BAGIAN 1 - JEMBATAN AMPERA

Alman Haraki
Karya Alman Haraki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Maret 2016
Dua Kuas

Dua Kuas


Cerita Bersambung

Kategori Acak

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
BAGIAN 1 - JEMBATAN AMPERA

"Nak, kalian tahu kenapa jembatan itu disebut Jembatan Ampera?"

Ayah bertanya kepada kami berdua sembarijari telunjuknya mengarah kearah Jembatan Ampera yang berada diatas sungai Musi, sungai kebanggan masyarakat Sumatera Selatan, Jembatan yang menghubungkan seberang hilir dan hulu kota Palembang. Tangan ayah dengan sigap kembali keperaduannya, seketika selesai memberikan pertanyaan singkat tersebut. Wajahnya tersenyum tipis.

Kami yang sedari awal naik bus dengan duduk manis persis disamping ayah sibuk sekali memperhatikan riuh dan rame-nya bus kota yang sedang kami naiki ini. "Bus kotanya aneh!" gumamku dalam hati sambil celingak-celinguk kesegala penjuru bus kota. Mulai dari kacanya, kursinya, penumpangnya, lantainya, dan aksesoris-aksesoris yang tidak karuan seperti lampu sorot berwarna-warni, kain-kain bergambarkan Bob Marley, Merah-Kuning-Hijau, dan poster kain besar bergambar daun, aku tak tahu itu daun apa?Dan diposter itu pula ada tulisan RASTA yang aku juga tak tahu apa itu artinya"RASTA", dan poster kain besar itu bergelantungan dilangit-langit bus.Tak kalah menariknya pula, rambut si supir dan keneknya yang bikin perut menggelitik hebat, bagaimana tidak, potongan rambutnya tidak normal, dengan rambut yang cepak didepan dan panjang dibelakang plus digimbalin, kayak vokalis Pas Band saja, atau lebih mirip wong fei hung jago kungfu dari cina itu, bedanya belakang rambutnya digimbalin aja. Juga, yang tak kalah seru adalah sound systemnya yang begitu menggelegar dan membahana sampai-sampai mobil disebelah pun bisa mendengar degup-degup setelan bass yang sengaja dibuat heboh. Musik-musik remix dan dangdut-dangdut koplo mengisi kegaduhan bus kota ini, sempurna bus kota ini seperti diskotik berjalan. Kakakku pun seperti diriku, begitu antusias dengan bus kota satu ini. Seperti ada rasa menarik dari bus ini yang membuat kami tidak terlalu mendengarkan pertanyaan ayah barusan, hanya terdengar sayup-sayup saja ditelinga kami berdua. Seperti angin lalu saja.

Ayah hanya tersenyum melihat polah tingkah laku kami yang begitu antusias seperti orang bodoh dan begitu polos. Senyumnya itu menampakkan giginya yang semakin menguning akibat isapan rokok dan ngopi yang sudah menjadi langganan ayah setiap hari, kalau tidak nge-rokok dan ngopi, pusing kepalanya. Ayah sudah menduga bahwa kami pasti tidak akan mendengarkan ucapannya, boro-boro didengarkan, sayup-sayup aja mungkin dianggap angin lalu. Ayah paham betul bahwasanya ini adalah kali pertama,ia mengajak kami berdua berjalan-jalan ke kota. Alasannya sederhana, yaitu karena kesibukkan dalam bekerja. Waktu kerja ayah memang sangat menguras tenaga dan fikirannya.Bayangkan saja? Dalam sehari,ayah bisa bekerja hingga dua belas jam, normalnya orang kantoran kerja delapan jam, itu berarti ayah bekerja empat jam lebih banyak dari orang kebanyakan. Ayah terus dikejar deadline, deadline, dan deadline dari atasannya yang tak mau tahu, pokoknya harus dikerjakan, tidak ada kompromi sedikitpun, kalau tidak dikerjakan sesuai tenggat waktu, maka pemecatan pun akan menjadi jawaban atas keterlambatan itu. Sadis. Bahkan,di hari Sabtu pun ayah harus bekerja, ketika keluarga-keluarga lain bertamasya ketempat-tempat rekreasi, bercanda tawa sepanjang perjalanan, makan bersamadengan disuguhi cerita-cerita kegiatan dari masing-masing anggota keluarga seminggu kebelakang. Ayahku malah banting tulang untuk mengejar deadline atasannya yang tak tahu arti keluarga itu apa. Ayah melakukan itu semua mungkin karena takut dengan pemecatan yang selalu didengung-dengungkan oleh atasannya yang tak tahu arti keluarga itu apa. Jika hari minggu, jujur saja aku dan kak Hasan kasihan dengan ayah, ia hanya bisa tertidur dan tertidur dikamar sangking capai dan letihnya bekerja banting tulang untuk menghidupi kami sekeluarga. Kami sudah diberikan pemahaman oleh ibu untuk tidak meminta yang macam-macam ke ayah. Untuk itulah kami tidak pernah meminta mainan, meminta untuk jalan-jalan ke kebun binatang, jalan-jalan ke mall, berenang, dan lain-lain seperti anak-anak seusia kami. Kami hanya bisa menunggu tangan dingin ayah untuk memegang tangan kami dengan erat lalu pergi kesuatu tempat. Dan, Yaps betul..seperti hari ini. Itulah resiko menjadi orang bawahan dan ayah sudah siap dengan segala resiko tersebut. Mau nggak mau. Ia harus tetap bertahan dengan kondisi tersebut untuk menafkahi istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Mau keluar ke perusahaan lain? sepertinya tidak mungkin, karena Ayah hanyalah tamatan diploma satu, siapa pula perusahaan yang mau menerima ijazah S1 jaman sekarang ini. Mau berwirausaha? Sepertinya juga tidak mungkin, ayah bukanlah tipe seorang pedagang walau ada darah "dagang" yang mengalir dalam darahnya.

Ayah bukanlah orang Palembang asli, ia lahir dipekanbaru. Iaberasal dari keluarga minang, karena kedua orangtuanya -kakek nenekku- berasal dari salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Barat. Sewaktu usia pernikahn yang masih muda, orang tuanya hijrah ke Pekanbaru. Ayah anak ketiga dari lima bersaudara, sebetulnya anak keempat dari enam bersaudara, karena kakaknya ?anak yang ketiga- meninggal ketika dilahirkan sehingga ia "menjabat" sebagai anak ketiga. Dikota Palembang ini,ayah dimutasikan oleh kantornya, karena divisi regional sumatera selatan membutuhkan karyawan baru, dan ayah harus siap untuk dimutasikan. Kalau kata kantor bilang harus mutasi, maka harus mutasi. Ayah pun rela pindah dari kantornya dikabupaten Provinsi Riau dengan merangkak-rangkak ke Palembang. Sedikit enggan mungkin. Kota yang tak pernah sekalipun ayah kunjungi. Ayah hanya mengenal nama kota itu dari koran dan mendapat predikat, kota penuh kejahatan. "Ah..apa benar?" gumamnya dalam hati.

Di kotaPalembang ini, kami tidak punya sanak keluarga satu pun. Keluarga besar kami hanya ada di provinsi Riau, Sumatera Barat, dan sedikit di Sumatera Utara. Dan kami sekeluarga hanya bisa ikhlas untuk meninggalkan provinsi Riau, tempat banyak keluarga besar kami berada, tanah kelahiran kami.

Keluarga kecil ini seperti seorang pemuda yang harus merantau, berpisah dengan orang-orang terkasih dan mencintainya untuk menggapai cita-citanya menjadi orang yang berguna. Kelak ketika pulang membuat bahagia orang tua. Begitu kata ayah menyemangati kami ketika ayah melihat aku dan kak Hasan uring-uringan mengemas barang-barang bawaan yang akan diangkut kedalam truk. Bagiku ?juga kak hasan- urusan ini bukanlah urusan yang mudah, kami harus meninggalkan teman-teman sepermainan kami, kami harus meninggalkan sekolah ? lebih tepatnya teman-teman sekolah-, dan masih banyak lagi sepotong-sepotong kebahagiaan yang harus tertinggal dikota kabupaten itu.

Seperti bisa membaca fikiran kami, ayahpun mengatakan, "Hasan, Husein, tidak ada yang hilang dari persahabatan, tugas kita hanyalah meluaskan persahabatan itu kepenjuru dunia lainnya. Bergembiralah anakku, dengan perginya kita ke tempat lain, berarti Allah telah membuka persahabatan-persahabatan baru untuk kita."

***

Ayahku berperawakan etnis chinese, karena kakekku ?katanya- adalah keturunan chinese. Pada waktu SMA dulu, adiknya ayah, om Nal, pernah bercerita,"Ayah kau dulu sewaktu SMA sering dipanggil si Asengsama teman-temannya, karena wajah orientalnya itu. "Waktu "perang" etnis di Pekanbaru dulu antara etnis chinese dan minang, nenek tidak memperbolehkan ayah kau pergi ke sekolah karena takut terjadi apa-apa. Tidak tahu asal muasal dari permusuhan ini ada yang bilang karena orang-orang chinese menguasai pasar bawah waktu itu, orang minang tak senang dengan hal itu, ada juga yang bilang karena urusan pemerkosaan, ada banyak versi cerita. Intinya, pada saat itu orang-orang Chinese takut untuk keluar, mereka menutup rapat-rapat toko dan rumah mereka".

Om Nal melanjutkan ceritanya, "Ayahmu dulu nekat, walaupun sudah dinasehatin nenek berkali-kali sampai berbusa untuk tidak keluar rumah, namun tetap saja dia pergi, dasar anak keras kepala,hal itu tentu saja membuat nenek kau selalu dikalungi kerisauan sewaktu ayahmu pergi keluar rumah." Aku dan kak hasan serius sekali mendengar cerita om Nal."Pernah suatu hari,ayah kaujalan-jalan di pasar Kodim, ia bersama-sama teman-temannya, dan untungnya salah satu temannya itu adik dari jajaran preman di pasar Kodim. Dengan lagaknya, ia petantang-petenteng dipasar tersebut sekadar untuk nongkrong dan ngeceng-ngeceng, tiba-tiba dihadapan mereka sekitar dua ratus meter, sudah ada sekelompok pemuda berpakaian preman, betul-betul preman, mereka membawa samurai dan parang ditangannya, karena ada mangsa empuk "orang chinese" dihadapan mereka. Mereka pun memanggil ayah dengan bentakan yang kuat, "OI..CINA, SINI KAU!" bentak mereka. Ayahku yang merasa bukan orang chinese, mengabaikan saja bentakan barusan. Ayah kau melanjutkan tongkrongannya dengan mengobrol-ngobrol bareng temannya. Sekali lagi preman tersebut memanggil ayah kau sambil menunjuk-nunjuk kearah ayah kau, kali ini dengan bentakan yang lebih kuat dari sebelumnya. Ayah kau kaget,karena bentakan yang tadi dan sekarang itu ternyata betul-betul mengarah kepadanya. Dengan gagah berani dan pantang untuk takut, ayah kau berjalan kearah mereka, menghadapi mereka yang pakai samurai dan parang ditangannya masing-masing." Aku tersenyum kagum, kak Hasan hanya meng'O'kan mulutnya sangking terpananya.

"Ayahkau ditemani temannya yang adik jajaran preman pasar itu. 'ado apo bang?' kata ayah kau dengan logat minang yang fasih, ayah kau sudah berhadap-hadapan pandang dengan mereka, ayah kau sudah siap siaga dengan apapun situasi yang bakal terjadi. Mungkin dia akan lari. Teman ayah kau yang ikut menemani ayah langsung mengalihkan pandangan mereka kearahnya., 'bang, ini orang minang juga, kawanku!. Untungnya, karena teman ayah kau ini kenal dengan kawanan preman pasar tersebut, sehingga mereka percaya bahwa ayah kau adalah urang minang juga. 'maafin kami ya dek? Skami kira kau orang Chinese" ujar salah satu dari mereka ke ayahku. Ayahkau langsung menjawab, 'samo-samo bang! akuurang minang juga!' Alhamdulillah setelah kejadian itu, nenek sedikit lebih tenang dan tidak khawatir lagi, kalau si denai, panggilan nenek ke ayah kau, pergi kemana-mana." Kak Hasan tetap ber'O' ria dengan terpananya. Ada-ada saja.

Sekarang, muka etnis chinesenya hampir tak kelihatan lagi, wajahnya yang dulu putih bersih kini berwarna sawo matang karena sering terkena paparan sinar matahari. Anak-anaknya lah yang mewarisi garis muka beretnis chinese, seperti wajahku, kakakku, dan kedua adikku, Refi dan Lani. Badannya ayah tuh kurus dan tinggi, alisnya tipis, matanya sipit, keriput ditulang pipinya terlihat jelas menggambarkan perjuangan yang tak kenal henti, terlihat berwibawa ketika berbicara. Berkharisma.

****

Tak terasa, sangking terpesonanya dengan bus kota, kami pun tiba ditujuan. Kami turun di depan pasar 16, dengan cekatan ayah membantu kami untuk turun, takut-takut kalau kami terjatuh. Walaupun sudah turun dari bus kota itu, kak Hasan masih saja terpana sampai bus kota itu tak terlihat lagi.

"Kak, kak hasan!!" aku mencoba melepaskan keterpanaannya dengan menepuk lembut bahunya.

"Hah..?" jawabnya. Aku dan ayah hanya tersenyum lebar melihat tingkahnya. Ada-ada saja.

Kami pun menyebrang ke arah masjid Agung Palembang yang gagah dengan arsitek cina yang menawan dan lalu dengan sapuan jalan menyebrang lagi ke arah BKB (Benteng Kuto Besak). Tangan ayah yang kanan memegang tangan kiriku dan tangan kiri ayah memegang erat tangan kak Hasan. Lalu lintas hari ini tidak padat seperti biasanya, sehingga kami tak menemukan hambatan yang berarti ketika menyebrang hingga sampai di BKB ini. BKB sore ini sudah begitu ramai dipadati masyarakat Palembang untuk berwisata ringan melepaskan penat bersama keluarga. Penjualmpek-mpek, pedagang kelontongan, pengamen-pengamen jalanan, penjual mie tek-tek, tukang foto keliling, orang-orang pacaran, orang yang lagi mancing, remaja-remaja tanggung yang lagi cekikikan dengan teman-temannya, dan kapal-kapal getek didermaga yang siap mengangkut masyarakat jika mau melintasi atau sekedar jalan-jalan disungai musi telah siap menyambut kedatangan kami.

BKB memang menjadi salah satu destinasi wisata favorit masyarakat Palembang, bukan karena pemandangannya saja yang sedap melihat sungai musi di sore hari dan jembatan Ampera yang berdiri gagah diujung sana, melainkan juga karena nilai historis yang tak kalah menterengnya menjadikan daya pikat sendiri benteng ini untuk dikunjungi.Pada buku sejarah yang kubaca di perpustakaan sekolah, sebenarnya Benteng Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada jaman kerajaan dahulu dan menjadi pusat Kesultanan Palembang. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besar sendiri jaman itu di prakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin. Sultan Mahmud Bahauddin ini adalah seorang tokoh kesultanan Palembang Darussalam yang dikenal sebagai sosok yang realistis dan praktis dalam perdagangan Internasional. Ia juga dikenal sebagai seorang agamis yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama di Nusantara pada waktu itu. Menandai perannya sebagai Sultan,ia pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak.

Benteng ini mulai dibangun pada tahun 1780 dengan arsitek yang tidak diketahui dengan pasti dan pelaksanaan pengawasan pekerjaan dipercayakan pada seorang Tionghoa. Semen perekat bata dipergunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Waktu yang dipergunakan untuk membangun Kuto Besak ini kurang lebih tujuh belas tahun. Waktu yang cukup lama untuk membangun sebuah benteng.

Berbeda dengan letak keraton lama yang berlokasi di daerah pedalaman, keraton baru berdiri di posisi yang sangat terbuka, strategis, dan sekaligus sangat indah. Posisinya menghadap ke Sungai Musi. Pada masa itu, Kota Palembang masih dikelilingi oleh anak-anak sungai yang membelah wilayah kota menjadi pulau-pulau. Kuto Besak pun seolah berdiri di atas pulau karena dibatasi oleh Sungai Sekanak di bagian barat, Sungai Tengkuruk di bagian timur, dan Sungai Kapuran di bagian utara.

Sekarang BKB dipakai oleh KODAM (Komando Daerah Militer) Sumatera Selatan. Alasan-alasan historical inilah yang membuat masyarakat mencintai dan sering mendatangi BKB, dan juga kalau malam suasana yang disuguhkan begitu romantis dan dramatis, juga mistis. Cahaya dari deretan lampu- lampu taman menciptakan refleksi warna kuning pada permukaan sungai. Sungguh-sungguh romantis. Aku menyukainya.

****

"Yah, ada tulisan AMPERA di jembatan itu!" sambil menunjuk kearah Jembatan yang berdiri kokoh dan membisu dihadapannya, "Itu nama jembatannya ya, Yah?" "terus, kenapa dikasih nama Jembatan Ampera yah?" Tanya kak Hasan begitu antusias dalam satu tarikan nafas. Salut. Kak Hasan adalah kakakku ?tepatnya saudara kembar- yang selalu cerewet, selalu mau tahu apapun, tak bosan-bosannya ia bertanya, sampai-sampai yang ditanya pun kadang-kadang kesel kalau sudah meladeninya, dan anehnya, dia males untuk mencari tahu dulu, pokoknya nanya dulu! Begitulah saudara kembarku yang satu ini, cukup berbeda denganku yang pendiam dan sekali-kali saja bertanya dan berpendapat, itu pun kalau perlu-perlu amat. Jelas sekali, pertanyaan yang diajukan oleh ayah tadi sewaktu di bussama sekali tak terdengar olehnya. Sedangkan aku, walaupun sayup-sayup mendengar karena terpesonanya melihat bus kota "aneh" tadi, tetap dengar bahwa ayah mempertanyakan kenapa jembatan itu disebut Jembatan Ampera.

Cepatku sergap pertanyaannya kak Hasan, hanya sepersekian detik dari ia mengakhiri pertanyaan-pertanyaannya itu. Ligat sekali.

"oi kak, .. bukannyo ayah dah nanyo ke kito tadi?" sergahku dalam bahasa Palembang.

Walaupun aku baru satu tahun di Palembang, tapi kami sekeluarga sudah lancar berbahasa Palembang dan dari segi logat pun sudah terasah dengan baik. Logat melayu khas Palembang. Begitu kata temanku.

"dak denger aku tadi, mano tau!" langsung cepat dijawab kakakku dengan logat melayu khas palembangnya yang lebih faseh ketimbang diriku. Mungkin karena dia sering ngomong ketimbang aku kali yah.

"Ish..dah.. budak sikok ini!"gerutuku dalam hati.

Ayah ?kembali- hanya tersenyum melihat tingkah laku kami yang saling berbantah-bantahan satu sama lain. Mungkin, itu menjadi kegembiraan tersendiri untuknya, bisa menemani kedua putranya yang lucu-lucu dan memiliki polah tingkah yang unik-unik seperti aku dan kak Hasan. Dua anak kembar yang memiliki kepribadian yang berbeda. Ayah sangat bersyukur kepada Allah atas dianugerahkannya ia anak kembar. Suatu hari ayah pernah mengatakan kepada ibu, "Bu, mereka berdua ini adalah anugerah terindah buat kita. Mereka bagaikan dua kuas yang melukis di kanvas langit. Begitu indah dan mempesona" Ibuku yang mendengar kata-kata sok puitis ayah itu, terpingkal-pingkal ketawa dan memegang perutnya menahan taw,a karena baru kali ini semenjak mereka menikah, ayah berpuisi. "Ayah sok puitis!" kata ibu sembari masih memegang perutnya yang kencang karena menahan tawa.

"Sudah-sudah, sini!" pinta ayah kepada kami yang mengekspresikan muka kesal satu sama lain, "Duduk samping ayah sini cepat! ayahmau ceritakan kepada kalian berdua, tentang sejarah Jembatan Ampera ni!"

"Asyik!!" ujar kami berdua kompak dan segera langsung mendekat ke ayah yang sudah mengambil posisi duduk didekat dermaga BKB ini. Ayah berkata lirih, "Dasar anak kembar!"

"Nah..ceritanya begini, dengerkan ayah baik-baik yeh! Menurut buku yang ayah baca dan cerita-cerita dari temen-temen, pada awalnya, jembatan sepanjang Ampera ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Ada yang tahu siapa bung Karno itu?" Ayah memberi pertanyaan mendadak dalam penjelasannya.

Kakakku Hasan malah balik nanya, "emangnya siapa yah?" ayahku kembali hanya tersenyum melihat kak Hasan. "Mana ada pertanyaan dijawab pertanyaan, nak!" ujar ayahku. Kak Hasan menyeringai, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, pipinya memerah memendam rasa malu dan sedikit kesal atas pernyataan ayah barusan. Skakmat. "Yah..ini adalah pelajaran buatnya karena seenaknya saja bertanya tanpa berfikir terlebih dahulu"kata ayahku. Kak Hasan memandang sekilas kearahku, takku hiraukan pandangan sekilasnya itu, aku hanya fokus melihat Jembatan Ampera itu dari kejauhan sembari mengingat-ingat, 'siapa itu Bung Karno?' sambil mencubit bibir...

Ayah langsung menyeletuk, "Ah..masa' kalian tidak tahu, Bung Karno itu presiden pertama kita."

"Loh, bukannya Soekarno yah? Bukan bung Karno?" sergahku cepat sambil penasaran, seingatku dipelajaran sejarah, guruku mengatakan presiden pertama Indonesia itu adalah Soekarno. "Nah, ini yang bener ayah atau pak guru?"

Kak Hasan hanya terdiam khusyuk mendengarkan, ia tak mau salah lagi, kesalahan telak tadi, ia tak mau mengulanginya. Ayah segera menjawab, "Bung Karno itu adalah nama kerennya Soekarno, anakku!"

"Owh.....!!!" ujar kami berdua lagi-lagi serempak sambil mengangguk-anggukkan kepala. Namun, Kak Hasan yang paling lantang suaranya.

"semangat nian budak sikok ini oi!" Ujarku dalam hati..

"Menurut sejarawan, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama kita itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi"

"Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965 sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Akan tetapi, setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika itu ada gerakan anti-Soekarno yang sangat kuat, pada jaman itu presiden pertama kita itu diasingkan, segala hal yang bersangkutan dengan bung Karno akan dirampas, pun hal sama dengan jembatan Bung Karno dirubah menjadi Jembatan Ampera oleh pemerintahan jaman orde baru."

Begitu panjang ayahku menjelaskan, sampai-sampai kak Hasan dan aku mengangguk-anggukkan kepala, kali ini bukan karena mengerti,namun karena mengantuk. Ayahku kembali lagi hanya tersenyum melihat kami berdua yang sudah bermata lima watt. Sepertinya aku dan kak Hasan tak berbakat menjadi sejarawan.

"Sudah waktunya pulang, sebentar lagi waktumaghrib! Ayo..berdiri San, Sen!" kami pun berdiri dengan lemah, ayah menggaet tanganku dan tangan kak Hasan seperti tadi, mengajak kami pulang.

Ketika baru jalan beberapa langkah, kami tertarik melihat gerumunan nenek-nenek dari panti jompo Dermaga Ayu, ada spanduk bertuliskan JALAN-JALAN PANTI JOMPO DERMAGA AYU. Lucunya, mereka sedang jongkok melingkari tukang mpek-mpek yang sering berjualan disini. Kedengaran dan terlihat asyik sekali. Kamipun tertarik mencicipi mpek-mpek itu. Ayah pun dengan senang hati mengajak kami makan mpek-mpek. Ketika baru saja menyeruput cuka mpek-mpek, tiba-tiba terdengar "pppprrreeeett...!!" sontak kami kaget. Suara apaan tuh? Ternyata nenek disebelah kak Hasan kentut mungkin perutnya sudah los karena makan cuka mpek-mpek yang begitu banyak. Kami hanya sedikit menyeringai, mau tertawa nanti nenek-neneknya tersinggung, jadi kami hanya menahan tawa saja, Kak hasan mukanya sudah merah menahan tawa. "Oi, busuknyo!" Tak lama berselang, nenek-nenek yang lain yang sedang makan mpek-mpek ketawa-ketiwi.serusekali.. eh tau-taunya mereka juga kentut bareng tak ketulungan, mungkin perut nenek-nenek yang lain juga ikut-ikutan los, kali ini bukan karena makan cuko mpek-mpek yang kebanyakan, melainkan karena terlalu semangat menertawai temannya yang tadi, -"can you imagine that!"- orang-orang disekitaran BKB ikut terpingkal-pingkal ketawa melihat tingkah para nenek-nenek "gaul" itu. Sungguh suguhan komedi yang terlucu yang pernah aku lihat. Ada-ada saja. Kak Hasan yang sedari tadi rona wajahnya yang sudah memerah tak kuasa menahan tawa, buncahlah tawa itu.

Ayah pun ikut-ikutan terpingkal-pingkal sembari menggaet tangan kami berdua kembali untuk segera pulang. Kami pun mengikuti arah gerak tangannya. Aku yang tadinya sudah ngantuk, melihat kejadian tadi, mataku segar kembali.

Sore ini, burung layang-layang mengerubuni langit diatas sungai musi, seakan-akan malu-malu untuk menyuruh kami pergi. Matahari sudah menyingsing pergi dari hadapan kami, tenggelam ditutup awan yang perlahan-lahan pekat, menyisakan kehangatan yang sedikit dan berubah dengan hembusan-hembusan lembut angin dari sungai musi. Langit yang menguning disore ini, menjadi daya tarik pandangan tersendiri. Melukiskan berbagai bentuk rupa dan manusia berhak dengan tafsirannya masing-masing. Mungkin suatu hari nanti aku dan kak Hasan mampu melukiskan masa depan kami dilangit. Yah..insya Allah.

Sungguh pengalaman yang luar biasa hari ini, ditemani ayah jalan-jalanuntuk pertama kalinya dan tragedi nenek-nenek panti jompo Dermaga Ayu yang lucu dan pasti susah untuk dilupakan. Ternyata, Ayah adalah sosok yang hangat, sosok yang begitu menyayangi anak-anaknya. Walupun hanya beberapa jam saja, namun begitu berarti buatku dan kakak. Untunglah hari ini hari libur nasional. Pengalaman berharga dan berkesan di Jembatan Ampera. "Terima kasih ya Allah" gumamku dalam hati sembari melihat kearah luar jendela bus kota, rambutku terkibas-kibas terkena angin yang masuk, kutolehkan pandangan kearah kiri, kulihat kak Hasan sudah tertidur dipangkuan ayah. Dasar petidur! Kulihat pula ayah, bibirnya tersenyum kecil, kuyakin ia berbahagia. Aku pun menutup mataku. Lelap.

?

?

Bersambung....

?

?

Alman Haraki

  • view 354