BAGIAN 4 - RUMAH SEKOLAH

Alman Haraki
Karya Alman Haraki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Maret 2016
Dua Kuas

Dua Kuas


Cerita Bersambung

Kategori Acak

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
BAGIAN 4 - RUMAH SEKOLAH

Ttteeetttt? nnnneeettt??. tttteeetttt??.. nnnnneeettttt

?bunyi apaan sih ini? Nganggu tau!? kesal kak Hasan.

?ish dah.. budak sikok ini!? batinku. ?Oi kak, bangun! Sudah mau subuh nih, bentar lagi adzan!? teriakku kepada kak Hasan yang masih masih nyaman dengan ilerannya.

Aku dan kak Hasan memang sudah sepakat untuk menyetel alarm sekitar lima menit sebelum adzan subuh berkumandang dengan tujuan agar bisa shalat subuh berjama?ah di mushalla. Tapi, sering juga -alarm hanya tinggal alarm- kami kebablasan dan ketinggalan untuk shalat di mushalla.

?

Subuh ini, seperti biasa kak Hasan paling susah untuk dibangunkan dan seperti biasa juga aku pun melayangkan tamparan kecil (nggak keras kok !) ke pipi kak Hasan, tapi harus sedikit berhati-hati, jangan sampai tanganku kena ilerannya yang kemana-mana itu. Dan juga seperti biasa, dia akan marah dibangunkan dengan tamparan itu. Aku sih?cuek?saja kalau dianya marah. Salah sendiri kenapa susahuntuk dibangunkan. Akhirnya, setelah acara marah-marah, kak Hasan pun bangun juga dengan ilernya yang masih menempel disamping mulut dan dengan cueknya, diisapnya tuh iler.

?Ish..ish.. jijik oi..!? ujarku ke kak Hasan dengan sedikit melotot. Kak hasan yang dipelototin hanya membalas senyum terjelek sedunia dan mencoba mengelap ilernya itu ke bajuku. Tentu saja aku segera lari keluar kamar menuju lantai bawah, takut-takut terkena penyakit berbahaya dari ilernya itu.

Allahu Akbar..Allahu Akbar..

?

Adzan pun berkumandang nan syahdunya, sungguh sangat sejuk dihati ini, mengisi kekosongan jiwa yang hampa, panggilan-panggilan itu mengalir ke seluruh pembuluh darah dan membuat diri ini semangat menyambut panggilan-panggilan-Nya nan agung tersebut.

Dari suara yang adzan ini, aku tahu betul siapa yang sedang mengumandangkan adzan, siapa lagi kalau bukan Buya. Buya memang terbiasa shalat malam di mushalla sampai waktu subuh tiba. Itu aku ketahui sewaktu kami ?anggota pengajian remaja- mengadakan mabit (malam bina iman dan taqwa) bersama dengan kak Yusuf dan kak Bayu.

Aku dan kak Hasan pun segera bergegas ke kamar mandi untuk wudhu sambil membawa baju koko dan sarung. Kamar mandi dirumahku cuma ada satu, dan adanya di lantai bawah. Letaknya dekat dengan dapur dan bagasi mobil ayah.

?Ayo dipercepat wudhunya San, Sen, keburu iqamat!? perintah ibu agar kami lebih cepat dan tidak bertele-tele. Kami ditegur ibu karena kak Hasan bukannya segera mengambil wudhu, ia ?malahmemainkan air. Katanya kak Hasan, airnya dingin, jadinya kak Hasan mau nunggu airnya sampai tidak dingin dulu. Polosnya. Aku yang melihat tingkah laku polosnya itu, cuma bisa tertawa geli.

Setelah ditegur ibu tadi, kak Hasan pun memberanikan dirinya untuk menyentuh air yang ?katanya- sedingin salju. ?Alah, berlebihan? batinku.

Setelah wudhu, mengenakan koko dan sarung, kami pun bergegas ke mushalla.

?San, kuncinya dibawa aja ya..!? perintah Ibu ke kak Hasan.

?Siap, Bu!?

Baru saja kak Hasan mengunci pintu, iqamat dilantunkan, kami pun buru-buru ke mushalla.

***

Selepasnya shalat, ibu pun menyuruh kami untuk mandi, dan segera menyiapkan alat-alat sekolah, seragam, kaus dalam, dasi, topi, sepatu, kaos kaki, dan buku-buku pelajaran. Semua harus sudah selesai sebelum sarapan. Selepas sarapan langsung berangkat ke sekolah.

?Sen, mandi duluan sana!? suruh kak Hasan.

?Ah..kenapa harus gw yang duluan? Lu kan kakak, harusnya lu yang mandi duluan!.? Sedikit kesal. Selalu seperti ini setiap pagi.

?Nah, justru gw kakak, makanya lu yang mandi duluan, sebagai kakak, gw mengalah dan mempersilahkan lu untuk mandi duluan!? ada-ada saja alasan kakakku tersayang ini. Dia justru sedang asik dengan membaca komik diruangan televisi. Kesal.

?San, Sen, kalian mau mandi atau mau berdebat, hah!? marah ibu, sepertinya ibu mendengar ?perdebatan? kami barusan. ?Terserah mau siapa yang duluan mandi, cepat mandi! Ibu hitung sampai tiga ya, kalau belum ada yang dikamar mandi, siap-siap aja kalian!? ancam ibu.

Aku pun memandang kak Hasan, terlihat dari air mukanya, ia tenang-tenang saja, malah semakin tenggelam dengan bacaan komiknya. Dan sepertinya iasangat yakin kalau aku yang akan mandi duluan. Terlihat sekali senioritas diantara kami kali ini.

?Satu?!? hitung ibu.

Lagi, urusan sepele seperti ini jika tidak ada yang mengalah akan mencetuskan perang dunia ketiga. Dan itu tidak boleh terjadi, kasihan ayah yang sedang tidur akan terganggu karena perang dunia ketiga ini. Dan kembali korbanya adalah? Aku. Aku pun mengalah dan buru-buru ke kamar mandi sebelum hitungan ketiga. Sekilas aku melihat kak Hasan dan dia membalas dengan senyum kemenangannya.

?Ish dah..budak sikok ini!? batinku.

***

BBUUMMM

KKKRRRSS

BBUUMMM

Kilau petir menyambar samar-samar terbiaskan ke jendela ruang televisi, disusul gemerutuk yang keras dari suara guntur, ku coba tengok sedikit dari jendela, langit menghitam pekat padahal sudah jam setengah tujuh pagi.

Dua minggu belakangan, hujan terus menghantam bumi sriwijaya pada pagi hari. Bagiku hujan itu punya dua makna. Pertama, hujan bisa menjadi sahabat yang baik yaitu pada saat sedang sendiri, ia bisa mengisi kesepian yang ada dengan alunan gemericik-gemericiknya yang menghantam genteng, lantai, tanah, dan benda padat lainnya. Dan juga, aku sangatmenyukai bau hujan, baunya itu sangat khas, tidak tahu kenapa, setiap kali hujan turun, sebisa mungkin aku akan keluar dan menghirup dalam-dalam udara ke paru-paru lalu melepaskannya secara perlahan-lahan, dan bauhujan akan menempel dihidung, dan itu punya kesan sendiri untukku. Makna yang kedua, hujan juga bisa menjadi sahabat yang buruk, yaitu pada saat-saat seperti ini, hujan menganggu aktivitas orang-orang yang akan berangkat ke kantor, berangkat ke pasar, dan berangkat ke sekolah.

Dua minggu belakangan ini, aku dan kak Hasan tidak seperti biasa berangkat sekolah dengan berjalan kaki, melainkan menumpang dengan temanku yang rumahnya hanya sejarak lemparan batu saja dari rumahku. Dan kebetulan juga kami sekelas. Kami menumpang dan diantar ke sekolah dengan mobil ayahnya.

Kriiinggg?Krrrriiinggg

?

Suara telpon rumah berdering, aku yakin itu pasti itu Lintang. Benar saja, itu Lintang.

?Sen, tunggulah didepan rumah kau, sebentar lagi aku jemput!? terdengar suara lintang dari pesawat telepon.

?Siap Komandan!? jawabku dengan tegas lagaknya seorang prajurit yang diperintah untuk memata-matai musuh.

?Kak Hasan, cepet habiskan susunya, Lintang sebentar lagi sampai didepan rumah!!? Aku pun menyuruh kak Hasan untuk mempercepat aktivitas meminum susunya, yang sedari tadi belum habis-habis juga. Heran. Apa susahnya meminum susu?

?Bareng Lintang lagi, Sen?? tanya Ibu dari dapur.

?Iyo, Bu. Bareng Lintang lagi.?

Tak berselang lama, terdengar suara klakson mobil ayahnya Lintang, kami pun bergegas, salam dan cium tangan Ibu, ucapkan salam, dan bergegas berlari-larian kecil menghindari larik hujan ke arah mobil ayahnya Lintang. Lintang pun langsung membukakan pintu mobil dan mempersilahkan kami masuk dengan tak ketinggalan senyum lesung pipitnya yang selalu diperlihatkannya ke semua orang itu.

?San, PR Bahasa Indonesiasudah selesai?? tanya Lintang ke kak Hasan.

?Hah, PR, emang ada??tanya kak Hasan spontan. Sekilas menatapku, aku pun hanya mengangkat bahu pertanda tak tahu menahu ada PR atau tidak. Seingatku memang tidak ada PR. Kenapa pula Lintang menanyakan PR.

?ASTAGHFIRULLAH?!? teriakku dan kak Hasan kompak. Tiba-tiba teringat hari Jum?at yang lalu. Bu Norma memberikan pekerjaan rumah pelajaran Bahasa Indonesia Bab dua halaman dua puluh.

***

Mobil ayahnya Lintang melaju dengan sedikit kencang, seirama pula dengan laju denyut jantungku yang ikut-ikutan kencang. Aku yakin sekali, kak Hasan pun merasakan hal yang sama. Kulihat air mukanya begitu khawatir. Benar-benar telak, kami lupa mengerjakan PR bahasa indonesia. Mau menyalin PR teman dikelas nanti, dipastikan tidakakan sempat, pelajaran Bahasa Indonesia adalah pelajaran pertama hari ini. Sedangkan PR tulisan tegak bersambung sungguh sangat menyita waktu untuk diselesaikan. Jujur, aku pun cuma bisa pasrah saja atas kejadian apa yang akan menima aku dan kak Hasan nanti di kelas.

?

Biasanya, perjalanan menuju sekolah, aku, kak Hasan, dan Lintang selalu bersenda gurau, saling bercanda, membahas hal-hal yang tidak penting, ketawa terbahak-bahak sampai ayahnya Lintang menegur kami yang sudah kelewatan tertawa sampai mengeluarkan air mata, karena itulah tujuan kami, dan Lintang pun tak keberatan ayahnya dijahili oleh kami. Namun, perjalanan kali ini sungguh tak biasa, hanya diisi kebisuan antara kami semua. Sepi.

Mobil ayahnya Lintang berhenti tepat digerbang SMP negeri tempat ayuk Eni sekolah. Ayuk Eni adalah kakak perempuannya Lintang. memang seperti biasa, ayuk Eni lah yang terlebih dahulu diantarkan ke sekolah oleh ayahnya. Setelah itu, barulah mengantarkan kami, karena arah kantor ayahnya Lintang sejalan dengan ke sekolah kami.

Akhirnya, mobil ayahnya lintang benar-benar sudah berhenti, tepat digerbang sekolah kami, SD negeri 82 Palembang. Aku yang sedari tadi hanya melamun, tak menyadari bahwa kami sudah tiba ditujuan, itupun karena aku tersadar oleh tepukan yang cukup keras dari kak Hasan, ?Oi..Sen, ngelamun aja kerjaan lu!?

??Hah, dah sampai ya?? tanyaku dengan bodohnya sambil menahan sakit dibahuku. Sakit sekali tepukan kak Hasan, mungkin sengaja membalas tamparan kecilku setiap pagi sewaktu membangunkannya.

***

Ttteeennngggg?ttteeennggg

Lonceng sekolah pun berbunyi tepat saat aku meletakkan tas dimeja. Ibu Norma sudah sedari tadi berdiri didepan pintu kelas dengan penggaris kayu besar ditangannya. Sebelum masuk kelas, kami terlebih dahulu berbaris di teras kelas dan dipimpin oleh Rian. Rian adalah ketua kelas kami, badannya lebih besar ketimbang murid laki-laki yang lain termasuk aku, aku fikir dia dipilih jadi ketua kelas oleh Bu Norma hanya karena badannya saja yang lebih besar.

Setelah acara baris-berbaris, sebelum masuk ke kelas, kuku kami, para murid akan dicek satu per satu, siapa yang panjang dan kotor, telapak tangannya akan dipukul pakai penggaris. Tapi tidak terlalu sakit, cukuplah untuk sedikit membuat efek jera.

Beruntungnya hari ini tidak ada yang terkena pukulan penggaris kayu.

?SIAP! BERI HORMAT!? Ujar Rian lantang sembari berdiri.

?ASSALAMU?ALAYKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH!? Ujar kami tak mau kalah lantangnya.

?Wa?alaykumussalam anak-anak, silahkan duduk!? Jawab Ibu Norma dengan tenang dan mempersilahkan kami untuk duduk kembali.

Kulihat wajah teman-teman begitu ceria seperti tidak ada kekhawatiran sama sekali. Sekali lagi kulihat kak Hasan, ekspresinya tetap sama seperti di mobil ayahnya Lintang. Aku dan kak Hasan tidak duduk sebangku. Dipisahkan bahkan jauh oleh Bu Norma. Aku duduk di bangku nomor tiga paling belakang sebelah kiri, dan kak Hasan duduk di bangku nomor dua paling depan sebelah kanan. Walaupun dengan jarak segitu, aku masih bisa melihat wajahnya. Jelas sekali.

Aku yakin, diruangan kelas ini, hanya aku dan Kak Hasan yang mukanya sangat kusut dan sangat terlihat khawatir. Bagaimana tidak? Kami tidak mengerjakan PR tegak bersambung. Dan itu sangat fatal.

?Sebelum pelajaran Bahasa Indonesia kita mulai, silahkan PRnya dikumpul! Tolong Rian dan Agus, ambil buku PR teman-temannya!? Perintah Bu Norma. Saat-saat seperti ini, yang kuinginkan adalah agar waktu terhenti sementara. Satu jam saja! Tapi apalah daya, waktu tak pernah kenal dengan tombol ?pause?, yang bisa menghentikan permainan video games untuk sementara waktu. ?Hadapi, hadapi, dan hadapi!? itulah kata-kata yang terbisik ditelingaku.

?Bertanggung jawab terhadap sesuatu yang sudah kita lakukan merupakan jiwa seorang pemberani? teringat kata kak Yusuf saat pengajian.

Agus dan Rian pun secara serampangan mengambil buku PR teman-teman, yang tidak cepat memberikan kepada mereka, akan mereka hardik, ?Hei! Mana PR kau?? begitu cara mereka menghardik. Mentang-mentang berbadan besar, mereka dengan seenaknya saja berbuat senioritas kepada kami semua. Ini tidak bisa didiamkan, suatu saat akan aku bungkam mulut besar mereka. Lihat saja nanti. Tapi tidak saat ini. Saat ini, aku dalam posisi yang sangat lemah dan tidak punya daya apa-apa melihat teman-temanku diperlakukan kasar oleh mereka.

Di ujung sana, kak Hasan sudah pasrah ketika Agus meminta buku PRnya. Kepalanya tertunduk dan tak bisa berbuat apa-apa. Dan kini, tibalah saatku, Rian sudah tepat berada disampingku,

?Oi..Sen! Mana buku PR kau? Sini cepat!? pintanya.

?Aku nggak bawa Yan.? Jawabku. Rian tersenyum sinis menatapku. Aku pun walau dalam posisi lemah tak mau kalah, aku pun menatap tajam kearah matanya.

?Selamat ya..!? begitu bisiknya ketelingaku. Sungguh-sungguh sangat menyebalkan.

Setelah semua buku PR terkumpul dan ditaruh dimejanya Bu Norma, Bu Norma pun bertanya,

?Siapa yang tidak buat PR Bahasa Indonesia??

Dengan lantang Agus berujar, ?Hasan, Bu!?

Disusul dengan lantang pula Rian berujar, ?Husein, Bu!?

?Hasan, Husein, kalian sudah tau konsekuensinya kan? cepat berdiri didepan kelas!? perintah Bu Norma. Memang seperti inilah konsekuensi tidak mengerjakan PR, kami akan berdiri didepan kelas. Tak cukup hanya disitu. Satu kaki diangkat dan menjewer telinga secara bersilangan. Lintang hanya menatap sayu kearahku dan sedikit terbaca dia ingin mengatakan bahwa ?Kau kuat Sen!? dan sebaliknya Rian dan Agus menutup mulut mereka dengan dua tangan, aku yakin dan sangat yakin, mulut besarnya itu sedang tertawa melihat pemandangan ?lucu? didepannya.

?San, Sen, kenapa kalian tidak mengerjakan PR Bahasa Indonesia?? tanya Bu Norma penuh selidik kepada kami.

?Saya lupa, Bu! Benar-benar lupa!? jawab kak Hasan dengan jujur.

?Dan Kamu, Sen??

?Sama, Bu! ?Saya juga benar-benar lupa ada PR Bahasa!?

?Kalian ini benar-benar kembar ya? Satu lupa, yang satu juga lupa?

Kalimat barusan yang keluar dari bu Norma tentu saja membuat Agus dan Rian tertawa terbahak-bahak. Dan pelak, Bu Norma pun melotot kearah mereka. Mereka pun bungkam. Aku sedikit senang, setidaknya lotot-an bu Norma ke arah mereka sedikit menjadi pelipur lara bagi kekesalanku kepada mereka.

Kelas pun dimulai seperti biasa. Bu Norma pun membuka pelajaran seperti biasa. Tidak ada yang menghiraukan kami. Sejenak, aku melihat kearah jendela kelas, ternyata hujan sudah berhenti, matahari malu-malu menampakkan sinarnya kepada bumi sriwijaya. Cahaya matahari pagi menyelisik celah krei jendela. Membentuk garis di lantai keramik kelas. Cahaya yang seolah mengambang bersama kabut. Satu lariknya menimpa wajah kak Hasan. Kak Hasan masih sama ekspresinya seperti tadi, masih tertunduk malu. Kucoba melihat kearah bu Norma, satu larik cahaya pula menimpa wajahnya yang tegas dan keras. Semangat sekali dalam mengajar, menjadi sebenar-benarnya pendidik. Tidak asal datang ke sekolah dan memberikan tugas-tugas kepada anak muridnya, lalu segera keluar kelas menuju kantin sekolah untuk ngerumpi dengan ibu-ibu guru lainnya yang setipe ?malas? mengajar. Lihatlah, ibu Norma sangat mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan, sudah belasan tahun ia tidak diangkat menjadi PNS, berkali-kali mendaftar, tapi tak jua tembus-tembus. Lihatlah, ibu guru yang itu, yang kerjaannya hanya ngerumpi di kantin sekolah, baru tamat dari perguruan tinggi, menjadi guru barang beberapa bulan, tak lama kemudian telah menjadi PNS. Terdengar kabar, bahwa ayah si ibu guru itu adalah salah satu pejabat di kementrian.? Hidup itu adil bukan? Namun bagi bu Norma, PNS atau tidak itu tidak terlalu masalah, toh yang mendorong ia menjadi PNS bukan dari dirinya sendiri, melainkan dari sesama guru. Ia tidak ambil pusing akan status, yang terpenting adalah kebermanfaatan dirinya untuk orang lain, terlebih untuk dunia pendidikan.

Belasan larik cahaya matahari masih menimpa lantai-lantai kelas. Satu duanya menimpa wajah teman-teman.

Yang terlebih penting adalah hari ini, aku belajar untuk lebih disiplin dan lebih teliti lagi. Aku tidak ingin kejadian memalukan ini terulang lagi, terlebih dibuat kesal lagi oleh Agus dan Rian. Walhasil, dua jam hingga lonceng istirahat tiba, kami pun harus berdiri dengan satu kaki sementara tangan menjewer telinga secara bersilangan. Sungguh, sangatlahsusah menyeimbangkan badan dengan satu kaki. Namun, aku harus tetap bertanggung jawab terhadap apa yang sudah aku lakukan. Inilah konsekuensi dari tanggung jawabku.

?Bertanggung jawab terhadap sesuatu yang sudah kita lakukan merupakan jiwa seorang pemberani? kembali kata-kata kak Yusuf terngiang ditelingaku.

Aku dan kak Hasan pun tak berkata-kata satu sama lain, kami hanya diam, menyadari kesalahan masing-masing. Senyap.

***

Teng?Teng..Teng?

Alhamdulillah, lonceng yang sedari dua jam-an dinanti datang juga. Kulihat sedikit wajah kak Hasan, tampaknya ia sudah sedikit membaik, tidak tertunduk malu lagi, mungkin karena efek dari dentangan lonceng pertanda istirahat barusan, ia pun melihatku dan memberikan senyumnya.Akhirnya, hukuman ini berakhir juga, terasa pegal sekali di pangkal paha dan betis.

?

Bu Norma mengakhiri pelajaran Bahasa Indonesia dengan tak lupa memberikan PR kembali kepada para muridnya. Setelah mengucap salam, Bu Norma menghampiri kami yang masih dengan posisi ritual orang kena hukuman.

?Jangan diulangi lagi ya, San, Sen!? Nasehat Bu Norma kepada kami.

?Insya Allah, Bu! Cukup ini yang terakhir.? Jawabku dengan wajah tegak. Kak Hasan menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan jawabanku. Ibu Norma pun tersenyum simpul kepada kami sejurus meninggalkan kelas.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku berdiri didepan kelas, seingatku,sudah dua kali aku berdiri didepan kelas.Kejadian pertama yaitu, Hari pertama saat aku menginjakkan kaki disekolah ini pun aku sudah langsung berdiri didepan kelas dengan kak Hasan. Waktu itu aku masih kelas empat caturwulan tiga, kami sekeluarga baru seminggu pindah dari Riau. Dan seperti halnya murid-murid baru pada umumnya, aku dan kak Hasan memperkenalkan diri kami didepan kelas.

Kejadian yang kedua, pada saat pelajaran kesenian dan muatan lokal, masih kelas empat juga. Para murid disuruh untuk bernyanyi didepan kelas. Ada yang senang, ada yang malu-malu, ada juga yang malas bernyanyi didepan kelas. Aku dan kak Hasan termasuk yang senang bernyanyi. Saat itu lagu yang menjadi pilihanku adalah lagunya Bondan yang judulnya Si Lumba-lumba. Sedangkan kak Hasan memilih lagu ?itiraf-nya Hadad Alwi.

Menyanyikan ?si lumba-lumba? memang lebih asyik sambil joget, walhasil diriku pun tak bisa menahan tubuh untuk ikut bergoyang mengikuti lagunya. Teman-teman pada terpingkal-pingkal ketawa melihat aksiku berjoget sambil bernyanyi. Entah dari mana datangnya percaya diri itu, aku, orang yang pendiam, menjadi sisi yang berbeda ketika menyanyikan lagu si Lumba-lumba itu.

?

Lumba-Lumba ikan yang pintar/Bisa meniru kayak manusia

Selalu patuh kalau disuruh/Tetapi harus makan dulu

?

Bermain bola makan dulu/Bermain api makan dulu

Menghitung angka makan dulu/Mau apa saja minta makan dulu

?

Lumba-Lumba si hitam manis/Paling pintar sesama ikan

Suka menolong pada manusia/Di laut yang luas asalnya

?

Hei si lumba-lumba!

?

Si hitam dari Laut Jawa/Si hitam dari Selat Sunda

Si hitam dari Laut China/Si hitam dimana mana ada

?

Si lumba-lumba bermain bola/Si lumba-lumba bermain api

Si lumba-lumba menghitung angka/Itulah dia si lumba-lumba

?

Kak Hasan pun tidak mau kalah dengan aksiku yang berjoget-joget ria menyanyikan lagu si Lumba-lumba. Ia bernyanyi penuh dengan penghayatan. Didukung pula dengan suaranya yang aku akui memang bagus. Tidak mau kalah juga dengan ku, ia juga menghayati lagu yang dinyanyikannya dengan gaya. Tentu gayanya tidak joget-joget seperti halnya diriku, ia mencontoh Hadad Alwi dalam melantunkan lagu tersebut, kak Hasan benar-benar bersimpuh, gaya tersimpuhnya itu menambah haru biruteman-teman yang melihatnya. Bahkan, sangking menghayati lagu tersebut dengan gaya tersimpuhnya itu, banyak teman-teman yang menitikkan air mata dan tak tertinggal ibu Guru Kelas empat pun ikut menyeka air matanya menggunakan sapu tangan. Tepuk tangan menggema selepas kak Hasan menyanyikan lagu tersebut. Kalau aku? Hmm..waktu itu , aku ikut terharu juga tapi tidak sampai menangis. Memang, kalau untuk urusan menyanyi, kak Hasan lah jagonya. Salut.

***

?

Bersambung

?

Alman Haraki