Sang Mata Satu

Dzulkarnaen Lan
Karya Dzulkarnaen Lan Kategori Renungan
dipublikasikan 25 Juni 2016
Sang Mata Satu

SANG MATA SATU

Hampir setiap hari, saat fajar menyingsing, pagi yang hening lenyap oleh suara dua adik kecil yang bising. Mereka tidak lagi menghiraukan ayah, ibu, dan kakaknya sejak kehadiran sang mata satu. Senyum dan tawa mereka kini diberikan sepenuhnya untuk sang mata satu. Panggilan sayang ibu pun tidak mempan menembus selaput tipis telinga mereka, apalagi lubuk hati yang dalam. Panggilan Tuhan sekali pun juga tidak mampu menghentikan perbincangan mereka. Dua pasang mata mereka kini terpaku pada satu mata yang membelenggu.

Pertemanan mereka terus berlanjut. Tidak ada hal yang dapat menghibur mereka selain cerita dan pesona sang mata satu. Jika perbincangan sudah dimulai, mereka akan lupa dengan berbagai tanggung-jawabnya. Tumpukan tugas sekolah tidak pernah disentuhnya, bahkan masih tersimpan rapi dalam tas mereka. Hampir setiap semester, ibu kecewa dan bersedih melihat nilai kedua anaknya itu yang semakin memburuk. Tidak jarang ibu bertengkar dengan ayah hanya karena masalah pertemanan anaknya dengan sang mata satu. Ibu berharap anaknya tidak terlalu akrab, tetapi ayah berkehendak agar anaknya bebas berteman dengan sang mata satu.

Kegelisahan ibu memang benar adanya. Hari demi hari, kedua anaknya itu semakin terpengaruh ucapan dan tatapan sang mata satu. Mereka sering meniru berbagai ucapan dan perilaku yang tidak seharusnya mereka tiru. Banyak hal buruk yang mereka terima; mulai dari kekerasan, pergaulan bebas, perilaku hedonisme, bahkan tidak jarang ada unsur pornografi dan pornoaksi.

Ocehan tidak mendidik menjadi bahan perbincangan setiap harinya. Kedua adik kecil itu sudah pandai meniru kebiasaan orang dewasa. Berbicara cinta, bahkan berperilaku seperti orang yang sudah menikah dan berkeluarga. Tidak hanya jati diri usianya yang sirna, tetapi juga jati diri budaya dan bangsanya. Mereka lebih memilih budaya dan gaya hidup orang lain, dibandingkan budayanya sendiri. Ocehan sang mata satu membuat mereka malu untuk menunjukkan atribut kebangsaannya, bahkan kini sudah merambat ke agamanya.

Entah apa yang membuat mereka begitu terpesona dengan sang mata satu. Memang, terkadang ada hal baik yang disampaikan sang mata satu, tetapi keburukan justru lebih mendominasi ucapan dan tatapannya. Padahal, penguasa negeri ini sudah berupaya mengatur agar ucapan dan tatapan sang mata satu mengandung hal-hal baik, medidik, dan bermanfaat untuk kemajuan bangsa. Namun, aturan itu tidak sepenuhnya dihayati sang mata satu. Jika dipikir kembali, memang benar apa yang dikatakan Gerbner dan Gross (1976); bahwa sang mata satu memiliki pesona yang mampu memikat sebagian besar orang, apalagi kedua adik kecil.

Perlahan, diri ini pun mulai terpengaruh oleh sang mata satu. Banyak perkataan abu-abu, semu, bahkan palsu yang sangat membingungkan. Entah mana yang benar dan mana yang salah. Dunia rasanya sudah terbalik dan disesali banyak informasi yang penuh manipulasi.  Perkataan dusta dianggap jujur, sedangkan perkataan jujur dianggap dusta.

Ingin sekali rasanya menghentikan keburukan yang dibawa sang mata satu. Tapi apa daya, ia tidak hadir di satu keluarga saja, tetapi hampir setiap keluarga di dunia. Ucapan dan tatapannya merambat melalui udara yang gaib dan tidak dapat disentuh sedikit pun. Mungkin inilah fitnah akhir zaman yang dinubuatkan itu. Fitnah besar yang menjadi klimaks bagi fitnah-fitnah yang ada sebelumnya. Fitnah berbahaya yang dibawa rajanya pendusta—sang mata satu.                                                                                            

 

Referensi

Gerbner, G., & Gross, L. (1976). Living with television: The violence profile. Journal of Communication, 26, 172-199.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

 

  • view 191

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Sang mata satupun telah merambah di dunia medsos.. terutama di Facebook.. banyak postingan hoax yg disebarkan tanpa dibaca kebenarannya baik politik dan agama.. lihat komentar-komentar postingan yg hanya berdasarkan emosi golongan tanpa berfikir apa yg di komentari benar atau salah..

    • Lihat 1 Respon