat favoritmu di rumah ini, tempat yang kau gunakan untuk menyalurkan hobimu.

Aku menatap sekumpulan bunga yang berwarna mencolok di antara bunga melati. bunga berbentuk seperti payung berwarna merah. Bunga itu, bunga yang sangat kau tunggu mekarnya. Aku masih ingat saat kau merengek minta dibelikan bibit bunga itu, ngidam katamu.
“Ayolah mas, bunga itu akan sangat indah saat mekar, apalagi namanya serupa dengan bulan kelahiranku, ini juga keinginan anak kita lo.” Ucapmu waktu itu, sambil memasang muka memelas yang tidak bisa aku tolak.
Akhirnya aku membeli bibit bunga yang mempunyai nama lain Haemanthus multiflorus itu. Saat itu usia kandunganmu sudah mencapai 5 bulan di Bulan Juni.

Kau menanam dan merawat bibit bunga itu dengan senang hati dan selalu menunggu hari dimana bunga itu akan mekar. Bunga desember sangatlah istimewa untukmu, kau terkadang mencari informasi terkait bunga yang berkerabat dekat dengan Lili itu. Kau juga sering menggambar bunga desember di kertas kosong. Saat membeli bibit bunga itu untukmu, penjual bunga mengatakan jikalau Bunga desember adalah bunga yang bisa menandakan perubahan iklim karena hanya mekar saat memasuki bulan penghujan, biasanya akan mekar sekitar bulan Oktober sampai Desember, tapi saat efek rumah kaca yang mempengaruhi kondisi bumi, sangat sulit diprediksi kapan bunga desember akan tepat mekarnya. Dari penjelasan si penjual tadi, kau semakin mengidolakan bunga desember itu.

Setiap hari kau merawat tanaman-tanaman peliharaanmu, tak lupa pula juga mengecek bunga desembermu. Kau selalu heran karena bunga desembermu seperti enggan mekar, aku selalu beralasan hujan belum turun saat kau mengomel tentang bungamu, ya tahun itu memang hujan belum turun bahkan sudah memasuki penghujung tahun. Hingga suatu malam di Bulan Desember, kau merasakan kesakitan yang berasal dari dalam perutmu. Aku panik dan segera menggendongmu ke rumah bidan desa, ternyata anak kita akan lahir. Malam itu, kau sangat lemah dan air mukamu pucat, cairan infus yang mengalir di dalam tubuhmu membantu menormalkan kondisimu. Aku sungguh kasihan padamu.
Esok paginya, anak kita lahir ke dunia.

Aku masih ingat hari itu, hari yang sama dengan tanggal hari ini. Aku masih ingat hari itu, hari yang sama dengan kelahiranmu. Aku ingat betul hari itu, hari yang sama saat Tuhan memintamu untuk kembali padaNya, hari di mana kau meninggalkanku. Ya, hari ke-tiga puluh satu di Bulan Desember, sama dengan hari ini. Sepuluh tahun yang lalu kau menghadirkan kebahagiaan dan juga kesedihan yang amat dalam untukku. Aku begitu hancur saat menerima kenyataan bahwa anak kita menjadi piatu tanpa Ibu, dan aku harus menjadi duda saat mendengar kabar kau meninggal setelah melahirkan anak kita. Seharusnya hari itu, anak kita adalah kado terbaik untuk ulang tahunmu. Nyatanya, hari ulang tahunmu ke-dua puluh tiga itu, kau pergi meninggalkanku.

“Ayah melamun?” suara Lia, gadis kecil kita menarikku kembali dari kenangan masa lalu.
“Ayah teringat ibumu, Ibumu belum sempat melihat bunga kesayangannya mekar dulu.”
“Aku yakin, Ibu pasti sangat senang melihat bunga itu mekar dari surga sana, Ayah jangan bersedih, kan masih ada Lia disini.”
Aku tersenyum mendengar ucapan gadis kecil kita, Ia adalah anak yang manis dan pengertian sepertimu. Lia tersenyum dan memegang tangan kananku, senyumannya juga selalu mengingatkanku padamu, maka dari itu aku memberikan dia nama yang serupa denganmu, Lia.
Astaga, aku baru teringat sesuatu. Aku merogoh kantung kemejaku dengan tangan kiri yang bebas dari genggaman Lia. Aku mengambil sebuah kotak persegi dari dalam sana.
“Lia, selamat ulang tahun!” ucapku sembari menyerahkan kotak itu pada Lia setelah melepas genggaman tangannya.
Andai saja kau melihatnya, istriku. Anak kita begitu mirip denganmu, ekspresi mukanya sama dengan saat kau mendengar kata “Menikahlah denganku” dari mulutku. Dia begitu manis, aku bisa melihat rona merah menjalar di kedua pipinya.
“Ayah, apakah ini kado untukku?” Lia kecil bertanya padaku.
“Tentu saja, bukalah!”

Ini memang kado pertama yang aku berikan pada Lia. Selama ini aku belum pernah memberikan kado untuknya, dan Lia paham betul mengapa aku tidak pernah memberikan hadiah untunknya. Kondisi ekonomi keluarga yang minim, serta hari ulang tahunnya yang bertepatan dengan hari kematianmu. Aku tidak paham betul perasaan Lia kecil, tapi saat aku tak sengaja melihat dia menangis di kamar, aku tahu kalau dia iri pada teman sebayanya yang diberi hadiah saat ulang tahun, dan betapa terpukulnya aku saat dia menganggap kehadirannya yang membuat Ibunya pergi meninggalkan dunia. Aku merasa terpukul mendengar tangisan Lia, Lia hanya tidak tahu bahwa aku sangat menyayanginya tapi memang aku masih belum bisa ikhlas atas kepergianmu, aku belum punya cara yang tepat untuk menunjukkan kasih sayangku pada gadis kecil itu.

Pada akhirnya, aku mencoba berubah menjadi ayah yang baik pada Lia, aku mulai memperhatikan pertumbuhan Lia dan mulai berdamai dengan masa lalu. Hari ini aku memberikan Lia hadiah yang sederhana tapi amat berarti untukku, untuk kita. Lia mulai membuka bungkus kado dan air mukanya tampak sangat gembira dengan senyum khas yang terpatri di muka ayunya. Aku memberikan Lia sebatang cokelat, buku diari yang yang kau tulis semasa hamil, dan kalung emas yang dulu aku berikan padamu saat hari ulang tahunmu ke-dua puluh satu, hadiah pertama yang aku berikan padamu setelah resmi menjadi istriku.

Lia membaca sebuah surat yang aku tulis bersama kado itu, ia tersenyum haru dan berhambur memelukku. Aku lihat bunga desember bergoyang terhembus angin dan tetes air hujan yang mulai mereda seakan tersenyum melihat interaksi antara ayah dan anak gadisnya. Bunga desember itu kembali mengingatkanku pada sosokmu, ibu dari anakku dan selamanya akan seperti itu. Bunga desember, esok hari sudah memasuki Bulan Januari, tapi aku harap aku masih bisa melihat mekar bungamu.

Untuk anakku Lia,
Maafkan ayah yang baru pertama ini memberikanmu hadiah,
Maafkan ayah yang hanya bisa memberikan sebatang cokelat yang tidak terlalu mahal ini,
Buku harian ini milik ibumu, ia tulis saat kau masih ada di dalam rahimnya, bacalah agar kau tahu betapa ibu mencintaimu,
Dan seuntai kalung ini adalah tanda cinta ayah kepada ibumu yang sama besar dengan rasa sayang ayah padamu, anakku.
Pakailah kalung ini, supaya kau selalu ingat ayah dan ibumu,
Anakku, Lia, cahayaku, selamat bertambah usia dan semoga kau tumbuh menjadi wanita yang kuat seperti ibumu.
Istriku, Lia, mentariku, selamat ulang tahun dan tetap tunggulah aku.

--------------------------fin------------------------

  • view 109