CINTA TAK DIRESTUI

alwiah algadrie
Karya alwiah algadrie Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Januari 2018
CINTA TAK DIRESTUI

CINTA TAK DIRESTUI

             Dari kejauhan sekitar berapa meter dari dermaga itu, ada seorang lelaki yang diam-diam selalu memeperhatikan wanita yang sering datang kedermaga bersama dengan anak kecil. Lelaki tampan itu bernama Rama, ia sangat mengagumi kecantikan wanita yang raut wajahnya sangat kental dengan wanita sumba.lambat laun kebiasaan mengunjungi dermaga itu telah menjadi. Karena keseringan Rama datang mengunjungi dermaga itu. Karena merasa penasaran yang kian bergejolak dan berkecamuk  di hatinya, ia memutuskan untuk menghampiri wanita yang selalu  duduk menanti senja itu dan berkenalan.

 Rama: Saya perhatikan engkau selalu menunggu senja di dermaga, ada apa?’’ (sambil duduk di samping Rambu Dima)

yang sedang asyik menikmati senja tiba-tiba kaget dengan kedatangan sosok lelaki yang tinggi lagi kekar badannya sedang berdiri di belakangya. Ia terdiam sejenak dan memalingkan wajahnya untuk melihat asal suara yang barusan terdengar . Dengan tenang Rambu Dima menjawab pertanyaan lelaki itu sambil menatapnya.

            “Saya suka melihat senja, karena disinilah saya bisa menghilangkan semua beban yang begitu berat dan merasa tenang bila berada disini.

“Pantas kau sering ke dermaga ini hampir setiap hari,”sahut Rama yang duduk di samping Rambu Dima.

            “Kenapa kau bisa tau kalau setiap hari saya mengunjungi dermaga ini?” Rambu Dima menatap Rama dengan rasa penasaran.

Dengan perasaan malu,Rama mengakui kalau selama ini ia selalu memperhatikan Rambu Dima. Rambu Dima hanya tersenyum ketika mengetahui bahwa selama ini ia selalu diperhatikan.

            “Jadi selama ini kau datang kesini hanya untuk melihat saya,bukan untuk melihat senja?”sahut Rambu Dima lagi.

            “Memang saya datang untuk menikmtai senja, tetapi juga ingin memperhatikan dirimu. Dan hal itu saya lakukan hampir setiap hari di sudut dermaga ini.”ujar  malu Rama menjawab.

            Setelah lama berbincang mereka akhirnya berkenalan. Perkenalan itu Rambu Dima dan Rama untuk sering bertemu. Perasaan suka pun mulai tumbuh diantara keduanya.  Mereka berdua akhirnya menjalin hunbungan yang sebelum hanya berteman menjadi sepasang kekasih. Rambu Dima dengan Rama menjalin hubungan ini secara sembunyi-sembunyi, karena Rambu Dima adalah keterunan raja yang dalam tradisi sumba harus bersuami dari keluarga raja juga atau orang-otrang yang mempunyai martabat tinggi. Sedangkan Rama berasal dari keluarga yang sederhana dan bukan keturunan bangsawan. Keluarga rama bukan berasal dari sumba asli, tetapi itu tidak menjadi penghalang untuk hubungan asmara mereka.

 Namun tanpa mereka sadari keluarga Rambu Dima telah mencium dan mengetahui hubungan mereka. Orang tua Rambu Dima yang mengetahui hal itu sangat marah. Apalagi mengetahui bahwa Rama hanya berasal dari Kabihu biasa saja dan bukan darah bangsawan. Mereka kemudian memaksa Rambu Dima untuk segera memutuskan hubungannya debgan Rama,  namun Rambu Dima bersikeras tetap tidak mau. Sejak saat itu Rambu Dima di kurung oleh orang tuanya dan  tidak boleh keluar, kalaupun keluar harus dikawal oleh hambanya.

            Namun secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahun orang tua dan keluarganya Rambu Dima bertemu Rama. 

            “Saya sudah tidak bisa begini terus Rama, orang tua saya tidak merestui hungan kita mereka ingin saya berpisah dengan kau Rama”.

            “Apa karna saya bukan dari keluarga bagsawan karena itu keluarga kau tidak mengijikan saya menjalin hubungan dengan kau?”

            “Kau tau sendiri bahwa dalam tardisi keluarga bangsawan saya harus menikah dengan kelurga bagsawan juga, saya tidak mau menikah dengan orang lain selain kau”

            “Apa yang harus kita perbuat Rambu dan Tradisi macam apa ini yang mengharuskan menikah dengan keturunan bangsawan juga, jadi orang seperti kita ini tidak bisa menikahi perempuan dari keturunan bagsawan. Saya muak dengan tradisi di sumba ini.

            “Mau bagaiamana Rama saya lahir dari keluarga yang mempunyai tradisi dan adat yang sangat kental, atau kita kabur saja ?” usul Rambu Dima.

Mendengar ajakan Rambu Dima untuk kabur, Rama sangat kaget dan tidak bisa berkata apa-apa.  Rama hanya terdiam memikirkan apa yang baru saja keluar dari mulut Rambu Dima.

            “Atau kau tidak mau kabur bersama saya, apa kau sudah mencintai wanita lain?”

            “Bukan begitu Rambu saya tidak ingin kita berdua terkena masalah kalau keluarga kau mengetahui kita berdua kabur, pasti mereka tidak akan tinggal diam”

Namun Rambu Dima terus mendesak Rama agar kabur. Rama yang tidak tega melihat Rambu Dima menagis terisak-isak akhirnya menyetujuinya.

            “Baiklah Rambu malam ini kita akan kabur,” jawab Rama setuju

            “ Tapi kita harus kemana?”

            “ Kita kabur ke Kodi kebetulan ada keluarga saya yang tinggal disana.”

            “Apa kau yakin kita akan aman disana? Jika keluarga saya mengetahui keberadaan kita, maka kita berdua tidak akan bisa bertemu lgi,” ucap Rambu Dima khawatir.

            “Saya yakin,sekarang kau pulang dan bawa pakaian seadanya dan kebutuhan kita selama perjalanan. Dan ingat jangan sampai ada yang mengetahui rencana ini.

            Rambu Dima pun bergegas pulang kerumah secara diam-diam, ia pun langsung mempersiapkan apa sja yang akan dibawanya untuk perbekalan. Tepat jam 12 malam, Rambu Dima keluar dari rumah menuju tempat yang telah mereka sepakati untuk bertemu. Setelah tiba di tempat dimana Rama menunggunya, dan tidak buang waktu keduanya langsung kabur mengguanakan kendaraan.

 Dalam perjalanan, udara dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang memaksa keduanya berhenti sejenak disebuah gubukkecil yang reot di daerah warinding. Keduanyamemilih untuk  beristirahat sebentar di gubuk reot itu sebelum melanjutkan perjalan. Malam kian lanjut dan larut dan udara dingin terus menyelimuti.

“Rambu kenapa kita harus ditakdirkan bertemu kalau akhirnya kita harus dipisahkan kedua orang tua kau.”

            “Saya juga tidak mengerti Rama kenapa semua ini harus menimpa kita berdua .”

            “Semua ini seakan mimpi buruk untuk kita berdua Rambu, tapi kita percaya saja ini mungkn cobaan untuk kita berdua.”

            Rambu Dima dan Rama saling mencurahkan isi hati dan tanpa disadari keduanya terhanyut dalam lembah dosa yang menenggelamkan dan memaksa keduanya melakukan hubungan terlarang. Tanpa ada penyesalan, Mereka berdua pun melanjutkan perjalan sekitar siang pada saat terik matahari sejajar di atas kepala. tepat jam tiga sore merekapun tiba di rumah keluarga Rama. Sebelum datang ke kodi Rama telah memberitahukan kepada kelurganya di Kodi bahwa dia dengan Rambu Dima akan kabur kesana. Dengan tangan terbuka keluarga Rama menerima mereka berdua. Walaupun mereka diterima dengan baik tetap saja keluarga Rama kuatir kalau tiba-tiba orang tua Rambu mengetahui mereka disna.

            “Apa kau yakin, tidak ada yang tau kalian kabur kesini?’’

            “Saya yakin paman tidak yang mengetahui keberadaan kami disini lagi pula kami berangkat tengah malam saat semua sudah tidur,” ujar Rama menyakinkan.

            “Rama paman mau memastikan apa kau sudah yakin ingin menikahi Rambu Dima?’’

            “Saya yakin paman kami berdua saling mencintai.”

            “Tapi menurut adat disini wanita sumba yang berasal dari keturunan bangsawan itu sangat sulit untuk dinikahi apalagi seperti kita yang berasal golongan biasa.”

            “Saya mengetahui hal itu paman, tapi kami sudah terlalu jauh menjalin hubungan ini paman, tolong bantu kami paman,” pinta Rambu Ramamemohon bantuan pamannya.

            “Paman akan berusaha membantu kalian berdua, tapi paman tidak yakin karena ini akan berdampak buruk bagi kalian berdua nanti.”

            “Ini adalah jalan satu-satunya paman, orang tua Rambu Dima sangat bersikeras untuk mengakhiri hubungan kami.”

            “Paman khawatir kau terkena masalah karena telah membawa lari seorang anak perempuan keturunan bangsawan, orang tua Rambu Dima tidak akan tinggal diam, apalagi setelah mengetahui kalian disini.”

            “Hanya dengancara ini yang bisa mempersatukan saya dengan Rambu Dima.

Kepergian Rambu Dima akhirnya diketahui oleh orang tua dan keluarganya, betapa marahnya kedua orang tua Rambu Dima ketika mengetahui bahwa anak perempuan semata wayangnya telah kabur bersama lelaki yang mereka benci. Kemudian ayah Rambu Dima meminta hambanya untuk mencari Rambu Dima sampai ketemu dengan cara apapun.

            “Cepat temukan Rambu Dima dan bawa dia pulang,” perintah ayah Rambu Dima pada preman-preman suruhannya.

Selang beberapa jam orang itu yang telah diperintahkan untuk mencari Rambu Dima akhirnya pulang dan memberi kabar kepada sang ayah. Bahwa Rambu Dima dan Rama melarikan diri ke salah satu kampung di Sumba Barat yaitu kampung Kodi. Setelah mendengar berita itu ayah Rambu Dima memerintahkan beberapa hambanya untuk mempersiapkan kendaraan dan berangkat ke kampung Kodi untuk menjemput Rambu Dima.

Dengan perasaan penuh dengan kemarahan, berangkatlah ayah Rambu Dima dengan empat orang hamba dan beberapa preman yang sudah dibayar oleh ayah rambu Dima. Beberapa jam diperjalanan akhirnya mereka tibadi tempat tujuan.Betapa kagetnya Rambu Dima ketika melihat ayahnya datang bersama para hamba dan preman.

            “Kenapa Ayah tidak membiarkan kami pergi?”

            “Anak macam apa kau ini, kenapa kau membuat malu keluarga kita dengan kabur bersama lelaki brengsek ini!” hardik ayahnya.

            “Saya kabur karena Ayahtidak menginjikan saya hidup bersama dengan dia”

            “Kau pikir dengan melarikan diri seperti ini,saya akan mengijinkan kau bersama dengan lelaki brengsek itu?”

            “Apakah saya tidak bisa menjalin hubungan dengan dia karena dia hanya orang biasa saja”

            “Kau jangan bodoh! Kau adalah putri dari seorang bangsawan apa kata oranmg-orang kalau mengetahui putri bangsawan berhubungan dengan lelaki dari kalangan Kabihu biasa.

            Setelah terjadi perang mulut antara seorang Ayah dan anaknya, tanpa disadari para preman telah menyarangkan pukulan tepat di kepala Rama yang akhirnya ia tersungkur dan jatuh di tanah. Rambu Dima yang melihat kejadian itu seketika menangis histeris. Karena menyaksikan langsung kekasihnya sedang dikerumuni oleh preman-preman suruhan ayahnya.

            Air mata jatuh membasahi kedua pipi Rambu Dima yang tak tak berdaya melihat kejadian itu. Ia terus berteriak dan meminta agar ayahnya menghentikan para preman itu. Karena merasa iba terhadap putrinya ayahnya mengisyaratkan kepada preman-preman itu berhenti. Namunia memberikan syarat kepada anaknya bahwa ia segera memutuskan hubungan dengaqn Rama sekarang ini juga. Rambu Dima menyetujui persyaratannya dan ia kembali ke Rumah bersama ayahnya.

Semenjak peristiwa itu ia tidak pernah lagi mendengar kabar dari kekasihnya. Rama seperti mengilang di telan bumi.Ia pun tidak bisa kemana-mana kareena sudah dilarang keras oleh orang tuanya, sehingga ia hanya mengurung diri didalam kamar.

            Beberapa bulan telah berlalu dan betapa kagetnya ia mengetahui bahwa ia telah mengandung anaknya Rama. Kembali ia teringat kejadian malam itu bersama Rama disebuah gubuk kecil itu.Akhirinya kedua orang tua Rambu Dima mengetahui kehamilan anaknya. Mereka sepakat tidak akan memberitahu ini kepada Rama.

            Tepat bulan April di salah satu rumah sakit di Sumba, Rambu Dima melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Daniel. Diluar bersalin ketegangan terjadi karena kedatangan seorang lelaki tidak lain adalah Rama yang menggemparkan keluarga sang wanita di Rumah Sakit tersebut.

            ”Kenapa kau kesini,”hardik seorang laki-laki.

            “Itu bukan urusan kalian, kalian pasti tau maksud saya kesini.”

            “Saya tau maksud kedatangnmu kesini, tapi sekarang bukanlah saat yang tepat.”

            Namun Rama tidak memperdulikan lelaki itu dan terus melangkah menuju ke ruang bersalin, dimana keluarga wanita itu sedang bekumpul. Tiba-tiba seorang lelaki yang tinggi besar dan yang menghampiri Rama, tak kecuali keluarga yang lain menyambut kedatangannya dengan wajah kebencian.

            “Sebaiknya kau pulang dulu, didalam Rambu Dima lagi kesusahan dan tolong jangan di perparah lagi.”

            “Maksud kau apa!” tantang Rama.

            “Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya ingin kau pergi,” balas pria tadi.

            “Persetan dengan kau memanagnya kau siapa? Kau cuma preman yang dibayar ayahnya. Tapi saya ayah dari anak yang dilahirkannya itu,” bentak rama penuh amarah

            Jawaban Rama ternyata langsung dibalas dengan satu pukulan tepat mengenai rahangnya dan Rama pun terhuyung-huyung ke belakang. Beberapa orang yang tadi hanya melihat langsung mendekati lelaki tadi dan menahannya.

“Kau dikasih tau malah melawan!” bentaknya, tapi Rama tidak peduli tetap saja ia maju melangkah ke ruangan itu.

“Kau berani melangkah lagi kau habis!” sahut lelaki besar itu.

“Memangnya kalian siapa?” balas Rama, sambil melangkahkan kakinya dan disambut dengan satu pukulan tepat dirusuk kanannya. Rama meringis kesakitan namun tetap memaksakan diri dan kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan bersalin.”

Beberapa lelaki lalu menahan tubuh Rama tapi Rama tidak peduli.

“Lepas! Saya ingin bertemu anak saya, kalian dengar tidak!” Teriak Rama.

“Kalian dengar tidak, saya ingin bertemu anak saya!” Teriak Rama lagi.

Namun  bukannya keadaan membaik, hanya pukulan preman itu yang menghujam tubuh Rama. Ternyata keributan itu mengundang perhatian pengunjung Rumah Sakit diantaranya satpam Rumah Sakit tersebut.

“Ada apa ini, kalau mau rebut jangan di sini tapi diluar!” sahut satpam itu.

“Kau mau apa? Saya preman disini.”

“Persetan dengan kau saya mau ketemu anak saya,” teriak Rama.

Beberapa orang kemudian berlari ke ruangan bersalin, ketikan akan membuka pintu tiba-tiba muncul kedua oran tua Rambu Dima dari ruang bersalin.

“ Kau mau apa! Sambut mama Rambu Dima dengan keras. Ayo jawab kenapa kau diam.”

“Selamat malam Om, selamat malam Tante. Saya mau…

“Mau apa? Cepat omong, kalau sudah selesai boleh pulang. Muak saya liat muka kau,” potong ibu Rambu Dima cepat.

Rama seperti kebingungan sesaat, laalu dengan cepat bersimpuh di kaki wanita paruh baya ini.

“Apa-apaan ini, cepat panggil preman-preman itu dan tarik manusia ini, saya tidak senang lihat mukanya!” sambil menjatuhkan kakinya dari Rama yang berlutut memohon.

“Maaf tante, saya mohon, saya hanya ingin melihat anak istri saya!”

“Istri! Coba kau katakana ulang, Istri!”

“Kau tidak akan pernah jadi suaminya Rambu Dima, kau ingat itu!”

“Saya akan berusaha tante, tapi saya mohon tante saya ingin melihat anak saya.”

Wanita tua itu seperti ingin menelan bulat-bulat lelaki yang berlutut didepannya ini, namun lelaki itu tak bergeming mereka yang menyaksikan kejadian itu larut dalam kesedeihan yang dirasakan Rama, tak kecuali preman-prema yang sejak dari tadi dipenuhi dengan amarah.

“Tante, saya mohon tante, saya mau bertemu dengan anak saya,” Rama memeluk kaki wanita tua itu dan tak mampu membendung air matanya lagi.

“Plaaaak!” tamparan keras mendarat di wajah Rama, “Kau tidak pantas!”

Perlahan-lahan Rama berdiri dan mengangkat wajahnya. Dimatanya yang memerah terlihat api kebencian yang mendalam, Raut mukanya benar-benar berubah.

“Kau ingat perempuan! Kau akan menyesal dengan perkataanmu ini,” teriak Rama

Dengan penuh kemarahan ia menjauh dan pergi, namun sebelum itu

“Rambu…Rambu, kau dengar ini, ini suara dari laki-laki yang menjadi ayah dari anak yang kau lahir itu. Sampai kapanpun kau tetap jadi ibu dari anak saya. Tuhan pun tak bisa merubah itu!” teriak Rama.

Di dalam ruang bersalin, Rambu Dima hanya menahan tangisnya tapi tidak dengan air matanya, ia hanya mengingat samar-samar kenangan bersama Rama lelaki yang sangat ia cintai. Semenjak kejadian malam itu Rama seperti menghilang dan tak ada kabar.

Desas desusnya Rama telah merantau ke ibu kota mengejar mimpinya sebagai penulis.

  • view 114