Fenomena Telolet Pendangkalan Akidah?

Rouf Almahbangy
Karya Rouf Almahbangy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Desember 2016
Fenomena Telolet Pendangkalan Akidah?

 

Di tengah hiruk-pikuk dan mendunianya Om Telolet Om, ada beberapa hal sangat disayangkan. Fenomena yang awalnya hanya sebagai bahan candaan dan hiburan, dibelokkan ke ranah yang sangat sensitif; agama. 

Banyak bertebaran tulisan dan meme  hoax yang mengatasnamakan pendangkalan akidah, yahudinisasi, dan berbagai dalih lainnya sebagai dampak dari Om Telolet Om. Ini tentunya sangat ngeri dan berlebihan. 

Berkembang pesatnya teknologi informasi dan komunikasi, membuat manusia semakin dimanjakan dengan teknologi yang ada. Seperti halnya dua kutub magnet,  semua sisi positif, tentu ada negatifnya. 

Hanya dengan sekali dua kali klik, seseorang dapat mengirimkan pesan ke berbagai penjuru dunia dan berkomunikasi bak sedang bertatap muka. Namun, tak ayal, sisi negatif tentu mengikuti. Misalnya, berita-berita hoax mudah sekali menyebar. 

Orang yang mudah percaya,  tak tahu atau mungkin ceroboh, sering tak sadar bahwa dirinya ternyata penyebar berita hoax. Ketika ditanya kebenaran tentang berita tersebut, ia hanya mampu menjawab, "Cuma meneruskan". 

Orang yang berbuat, tentunya harus bertanggung jawab. Jangan malah berdalih dan menghindar. Masih lebih baik kalau meminta maaf dan tak mengulangi lagi. 

Dalam ajaran Islam, masalah menerima dan menyebar berita/pesan pun diatur, tak hanya lewat utusan-Nya,  bahkan langsung dari Sang Pemberi Syariat. 

Ketika seseorang menerima kabar dari mana pun itu, ia seharusnya melakukan tindakan cek dan ricek atas kebenarannya. Bahkan, orang yang berbicara, menyebarkan apa pun yang 'didengarnya', bisa dicap sebagai seorang pendusta.

Lebih ngeri lagi, ketika masuk bulan-bulan haram, even besar agama, banyak bertebaran tulisan-tulisan yang dikemas sangat Islami sehingga tak terkesan hoax. Misalnya, tulisan yang mengajak orang untuk berpuasa pada hari tertentu di bulan-bulan khusus, yang kemudian di akhir tulisan dicantumkan seolah-olah Nabi bersabda akan pahala orang yang menyebar berita itu. 

Hadits itu sangat dijaga  kebenarannya dari generasi ke generasi. Mulai dari para sahabat ke tabiin, tabiut tabiin sampai para ulama. Penjagaan mereka dalam meriwayatkan apa pun yang bersumber dari Rasulullah,  menjunjung tinggi nilai kejujuran. 

Ketika masa kodifikasi hadits, jika ada satu perawi yang nilai kejujurannya diragukan, atau bahkan hafalannya lemah, maka informasi/hadits itu tidak dapat diterima. Dari sinilah, kita mengenal ada hadits shahih, hasan, dhaif, maudhu, dan la ashla lahu.

Sangat ironis sekali dengan zaman sekarang, orang dengan mudahnya menulis dan menyebar tulisan-tulisan yang seolah-olah dari Nabi, tanpa mencantumkan sumber, riwayat dan sanadnya. Bahkan sampai tak tahu asalnya dari mana. 

Ketika ada fenoma yang booming, hampir selalu ada yang mengatakan pendangkalan akidah, yahudinisasi, tak sebar neraka, tak menyebar dapat celaka, dan lain sebagainya. 

Sedikit-sedikit yahudi, sedikit-sedikit yahudi,  yahudi kok sedikit-sedikit.

  • view 152