BAGIAN 5 - RENCANA BESAR

Alman Haraki
Karya Alman Haraki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Maret 2016
Dua Kuas

Dua Kuas


Cerita Bersambung

Kategori Acak

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
BAGIAN 5 - RENCANA BESAR

Hujan sedikit deras kembali membasahi Bumi Sriwijaya siang ini. Petir-petir berganti-gantian bersahutan. Lonceng sekolah sudah didentangkan tiga kali pertanda waktu pulang.

Tidak seperti teman-teman sekelas, yang begitu semangat menyambut lonceng pulang sekolah. Aku dan kak Hasan justru sebaliknya, kami sangatlah tidak bersemangat. Apa pasal? Kami lupa untuk membawa payung. Padahal kami sudah yakin betul, semua alat-alat sekolah sudah terbawa kedalam tas tidak terkecuali payung lipat, yang biasanya selalu ada di tasku dan kak Hasan. Dan aku ingat, payung lipat punyaku dipinjam oleh ibu, dan payung lipat punyanya kak Hasan dipinjam oleh tetangga sebelah rumah. Sempurna.

Teman-teman yang lain asyik sekali membereskan buku dimeja dan di laci, memasukkannya kedalam tas, mengeluarkan payung berwarna-warni dari dalam tas, menyandang tas, kemudian bergegas meninggalkan kelas beramai-ramai menerobos hujan, meninggalkan kami. Aku melangkah dengan gontai tidak bersemangat menuju bangku kak Hasan.

?Kak, gimana kita pulang??tanyaku.

?Paling bentar lagi juga reda, tungguin?saja?lah!?jawabnya acuh sembari dengan malas memasukkan buku-buku pelajaran kedalam tasnya dan mengecek laci barangkali ada buku yang masih tertinggal disitu.

?

?Sip lah, kita tungguin saja dulu!?

?

?Oi, kalian tidak bawa payung, San, Sen? Biasanya kan kalian selalu bawa!? tanya Lintang kepada kami.

Kami dengan kompak menggelengkan kepala. Lintang tersenyum melihat aku dan kak Hasan yang dengan kompaknya menggelengkan kepala. Lintang selalu begitu, padahal dia sudah sangat sering melihat kami dengan kompaknya berekspresi ketika menjawab pertanyannya.

?Kalian memang-memang kembar. Duh, coba payungku besar, sayangnya cuma cukup untuk aku sendirian nih.?

?Santai aja lagi Ntang, kami tunggu hujannya reda saja. Paling juga sebentar lagi.?

?Owh gitu, sip deh, semoga hujannya cepat reda dan kalian segera bisa pulang. Aku duluan ya!? pamit Lintang.

Kembali aku dan kak Hasan kompak menganggukkan kepala. Lintang pun kembali tersenyum. Sepertinya anak itu senang sekalimenunjukkan senyum pipitnya ke semua orang.Lintang dengan gesitnya berlari memecah larik-larik hujan yang turun dengan payung orange kesayangannya. Sepi. Benar-benar sepi. Semua penghuni sekolah sekejab sepi, tinggal aku dan kak Hasan saja.

Sepertinya hujan ini akan lama reda. Teringat akan ritual hujan, yaitu ketika hujan turun biasanya aku akan mencoba keluar ruangan dan menghirup bau hujan yang sangat khas. Aku tinggalkan kak Hasan dari lamunannya. ?Mau kemana lu, sen?? tanyanya. ?mau menghirup hujan, mau ikut kak??. ?Kayak nggak ada kerjaan aja lu! Bau hujan gitu saja dihirup, apa spesialnya??. ?Terserah gue!?

Aku keluar dari kelas, Hujan benar-benar masih lebat, bahkan tambah lebat saja, suara genteng gemerutukan, daun-daun berjatuh-jatuhan tertempa butiran air hujan, air menggenang dibeberapa kontur tanah yang tidak rata. Bagaimana pula ini tidak special? Aku hirup nafas sedalam-dalamnya, ditahan sebentar, sejurus kemudian dihembuskan perlahan. Ritual ini dilakukan sebanyak tiga kali. Ada kesan damai tersendiri setelah menghirup bau hujan. Bagaimana pula ini tidak special? Baiklah, kembali kedalam kelas, hujan semakin lebat saja ditambah angina yang kencang sampai-sampai buliran-buliran airnya menuju kearahku.

?Sen?? pangil kak Hasan malas.

?Hah..??jawabku juga malas.

?Kesel nggak lu dengan si Rian dan si Agus??tanya kak Hasan. Sepertinya aku tahu arah pembicaraan ini akan kemana. Sebenarnya pun, aku sendiri sudah ingin dari tadi bicara tentang ini.

?Oi..bukannyo kesel lagi kak, tapi lah naik tingkat!?

?Maksud lu, tingkat apo??

?Maksud gue, lah sampai ke tingkat benci! Lihat saja sewaktu?kito dihukum?berdiri didepan kelas tadi, terlihat senang sekali mereka, sesekali jempol tangan mereka diarahkan kebawah, seolah mengatakan , pecundang!?

?

?Iyo, betul?nian?tuh Sen!? Kak Hasan menambah-nambahkan.

?

?Mentang-mentang badan tinggi besar dan punya kedudukan dikelas, mereka dengan seenak udel membentak dan berlaku kasar kepada kita dan murid-murid lain. Ini tidak bisa didiamkan kak!?

?Iyo, Sen! Gue sepakat sama lu. Kita harus cari cara, gimana caranya si Rian dan Agus tidak berbuat semena-mena lagi kekita dan teman-teman, biar jera!?

Obrolan pun berlanjut seputar kebencian dan rencana ?balas dendam? kepada Agus dan Rian. Kebencian sepertinya sudah memasuki jiwa-jiwaku dan kak Hasan. Tak terasa, hujan telah lumayan reda, walau sedikit gerimis, kami putuskan untuk pulang saja, takut nanti Ibu marah melihat kami pulang terlambat, aku yakin ibu pasti cemas dan juga kami belum menunaikan shalat zuhur.

Kami pun berlari-lari kecil membelah jutaan larik-larik air. Ngos-ngosan.

***

Berlari-larian ketika hujan turun tentu membuat baju kami basah kuyup, walaupun hujan tak terlalu deras lagi, tetapi jarak dari sekolah menuju rumah yang lumayan agak jauh, menyebabkan butiran-butiran lembut hujan sedikit demi sedikit membuat baju kami basah kuyup.

Hari sudah menjelang ashar, dan kami belum juga sholat dzuhur, kami percepat langkah, berlari-lari kecil, memecah larik hujan, dan dengan cekatan menghindari genangan-genangan hujan dijalanan.

?Alhamdulillah sampai rumah juga? gumamku dalam hati, kulihat kak hasan tampak ngos-ngosan, ?oi..capek benar tampaknya kakakku ini? sedikitku tersenyum melihat tingkahnya. Kami sudah sampai di depan pagar rumah, dan kembali cekatan berlari-larian kecil ke teras rumah.

?Assalamu?alaykum? ujarku dan kak hasan bersamaan.Sayup-sayup terdengar suara ibu menjawab salam..

?Wa?alaykumussalam? Dan ibu pun lantas membukakan pintu untuk kami, ?dari mana saja kalian, jam segini baru pulang? Tidak kalian lihat ini sudah mau sore, sudah sholat dhuhur kalian, hah??

Kak hasan menjawab, ?Kejebak hujan, bu. Kami juga belum sholat.?

?Cepetan sana masuk, sholat, waktu dhuhur dah mau habis, cuci kepala kalian biar tidak sakit kepala nanti, besok-besok jangan lupa bawa payung, gimana kalian ini, tak paham-paham nasihat orang-orang tua kita dulu, sedia payung sebelum hujan???

Aku tahu betul watak ibu, jangan menjawab ketika ia sedang marah dan memberi nasihat, seperti sekarang ini, aku dan kak Hasan tidak mau membela diri bahwasanya perihal payung itu bukanlah salah kami, payung itu kan dipinjam oleh ibu dan tetangga samping rumah. Aku melirik kak Hasan, sepertinya kak Hasan tahu isyarat yang aku kirimkan melalui kedipan mata, kami sepakat untuk mendengarkan saja dan segera bergegas masuk kedalam rumah, dan mengerjakan apa-apa yang disuruh ibu barusan.

Kami pun bergegas, melepas baju sekolah, meletakkannya ditempat cucian, kemudian bergegas kembali ke kamar mandi, membasuh kepala, lalu berwudhu, dan kemudian sholat..

Alhamdulillah, adzan ashar berkumandang setelah aku dan kak hasan menunaikan sholat. Karena adzan sudah berkumandang, langsung saja kami ke musholla. Hujan juga sudah reda.

?Mau kemana kalian? Makan siang dulu!? tanya ,ibu.

?Abis sholat saja, bu, tanggung udah adzan, kami juga masih ada wudhunya?

?Abis sholat, langsung pulang kalian ya, jangan main-main!?

?Siap komandan!? Sembari kompak posisi hormat macam tentara beri hormat ke komandannya.

Ibu cuma tersenyum kecil melihat tingkah kami yang selalu saja kompak.

***

Selepas shalat isya dan makan malam, tidak seperti biasa, kami langsung ke lantai atas menuju balkon, mematangkan rencana untuk esok hari. Ibu dan ayah pun sempat bertanya ke kami.

?Eits, tumben nggak nonton TV??

?Ada urusan penting nih Bu, yang mau didiskusikan sama husein.? Jawab kak hasan.

?Gayanya anak ibu, lihat tuh Yah, anak ayah punya urusan penting.? Ibu terkekeh kearah ayah, ayah hanya tersenyum saja seperti biasa.

?Iya dong Bu! Hehehe..? kata kak Hasan

Ibu tidak melanjutkan pembicaraan lagi, tampaknya ia sudah mulai tenggelam dengan sinetron kesukaannya yaitu, Tersandung. Sinetron yang nggak habis-habis, sekarang saja sudah seri yang ke enam. Luar biasa.

Dari berbagai sudut dirumah ini, yang paling nyaman adalah, balkon. Di balkon ini, disediakan dua buah sofa ukuran single, pemandangannya jangan ditanya, ketika rembulan tidak ditutupi awan mendung. Memandangi rembulan dari balkon ini sungguh menyenangkan. Tepat malam ini, rembulan bersinar terang, tidak ada awan yang lalu lalang menghalangi bahkan awan mendung.

?Kak, gue sudah punya rencana untuk mengerjai Agus dan Rian besok??

?gimana tuh rencananya, Sein?? Tanya kak Hasan antusias, mulutnya tidak berhenti mengunyah biskuit. Tadi sebelum naik keatas, kak Hasan sudah mengambil toples berisikan biskuit coklat buatan ibu.

?Gini kak, badan mereka kan besar-besar tuh, dan mereka selalu bilang nggak takut dengan apapun. Husein, kalau nggak salah pernah dapat cerita bahwa rumah si Rian pernah kemasukan ular, saat itu dia sangat ketakutan dan ngungsi di rumah neneknya di Plaju sangking ketakutannya. Nah itu peluang untuk kita kak! Tapi kalau Agus, gue belum dapat informasi apakah dia takut sama ular atau nggak. Tapi biasanya kan, hampir semua anak kecil takut dengan ular.?

?Terus, terus?? mulutnya pun tak berhenti mengunyah.

?ish dah budak sikok ini! Makan aja kerjaannya.?ujarku dalam hati.

?dirumahkan kita punya tuh uler-uleran dua biji. Mata pelajaran besok pagi kan langsung olahraga, sebelum ke lapangan kita taruh uler-ulerannya di dalam tas mereka. Harapannya, pada saat mereka mau ganti baju dan mengambil baju seragamnya di tas, mereka terpegang uler-uleran itu.?

?NAH..bagus juga ide lu, sein!? kali ini sudah tidak mengunyah lagi, karena biskuit di toples sudah habis.

?Iya kak, gue penasaran akan seperti apa wajah mereka besok, Rian dan Agus, si badan besar akan tahu bagaimana rasanya menjadi bahan tertawaan orang banyak.?

?San, Sen, udah mau jam Sembilan, gosok gigi, cuci kaki tangan sana. Langsung tidur!? Teriak ibu dari lantai bawah.

?Iya Bu!? jawab kami serempak.

Malam ini, ada dua rasa yang menggelayuti hatiku. Yang pertama, senang karena balas dendam kami bisa terbayarkan. Yang kedua, ragu dengan apa yang akan kami lakukan besok. Ah tidak, bagaimana pun juga ini masalah memberikan efek jera. Biar mereka tahu bahwasanya mereka bukanlah orang yang terhebat di kelas, biar mereka bisa merasakan hal yang sama seperti mereka lakukan kepada kami dan teman-teman di sekolah. Ah sudahlah, sebaiknya aku tidur, hari esok sudah menanti. Kupandangi sekilas wajah kak Hasan. Iiihh?ilernya udah kemana-mana. Hadeuuh. Menjijikan.

***

Pagi yang indah.

Lonceng tanda masuk berdentang nyaring. Lapangan sekolah yang semula riuh sejak setengah jam lalu dengan cepat berganti sepi. Para anak murid bergegas dan berlarian masuk ke kelasnya masing-masing, meninggalkan bola kasti dan tongkat pemukulnya, memasukkan gelang karet di kantung baju, mengantongi kelereng dan kartu-kartu bergambar.

?Kau sudah selesai LKS (lembar kerja soal-red) yang halaman dua satu, Gus?? berbisik perlahan.

?Belum.?

?Kau harus segera mengerjakannya sebelum pak Ardi datang!? Berbisik lagi seperti takut kedengaran yang lainnya.

?Tetapi itu banyak sekali, Yan! Ada dua puluh soal, pegal tanganku, belum lagi waktunya mepet, baru delapan soal yang ku kerjakan.?

?Ah, bagaimana ini? Bisa hancur kita diketawain oleh anak-anak yang lain! Biasanya kita yang menertawakan mereka karena tidak mengerjakan PR.? Keluhnya sampil menggaruk-garukkan kepala yang tidak gatal.

?Ini cepat, contoh punyaku, asal-asal saja kau mengisinya, yang penting terisi semua!? sambung Rian.

Aku yang mendengar suara bisik-bisik di belakang langsung menimpali. Letak bangku mereka persis dibelakang kursiku.

?Hayo, belum buat PR ya??

?Mau apa kau? Bukan urusan kau!?

Aku diam saja. Dalam hati aku bersorak-sorai bergembira karena Agus belum menyelesaikan PR pelajaran olahraganya. ?Rasakan rasanya berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan PR!?

Sejurus kemudian, Pak Ardi datang dengan pakaian olahraga khasnya. Setelan baju badminton, celana training, dan menyandang tas besar penuh bola-bola.

?Sebelum kita ke lapangan, silahkan kumpulkan LKSnya dan akan bapak periksa terlebih dahulu satu persatu! Bagi yang PRnya sudah diperiksa dipersilahkan untuk mengganti baju dan langsung ke lapangan?

Satu persatu LKS para murid diperiksa oleh pak Ardi dengan cepat. Tibalah giliran LKS agus yang diperiksa.

?Agus, tulisan kamu acak-acakan sekali! Dan masih ada tujuh soal lagi yang belum kamu isi. Kamu mengerjakan di kelas ya??

?Enggak Pak, saya kerjakan tadi malam, tadi malam di rumah saya mati lampu, jadi belum selesai semuanya.? Jawab Agus dengan kepala tertunduk.

Wah celaka nih si Agus, bukannya rumah pak Ardi hanya berjarak dua ratus meter saja dari rumahnya.

?Kamu jangan bohong, Agus! Rumah kamu dekat dengan rumah saya, kita satu RT, mana mungkin rumah saya listriknya nyala sedangkan di rumah kamu padam??

Agus hanya terdiam dan kepalanya semakin tertunduk.

?JELAS KAMU BERBOHONG, AGUS!! CEPAT KE DEPAN TIANG BENDERA, LAKUKAN POSISI HORMAT SAMPAI MATA PELAJARAN SAYA SELESAI!!?

Tanpa ba bi bu lagi, Agus langsung berlari terbirit-birit menuju lapangan bendera dan melakukan posisi hormat. Para anak murid lainnya termasuk aku dan kak Hasan bergembira dengan kejadian langka ini. Hanya Rian saja yang dari air wajahnya terlihat khawatir dengan keadaan teman sejatinya itu.

Semua LKS sudah diperiksa oleh pak Ardi, tinggallah aku dan kak Hasan di dalam kelas, sengaja mengulur-ngulur waktu ketika pak Ardi menyuruh kami bergegas menuju lapangan.

?Gimana kak? Langsung di taruh saja kan di tasnya Rian?? tanyaku sambil mengambil uler-uleran didalam tas.

?Iya, taruh aja langsung..?

?Agus sudah kena, sekarang giliran kamu, Yan! Hahaha?? tawaku dalam hati sembari memasukkan uler-uleran itu kedalam tasnya Rian.

?

***

?

?

Bersambung...

?

Alman Haraki