Seharusnya tak ada yang berubah di bulan Ramadhan, kecuali ...

Siswanto Almatin
Karya Siswanto Almatin Kategori Motivasi
dipublikasikan 12 Juni 2016
Seharusnya tak ada yang berubah di bulan Ramadhan, kecuali ...

Seharusnya tidak ada yang berubah di bulan ramadhan, kecuali ibadah kita yang menjadi semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya, kita menjadi orang yang lebih baik, lebih penyabar, lebih dermawan, lebih sehat tentu saja dan hal-hal baik lainnya. Kegiatan sehari-hari yang kita lakukan sebelum bulan ramadhan seharusnya tetap berjalan seperti biasa, kecuali adanya tambahan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan bulan ramadhan itu sendiri. Misalnya, jika biasanya pada jam istirahat kantor kita sholat dhuhur dan kemudian makan siang, selama bulan ramadhan, kegiatan makan siangnya diganti dengan tadarus Al-Qur'an atau tidur siang sejenak untuk mengembalikan stamina tubuh.

Seharusnya juga tidak menjadi masalah ketika warung-warung makan tetap buka seperti biasa, hanya saja mungkin sekarang lebih tertutup kain untuk menghargai mereka yang sedang berpuasa yang kebetulan lewat di dekatnya supaya tidak melihat langsung orang yang sedang makan di dalam warung. bagi mereka yang berpuasa, itu sudah merupakan bentuk penghargaan yang baik dari mereka yang tidak berpuasa. itu menurut saya pribadi lho ya.

Terkait dengan maraknya kasus razia warteg yang sedang heboh akhir-akhir ini menjadikan kita yang sedang berpuasa, sedikit banyak ikut tersita perhatiannya karena kejadian itu ada dimana mana beritanya. di televisi, di media sosial, di media online dan lain sebagainya. Tentu saja dengan bumbu-bumbu berita yang beraneka warna. tapi mari kita coba melihat dan menelaah kejadian ini dari beberapa sudut pandang. mudah-mudahan dengan begitu, kita akan dapat memahami kenapa kejadian itu harus berlangsung seperti itu dan kenapa kemudian ada side effect dari kejadian itu yang begitu menghebohkan.

Pertama kita coba melihat dari sudut pandang petugas satpol PP yang mendapatkan perintah untuk melaksanakan penertiban warung-warung makan yang masih buka selama bulan ramadhan. peraturan ini sudah ada sebelum bulan ramadhan, mereka hanya menjalankannya. Meski mungkin dari diri pribadi masing-masing petugas juga terjadi perang bathin, antara menolak dan tugas / kewajiban dalam pekerjaan. jadi mohon bisa mengerti bahwa jika kita berada di posisi petugas satpol PP yang menggantungkan pemenuhan hidup keluarganya dari gaji sebagai petugas satpol PP, maka keputusan untuk ikut melakukan penertiban itu bisa jadi menjadi dilema tersediri.

Tentang peraturan daerah yang ada dan dipakai sebagai dasar petugas satpol PP melakukan penertiban mungkin memang seharusnya butuh untuk ditinjau kembali. Karena kehidupan masyarakat berkembang dari waktu ke waktu, bisa jadi peraturan yang ditetapkan beberapa tahun lalu akan menjadi tidak efektif lagi jika masih diberlakukan saat ini. Yang kita bisa lakukan untuk itu adalah mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk melakukan kajian ulang mengenai peraturan daerah tersebut dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten supaya proses peninjauan kembali peraturan daerah tersebut lebih efektif.

Kedua kita coba melihat dari sudut pandang para pemilik warung makan yang memutuskan untuk tetap berjualan selama bulan ramadhan. setiap pemilik warung makan memiliki kebutuhan masing-masing, jadi tidak bisa serta merta kita menyalahkan pemilik warung yang tetap buka padahal pemilik warung lainnya memutuskan tutup selama bulan ramadhan. Kita tidak tahu apa yang sedang dialami oleh pemilik warung dan keluarganya, kebutuhan mereka, permasalahan mereka, dan lain sebagainya. Bisa jadi, keputusan mereka membuka warung selama bulan ramadhan juga menjadi dilema tersendiri. Di satu sisi mereka ingin menghargai orang yang sedang menjalankan puasa, tapi di sisi lain, kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang kebetulan hanya berasal dari pendapatan warung tersebut. Yang bisa dilakukan oleh pemilik warung adalah tetap membuka warungnya tapi dengan tambahan penutup yang bisa menutupi orang yang sedang makan di dalam warungnya supaya tidak terlihat langsung oleh orang lain yang melintas yang mungkin sedang menjalankan puasa.

Ketiga kita coba melihat dari sudut pandang orang-orang yang berpuasa ( salah satunya adalah saya ). Puasa merupakan salah satu ibadah wajib bagi kaum muslim. Puasa dilaksanakan dengan menahan makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa dari mulai terbitnya matahari sampai dengan terbenamnya matahari. Bagi mereka yang terpaksa tidak dapat melaksanakan puasa di bulan ramadhan karena suatu uzur tertentu, mereka masih tetap diwajibkan menggantinya di hari lain di luar bulan ramadhan atau membayar fidyah. Menurut saya, ibadah puasa ini ibadah yang istimewa ( bukan berarti ibadah lainnya tidak istimewa ). Puasa adalah satu-satunya ibadah yang seharusnya langsung antara seorang hamba kepada Tuhannya. Orang lain melihat kita puasa, tapi mereka hanya melihat dari apa yang mata mereka mampu melihat saja. Apakah sebenarnya kita puasa atau tidak, hanya diri kita dan Tuhan saja yang tahu. Karena keistimewaan ibadah puasa ini seharusnya puasa ini menjadi ibadah yang membanggakan untuk diri sendiri.

Puasa juga satu-satunya ibadah yang pahala nya datang langsung dari Tuhan, kebayang kan? spesial dari Tuhan langsung loh. Jika seandainya Tuhan menghendaki memberikan kita pahala yang berlipat-lipat ya itu hak mutlak Tuhan, atau bahkan Tuhan memutuskan untuk tidak memberikan pahala sama sekali atas puasa kita, ya itu juga hak mutlak Tuhan. Kita tidak bisa dan tidak usah berusaha ikut campur mengenai itu. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha menjaga puasa kita dengan baik dan mengisi puasa kita dengan ibadah-ibadah lainnya dengan mengharapkan ridho dari Tuhan. Saat Tuhan berkenan dengan puasa kita, maka Tuhan pasti akan memberikan hadiahnya spesial untuk kita.

Di sisi lain, puasa dapat menjadi ajang untuk kita bisa menahan diri, menahan hawa nafsu. nafsu makan maupun nafsu lainnya. Nafsu amarah misalnya :). Semakin kita bisa menahan diri dan menahan nafsu, maka seharusnya semakin baik pula puasa kita. Tapi sekali lagi, Tuhan Maha Mengetahui apa yang kita lahirkan (yang kita katakan, atau lakukan) dan yang kita sembunyikan ( yang kita pikirkan, yang kita prasangkakan ). Jadi tidak ada gunanya berusaha membohongi Tuhan.

Puasa seharusnya kembali kepada diri kita masing-masing. jika kita berusaha semaksimal mungkin untuk menahan diri, maka mau dihidangkan berapa ribu makanan di depan kita juga tidak akan membuat kita bergeming sedikitpun dari puasa kita. Sebaliknya, jika kita tidak bisa menahan diri, kita bisa kapan saja dan dimana saja membatalkan puasa kita dengan mudah. Jadi semua kembali kepada diri kita masing-masing.

mulai kebayang ya? ... mulai paham kan?

Saat puasa itu kembali kepada diri kita masing-masing, maka seharusnya tak ada yang bisa membuat kita bergeming dari puasa itu selagi kita dapat mengendalikan dan menahan diri kita. Itulah sebabnya saya tulis di depan bahwa seharusnya di bulan ramadhan ini tidak ada yang berubah kecuali ibadah kita yang semakin meningkat dan kita menjadi orang yang lebih baik. saat berpuasa, kita juga tetap mencari nafkah, kita tetap bekerja. Yang bekerja di kantor ya tetap ngantor, yang bekerja sebagai pedagang ya tetap berdagang, yang bekerja di instansi pemerintah ya tetap bekerja seperti biasa.

Jadi menurut saya, jika kita yang sedang berpuasa ini sampai bilang ingin dihormati oleh orang lain dengan cara menjauhkan godaan-godaan makanan itu dari pandangan kita, koq rasanya malu ya. itu saya pribadi loh, entah dengan Anda. mudah-mudahan sih sama. malu juga.

Bukankah dengan adanya godaan-godaan itu justru membuat nilai puasa kita semakin bertambah dan berarti ya?

Bukankah dengan begitu kesempatan kita untuk mendapatkan pahala yang sebanyak-banyaknya dari Tuhan semakin terbuka lebar ya?

Jadi kenapa kita harus menuntut orang lain untuk menjauhkan godaan-godaan itu dari kita? lha wong kita bisa memanfaatkan godaan-godaan itu sebagai ladang pahala kita kan?

Iya gak sih?

Toleransi itu menurut saya bisa diwujudkan dalam hal lain, terutama untuk mereka yang memiliki kekuasaan ( seperti pemilik perusahaan, kepala pemerintahan, pemimpin instansi, dll ). contohnya :

  • Selama bulan ramadhan, jam kerja dikurangi yang semula 8 jam menjadi 7 jam.
  • Selama bulan ramadhan, istirahat siang semula 1 jam menjadi 1,5 jam. digunakan untuk ngaji bersama.
  • Selama bulan ramadhan, mushola kantor yang semula hanya muat 10 orang diperlebar dengan memanfaatkan ruang meeting supaya muat 100 orang. untuk sholat berjamaah karyawan.
  • Selama bulan ramadhan, kegiatan survey lapangan dikurangi dan diganti dengan kegiatan pengajian.
  • Selama bulan ramadhan, jam 9 pagi yang ingin melaksanakan sholat dhuha dipersilahkan dan dikasih waktu maksimal 30 menit.
  • Dan lain sebagainya.

Mari kita jadikan bulan ramadhan ini menjadi ajang untuk berburu ridho Tuhan sebanyak-banyaknya, melatih diri untuk lebih bersabar, dan menjadikan badan kita lebih sehat.

beWise, beNice and keep Smile !

 

  • view 131