Integritas Keilmuan dan Integritas Kepribadian

Niki Alma Febriana Fauzi
Karya Niki Alma Febriana Fauzi Kategori Agama
dipublikasikan 14 April 2016
Integritas Keilmuan dan Integritas Kepribadian

Dalam ilmu hadis ada tiga istilah yang sering dipersamakan satu sama lain: dhabith, 'adil, dan tsiqah. Ketiganya memang merupakan bentuk penilaian positif (ta'dil) kepada seorang periwayat hadis. Namun jika dilacak lebih jauh, ketiga istilah tersebut memiliki makna yang sangat berbeda. Dhabith adalah bentuk penilain positif seorang kritikus kepada orang yang memiliki integritas keilmuan. Sedangkan 'adil merupakan bentuk penilaian positif kepada orang yang mempunyai integritas kepribadian. Adapun tsiqah ialah bentuk penilaian positif seorang kritikus kepada orang yang selain dia memiliki integritas keilmuan, juga mempunyai integritas kepribadian. Dengan kata lain, orang tsiqah adalah orang yang integritas keilmuannya sejalan dengan integritas kepribadiannya.

Membedakan tiga istilah tersebut dalam diskursus ilmu hadis menjadi sangat penting saat kita akan mengkaji lebih dalam keadilan Sahabat (‘adalah al-shahabah). Dalam kehidupan sehari-hari, tiga isitilah tersebut juga dapat kita gunakan untuk membaca atau menilai karakterisitik manusia. Ada orang yang barangkali dhabith, tapi ternyata tidak ‘adil. Begitu sebaliknya, ada orang yang mungkin dia ‘adil tapi tidak dhabith. Ada orang yang memiliki kedua-duanya: dhabith dan juga ‘adil. Tapi yang parah, sudah tidak dhabith, juga tidak ‘adil.


Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya, Miftah Dar al-Sa'adah, memberikan penjelasan yang sangat menarik ketika menafsirkan surat al-Najm ayat 1 dan 2. Menurutnya, dalam ayat kedua, kata “maa dhalla” yang dalam bahasa Indonesia diartikan “tidak sesat” adalah simbol yang menunjukkan bahwa Muhammad (subjek dari kata kerja “dhalla”) memiliki kesempurnaan ilmu dan pengetahuan (integritas keilmuan). Tidak hanya itu dalam lanjutan ayat tersebut, Muhammad juga disebut sebagai “maa ghawaa” yang dalam bahasa kita diterjemahkan “tidak keliru”. Kata “maa ghawaa” ini adalah simbol dari apa yang disebut Ibnu al-Qayyim sebagai “kamal al-rusyd” atau orang yang sempurna ilmu dan amalnya. Dengan kata lain al-rasyid (isim fa’il dari al-rusyd) adalah gelar bagi orang yang selain dia mempunyai integritas keilmuan, juga memiliki integritas kepribadian. Oleh karenanya, tidak mengherankan ketika Nabi Muhammad secara formal menggunakan kata al-rasyid ini untuk menisbatkan empat khalifah setelahnya dengan memberikan gelar mereka khulafau al-rasyidin (para khalifah yang memiliki integritas keilmuan dan integritas kepribadian).

  • view 153