MARILAH MEMPERBAHARUI KESYUKURAN KITA

Alman Haraki
Karya Alman Haraki Kategori Agama
dipublikasikan 15 Maret 2016
MARILAH MEMPERBAHARUI KESYUKURAN KITA

Dari Ja?far bin Muhammad ash shadiq ra, Rasulullah SAW bersabda, ? Siapa yang ridho dengan apa yang diberikan Allah kepadanya, maka ia akan kaya. Dan siapa yang memalingkan pandangannya kepada yang dimiliki orang lain, dia akan mati dalam keadaan miskin.?

Alhamdulillah, segala puji hanya untuk-Mu ya Allah atas nikmat yang Kau berikan kepadaku yang bisa dibilang lebih dari cukup dalam menjalani hari-hari didunia ini hingga sekarang.

Sempat dan ada kalanya dalam hati terusik dengan rasa iri ketika melihat apa yang dimiliki oleh orang lain. Seketika itu kesyukuran yang semestinya ada menjadi tiada, melebur bersama emosi tak senang dan terdorong untuk seperti yang diimpikan berdasarkan pandangan yang dilihat dari orang lain tersebut.

Biasanya lagi-lagi harta, wanita, dan kedudukan menjadikan kita iri terhadap orang lain. Melihat orang lain memiliki harta yang banyak yang mana ia bisa membeli apapun yang ia mau (misal: ia bisa membeli HP merek terbaru), kemudian kita iri. Melihat orang lain memiliki pasangan atau istri yang cantik, kemudian kita iri (kenapa wajahku nggak ganteng, coba ganteng pastideh dapet yang kayak gitu, nah.. ini permulaan lunturnya kesyukuran, hati-hati). Melihat orang lain yang naik pangkat atau dapat promosi (padahal ia masih junior kita), kemudian kita iri. Sungguh banyak pintu-pintu syetan yang mungkin kita buka sendiri akibat kelalaian kita, tentu syetan dengan senang hati masuk melalui pintu tersebut.

Hadist Rasulullah SAW diatas sudah sangat jelas bahwasanya ? Siapa yang ridho dengan apa yang diberikan Allah kepadanya, maka ia akan kaya. Dan siapa yang memalingkan pandangannya kepada yang dimiliki orang lain, dia akan mati dalam keadaan miskin.?

Ya jikalau kita ridho dengan artian kesyukuran itu ada dalam diri kita, insy Allah kita akan diberikan lebih oleh Allah, dan jikalau kita melihat apa yang dimiliki oleh orang lain dengan kata lain tiadanya rasa syukur atas apa yang kita miliki, kita akan mati dalam keadaan miskin. Na?udzubillahimindzalik..

Kunci untuk menangkis hal diatas adalah dengan selalu memperbarui kesyukuran dalam tiap periode waktu. Ya, kesyukuran pun harus selalu diperbarui, agar selalu bersemi didalam diri, tidak layu dan kemudian mati dan membusuk.

Namun adakalanya kesyukuran itu luntur, kita tak menyadarinya. Ya memang sering seperti itu, seperti halnya seseorang yang melakukan maksiat, sejatinya ketika ia melakukan maksiat, keimanan tak ada dalam dirinya. Begitu juga dalam syukur, ketika rasa iri itu muncul, maka kesyukuran itu luntur tak terbekas.

Nah, terus gimana dong? Mungkin cara yang efektif untuk memperbarui kesyukuran adalah dengan memberikan slot waktu khusus untuk hal itu, misal pada waktu sebelum tidur, sebelum memejamkan mati, coba kita fikirkan, nikmat-nikmat apa saja yang diberikan oleh Allah hari ini. Keimanan, keislaman, kesempatan, nafas untuk menghirup, kemudahan dalam pergi ke kantor, masih bisa berjalan, masih bisa mengetik, masih bisa berfikir, masih bisa makan, masih bisa berbicara dan mendengar, dan sungguh banyaknya nikmat yang terkadang tak kita sadari bahwasanya nikmat itulah yang menjadikan kita sekarang.

Dan sungguh ketika kita menyadarinya, kita akan tahu bahwa kita lebih beruntung dari sebagian orang

Waktu untuk memperbarui kesyukuran alangkah lebih bijaknya dilakukan ketika saat rileks dan tenang, agar lebih konsentrasi dan tenang.

Yang terpenting adalah jangan hanya dibibir saja bahwa kita bersyukur, namun warnailah ia dalam setiap hari kita, semoga Allah menjadikan kita orang yang kaya (kaya hati, kaya empati, kaya harta, kaya ilmu, dan lain sebagainya)

Semoga kita dalam hidup ini menjadi insan bersyukur.

Aamin..

?

Salam,

?

Alman Haraki

  • view 161