BAGIAN 3 - IBU RUMAH TANGGA

Alman Haraki
Karya Alman Haraki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Maret 2016
Dua Kuas

Dua Kuas


Cerita Bersambung

Kategori Acak

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
BAGIAN 3 - IBU RUMAH TANGGA

?San, Sen, sepatu sudah diangkat belum?? teriak ibu dari lantai atas, sepertinya ibu sedang menyetrika. Suara Ibu mengagetkanku dan kak Hasan yang sedang asyik menonton tayangan bola bersama ayah diruangan televisi dilantai bawah. Aku melihat kak Hasan dan kak Hasan pun melihatku, kami saling pandang. ?Sudah belum ya???

?San, Sen, sepatu dah diangkat belum?? teriak ibu lagi, kali ini makin keras dari sebelumnya. Seperti inilah ibuku, semakin menekan jika perintahnya tidak dituruti.

?Sudah apa belum Kak?? tanyaku kepada kak Hasan.

?Mana gue tahu! Coba lu lihat-lah dijemuran? jawab kak Hasan. Kami sedari kecil memang sudah terbiasa dengan ?lu? dan ?gue?. Kami pun lupa karena apa kami menggunakan ?lu? dan ?gue? padahal kami tidak besar didaerah Jakarta dan sekitarnya.

?

Akhirnya aku mengalah, karena posisiku tersudutkan, mau menyuruh siapa lagi?Masa?meminta ayah mengecek sepatu apakahsudah diangkat atau belum, menyuruh Refi sepertinyatidak mungkin juga, diakan masih kecil, Leni?? Hmm ya pasti tidak mungkin, wong dia aja belum dilahirkan. Jadilah aku yang mengecek sepatu apakah sudah diangkat atau belum. Perihal angkat sepatu seperti ini bisa jadi menyulutkan perang dunia ke tiga antara aku, kak Hasan dan Ibu. Jadi lebih baik mengakhiri konflik sedini mungkin, dan korbannya siapa lagi, ya..Aku. Tak apa-apalah.

?San, Sen..sudah diangkat atau belum hah..!!? kali ini Ibu benar-benar akan berang, aku langsung meloncat dengan cepat untuk mengecek dan sekenanya menjawab pertanyaan Ibu, ?Ya..Bu, ini lagi mau diangkat. Segera.?Ayah hanya tersenyum saja melihat kejadian kali ini. ?Ah..ayah, senang nian lihat anaknya dimarahin? gerutuku dalam hati.

Sesampainya di tempat jemur sepatu, ternyata, sepatuku dan kak Hasan masih berdiri disana dengan sombongnya. Pantas saja belum diangkat, tadi sore kan kami baru pulang dari jembatan Ampera, sampai rumah langsung mandi dan segera ke musholla untuk sholat maghrib dan mengaji. Untung saja Ibu menyuruhku mengangkat sepatu, kalau tidak, bisa tidak sekolah kami besok karena malam ini langit mendung, mana sepatu cuma satu-satunya. Benar saja, baru saja sekitar lima menit aku angkat sepatu-sepatu itu, hujan membasahi bumi Sriwijaya. Ibu itu memang luar biasa, bahkan langit pun tak enggan menunjukkan kemuliaan seorang ibu dan kasih sayangnya kepada anak-anaknya.

?San, Sen, sepatu sudah diangkat kan?? tanya Ibu.

?Sudah Ibuku yang cantik?!?jawabku dengan manja. Kak Hasan memberikan dua jempolnya kepadaku pertanda sangat setuju atas apa yang baru saja aku ucapkan ke Ibu. Ayah pun tak mau kalah juga menunjukkan dua jempolnya kearahku.

***

Begitulah, setiap hari minggu pagi memang sudah menjadi langganan-aku dan kak Hasan- untuk mencuci sepatu, dasi, topi, kaus kaki, dan tas sekolah. Ibu tidak mau mencucikan alat-alat sekolah kami dengan alasan itu adalah barang kami sehari-hari, jadi kamilah yang harus bertanggung jawab untuk mencucinya. Terdengar sadis memang, tapi begitulah ibuku, dengan cara seperti itu ia mengenalkan kami akan seperti apa itu namanya, akan seperti apa itu rasanya tanggung jawab. Dan Ia mulai dengan hal kecil seperti ini, kecil? Ah tidak juga, bagiku dan kak Hasan ini adalah hal besar dan berat, tangan-tangan kecil kami bersusah payah memeras sepatu dan tas sekolah. Terkadang kami saling membantu memeraskan, berdua memeras tas dan memeras sepatu. Belum lagi harus telapak tangan dan kaki yang gatal-gatal karena busa sabun cuci yang keras.

Tahu sendirikan, hari minggu adalah hari sucinya anak-anak, begitu kata teman-temanku di sekolah. Hari minggu ialah hari yang penuh dengan kartun kesukaanku,dimulai dari jam enam pagi sampi sebelas siang. Terkadang, mencuci alat-alat sekolah adalah hal yang sangat berat untuk dilakukan, dan sering juga kami dimarahi oleh ibu karena, sudah jam sembilan belum juga sepatu dan kawan-kawannya itu dicuci. ?Mau kapan kering, kalau kalian belum juga mencuci barang-barang sekolah kalian hah!!? marah Ibu. Alhasil, televisi pun dimatikan paksa dan dengan sedikit cubitan dikaki dan pinggang kami pontang-panting berjalan ke kamar mandi untuk mencuci.

Selain mencuci barang-barang sekolahan kami sendiri, kami juga membantu tugas-tugas kerumahtanggan. Mulai dari bantu membilas cucian Ibu, bantu membilas piring-piring yang sedang dicuci oleh ibu, membantu merapikan piring-piring ke rak piring, membantu melipat kain yang sudah diangkat dari jemuran, membantu meletakkan pakaian yang sudah digosok Ibu kedalam lemari, membantu membersihkan perabotan dengan kain atau kemoceng sebelum lantai disapu oleh ibu, membantu merapikan perabotan-perabotan yang lantai dibawahnya sudah disapu Ibu, kebiasaan ibu kalau lagi menyapu, semua lantai harus kena disapu jangan sampai ada ubin yang ketinggalan disapu,terkadang juga akudisuruh ibu untukmenyapu dan kalau masih ada debu dilantaiwalaupun sedikit, siap-siap dapat ceramah dan diajarkan lagi cara menyapu yang benar.

?Terus apalagi ya?? owh iya, membantu merapikan tempat tidur kami dan juga tempat tidur ibu. Dan juga kalau belum rapi dan masih ada kusut disana sini, kami akan diajarkan cara yang benar untuk merapikan tempat tidur, yang sudah kami kerjakan tadi dibongkar dan disuruh merapikan kembali sesuai dengan arahan-arahan yang ibu ajarkan tadi, dan ibu disamping melihati kami bak pengawas lapangan yang galak. Terus membantu ibu memasak, memetik toge, memetik cabai, membelah ikan teri dan dibuang kotorannya, mengupas bawang yang sering buat mata berair seperti menangis, dan masih banyak deh.

Namun dibalik semua pekerjaan-pekerjaan rumah yang menyenangkan ?melelahkan- itu, aku tahu bahwa ibu beribu-ribu sangat capai dan lelah untukmengurusi ayah dan anak-anaknya yang bandel-bandel kayak kami. Kalau bukan kami yang membantu, siapa lagi? Tidak ada lagi, Walaupun jiwa kekanak-kanakan kami yang menyukaibermain-main sedikit direnggut karena aktivitas kerumahtanggan tersebut, sering kali membuat kami malas untuk membantu ibu, seiring berjalannya waktu kami pun rela mengerjakannya dengan sepenuh hati. Ibu pernah mengatakan dua nasehat. Yang pertama. ?Kelak kalian pun akan memiliki istri, kalian akan lebih bisa menghargai istri kalian, karena istri bukanlah pembantu, istri adalah partner, bahu-membahulah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Setidaknya kalian sudah bisa mencuci, menyapu, merapihkan tempat tidur, dan pekerjaan lainnya. Sayangi istri kalian!? tentu nasehat ini belum bisa masuk dikepala kami, mungkin nasehat ini akan menjadi pegangan kami pada saatnya nanti. Yang kedua, ?Jika ibu kalian ini meninggal dunia, dan ayah kalian tidak menikah lagi, kalian lah yang akan mengurusi pekerjaan rumah tangga, refi dan lani masih kecil, kalian lah yang bisa diandalkan. Kalian paham!? tentu saja nasehat kedua ini menitikkan bulir-bulir air mata, jatuh, membasahi pipi. Ibu tidak boleh berbicara seperti itu, kami tidak mau Ibu pergi secepat itu. Kami masih butuh ibu, praktis kami sangat rela membantu ibu, kami tidak mau Ibu sakit-sakitan karena keletihan mengerjakan pekerjaan kerumahtanggaan.

***

Seperti halnya Ayah, Ibu juga bukan asli palembang. Ibu dilahirkan di Medan dan besar di Duri (Riau). Keluarga Ibu pindah ke Duri sewaktu Ibu masih sangat kecil karena kakek ?ayahnya Ibu- dipindahtugaskan ke markas TNI di Duri. Kakek saat itu menjabat sebagai Sersan Mayor, bisa dibilang keluarga Ibu saat itu keluarga yang berada. Namun, maut tak tebang pilih, apakah muda ataukah tua, miskin ataukah kaya, beriman ataukah ingkar, maut pun menjemput kakek disaat usia Ibu masih kecil, dan itu tentu saja berdampak bagi kesejahteraan keluarga Ibu, perlahan-lahan keluarga ibu yang sebelumnya berada menjadi bisa dikategorikan susah.

?

Ibu pernah cerita tentang kakek, itupun karena kami memaksa untuk diceritakan tentang kakek, hal yang wajar ketika seorang cucu ingin mengetahui tentang kakeknya, terlebih sang cucu tidak pernah sama sekali melihat kakeknya, seperti apa wajahnya, seperti apa sayangnya kepada cucu-cucunya. Ibu mengatakan bahwasanya kakek itu orang yang sangat bersahaja, sayang kepada anak-anaknya, sangat rajin beribadah, dan juga sangat derma kepada kaum dhuafa. Dalam kehidupan bertetangga pun kakek sangat disegani dan dihormati. Kakek meninggal diusianya masih sangat muda. Kata ibu, kakek terkena stroke dan menyebabkannya lumpuh, sholat pun hanya bisa dengan posisi duduk.

Ibu bercerita, pada saat kakek meninggal, ibu sedang asyik main kelereng disekolahnya pada saat jam istirahat. Ketika dijemput di sekolah dan diberitahu tentang meninggalnya kakek oleh kerabatnya, ibu langsung meninggalkan kelerengnya yang saat itu ibu sedang menang besar, ibu meninggalkannya begitu saja lantas loncat, pontang-panting berlari sembari menyeka air matanya yang tak mau berhenti mengalir, bagaimana tidak, ?ia kehilangan sesosok ayah ketika usianya masih kecil, usia yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah, usia yang masih sangat inginnya dibelai dan diberi nasihat oleh ayah. Ketika sesampainya di rumah, ibu menjerit histeris ketika melihat seonggok jasad yang sudah kaku diranjang kamar ayahnya. Berguling-guling dilantai, meratapi dan meracau-racau memanggil kakek. Sudah tak tertahan lagi air mata ibu, begitu juga abang-abang, kakak, dan adiknya, juga tentu nenek yang sangat-sangat terpukul akan meninggal dunianya kakek.

Memang hidup harus tetap berjalan, ia terus berjalan tak mengenal apakah ada yang kehilangan atau tidak, ia terus berjalan. Tidak ada waktu untuk terus meratapi kehilangan. Sesudah ditinggal kakek, keluarga ibu yang susah, membuat ibu pun ikut membantu keuangan keluarga. Ia mencoba membantu dengan menjual kue keliling kampung. Otomatis masa kekanak-kanakkannya sedikit hilang, tapi itu tidak membuatnya kecewa, meratapi nasib menjadi orang susah dan tidak punya ayah, ia tidak mau mengutuk takdir yang tidak berpihak padanya, Ia tidak mau mengatakan Tuhan tidak adil padanya, ah..tidak, Tuhan itu Maha Adil, ketika seseorang diberikan kesusahan atau kehilangan berarti itu adalah Rahmat dari-Nya, ada hikmah yang bisa dipetik, ada rahmat yang datang, namun kita saja sebagai manusia yang cepat-cepat menilai dan mengutuk Tuhan itu tak adil. Ibu selalu membahagiakan dirinya dengan janji-janji-Nya. Ia yakin. Yakin sekali.

Ia dan keluarganya bahu membahu satu sama lain menghadapi takdir dengan lapang dada. Ibu pernah bercerita, selain menjual kue keliling kampong, ia juga pernah membantu menjaga kandang ayam tetangganya dengan dibayar perhari, tugasnya simple, ah tidak juga, yaitu memberikan makan ayam, mengambil telurnya dan mengawasi ayam-ayam tersebut jangan sampai hilang apalagi sampai dicuri orang lain, karena pada saat itu sedang marak-maraknya pencurian ayam. Pernah suatu hari, ibu kecolongan karena ada satu ayam yang hilang, alhasil ibu dimarahi dan dihukum oleh si empunya kandang dengan upahnya yang tidak akan dibayar selama satu bulan, tentu saja itu akan sangat berdampak bagi Ibu. Bagaimana tidak, uang jaga kandang perhari itu adalah juga uang spp dan jajan untuk sekolahnya. Tidak cukup hanya disitu, tentu dirumah hukuman juga sudah menanti dari nenek. Karena dimata nenek, tidak boleh ada yang melakukan kesalahan. Yang aku tahu dari ibu, nenek itu orangnya pemarah dan sering pake tangan kalau marah, tapi kalau sudah sayang, akan sangat sayang sekali. Semenjak saat itu, Ibu berjanji tidak akan teledor lagi. Tidak akan pernah.

Ada lagi cerita ibu yang bisa dibilang ?bandel?nya remaja, saat itu Ibu sudah beranjak remaja. Bersama dengan teman sekolahnya yang perempuan, mereka pergi menonton layar tancap didaerah yang tidak terlalu jauh dari rumah ibu. Dengan nenek, mereka izinnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dirumah teman yang lain dan tentu diizinkan oleh nenek dengan catatan pulang sebelum jam sembilan malam, mereka pun meng-iyakan, mereka pun akhirnya bisa memuluskan rencana mereka untuk menonton layar tancap. Sesampainya disana, ternyata layar tancap belum datang, dengan perasaan kesal dan kecewa, mereka pun mendatangi panitia layar tancap dan mendapatkan jawaban bahwasanya layar tancap baru akan datang sekitar satu jam lagi karena mobil pembawa alat-alatnya terjebak lumpur dan itu berarti secara hitung-hitungan, film akan selesai pada jam setengah sepuluh lebih. Mereka tentu saja cemas dan akhirnya sepakat untuk segera pulang sebelum jam sembilan walaupun filmnya belum usai, karena tentu mereka takut dimarahin sama orang rumah.

Setelah satu jam menunggu si-layar tancap, akhirnya datang juga, mereka senang bukan kepalang karena ini adalah kali pertama mereka menonton layar tancap. Film pun diputar, mereka pun asyik menonton film yang disuguhkan panitia. Mungkin sangking menariknya film tersebut, mereka menjadi lupa waktu. Nenek dirumah sudah cemas, anak gadisnya belum pulang dan takut ada apa-apa karena jam dinding di rumah sudah menunjukkan jam sembilan lewat sepuluh menit. Nenek pun akhirnya menyuruh Uak Nang ?anak kedua- untuk menjemput ibu ?dirumah temannya Ibu, Uak pun bergegas kesana dan tidak menemukan ibu disana, dengan segala cara Uak mencari ibu, bertanya kepada semua orang kampung, akhirnya ada satu orang yang melihat ibu tadi selepas isya? berjalan kearah lapangan layar tancap. Dengan senter ditangannya, Uak Nang pun bergegas ke lapangan layar tancap. Sesampainya disana, Uak Nang pun menyenter satu-satu muka orang disana, karena Uak Nang yang badannya super besar membuat semua orang yang disenternya takut untuk marah. Akhirnya? pas giliran muka ibu yang disenter, ibu kaget bukan main dan sebaliknya, Uak Nang tidak kaget lagi namun sangat marah besar.

?Ternyata disini kau yah..!!? Uak Nang dengan sangat emosinya kepada Ibu. Pelak, rambut ibu yang dikuncir kuda pun ditarik oleh Uak Nang sampai rumah, Ibu malu bukan main diperlakukan seperti itu, sementara ibu pun tak punya daya untuk melawan abangnya yang besar itu. Akhirnya, ibu pun pasrah saja rambutnya ditarik sampai ke rumah. Sesampainya di rumah, hukuman belum berakhir, Uak Nang langsung mengambil gunting di lemari dan dengan cueknya memotong rambut ibu yang dikuncir kuda itu, tentu saja rambut ibu menjadi colak dan sangat hancur. Nenek hanya diam dan memperhatikan saja saat itu. Tak ada satupun yang berani kalau Uak Nang sudah marah. Alhasil, setelah kejadian itu, ibu menggunakan kerudung kalau kemana-mana dan (lagi) ia bertekat untuk tidak akan berbohong lagi. Aku yang mendengar cerita ini, langsung terbahak-bahak ketawamembayangkan ibu dengan kepala yang botak sebagian begitu pun Ibu juga ikut tertawa, senang sekalimelihat Ibu ketawa, kalau bisa dibilang, hal terindah dalam hidupku saat ini adalah melihat ibu tertawa. Ha..ha.

Bagiku, Ibu, orang yang sangat luar biasa. Ia sangat begitu bisa dekat dengan semua orang, dimanapun kami tinggal, Ibu selalu punya tempat dihati para tetangga dan para tetangga pun sangat berat untuk melepas kepindahan Ibu bahkan sampai para tetangga menangis tersedu-sedu. Sifat luwes, mudah berbagi, dan tidak pilah-pilih teman menjadikan ia begitu populer di lingkungan rumah kami. Tentu saja itu membuat aku dan kak Hasan menjadi populer juga dikalangan anak perempuannya teman-teman Ibu. He..he.

***

Wajah ibu itu kebanyakan seperti wajahnya orang melayu, kasarnya pasaran, kulitnya putih bersih, tingginya setelinga ayah, jadi tidak terlalu pendek untuk ukuran seorang wanita. Berbeda dengan kami semua, ibu sedikit agak berisi badannya, tapi waktu mudanya dulu ibu juga kurus, mungkin karena dampak setelah melahirkan atau apa yang menjadikan ia agak berisi sedikit. Namun, aku dengan berani mengatakan bahwa ibu adalah wanita yang cantik, itu terlihat dari komentar teman-temanku disekolah ketika ibu datang ke sekolah karena ada masalah kak Hasan yang sampai-sampai ibu harus dipanggil ke sekolah. Apalagi teman-temanku yang perempuan sedikit iri kepadaku karena aku memiliki ibu yang sangat cantik. Mereka bilang, ?Oi..cantik nian ibu kau sen!? aku yang mendengarnya sangat senang bukan main, mereka pun pernah bilang kepadaku ?kapan-kapan boleh kan main kerumah kau??

?

?ngapain kerumah??tanyaku.

?kami nak lihat ibu kau yang cantik itu lah!? jawab mereka malu-malu.

?Ada-ada saja? batinku. Kembali aku senang ibuku dipuji, anak mana yang tidak senang ketika ibunya dipuji oleh orang lain.

Ibu itu tempat yang terbaik untuk meminta uang atau minta sesuatu, aku dan kak hasan hanya ?mampu- meminta uang kepada ibu saja, tidak berani untuk meminta kepada ayah, kasihan ayah dipusingkan dengan permintaan kami, oleh karenanya, kami hanya berani melalui ibu saja, dan ibu lah yang kan ?merayu? ayah untuk memberikan kami uang atau membelikan sesuatu. Pernah suatu saat aku dan kak hasan meminta untuk dibelikan bola, alasannya karena teman-teman sekolahsudah pada punya bola dirumahnya, jujur kami sangat iri dan ingin juga memiliki bola di rumah. Kami pun meminta ke ibu, ?Bu, beli bola boleh ga?? ibu pun mengusahakannya dengan catatan selama seminggu kami harus mengurut atau memijat ibu mulai dari kepala, tangan, dan kaki. Selama seminggu, aku dan kak hasan memijat ibu pada sore hari. Ternyata, usaha kami berbuahkan hasil, tepat seminggu kami meminta dibelikan bola, bola sudah ada dikamar kami. Kami pun memeluk ibu yang saat itu sedang masak didapur. ?Makasih ya Bu!? ujar kami berdua. Belakangan kami tahu, bahwa ibu tidaklah meminta kepada ayah melainkan pakai uangnya sendiri yang ia tabung selama seminggu itu dari uang belanja yang diberikan ayah kepadanya. Ah ibu, pesonamu tak pernah pudar.

Juga, Ibu orangnya sangat disiplin, ini dapat dimengerti dari didikan orang tua dan abang-abangnya dulu. Ibu adalah anak kedelapan dari sembilan, dan itu menjadikan ia secara tidak langsung adalah anak bungsu bersama adiknya. Dari kesembilan itu, enam laki-laki dan tiga perempuan termasuk Ibuku.

Sifat disiplin itu, coba ia tularkan kepada kami, anak-anaknya. Misalnya, seperti tidur siang dan tidur malam. Selepas pulang dari sekolah, sholat, makan siang, kami akan langsung disuruh tidur oleh ibu, tidak ada yang boleh membantah perintahnya itu walau teman-teman lingkungan rumah memanggil-manggil untuk main gambar, benteng-bentengan, layangan, kelereng, dan apalah permainan lainnya. Ibu pun dengan cueknya menjawab panggilan teman-temanku diluar, ?Hasan Husen lagi tidur, tidak boleh main!!? aku dan kak hasan yang sudah ada dikamar hanya menggerutu dalam hati.

Pernah suatu saat bahkan sering, aku dan kak hasan hanya berpura-pura tidur saja, oi..sungguh-sungguhtidak ada rasakantuk kami saat itu. Yang kami lakukan hanya mengobrol kemana-mana tidak jelas dikasur, kadang kak hasan ceritain cerita lucu, kami pun ketawa-ketawi renyah, tidak tahu dari mana, ibu pun tahu bahwa kami belum tidur, ibu segera ke atas (kamar kami ada dilantai dua), buka pintu kamar, melihat mata kami yang masih melek, dan akhirnya cubitan ibu pun mendarat dengan manis dikaki-kaki kami yang kecil. Pernah juga saat itu aku belum bisa tidur, kali ini kak hasan entah kenapa tidak seperti biasanya, dia langsung tertidur pulas, mungkin kecapaian lari-larian disekolah tadi. Entah ada angin apa, (lagi) ibu mendadak membuka pintu kamar, aku kaget bukan main, lantas kupejamkan mata berat-berat dan berpura-pura tidur. Rupanya ibu tau aku hanya berpura-pura tidur.

?Sen, jangan coba kau bohongi Ibu, cepat tidur!!? aku yang tadi pura-pura tidur dengan polosnya menjawab pertanyaan ibu, ?ya..bu! akan husein usahakan.?

?Nah kan! Nggak tidurkan?? walhasil lagi-lagi cubitan ibu mendarat dikakiku. Kali ini hanya sendirian dicubit. Nasib-nasib, aku pun hanya bisa menahan sakitnya cubitan ibu tadi dan mencoba sekuat mungkin untuk tidur.

Begitulah, tidur siang dikeluargaku adalah suatu keharusan, aku tidak tahu alasannya apa. Ketika berlibur ke Duri, nenek pun menyuruh kami untuk tidur selepas makan siang. Mungkin tidur siang adalah kebiasaan dari keluarga ibuku yang diturunkannya kepada kami.

Untuk tidur malam pun ibu sangat disiplin, mau ada acara apapun di rumah, mau ada film apapun yang bagus di siaran televisi, mau ada acara apapun di mushalla, mau ada PR yang sudah diselesaikan atau belum, kalau jarum jam sudah menunjukkan tepat pukul sembilan, maka kami harus sudah ada di kasur dengan sebelumnya minum air putih satu gelas dan cuci kaki. Kalau kami bilang, ?bentar Bu, lagi seru nih filmnya? atau ?PRnya belum siap nih, Bu? Siap-siap aja cubitan akan mendarat manis dikaki. Oleh karenanya, kami pun menurut saja dan dengan tertib ke lantai atas langsung ke kamar lantas ambil posisi tidur dan mencoba merapatkan mata agar teridur, dan kemudian tertidur.

Tapi, aku yakin bahwa yang dilakukannya kepada kami semata-mata hanyalah untuk kebaikan kami karena ia tahu apa yang terbaik untuk kami.

?

Mulanya ku tiada menyadari

Segala perjuanganmu yang sangat mulia untukku

Engkau rela korbankan hidupmu untukku

Hari berganti dan musim pun telah berubah

Mampu menunjukkan arti kasih sayangmu

Dihati terus bersemayam rindu terus terpatri

Oh angin, nyanyikanlah lagu rindu pada Ibuku

Oh malam, selimutkanlah buaian cinta pada Ibuku

?

***

?

Bersambung...

?

Alman Haraki

  • view 442