BAGIAN 2 - BUYA

Alman Haraki
Karya Alman Haraki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Maret 2016
Dua Kuas

Dua Kuas


Cerita Bersambung

Kategori Acak

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
BAGIAN 2 - BUYA

Sore yang indah,anak-anak disekitaran rumahku sudah pada menghilang dari bermain dipanggil orang tua masing-masing menyuruh mereka mandi tuk bersiap-siap ke mushala, waktu sudah mendekati magrib, lantunan ayat suci al-qur?an yang mendayu indah, lembut, dan tentram seakan-akan menyuruh kami untuk pergi kemushala, bapak-bapak terlihat berjalan dengan mengenakan baju koko, sarung, dan tak terlupa tersampirkan sorban dibahu kanannya menuju mushala Al-Misbah. Kebetulan letak mushala Al-Misbah tepat dibelakang rumahku, mushala kecil hasil swadaya masyarakat, walaupun terlihat sederhana dan kecil namun begitu ramai ketika shalat fardhu dilaksanakan dan juga makmur dalam artian bapak-bapak mengadakan pengajian, ibu-ibu juga mengadakan pengajian, remaja-remaja pun juga mengadakan pengajian. Termasuk aku dan kakakku yang sering ikut pengajian itu.

Mushala ini begitu hidup. Betah berlama-lama di mushala. Ada seorang yang kami, para jama?ah hormati dan segani disini, ia adalah Buya Zainal Abidin, kami hanya memanggilnya dengan panggilan BUYA saja, matanya teduh, berjanggut tebal, sedikit berkata-kata namun bijak dan tegas, serta sangat mencintai dan menyayangi anak-anak termasuk kami berdua. Pernah suatu hari buya menyebut-nyebut namaku dan kakakku disela-sela ceramahnya di mushala, tentu saja aku kaget bukan main, terlebih-lebih kakakku. Buya mengatakan, ?Bapak-bapak dan Ibu-ibu si anak kembar Husein dan Hasan ini ? sambil menunjukkan telunjuknya kearah kami berdua yang duduk di shaf paling depan ?? adalah contoh anak yang terbina akhlak dan keimanannya dengan baik walaupun mereka masih anak-anak, mereka selalu rajin pergi kemushala bahkan berjama?ah shalat subuh, kita sebagai orang yang sudah berumur dan ?bau tanah? seharusnya malu dan tidak segan-segan untuk mencontoh mereka. Kita tak perlulah malu atau bahkan minder belajar dari anak kecil, mungkin anak kecil itulah yang akan menghantarkan hidayah Allah kepada kita. Subhanallah. Ehmm? satu lagi, coba lihat bapak-ibu, mereka duduk paling depan ?Buya menatap kami dan sedikit memberikan senyum bijaksananya- sedangkan bapak-bapak dibelakangnya, seharusnya kita malu Pak!.? Aku tidak tahu reaksi bapak-bapak yang ada dibelakangku, apakah kesal, apakah merasa tersindir, atau apakah merasa semangat ruhiyahnya menjadi membuncah untuk melaksanakan ibadah lebih semangat lagi. wallahu?alam, hanya Allah dan diri mereka sendiri yang tahu. Yang jelas kini, aku sedang melalang buana, tersungging malu dihadapan banyak orang, aku merasa aku berarti. Yah..aku ada. Hidung kami mekar-mekar, jantung berdebar-debar, dan tentu rona muka pun ikut memerah. Tersipu malu. Oh lihatlah, kakakku pun juga begitu, sedari tadiia selalu menunduk-nunduk tidak jelas. Aku lucu melihatnya. Kami merasa, kami berdualah anak komplek yang paling disayangi oleh Buya. Kepedean kali ya? Tersenyum dalam hati. Sungguh, sangat beda rasanya pabila dicintai oleh orang shaleh. Luar biasa. Itulah yang kami rasa.

?Din, Lis, kalian adalah orang tua yang beruntung, memiliki anak-anak yang shaleh, bersyukurlah kepada Allah!? Buya mengatakan itu ketika beliau silaturahim kerumah kami beberapa waktu yang lalu.

Buya adalah salah seorang ulama di Sumatera Selatan, ia adalah imam mushala ini. Usianya masih lima puluh lima tahun, tergolong masih muda untuk seorang ulama. Ulama muda. Iamemiliki empat anak, tiga lelaki dan satu perempuan. Dari keempat anaknya itu, hanya dua yang aku kenal, kak Bayu dan kak Yusuf. Kak Bayu sendiri berusia dua puluh dua tahun dan kak Yusuf berusia Sembilan belas tahun. Mereka kukenal karena merekalah yang menghidupkan mushala Al-Misbah ini untuk para anak-anak dan remaja-remaja dilingkungan komplek ini. Semangat menghidupkan masjid mereka sangat luar biasa. Aku dan kak Hasan merasakan semangat itu mengalir ke pori-pori jiwa anak-anak kami, aliran itu lah yang membuat kami pun semakin semangat untuk mengaji.

Kak bayu selalu berpenampilan necis, keren dan gaya, walaupun pakai baju koko, tapi sangat keren. Beda dengan adiknya kak yusuf, yang selalu hanya berpenampilan apa adanya dan selalu pakai jaket kemana-mana. Heran. Nih orang cuaca panas atau dingin sekalipun selalu pakai jaket, Aku rasa, ia selalu memakai jaket itu karena menutupi badannya yang kurus, biar tidak terlalu terlihat kurusnya. Dan iseng, kami ?anak-anak yang mengaji- pun memberikan gelar kak yusuf, SI MANUSIA JAKET. Ia cuma tersenyum ketika kami menggelari beliau dengan sebutan itu. Ia tidak marah dan tidak mungkin bisa marah. Senangnya.

Kak bayu adalah mahasiswa UNSRI jurusan teknik perminyakan dan kak yusuf mahasiswa UNSRI juga, tapi beda jurusan dengan kak bayu, jurusannya arsitek. Kak yusuf suka menggambar kartun, kartun apa saja bisa digambarkannya, biasanya selepas mengaji, kami sering meminta digambarkan Dragon Ball, Saint Saya, Power Rangers, kalau anak-anak perempuan, sering minta digambarkanSailor Moon. Dan ia dengan senang hati, menggambarkannya untuk kami. Dari keduanya, yang sangat dekat dengan kami tentu adalah kak yusuf, bukan apa-apa, karena ia lah yang lebih memiliki jiwa ke-kakak-kan ketimbang kak bayu, sungguh menyenangkan pabila dekat dengan beliau. Terlebih, ia juga suka cerita, dari cerita lucu, cerita penuh hikmah, bahkan sampai cerita seram pernah diceritakannya. Cerita seram yang paling aku ingat adalah cerita seorang makmum shaf kedua dan seterusnya yang mengambil posisi paling samping akan mendengar suara serigala. Belakangan ini aku mengetahui bahwa, cerita itu hanyalah sebuah cara untuk mengajarkan kami agar ketika kami menjadi makmum di shaf kedua dan seterusnya, kami harus mengambil posisi yang paling tengah terlebih dahulu. Yah..mereka berdua ?kak Bayu dan kak Yusuf- sudah kujadikan seperti kakakku sendiri, tentunya orang yang disampingku sekarang ?Kak Hasan-.

***

Matahari sudah benar-benar hampir tenggelam, perlahan-lahan kembali keperaduannya, langit dihiasi warna merah marun yang sangat eksotis, burung-burung gereja lalu lalang terbang sesuka mereka menambah keramaian kami berangkat ke mushalla. Subhanallah, betapa luar biasa ciptaan-Mu ya Rabb.Satu dua bapak-bapak menegur kami, kami pun membalas dengan senyum. Begitu juga anak-anak yang lain, saling memberi salam.

Aku dan kak hasan bergegas ke mushala dengan setelan khas kebanyak orang-orang kalau hendak pergi sholat ke masjid atau? mushola, baju koko, sarung, dan peci. Selesai menunaikan shalat magrib berjama?ah, buya tersenyum melihat kami, senyum yang sangat damai dan kami rindukan , dan kami pun langsung mendekatinya, menyalami sambil mencium tangannya dengan penuh takzim.

?

?Mana ayahmu, san?? Buya bertanya kepada kak hasan.

Kak hasan menjawab ?Ayah capek buya, mau istirahat dulu katanya?

?Ohbegitu, sampaikan saja salamku untuknya selepas isya?!?

?Sipp..!? jawabku dan kak hasan sambil mengacungkan jempol. Buya hanya tersenyum lepas melihat kami yang kompak mengancungkan jempol.

Selepas magrib, kami tidak langsung pulang, seperti biasa, mengaji dengan kak bayu dan kak yusuf. Aku pernah menanyakan kepada mereka disela-sela mengaji, ?Kak, mau nanya dong, kenapa sih jadwal pengajian kita nggak sore aja, jam lima sampai magrib?? mereka hanya tertawa melihatku, aku nggak ngerti mereka bisa menjawab atau tidak. Tiba-tiba buya mendatangi kami, ia bangun dari zikir petangnya, aku rasa ia mau menjawab pertanyaanku. Benar saja, buya ternyata menjawab pertanyaanku dengan jelas dan runut. Buya menjawab, ?Anak-anakku Diriwayatkan dalam Kasyf Al-Ghummah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, Siapa saja yang mengerjakan i?tikaf mulai dari Maghrib sampai dengan ?Isya?, dan tidak melakukan sesuatu apa pun kecuali shalat serta tilawah Al-Qur?an, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah istana di surga. Kalian kan tadi sudah shalat maghrib berjama?ah terus dilanjutkan ngaji, nah..yang kalian lakukan sekarang ini adalah ?itikaf. Nah sekarang, siapa yang mau punya istana di Syurga?? tanya buya dengan penuh senyum.

Sontak saja tanpa perlu aba-aba, kami lantang berujar ?MAAUUUUU Buya?!!? sekejab aku melihat wajah teman-teman satu penganjian yang sangat bersemangat.

?Nah..kalau gitu, jangan males dateng ngaji yeh..!? wajah teduh itu memberi nasehatnya.

?Iya Buya?!?

Walaupun hari libur termasuk hari ini yang hari minggu, kami tetap mengaji. Kak bayu pernah mengatakan kepada kami, ?Tidak ada istilah libur untuk mengaji!? akan tetapi hari libur, mengajinya, lebih asik, membaca Al-Qur?an hanya dua baris yang biasanya lima sampai sepuluh baris, setoran hafalan Al-Qur?an semampunya yang penting ada yang dihafal, dan ini yang membuat menarik yaitu cerita. Kalau sudah urusan cerita maka kak yusuf lah yang akan menghandle, kak bayu biasanya langsung pulang setelah anak-anak menyetorkan hafalannya, kata kak yusuf dia mau ngisi pengajian ditempat lain.

Kali ini kak yusuf akan cerita yang penuh hikmah. Kami sudah mengambil posisi duduk senyaman mungkin, aku mengambil posisi disamping kak Yusuf karena menurutku inilah posisi nyaman ketika kak Yusuf sedang bercerita. Dan kami pun sudah sangat siap untuk mendengar kisah yang penuh akan hikmah dan pengajaran.

Part 2

?Assalamu?alaykum adek-adek kakak yang imut-imut kayak marmut, hati-hati nanti digigit semut kalau nggak nurut? khas kak Yusuf kalau mau mulai cerita. Air mukanya selalu ceria ketika hendak akan bercerita. Simpul senyum selalu mempesona. Wajah kurus dan tirus itu pun bercahaya.

?WA?ALAYKUMUSSALAM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH? seru kami semua dengan lantang. Tak ada yang tak lantang jika kak Yusuf memberi salam ketika mengawali cerita. Apalagi orang yang disampingku ini ? kak Hasan -, rona wajahnya memerah karena sangking semangat sampai teriak-riak membalas salam kak Yusuf. Ditambah kepalan tinju kelangit, menambah gaya nyentrik kakakku satu ini.

?Insy Allah hari ini kakak mau satu cerita tentang kisah hikmah dan penuh akan pengajaran dari seseorang anak seumuran kalian, yang lucu-lucu dan masih polos. Siapa yang mau dengar??

?MAAAUUU KAAAKKK!!? lantang kami lagi. Lagi-lagi kak Yusuf tertawa melihat semangat kami. Memang, setiap hari minggu, sesi cerita adalah sesi yang sangat-sangat ditunggu oleh kami semua, tak ayal semangat mendengarkan adalah sebuah kepastian dari kami. Kali ini kak Hasan hampir terjatuh mengepalkan tinjunya ke langit. Ada-ada saja/

?Nah..cerita begini:

?Semilir angin yang lembut berhembus, kicau-kicau burung menyanyikan irama alam yang mengesankan, cukup membuat anak gembala itu malas-malasan menjalani tugasnya sebagai pengembala kerbau. Tidak tanggung-tanggung, kerbau yang digembalainya berjumlah sepuluhekor, padahal usianya baru sepuluh tahun, yah..sekitar kelas lima Sekolah dasar lah. Seperti kalian.

Sudah 3 jam berlalu.

Semilir angin yang dengan lembut menerpa anak gembala itu, siapa yang tak dibuat kantuk oleh semilir angin lembut yang menerpa wajah?anak gembala itu terbuai. Akhirnya anak gembala itu tak tahan lagi menahan kantuknya. Dan?tertidurlah ia.

Sekitar satu jam kemudian.

Anak gembala itu terbangun, ia lihat arloji kura-kura ninja yang menempel ditangan kanannya (yang berarti kalau ditangan kanan menunjukkan ?KEREN?) pemberian majikannya. ?Waduh, astaghfirullah..pakai acara tertidur lagi, mana sudah jam segini lagi, jam segini teh aku seharusnya sudah harus mengembalikan kerbau-kerbau ini ke kandang.? Anak gembala itu cemas, gugup, sudah tak karuan lagi perasaan dalam hatinya.

Kemudian, anak gembala itu bersiap-siap untuk mengembalikan kerbau-kerbau gembalaannya ke kandang yang tak jauh dari padang rumput ini. Anak gembala itu mulaimenghitung satu persatu kerbau-kerbaunya. ?satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan..? sepertinya ada yang ganjil ?waduh..kok jumlahnya hanya Sembilan kerbau? Jangan-jangan menghilang? Mengembalikan kerbau-kerbau ini ke kandangnya seseore ini saja sudah membuat ia pusing dan cemas, apalagi ditambah-tambahi dengan hilangnya satu kerbau. Lemas sudahlah lututnya.Ia coba lagi untuk menghitung, barangkali tadi salah hitung. ?satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan..tetap Sembilan kerbau..?

Dari arah barat, seorang kakek tua memanggul tumpukan rumput-rumput melintasi padang rumput tersebut, kakek tersebut baru saja pulang mencari rerumputan di padang rumput ini untuk kambing-kambingnya. Si anak gembala itu, tidak tahu dari bisikan mana, ia menaruh pandangan curiga kepada kakek tua tersebut, dilihat-lihat dari penampilannya yang sangat mencurikan. Terlihat seperti pencuri. Kemudian dengan sekonyong-konyngnya anak gembala itu memanggil kakek tua itu.

?Eh.. Kek, kakek yang mencuri kerbau saya ya??? dengan nada yang sinis dan mata yang penuh telisik kepada kakek tua itu.

Kakek tua itu hanya tersenyum melihat anak itu. ?mana mungkin aku mencuri kerbaumu anak muda, fisikku yang lemah begini manalah kuat membawa kerbaumu yang berat itu, ditambah kau pun melihat aku memanggul rerumputan yang banyak? jawab kakek itu dengan tenang, ?Ada berapa kerbau yang hilang??lanjutnya.

?Satu ekor, Kek!? masih dengan mata yang penuh selidik. Curiga betul sepertinya anak gembala itu kepada kakek tua tersebut.

?Dan jumlah kerbaumu ada berapa?? Tanya kakek itu dengan sangat tenang.

?Sepuluh ekor, Kek.!? Kali ini, nada bicara anak gembala itu sudah sedikit menurun.

?Owh?? kakek itu pun menghitung dalam hati dan kemudian tersenyum geli melihat anak gembala itu.

?Hei anak muda, tahukah engkau dimana kerbaumu yang hilang itu?? sedikit tersenyum.

?Mana ku tahu lah Kek! Kakek ini ada-ada saja, kalau aku tahu, mana mungkin aku kehilangan!? kembali nada bicaranya sedikit meninggi,, ia keberatan dengan pertanyaan kakek tua barusan.

Kakek itu tersenyum lagi lalu dengan setengah tertawa ia berkata, ?Hei ..anak muda, kerbau itu ada dibawah pantatmu!!?

Sontak saja anak gembala itu kaget, pontang-panting langsung melihat kebawah, memastikan apa benar kerbaunya yang hilang itu ada dibawah pantatnya. Ternyata oh ternyata adik-adik, si kerbau ?bandel? yang hilang itu memang berada di bawah pantatnya, yah..kerbau yang hilang itu sedang ditunggangi oleh si anak gembala tersebut.

Dengan wajah melas berona kemerah-merahan, anak gembala itu tersipu malu akan pandangan curiganya kepada kakek tua itu dan sejurus kemudian meminta maaf kepada kakek tersebut karena telah menuduh yang bukan-bukan.?

Tentu, cerita dari kak Yusuf ini membuat kami semua tertawa, kak Hasan memegang perutnya dan tertawa sekeras-kerasnya, ketawanya menggelegar. Pelak, hal tersebut pun ditegur oleh Buya ,?di rumah Allah, kita harus sedikit tertawa dan banyak menangis?. Kak Hasan yang ditegur seperti itu langsung bungkam, bisu seribu bahasa, dan menunduk tidak jelas, serta menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Kembali, aku lucu melihatnya. Ha..ha..?Ups! tidak boleh ketawa berlebihan diatas penderitaan orang lain terlebih didalam rumah Allah?. Maaf ya kak Hasan!.

?Nah..Sekarang waktunya ambil ibrah atau manfaat dari cerita yang baru kakak ceritakan, ada yang mau menyampaikan pendapatnya?? Setiap selesai bercerita, kak Yusuf pun meminta kami menyampaikan pendapat masing-masing tentang manfaat apa yang kami peroleh dari cerita yang diceritakan. Ia pernah mengatakan bahwa ?ibrah itu disampaikan! jangan disimpan, kalau perlu dituliskan agar lebih banyak memberi manfaat.?

?Saya kak!? Nindya menunjukkan jarinya ke langit dengan semangat dan tercepat diantara anak-anak lainnya termasuk aku. Nindya adalah adik kelasku di sekolah tempatku sekolah. Ia memang dikenal sangat aktif dan berani mengemukakan pendapat. Aku, kak Hasan, dan Nindya memang sering bersiteru menjadi yang terbaik. Terlebih kami ?aku dan kakakku- tidak mau kalah, dan tidak akan kalah dari adik kelas terlebih juga dia perempuan. Mau taruh dimana kelaki-lakian kami eh muka kami?

?Ya..apa ?pendapatmu, Nindya??

?Tidak boleh lalai dalam amanah karena amanah sejatinya adalah tanggung jawab kita kepada Allah.?

?Ah..padahal itu mau kusebut tuh tentang amanah..!? aku dongkol dalam hati. Bagaimana ia bisa secepat itu tadi menunjukkan jarinya kelangit. Masih dongkol.

?Yups..bagus sekali Nindya? Puji kak Yusuf. Akumelihat sekilas, kepala Nindya semakin tegak, pertanda ia sangat percaya diri sekali.

?Ada lagi??

Kali ini aku tidak mau kalah, aku harus bisa mengutarakan pendapatku tentang cerita kak Yusuf tadi. ?Ish dah budak sikok ini, curang oi?!? kali ini, aku kalah lagi oleh saingan terberatku, siapa lagi kalau bukan kak Hasan. Ia sangat cepat tunjuk jari ke langit, bahkan sebelum kak Yusuf berujar ?Ada lagi??

?Teliti. Sikap teliti itu hati-hati, penuh perhitungan dan cermat dalam menentukan.? Jawab kak Hasan.

?Sip Hasan, bagus sekali!? Puji kak Yusuf ke kak Hasan, tentunya pujian ini setidaknya menjadi obat pelipur lara setelah ditegur oleh buya tadi. Terlihat dari air mukanya sedikit lebih cerah dari sebelumnya. Taka pa-apalah, biarkan saja dia menang kali ini.

?Nah siapa lagi?? Tanya kak Yusuf ke kami lagi.

?SSAAYYAA KKKAAAKK!!? Jawabku dengan lantang. Buya disudut sana hanya sedikit melotot melihatku yang berteriak dan kak Yusuf hanya tersenyum simpul saja melihat tingkah polosku. Kak Yusuf tahu benar sifatku, tidak mau kalah dalam urusan mengutarakan pendapat.

?Ya..Husein, apa pendapatmu?? sedikit tertawa.

?Terima kasih kak Yusuf, ibrah yang kudapat ada tiga;?pertama,?Tidak boleh asal menyalahkan orang lain. Koreksi diri sendiri terlebih dulu, apakah aku yang menyebabkan kesalahan ini?jangan mencari-cari kambing hitam atas kesalahan atau kelalaian yang kita buat sendiri. Sungguh tak pantas menyalahkan orang lain diatas kesalahan sendiri.?Kedua, Sikap sopan santun kepada yang lebih tua. Dalam bersikap kepada orang yang lebih tua, kita harus memiliki akhlaq yang santun. Jangan seperti anak gembala tadi yang seenaknya dalam bertutur sapa kepada yang lebih tua.?Ketiga,?Sabar. Ini ditunjukkan oleh kakek tua itu, bagaimana ia bisa bersabar atas kelakuan orang lain kepada dirinya.? Betul-betul tidak ingin kalah aku kali ini, tiga poin langsung ku utarakan, unggul dua poin dari kak Hasan dan Nindya. Kepalaku kali ini lebih tegak dari yang lain. Senangnya. Senyumpun selalu tersimpul.

?

Teman-teman yang lain seperti: Isa, Fachrie, Anwar, Mari, Siti, dan yang lain juga mengemukakan pendapatnya masing-masing akan cerita kak Yusuf tadi.

Tak terasa waktu berlalu dari ?itikaf ini, adzan isya? pun berkumandang dengan syahdunya, panggilan-panggilan Allah tersebut menyentuh hati-hati yang hanya terisi keimanan didalamnya untuk datang menyambut panggilan-Nya. Kak Yusuf yang mengumandangkan adzan, Pribadi yang ceria dan penuh senyum berbeda sekali ketika ia sedang mengumandangkan adzan, khusyuk, memejamkan mata, menghayati betul asma-asma Allah yang dilafazhkan. Kagum sekali aku kepadanya.

***

?

Bersambung...

?

?

Alman Haraki

?

  • view 163