Hujan tak pernah berbeda, hanya kita yang tak lagi sama

Alvi Kirana
Karya Alvi Kirana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Februari 2016
Hujan tak pernah berbeda, hanya kita yang tak lagi sama

Hujan Tak Pernah Berbeda, Hanya Kita yang Tak Lagi Sama

Dia seringkali datang membasahi bumi, bahkan ada suatu musimpun dia kuasai. Dengan rintik kecilnya, lebat, dan mengajak sang petir menemani, beragam cara dia datang mengguyur bumi, beragam durasi waktu, beragam sebab dan alasan.
Bagaimana dengan makhluk-makhluk kecil di bumi? Manusia, kami?
Lihatlah .. Rasakanlah .. Tenanglah ..
Kebasahan di bumi merekahkan senyuman bahagia, tanah kering berlalu, semerbak bau khas tanah tercium indah .. Selalu indah, bagi yang menikmati. Meski semakin lama senyuman itu menipis, betapa tanah kembali tak terlihat, hanya ada kamu, kumpulan air hujan.
Sama seperti,
Saat masa kecil selalu bahagia jika hujan datang, bayangan akan bermain air dengan jumlah yang banyak telah menyihir lebih banyak kaum anak, sedangkan emak-emak sudah siaga dengan obat-obatan dan penghalang keluar rumah. Indah sekali masa kecil itu, selalu merindukan hujan.
Dan tiba saatnya kaum anak tumbuh besar, mungkin dewasa, adakah merindukan hujan seperti dulu? Nak, semua sudah besar, kita mungkin saja merindukan hujan, namun dengan alasan berbeda. Seperti aku, hujan yg datang selalu memaikan perasaanku, memutar kembali semua kenangan manis dan pilu yang pernah terjadi, membawa emosiku pada kesedihan dan terbukanya ruang rindu pada masa lalu, hingga aku tak bisa menikmati hujan seperti saat kecil. Dan alasan lainnya kenapa kita yang sudah besar tak lagi merindukan hujan seperti masa kanak-kanak dahulu? ?mungkin juga bahagia, namun berbeda. Lihatlah do'a mereka ?Hujan, turunlah membasahi bumi, agar dosen kami tidak hadir, dan bos kami tidak datang?, ?Ini hari yang manis untuk ?semua pasangan, maka hujan ku mohon turunlah pada kami agar para pasangan tak meluber di jalanan, aku masih sendiri"

Harapan dan do'anya saja berbeda, saat mengharap hujan datang. Maka, bukanlah hujan yang berbeda, kita-lah yang tak lagi sama, seperti dulu.

  • view 273