Meraih Kemuliaan Dengan Sholat Jumat

Dzulkarnaen Lan
Karya Dzulkarnaen Lan Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 07 Juli 2016
Meraih Kemuliaan Dengan Sholat Jumat

 

Bingung dan gelisah tentang kata-kata yang ingin ditulis. Susah rasanya mencari kata-kata yang tepat menggambarkan suasana hati seseorang yang benar-benar sedang jatuh cinta. Tidak sekedar jatuh cinta karena raga, harta apalagi tahta. Cinta ini adalah fakta romantika yang sama sekali tidak ada pada legenda atau juga drama karya cipta manusia. Cinta ini istimewa, tumbuh dengan doa, kekal dalam jiwa, dan bermuara ke surga. Ketika aku mendekat selangkah, maka Dia akan mendekat seribu langkah. Saat ucapan, sikap, dan perilaku tidak terkendali, Dia justru menghampiri dengan kasih seluas langit dan bumi. Dialah Allah Sang Pemilik Cinta Suci yang hanya bisa digapai dengan hati yang murni. Syukurlah jiwa ini mulai mampu memahami tentang tujuan penciptaan dan cara menggapai kebahagiaan. Tepatnya saat didengarkan salah satu firman Allah dalam Al-Quran, Surat Ali-Imran ayat 31.

 Terjemahan : “Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ayat tersebut sangat indah terdengar, namun belum begitu melekat dalam hati saat aku masih duduk di bangku SMP. Entah apa yang aku cari saat itu, yang pasti hidup ini benar-benar hampa. Siang dan malam berlalu begitu saja. Banyak dosa dan hal sia-sia yang menghiasinya. Sholat lima waktuku begitu kacau. Melaksanakannya pun sebatas untuk menggugurkan kewajiban. Apalagi ketika jumat tiba, dengan mudahnya diri ini mengabaikan panggilan Allah. Entah berapa kali aku telah meninggalkan sholat jumat saat itu. Rasanya benar-benar ringan, tanpa ada rasa bersalah. Dosa-dosa ini terus berlangsung hingga waktu Ujian Nasional tiba. Syukur rasanya saat itu, tangan Allah mulai menyentuh jiwa, membuka mata, dan menjernihkan telinga. Allah menyadarkan diri ini bahwa kehampaan dan prestasi yang kian menurun adalah akibat dari jauhnya jiwa ini dari Allah. Sesekali rasa takut pada Ujian Nasional datang menghampiri. Namun aku semakin sadar bahwa selamai ini Allah tidak ada di hati. Kesadaran ini membawa diri untuk segera lari dari noda-noda hitam yang menghegemoni. Tepat bulan Januari 2010, aku mulai hijrah dengan memperbaiki sholat dan tentunya memuliakan jumat. Semua itu aku lakukan karena keinginan untuk mendekati-Nya.

Segala hal baru memang terasa sulit diawal, tetapi keistiqomahan akhirnya membawaku pada prestasi gemilang. Niatku memuliakan sholat jumat dibalas oleh Allah dengan Juara 1 Umum kelulusan Ujian Nasional di sekolahku. Allahuakbar, sebuah prestasi yang tidak pernah terlintas sedikitpun dalam hati dan pikiran. Prestasi inilah yang kemudian memahamkanku tentang makna sesungguhnya  Q.S. Ali-Imran ayat 31, yakni menjadi pencinta Allah dengan mengikuti segenap perintahnya.

Keistiqomahan dalam memuliakan jumat semakin meningkat ketika aku memasuki bangku SMK. Sekolah dengan populasi siswa muslim hanya sekitar 30-an siswa dari 1000 lebih siswa ini menjadi tempat untuk menguji cintaku pada Allah. Baru saja masuk, Allah sudah menguji keistiqomahanku. Saat itu masih berada pada masa-masa orientasi siswa. Di hari jumat pertamaku di sekolah itu aku hendak pulang lebih awal agar bisa melaksanakan sholat jumat. Namun, seseorang guru PKN justru melarangku dan mengatakan bahwa belajar adalah kewajiban utamaku. Aku sungguh bingung dengan perkataannya, karena saat itu kegiatan belajar-mengajar belum berjalan sama sekali. Terlebih lagi pernyataannya tentang belajar sebagai kewajiban utamaku. Apakah dia lupa atau justru sedang mengubah Pancasila yang ia ajarkan? Bahwa hal utama yang wajib dijadikan landasan dan dijunjung tinggi setiap warga negara Indonesia adalah Ketuhanan. Sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi pondasi yang menjiwai sila-sila lainnya. Artinya, sikap dan perilaku setiap warga negara Indonesia haruslah berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan terlebih dahulu. Yang lebih disayangkan lagi, ia tidak sadar bahwa perilakunya itu telah melanggar konstitusi negara ini, tepatnya yang mengatur tentang kebebasan beragama dan pelaksanaan peribadatan yang tentu sering ia ajarkan di kelas-kelas. Namun, perlakuan buruk tersebut tidak sedikitpun meggentarkanku, tapi justru menambah cinta dan keyakinanku pada Allah. Cinta dan keyakinan itu pun semakin bersemi saat seorang guru terbaikku membacakan sebuah ayat Allah, Q.S. Fushilat ayat 30.

 Terjemahan : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan : “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Ya Allah, sungguh syahdu ayat-Mu ini. Janji suci yang menggetarkan hati, menguatkan jiwa ini agar tetap teguh memegang panji Ilahi. Keistiqomahan memuliakan jumat pun bertambah kuat. Namun, ujian yang datang justru kian meningkat. Diskriminasi dan tekanan terhadap siswa muslim terus diberikan oleh beberapa guru, tenaga kependidikan, petugas keamanan bahkan kepala sekolah. Sudah tidak terhitung lagi beberapa kali satpam sekolah mencatat namaku dalam buku pelanggaran. Ya, ia menganggap sholat jumat sebagai pelanggaran yang perlu dicemaskan. Alasannya ialah karena sholat jumat membuatku datang terlambat. Jam pelajaran kelas X memang dimulai pada pukul 12.00 WITA, dan itu bersamaan dengan pelaksanaan sholat jumat. Sudah tentu aku lebih memilih melaksanakan sholat jumat dulu, baru berangkat ke sekolah.

Teguran bahkan hujatan terus mewarnai hari jumatku. Puncaknya terjadi saat kepala sekolah memanggilku, ia menyidangku dan memvonis bahwa sholat jumat yang aku lakukan sudah melanggar peraturan sekolah dan ia justru menuduhku sengaja datang telat untuk menghindari jam pelajaran pertama. Ia kemudian bertanya apakah sholat jumat itu tidak dapat diundur atau dimajukan. Ia kemudian memberikan saran yang sebenarnya adalah sebuah penistaan terhadap Islam. Ia menyuruhku agar seminggu sholat, kemudian seminggu tidak, dan begitu seterusnya. Hal tersebut mengingatkanku dengan asbabun nuzul surat Al-Kafirun, yakni saat Nabi Muhammad SAW ditawari oleh kaum  dzalim Quraisy  agar sebulan mengikuti agama mereka, kemudian sebulan berikutnya kembali ke Islam, dan begitu seterusnya. Perilakunya ini tentu jauh dari kata toleransi, bahkan jika dibiarkan akan menciderai kerukunan antar umat beragama. Namun, apapun perlakuan yang mereka berikan, keteguhan hati untuk melaksankan syariat Ilahi tidak dapat diguncangkan sedikitpun. Meskipun jiwa sempat goyah, bahkan hampir saja menyerah, hingga ingin keluar dari sekolah itu, aku tetap bertekad untuk bertahan hingga aku benar-benar menggapai janji Allah yang difirmankan dalam Q.S. Fushilat ayat 30. Tekad yang kuat untuk beristiqomah ini pun disambut dengan ujian yang semakin berat. Salah seorang petugas kemanan bahkan membentakku dengan mengatakan bahwa keterlambatanku datang ke sekolah karena sholat jumat adalah pelanggaran terbesar yang pernah ia tangani. Ia juga mengancam akan menjadikan laporan pelanggaran (menurutnya) itu sebagai senjata yang akan “menembakku” di rapat kenaikan kelas, sehingga aku tidak akan naik kelas. Sungguh perilakunya ini membuat aku bingung, di satu sisi, pihak sekolah menyantumkan kalimat “bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa” sebagai butir pertama tata tertib siswa, tapi pada kenyataannya, siswa yang benar-benar bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa justru dianggap telah melakukan pelanggaran terbesar. Ya Allah, sungguh hamba berlindung dari perlakuan yang dzalim dan tidak adil seperti ini. Perilaku-perilaku negatif seperti ini terus berlanjut hingga terkadang mengundang perasaan gundah dan takut akan masa depan sekolahku. Aku benar-benar takut jika nilaiku hancur dan sengaja tidak dinaikkan kelas hanya karena aku bersikukuh melaksanakan sholat jumat. Tapi Allah mengenalkanku kembali pada satu ayat yang luar biasa syahdu, menyentuh hati paling dalam, bahkan mata ini tak mampu menahan tetesan air mata yang penuh haru. Allah menjanjikan kepada setiap hambanya yang taat dan teguh dalam ketaatan itu dengan kemenangan yang gemilang, kemenangan besar yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 70-71.

 Terjemahan : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenangan yang besar”.

Ayat itu pun aku yakini dengan sepenuh hati, hingga seringkali tangis haru membasahi pipi ketika aku membacanya. Janji Allah akan kemenangan yang besar tersebut pun benar-benar terjadi. Ancaman yang diberikan kepala sekolah dan petugas keamanan sekolahku justru bertolak belakang 180 derajat. Allah tidak hanya memberikanku kenaikan kelas, Allah justru menjadikan aku peraih Juara Umum 1 di seluruh kelas X yang jumlah siswanya hampir mencapai 400 orang. Dan menjadi Juara Umum 2 di seluruh tingkat (X, XI, dan XII) yang jumlah siswanya mencapai 1000 orang lebih. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar. Ya Allah hamba bertambah yakin dengan janji-janji-Mu. Hamba bertambah yakin bahwa ketaatan pada-Mu adalah jalan menuju kebahagian dan kemenangan yang hakiki.

Namun, Kemenangan yang gemilang tersebut tidak juga menyurutkan perlakuan diskriminatif beberapa pihak di sekolah. Kini perilaku tidak mengenakkan sudah merambat ke guruku dan juga teman-temanku. Bahkan teman-teman sekelasku memiliki nama panggilan untukku, nama panggilan yang sangat menyayat hati, yakni “teroris”. Selain itu, mushola yang ada di sekolahku pun dijadikan gudang penyimpanan dokumen-dokumen. Aku pun segera merespon tegas perlakuan buruk itu. Sungguh, hati ini benar-benar sakit ketika agama Allah dilecehkan seperti itu. Jika mereka menghina, melecehkan atau bahkan menginjakku, aku masih bisa memaafkannya. Tapi jika agama Allah yang mereka lecehkan, maka nyawa pun akan aku pertaruhkan untuk mengembalikan kemuliaannya. Aku pun mulai merenung, bagaimana cara untuk melawan perlakuan buruk mereka kepada Islam. Membalas dengan hal yang sama tentu tidak mungkin, karena Allah melarangnya. Mengeluarkan kata-kata kasar tentu tidak mungkin juga, karena itu justru merusak kemuliaan Islam. Melawan dengan kekerasan fisik lebih tidak mungkin lagi, karena Allah membenci kerusakan dan pertumpahan darah. Ya Allah, aku benar-benar bingung saat itu. Aku pun berusaha merenung kembali, mencari cara yang dahsyat untuk membalas perlakuan buruk mereka, tetapi dihalalkan oleh Allah. Dan akhirnya aku mendapatkan cara yang benar-benar tepat untuk melawan, yakni “prestasi”. Aku bertekad menggunakan prestasi untuk mengangkat nama Islam dan membuat mereka segan pada siswa-siswi muslim. Tekadku pun semakin kuat ketika aku bertemu dengan guru terbaikku di tempat aku biasa belajar agama Allah. Saat itu guru terbaikku merangkul pundakku seraya menunjuk sebuah kaligrafi besar yang terbuat dari kaca. Kaligrafi itu memuat firman Allah Q.S. Muhammah ayat 7.

Terjemahan : “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

Sambil menunjuk kaligrafi itu, guruku berkata, “apapun yang kamu lakukan di dunia ini, selagi itu amal soleh dan diniatkan untuk memuliakan agama Allah, maka Allah yang akan menjadi walimu dan Dia yang akan menjaga kedudukanmu, jabatanmu, prestasimu, dan semuanya yang telah kamu perjuangkan”. Ayat Allah dan penjelasan guruku ini benar-benar membakar semangatku untuk tetap teguh menjalankan sholat jumat dan meraih berbagai prestasi yang akan aku gunakan untuk mengangkat nama Islam di sekolahku. Dan benar saja, dalam waktu yang singkat, Allah memberikan aku kemuliaan dengan meraih berbagai prestasi, yakni menjadi Siswa Pendidikan Agama Islam Berprestasi tingkat Provinsi Bali, Juara 2 Debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi Bali, Juara 1 Musabaqoh Menulis Kandungan Al-Quran, menjadi ketua tim sukses lomba Guru Berprestasi tingkat Provinsi Bali, staf desain kepercayaan sekolah, dan berbagai prestasi gemilang yang lainnya. Allah juga benar-benar memenuhi janji-Nya tentang peneguhan kedudukan hamba-Nya yang membela Islam. Allah benar-benar meneguhkan prestasiku sebagai Juara Umum 1 sejak kelas X sampai aku tamat dari sekolah itu. Allahuakbar, aku tidak pernah membayangkan kemenangan gemilang itu. Bayangkan saja, siswa muslim yang dulu ditindas dan dilecehkan agamanya, kini menjadi siswa terdepan dalam prestasi, menjadi Juara Umum 1 dari 1000 lebih siswa. Padahal dari 1000 lebih siswa itu, hanya ada 30-an siswa muslim.

Namun, kemenangantersebut belum cukup bagiku. Aku menginginkan kemenangan yang lebih besar lagi, yakni menghasilkan prestasi dari sholat jumat, dan kemudian menyerahkan pialanya langsung ke kepala sekolahku yang telah menistakan sholat jumat. Aku pun berupaya mengikuti kompetisi khutbah jumat yang diadakan Kementerian Agama Provinsi Bali. Pada kesempatan pertama aku gagal memeroleh kemenangan. Tapi pada kesempatan kedua, Allah benar-benar menghadiahkanku kemenangan yang gemilang. Tropi Juara 1 Khutban Jumat akhirnya berhasil aku angkat. Dan selanjutnya impianku pun terwujud, yakni menyerahkan piala Juara 1 Khutbah Jumat tingkat Provinsi Bali kepada kepala sekolahku yang telah menistakan sholat jumat. Hal yang benar-benar mengharukan adalah takdir Allah yang menghendaki penyerahan piala itu disaksikan oleh seluruh warga sekolah saat upacara bendera. Allahuakbar, aku benar-benar ingin menangis tersungkur karena ganjaran yang Allah berikan ini. Piala khutbah jumat itu secara langsung aku serahkan ke kepala sekolahku di hadapan seluruh warga sekolah. Aku merasakan betul kemenangan yang gemilang. Bayangkan saja, orang yang dulu melarangku sholat jumat, tapi kini justru menerima piala hasil dari ketaatanku mendirikan sholat jumat. Lihatlah kini, agama yang dulu ditindas, dihina, dan dilecehkan, kini menjadi agama yang dipandang dan disegani karena telah mengharumnkan nama sekolah seantero Bali. Inilah jalan Allah yang indah, pengikut-pengikut Allah akan mendapatkan kemenangan yang besar, dan kelak dianugerahi singgasana yang kekal di dalam surga. Wallahu’alamu bisshowab.

 

  • view 293