Kontroversi Sedekah

Siswanto Almatin
Karya Siswanto Almatin Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Juni 2016
Kontroversi Sedekah

Pertama, mungkin tulisan ini akan sedikit lebih panjang daripada tulisan-tulisan saya sebelumnya, jadi kalau sekiranya Anda tidak sedang "in mood" membaca tulisan panjang, mending dibaca lain kali saja. Daripada nanti Anda malah misuh sendiri dan kalau ternyata Anda sedang puasa hari ini kan jadi sayang puasanya. Saya nggak mau nanti dituduh udah bikin puasa Anda jadi enggak barokah karena baca tulisan ini. Jadi saya udah kasih warning dulu dari awal ya. deal ? 

Kedua, kalau ada berharap akan menemukan dalil-dalil di tulisan ini, mungkin Anda akan kecewa karena ilmu agama saya jauh dari kata cukup, jauh kurangnya. Tulisan ini hanya catatan untuk diri saya pribadi yang mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk orang lain juga. 

Ketiga, pastikan Anda dalam mode "open mind" pada saat baca tulisan ini, karena bisa jadi apa yang saya tulis sangat berbeda dengan pendapat Anda pribadi, jadi sekali lagi, daripada nanti Anda misuh, mending set dulu mode Anda menjadi "open mind". Hmmm ada yang udah mulai nanya-nanya, ini kapan mulai nulis nya, dari tadi cuma warning-warning doang. hehe. Baiklah, mari kita mulai tulisannya.

Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sedekah, tidak termasuk ibadah wajib ( yang ada di rukun islam ). oh iya, karena saya muslim, jadi tulisan ini akan berdasarkan kepercayaan saya ya. Tapi mudah-mudahan sih bisa tetap berlaku secara general. Karena tidak termasuk ibadah yang wajib, maka sedekah termasuk sebagai ibadah mualamah. Karena termasuk ibadah muamalah maka umat bisa menyesuaikan dengan kondisi dan situasi dalam menjalankannya.  Berbeda dengan ibadah wajib yang sudah ada rukun dan tuntunan baku nya.

Sedekah bisa dilakukan dengan bermacam-macam niat. Ada yang melakukan sedekah dengan niat berbagi kepada sesama, ada yang bersedekah dengan niat ingin membantu sesama, ada yang bersedekah dengan niat ingin pamer kepada orang lain, ada yang ingin sedekah dengan niat mudah-mudahan Tuhan mengabulkan doa dan hajatnya, ada yang bersedekah dengan niat ingin mengurangi uang yang ada di dompet. dan lain sebagainya.

Dan mungkin ini yang jadi bahan perdebatan tentang sedekah yang akhir-akhir ini sedang ngetrend beritanya. Salah satu Ustad mengajarkan untuk bersedekah saat ingin doa atau hajatnya terkabul atau mendapatkan rizki yang lebih. Karena ada matematikanya maka dikatakan bahwa saat kita bersedekah 1000, nanti oleh Tuhan akan diganti 10x lipat atau lebih, dan seterusnya. Ini yang kemudian dikatakan bahwa sedekah koq mengharapkan diganti sama Tuhan berlipat ganda, ini kan namanya dagang. Dan ini menurut sebagian orang dinilai sesat.

Meski kalau tidak salah, Ustad yang menyarankan matematika sedekah juga selalu bilang bahwa syarat dan ketentuan tetap berlaku. Artinya, sedekah ini kan tidak bisa berjalan sendirian tanpa diiringi dengan ketentuan lainnya. Seperti, sudah melakukan ikhtiar untuk taubat dari segala kesalahan yang pernah diperbuat, jaga sholat lima waktu on time dan berjamaah, baca Qur'an, sholat malam, sholat dhuha dan lain sebagainya. Bisa jadi ini karena pemahaman yang berbeda saja tentang apa yang diajarkan oleh Ustad mengenai matematika sedekah.

Ada budayawan dan tokoh masyarakat yang enggak mau disebut ustad mengatakan bahwa Sedekah itu ya niatnya ingin berbagi dengan sesama, titik. Meskipun nanti dibalas berlipat oleh Tuhan itu urusan Tuhan. Kalau diniatkan akan dibalas berlipat oleh Tuhan pada saat sedekah itu namanya Dagang. Menurut saya, kenapa beliau mengatakan seperti itu, itu karena jika kita sudah berharap di awal bahwa sedekah kita itu akan dibalas oleh Tuhan dalam kelipatan tertentu, nanti akan mendorong kita pada persepsi bahwa Tuhan wajib mengganti / membalas sedekah itu dengan kelipatan tertentu sesuai yang diniatkan, dan ketika itu tidak terjadi ( dalam waktu dekat misalnya ), maka yang bersedekah akan menyalahkan Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan ingkar ( berdasarkan pemahaman yang diteirma dari Ustad tentang matematika sedekah misalnya ). 

Mulai kelihatan kan? di mana missed nya ? Pemahaman kita tentang matematika sedekah bisa jadi tidak utuh atau kurang matang, serta pemahaman kita tentang nasehat bahwa sedekah itu jangan diniatkan mengharap Tuhan menggantinya dengan kelipatan tertentu yang juga tidak utuh dan kurang matang. Keduanya sebenernya bisa saling melengkapi, hanya saja kemampuan pemahaman kita saat mencerna nasehat dan ajaran itu yang berbeda-beda. Dan itu normal, sangat normal. Seperti halnya kadar keimanan kita yang berbeda satu dengan yang lainnya. 

Matematika sedekah nurut saya sih gak ada masalah ya, selama kita paham bahwa sedekah itu tidak bisa sendirian jalannya, harus dengan syarat dan ketentuan berlaku. Seperti yang sudah saya contohnya di paragraph sebelumnya. Saat pemahaman kita tidak utuh maka kita akan cenderung menganggap bahwa sedekah itu cara instant untuk menggandakan uang atau membuat hajat kita terkabul. dan ketika hajat kita tidak terkabul sesuai harapan, maka kita akan menyalahkan yang mengajarkan kita tentang matematika sedekah itu atau bahkan menyalahkan Tuhan. ( tuh kan, jadinya kita berusaha untuk ngatur-ngatur Tuhan. Lha emang kita ini siapa? koq ngatur-ngatur Tuhan. ). Sedekah bisa saja menjadi perantara untuk percepatan doa kita kepada Tuhan, karena dengan sedekah kita dapat membuat Tuhan ridho dengan semua taubat, ikhtiar, dan doa kita. Jadi sedekah menjadi pelengkap yang menyempurnakan semua itu. 

Nasehat untuk tidak meniatkan sedekah agar dibalas berlipat ganda dengan kelipatan tertentu itu juga benar, ya itu tadi. Kalau kita niatkan mentah-mentah sedekahnya agar dibalas oleh Tuhan dengan berlipat dengan kelipatan tertentu maka saat itu tidak terjadi ( dalam waktu dekat karena bisa jadi syarat dan ketentuan kita belum tercukupi ), maka kita akan menyalahkan Tuhan karena kita menganggap Tuhan ingkar dan tidak mengabulkan doa kita saat bersedekah. Tuh kan ? 

Jadi, mari kita matangkan dulu pemahaman kita tentang matematika sedekah dan niat sedekah jangan untuk dilipat gandakan oleh Tuhan. Gak ada yang salah dengan sedekah, bahkan saat kita tidak ikhlas sekalipun. Sedekah itu tidak perlu ikhlas, yang penting banyak hehe. Itu saat kita bersedekah memang karena ingin berbagi dengan sesama saja. 

Saat kita sedang memiliki hajat tertentu, maka kita tidak bisa mengandalkan sedekah sendirian untuk bisa membuat Tuhan ridho dan mengabulkan hajat kita. Kita butuh lebih dari itu. Syarat dan ketentuan berlaku.

Taubat dari segala kesalahan dengan sebenar-benarnya taubat. Kita manusia, pasti banyak salah. itu pasti. jadi Taubat bisa menjadi langkah pertama ikhtiar kita supaya Tuhan ridho dengan kita. 

Jaga sholat wajib supaya bisa on time dan berjamaah secara istiqomah, ini ikhtiar kita berikutnya supaya Tuhan ridho dengan kita. Setelah sholat wajibnya terjaga, ditambah dengan sholat sunnah, yaitu sholat dhuha dan sholat malam. Kemudian kita juga bisa menambahkan dengan baca Quran ( surat mana aja, semua surat di Quran itu baik, atau surat tertentu yang diyakini memiliki keutamaan tersendiri. silahkan. ). Juga kita bisa menambahkan dengan memperbanyak sholawat kepada Rosululloh SAW, dzikir setelah sholat wajib maupun sholat sunnah.

Nha klo sudah begitu, sebenarnya sedekah itu ibarat 'NOS' nya di mobil balap supaya mobil bisa lebih kenceng nglindingnnya. Setelah semua itu dilakukan pun, setelah bersedekah maka kita tetap harus menjaga bahwa Tuhan yang berhak memutuskan untuk ridho kepada kita atau enggak, Tuhan mengabulkan hajat kita atau enggak. Kalaupun ternyata hajat kita belum juga terkabul, tetap prasangka baik kepada Tuhan, karena Tuhan Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Tetap lakukan ibadah-ibadah dan ikhtiar itu seterusnya. Tuhan tidak pernah ingkar janji. 

Nha, sudah lebih mudeng kan? atau malah mubeng? haha ... mudah-mudahan kita bisa menahan diri dan terus introspeksi diri sendiri supaya kita menjadi orang yang lebih baik dari waktu ke waktu. 

Sudah, gak usah ribut lagi soal sedekah. Oh iya, satu lagi. sedekah itu tidak harus memaksakan diri seharusnya. contohnya : kita sedang punya urusan dengan nilai yang besar, lalu kita ingin bersedekah dengan nilai yang besar pula dengan harapan nanti Tuhan akan menggantinya dengan jumlah yang bisa menutup urusan kita itu. Karena kita tidak memiliki harta sebanyak yang kita inginkan untuk bersedekah, lantas kita mengambil harta orang lain tanpa ijin kemudian mensedekahkan harta itu dengan niat seperti tadi. Ya enggak gitu juga kan? makannya tadi saya bilang bahwa pemahaman kita tentang sedekah ini yang mungkin harus diperdalam lagi, dimatangkan lagi. 

udah seribu seprapat kata lebih hehe maaf jika terlalu panjang tulisannya, mudah-mudahan enggak bosenin bacanya. dan yang lebih penting lagi, mudah-mudahan bermanfaat ya !. Kebenaran mutlak dari Tuhan, kesalahan pasti dari diri saya sendiri. Ambil yang baik-baik saja dari tulisan saya ini. Yang Anda anggap buruk ya diabaikan saja. bisa?

beWise, beNice and keep Smile !

glossary:

ngglinding : menggelinding, karena mobil pakai roda.; mudeng: mengerti, paham.; mubeng: muter, berputar.; seribu seprapat: seribut dua ratus lima puluh.;