Hening dengan Mas Frans

alvaita luwva
Karya alvaita luwva Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Oktober 2016
Hening dengan Mas Frans

Sore itu kakak laki-lakiku berkemas memasukkan beberapa baju kedalam ransel hitamnya. Dia akan balik ke Jogja seorang diri. Namun kecanggungan antara aku dan kakakku kian dingin.

Pagi saat itu aku bangun pagi seperti biasa, membantu Ibu memasak dengan setengah malas. Makan pagi menjadi kebiasaan, karena memang Ibuku mengajar setiap pukul 07.00 WIB. Tapi kakakku, Frans masih bergumul dengan bantal gulingnya didalam kamar. Memang dia pulang kerumah alasannya karena tidak enak badan. Jadi sampai dirumah itulah yang dia kerjakan, tidur sampai siang.

Ibu berangkat mengajar, dan aku mulai menyibukkan diri memilih musik untuk dijadikan playlist pagi ini. Sembari menunggu mood baik untuk mandi, aku mengoles wajahku dengan pembersih. 

Selesai mandi, Mas Frans sudah bangun dari tidurnya. Tapi wajahnya terlanjur murung entah kenapa

"Jadi mintak antar ke Samsat nggak?" tanyanya dengan wajah merengut dan kesal

Aku menatapnya kosong "Nggak."

Seketika mulut mas frans berdecak menanggapi jawabanku "Jadi gagal balik berangkat bareng Lidya kan!"

Aku ingin sekali menanyakan apa yang salah sampai mas Frans menjawab seperti itu. Lidya adalah pacarnya. Wajahnya yang mendadak tidak enak membuatku ingin marah, namun masih bisa kutahan.

Sepanjang pagi kami berdiam. Aku asik dengan acara televisi, mas Frans asik dengan smartphone miliknya ditempat tidur. 

Saling diam ini berlangsung sampai sore saat mas Frans akan balik ke Jogja. Aku kesal dengan kelakuannya sepanjang hari ini. 

Ibu mulai merasakan keganjalan diantara kami berdua, hingga selalu menyuruhku untuk menanyakan banyak hal ke mas Frans yang seharusnya bisa ditanyakan sendiri oleh Ibuku.

" Dek, tanyain ke mas Frans ini, ikannya mau dibungkus pakek apa?"

"Dek, bilangin mas Frans mau nggak bawa jajan ini?" 

Aku bertanya, dan mas Frans hanya menjawab secukupnya. 

Sampai akhirnya mas Frans akan berangkat, dan masih aku yang menjadi pos

"Dek, kamu anter Mas Frans ke depan gang sampek dapat bis ya. Terus ini ATM nanti transfer uang ke rekeningnya masmu. Faham kan?"

Aku memasang wajah yang datar dan mengangguk saja. Sedangkan mas Frans hanya diam sembari sibuk memasukkan jajan kedalam tas oleh-oleh.

"Ayok, Mas."

Sesampainya di gang, aku masuk ATM mengambil uang dan transfer untuk Mas Frans. 

Tidak lama kemudian aku melihat bis  datang, dan aku mencoba berdamai dengan hatiku untuk mengakhiri keheningan ini.

"Oik, Mas udah ada bisnya tuh!" aku langsung mengangkat tas oleh-oleh dan memberinya ke mas Frans. Sedangkan aku hanya mendapat respon datar 

"Yawes" jawabnya sembari membenarkan ransel hitam dan menenteng tas oleh-oleh kemudian langsung bergegas naik bis. 

Padahal, biasanya mas Frans selalu menyodorkan tangannya dengan nada bercanda untuk menyuruhku mencium tangannya. Tapi keheningan hari ini membuat suasana hatiku sedikit rusak.

Bersaudara adalah tentang kedamaian dan kenyamanan satu sama lain. Berdiam seperti ini membuatku merasa sedih, karna aku tidak bisa membuat saudaraku sendiri berdamai denganku. Padahal, aku sangat merindukan Mas Frans. 

Hati-hati dijalan, Mas. 

  • view 128