Prinsip Keimanan

Niki Alma Febriana Fauzi
Karya Niki Alma Febriana Fauzi Kategori Agama
dipublikasikan 14 April 2016
Prinsip Keimanan

Di saat banyak faham merasuk dalam alam pikir manusia, dan pada gilirannya mempengaruhi keyakinan seseorang, hakikat keimanan kian hari kian bias. Keimanan seakan menjadi suatu hal yang sah-sah saja untuk dipermainkan. Ia tidak lagi menjadi spirit kehidupan yang darinya segala tindakan manusia bersumber. Bagi manusia beragama, keimanan adalah modal utama menjalani hidup. Ia menjadi kompas yang menunjukkan arah perjalanan menuju tujuan.

Dalam konsep Islam, keimanan menjadi hal paling esensial sebelum melakukan segala tindakan. Iman menjadi syarat diterima atau ditolaknya sebuah amalan. Ibnu al-Qayyim al-Jauzi dalam salah satu kitabnya yang berjudul Miftah Dar al-Sa’adah, menjelaskan hakikat dari keimanan. Menurutnya iman adalah: (1) membenarkan tanpa disertai keraguan (syubhat) yang dapat mengotori, dan (2) mentaati tanpa nafsu (syahwat) yang dapat menghalangi. Dengan kata lain ada dua prinsip keimanan dalam hal ini: pembenaran (tashdiq) dan ketaatan (ta’at). Untuk menyempurnakan dua prinsip tersebut, menurut Ibnu al-Qayyim, perlu ditambah dua lagi, yaitu: menegasikan keraguan dan menolak atau menahan nafsu. Dua yang terakhir ini merupakan keniscayaan dari dua prinsip awal.

Jika kita mencermati empat prinsip tersebut, maka kita akan mendapati di dalamnya apa yang biasa disebut sebagai sumber kebahagian dan sumper malapetaka. Sumber kebahagian diwakili oleh pembenaran (tashdiq) dan ketaatan (ta’at), sementara sumber malapetaka ada pada keraguan (syubhat) dan nafsu (syahwat). Ibnu al-Qayyim mendasari argumennya dengan menyinggung dua potensi kekuatan yang ada pada manusia. Menurutnya, manusia dianugerahi oleh Sang Pencipta dua potensi kekuatan: kekuatan intelektual (quwwah al-idrak wa al-nazhar) dan kekuatan emosional (quwwah al-iradah wa al-hubb). Dari kekuatan intelektual muncullah ilmu, pengetahuan dan pemahaman. Dari kekuatan emosional timbul motivasi, visi dan tindakan. Namun dua potensi kekuatan ini dapat rusak selama ia tidak dijaga dari hal-hal yang dapat merusaknya. Kekuatan intelektual dirusak oleh keraguan (syubhat), sementara kekuatan emosional dihancurkan oleh nafsu (syahwat).

Apabila kita melihat fenomena masyarakat yang mengaku memiliki keimanan dalam hati, tapi tindakannya tak mencerminkan apa yang mereka imani, barangkali empat prinsip tersebut dapat menjadi tolok ukur. Orang yang mengaku beriman tapi tangannya tidak malu saat menucuri hak rakyat, maka imannya telah rusak oleh nafsu. Jika orang yang berpendidikan tinggi, berderet gelar, tapi masih saja tidak bisa membedakan mana keadilan dan kebengisan, maka imannya telah porak-poranda oleh virus keraguan. Orang yang mengaku paling suci, tapi hatinya tidak pernah tergerak saat melihat kefakiran, maka imannya telah terkotori syahwat. Jika orang yang melabeli dirinya wakil umat, tapi kesadarannya tidak pernah berpihak pada kepentingan rakyat, maka imannya telah terkotori syuhbat dunia.

Betapa merugi orang yang mengaku beriman tapi pembenaran (tashdiq) yang mereka perjuangkan, tidak mengantarkannya pada ketaatan. Barangkali benarlah apa yang pernah dikatakan Hasan al-Basri tentang musibah terbesar dalam hidup: bahwa “bencana yang paling besar bagi orang yang semakin jauh dari Allah bukan berupa musibah kekurangan harta, kesehatan atau kerugian fisik. Melainkan kehilangan kepekaan untuk taat. Tidak sadar bahwa waktunya semakin sempit untuk beribadah.”

  • view 151