Realita

Siti Zahrotul  Luthfiyah
Karya Siti Zahrotul  Luthfiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Februari 2016
Realita

Namaku Realita Agnes Lupita. Teman ? temanku biasa memanggilku Rea atau Realita. Orang bilang nama adalah doa, sepertinya hal itu berlaku padaku. Aku Realita, yang selalu realistis. Aku jarang menggunakan perasaanku dalam menilai sesuatu, aku lebih suka menggunakan logika. Karena logika menurutku selalu lebih tepat dan mendekati fakta. Itu mungkin yang kadang membuat teman ? temanku bilang aku ini orang-yang-tidak-berperasaan. Sebenarnya bukan tak berperasaan, hanya aku tidak memilih mengandalkan perasaan dalam setiap langkah hidupku. Aku masih bisa menangis menonton film sedih, membaca cerita ? cerita menyayat. Meski beberapa menit setelahnya aku merasa bodoh karena bagian otak mamaliaku bisa bisanya dipermainkan oleh pemicu ? pemicu rasa buatan manusia macam itu.

Hari ini aku berusia 23 tahun, sudah cukup dewasa. Dan bisa ditebak topik apa yang selalu menyembur padaku. Jujur topik itu menyebalkan sesekali.

?Re.. kapan lo nikah? Nanti perawan tua lo. Jangan kerja mulu. Cari pasangan.?

Sekedar info, aku lulus kuliah sarjana 4 tahun. Bekerja di salah satu perusahaan mancanegara paling prestisius di negara ini, di bagian SDM. Aku terbiasa mengamati dan menilai orang.

?Masih asik sama kerjaan nih.? Jawabku santai seperti biasa. Aku berbohong.

?Gue cariin deh.? Temanku Ara ini, selalu antusias sekali menjodohkanku. Aku tidak mengerti kenapa hal ini menarik baginya. Apa aku semengkhawatirkan itu? 23 tahun kan masih muda.

?Lo kenal Dery dari bagian keuangan kan??

?Gak mau.?

?Kenapa?? Ara penasaran.

?Dia bukan orang yang konsisten.?

?Kan lo belom kenal jauh Re.?

?Gak perlu kenal lebih jauh gue udah tau. Pernah kerja sama dia, dan dia mengecewakan.?

?Gak boleh ngejudge orang gitu Re.?

?Ini bukan soal ngejudge. Menilai orang adalah persoalan hipotesis yang kemudian lo buktikan dengan validasi ? validasi. Cuma soal menghitung peluang kebenaran hipotesis yang dipunya aja Ra.?

Aku tahu Ara bingung. Ah biarlah, aku tak punya kewajiban untuk menjelaskan detail apa yang kupikirkan.

?Seperti biasa, bahasa lo ketinggian banget hahaha. Gue mau bilang, lo punya potensi besar untuk mendapatkan orang seperti apapun yang lo inginkan. Jadi jangan sia siakan itu, bunga itu ga lama mekarnya Re. Waktu akan membuatnya layu dan tidak menarik lagi.?

Aku hanya bergumam mengangguk. Malas mendebat sahabatku itu. Aku tahu, aku punya segala kemampuan untuk memanipulasi orang untuk menyukaiku. Meski aku tak pernah melakukannya kecuali untuk urusan ? urusan negosiasi bisnis. Aku tahu apa yang manusia suka dan manusia tidak sukai, dan jujur saja kalau semua orang sadar mengenai hal ini. Perempuan manapun bisa mendapatkan laki ? laki manapun yang dia mau. Dan laki ? laki manapun bisa mendapatkan perempuan manapun yang dia mau. Sayangnya sedikit sekali manusia yang mempelajari hal ini. Aku sejak kecil mempelajarinya, hanya tak pernah memilih untuk menggunakannya. Karena hal itu, sama saja membohongi diri sendiri. Permata memang bisa membuat banyak orang menyukainya, tapi toh yang kelak memilikinya kan hanya satu orang saja.

Jam makan siang, sudah bisa kuduga ada orang yang akan mengirimkan pesan singkat padaku. Sama seperti delapan tahun belakangan ini.

Hei Re. Jangan lupa makan siang. :)

Paling ? paling begitu isinya. Aku sudah tidak pernah membuka lagi pesan dari nomor itu. Sudah ada ratusan pesan. Sudah ada ribuan hari aku memberi isyarat bahwa aku tidak menyukai si pengirim pesan. Tama, teman SMA ku. Serangga pengganggu nomor satu di antara serangga lainnya yang juga mengganggu hari ? hariku saja.

?Emang kurangnya Tama apa sih Re?? Suatu hari Ara pernah penasaran tentang hal ini. ?Ganteng, atletis, pinter, kaya pula. Dan lagi dia lulusan Harvard. Bentar lagi dia mau ambil integrated programdoktoral di sana juga. Kurang waw apa coba.?

Mataku berputar, letih dengan pertanyaan Ara.

?Justru karena dia hebat. Itu membuat gue muak. Kehebatannya itu membuat dia merasa dia bisa mendapatkan segalanya, termasuk bisa mendapatkan gue. Gue merasa gue ga lebih dari obsesi yang perlu dia menangkan, piala yang perlu dia dapatkan dari kompetisi imajiner yang ada di kepalanya.?

?Come on. Lagi lagi itu kan cuma asumsi lo Re. Mana tau dia ga kayak gitu.?

?Gue kenal dia udah delapan tahun Ra. Cukup untuk tahu orang seperti apa dia. Lagi pula, gak semua perempuan suka dikejar ? kejar. Mengejar orang yang jelas ? jelas menolak lo itu cuma nunjukkin kalo orang itu gak punya harga diri demi ngejar obsesinya.?

?Gimana kalo menurut dia lo adalah perempuan langka yang memang layak diperjuangkan??

?Di antara semua tingkah sok perhatiannya selama delapan tahun. Dia gak pernah tuh berani dateng ke ayah gue. Kalo memang gue adalah perempuan yang segitu layaknya untuk diperjuangkan harusnya dia melakukan itu dulu sebelum memberikan segala jenis perhatian memuakkan itu.?

?Ooo jadi lo ngarep dia dateng ke ayah lo? Nih sebenernya? Ciee.?

?Bukan itu pointnya Ra. Intinya dia cuma buang ? buang waktu kasih perhatian ke gue. Semacem kaya melakukan sebuah permainan, sementara langkah paling strategis dan menunjukkan keseriusan aja ga pernah terpikirkan. Itu ngebuktiin kalau dia ga lebih dari seseorang yang masih kekanakkan.?

?Gimana kalo dia belom siap aja??

?Gue ga mau ngeladenin yang ga siap. Buang ? buang waktu gue.? Lagi ? lagi aku berbohong. Nyatanya, aku menunggu seseorang yang entah kapan siapnya. Di antara semua hal yang kupercayai dan kuyakini ada seseorang yang selalu jadi pengecualian.

?Re.. sebenernya lo mau sama orang yang sehebat apa sih Re??

Aku diam. Dia tidak perlu hebat Ra, kataku dalam hati.

??

?Gilang jadi kapan lo lulus? Masih betah aja di kampus.? Tanyaku pada seorang teman kuliahku. Teman yang sesekali menghubungiku lewat personal chat. Ia masih belum juga lulus padahal ini sudah tahun ke enamnya di kampus.

?Semester ini Re. Doain yak.?

?Oke. Always.? Klik. Enter. Pembicaraan yang selalu sesingkat itu.

Gilang, teman yang kukenal sejak hari pertama ospek tingkat kampus. Ia teman pertamaku di hari pertamaku. Laki ? laki pertama yang kukenal dan membuatku mulai sadar bahwa aku sudah bukan anak kecil lagi. Sejak pertama kali bertemu dengannya aku tahu dia berbeda denganku. Aku serius dia santai, aku rapi dia berantakan, aku dingin dia ekspresif, aku logis dia imajinatif. Hal yang sama adalah kami para pemimpi. Sejak dulu kami selalu menyukai kegiatan ? kegiatan berpikir tentang ide ? ide gila. Dia dan aku adalah rekan kerja yang tak terkalahkan. Apapun yang kulakukan karya apapun yang kuciptakan bersamanya selalu mampu membuat orang lain tercengang. Dia bermimpi aku yang mendefinisikannya. Kadang jika ia sedang tersesat di dunia imajiner miliknya, aku terpaksa menariknya lagi ke dunia nyata. Dan membangunkannya untuk mewujudkannya. Aku tidak percaya belahan jiwa, itu terlalu melankolis untuk otak rasionalku. Tapi dia adalah satu ? satunya puzzle yang bisa melengkapiku di antara jutaan manusia yang ada di muka bumi ini.

Di saat teman ? teman seangkatan kami sudah berkarir di pekerjaannya masing ? masing. Gilang masih berjuang di kampus. Tentu bukan karena hidupnya berantakan jadi dia tidak juga lulus. Justru karena sejak awal dia sudah menemukan tujuan hidupnya. Bagi orang lain kuliah adalah alat untuk mencapai kesuksesan. Tapi baginya, kuliah adalah tempatnya duduk dan belajar dari maha guru ? maha guru di kampus. Sementara kesuksesan bisa didapat meski kita hanya seorang lulusan sekolah dasar.

?Bukan tempat yang mendefinisikan kualitas kita Re. Tapi kita sendiri.? Katanya satu setengah tahun lalu. Hari dimana aku wisuda sementara ia baru membuka perusahaan kecilnya. Perusahaan yang menurut analisisku akan menggurita dan meraksasa dalam waktu lima belas tahun ke depan. Tak banyak yang berani memilih langkah seperti yang diambilnya, langkah yang berbeda dari yang lain.

Ketika orang ? orang sepertiku memilih langkah aman yang biasa, lulus kuliah cari kerja dan berkarir di sana. Dia memilih menciptakan sendiri peluangnya. Aku tidak sedang menunggu orang yang hebat di mata dunia untuk datang, aku menunggu laki ? laki yang sederhana itu yang mungkin gagal di mata orang lain, tapi aku tahu akan jadi seperti apa dia kelak. Dunia hanya sedang menutup matanya darimu.

??

Ping. Suara notifikasi personal chat masuk ke ponsel ku. Gilang.

?Re, lo dateng ke nikahan Lian??

?Dateng. Lo??

?Dateng juga. Btw kapan nih giliran lo kasih undangan?? Pertanyaan yang klise sekali.

?Lo dulu lah.? Jawaban yang juga klise sekali.

?Nanti lah Re. Gue masih malu sama diri gue. Masih belom ada apa apanya. Nanti kalo misalnya gue ditanya mau kasih makan apa anak orang? Gue gak bisa jawab.?

?Cupu banget sih gitu aja takut.? Bodoh. Kali ini aku sungguh ? sungguh menganggap betapa bodohnya dia. ?Lagi pula kan lo udah punya perusahaan sendiri. Meskipun masih berjuang di tahun pertamanya.?

?Gue mau berjuang lebih layak lagi Re buat dia.?

Aku tahu siapa dia. Aku sadar siapa dia yang gilang sebut itu. Aku bahkan tahu tanpa sadar ia berbohong. Berbohong seperti alasan banyak laki ? laki pada umumnya. ?Berjuang agar lebih layak untuk seseorang.? Meski tahu, entah kenapa aku hanya ingin menunggu sedikit lebih lama. Aku ingin menunggu dia sadar.

?Selamat berjuang kalo gitu ya. Kabari paling cepet pokoknya kalo lo udah nyebar undangan.? Basa ? basi klise.

?Siaap!?

???

?Re..?

?Ya.?

?Kapan lo nikaah?? Teriak Ara geram dari seberang telepon. Sahabat yang menyebalkan. Menelponku pagi buta begini hanya untuk menanyakan hal itu. Di Jakarta memang sudah siang, tapi di Leiden ini masih sangat pagi.

Aku Realita, 27 tahun calon doktor. Tiga tahun yang lalu akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan studiku ketika ada tawaran beasiswa datang di depan mataku. Kesempatan tak datang dua kali.

?Re.. gue udah punya anak dua lo masih single gitu. Jangan ngejar karir dan gelar mulu lah. Pikirin masa depan lo.?

?Karir dan gelar kan juga masa depan.? Aku berbohong, berpura ? pura jadi orang yang berpikiran dangkal.

?Emang karir sama gelar lo yang bakal nemenin hari tua lo??

?Emang suami juga udah pasti ngejamin nemenin sampe tua? Bisa jadi mati duluan.?

?Re..?

?Ra..?

?Re! Udah pokoknya gue bakal hubungin om buat maksa lo balik indo dan nikah secepetnya.?

?Dih.. kok lo jadi ngatur gini.?

?karena gue sayang sama lo Cinta..?

?Iya makasih cinta.?

Tut.. telepon kuputus. Baiklah sepertinya sudah saatnya aku berhenti menunggu. Setelah telepon Ara, ayah mengirimkan pesan untuk memintaku pulang ke Jakarta bulan depan.

??

?Namanya Ryan. Lulusan S2 Suriah. Anaknya baik secara agama maupun budi pekerti. Cerdas juga, jadi tentu cocok sama Rea.? Ayah memaparkan dengan pelan ? pelan profil anak temannya. Aku menghela napas. Aku percaya pada Ayah. Tidak ingin mengecewakannya. Sepertinya Ayah suka sekali pada Ryan. Aku juga sudah tak punya alasan untuk menunggu. Orang yang kutunggu sepertinya tak kunjung siap.

?Kalau menurut ayah dia baik. Rea percaya Ayah.?

Sudah kuputuskan masa depanku. Aku Realita, yang selalu realistis. Aku jarang menggunakan perasaanku dalam menilai sesuatu, aku lebih suka menggunakan logika di setiap langkah hidup yang kuambil. Karena perasaan justru menuntunku pada penantian yang terlalu panjang yang entah dimana ujungnya. Membuang ? buang waktuku saja.

??-

?Cie yang besok lamaran. Deg degan gak Re?? Goda Ara. Hari ini Ara menginap di rumahku untuk membantuku dan Ibu menyiapkan segala hal.

?Biasa aja.?

?Bohong.?

?Sedikit deg degan. Tapi ngapain juga deg degan orang besok temu keluarga membicarakan sebuah topik, dan selesai.?

?Re.. jangan mulai.?

?Hehehe. Iyaaaa gue deg degan bangeet.?

Ponselku tiba - tiba berbunyi. Aku melihat layar ponselku dan sedikit terkejut melihat nama yang tertera, Gilang. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya.

?Hallo.?

?Hei. Re. Gue dapet kabar lo udah balik ke Jakarta ya.?

?Iya nih.?

?Gimana kabar lo??

?Baik Lang. Lo??

?Baik..?

?Oia ada apa nih?? Tanyaku penasaran. Hening di sana.

?Langsung aja ya Re.. sebenernya ada yang gue pengen sampaikan ke lo. Udah dari lama, tapi gue baru berani bilang ini sekarang.? Dia diam sejenak.

?Oke..? Kataku. ?Apa itu??

?Sejak dulu banget gue suka sama lo Re. Cuma gue ga berani bilang. Gue takut lo tolak. Lagipula lo kan ga pernah mau pacaran, bagi lo pacaran itu cuma hubungan gak logis yang buang ? buang waktu.?

Aku tahu. Aku sudah lama tahu. Menilai orang adalah persoalan hipotesis yang kemudian lo buktikan dengan validasi ? validasi. Cuma soal menghitung peluang kebenaran hipotesis yang dipunya aja Ra.Itulah uniknya perasaan, kita akan selalu sabar menunggu seseorang mengatakannya langsung sendiri, meski mungkin kita telah lama tahu. Meski kadang, pada kenyataannya banyak perasaan yang ?tak pernah dan tak bisa tersampaikan.

?Sejak lo lulus gue ingin dateng ke ayah lo untuk meminta lo jadi temen hidup gue. Tapi gue ga berani, gue masih belum punya apa ? apa dan belum bisa membuktikan apa ? apa. Gue belum siap, belum layak.?

Aku tahu. Itu sebabnya aku pernah bilang ia sangat bodoh. Lagi pula kan lo udah punya perusahaan sendiri. Meskipun masih berjuang di tahun pertamanya.

?Intinya saat itu gue ingin berjuang biar lebih layak buat lo.?

Bohong. Ia bohong seperti pemikiran laki ? laki pada umumnya. Ia tidak sedang berjuang untukku. Ia berjuang untuk harga dirinya sendiri. Ia berjuang untuk rasa malunya sendiri.

?Sekarang gue merasa gue udah cukup layak buat lo. Udah memupuk keberanian dan bilang ini ke lo. Dan ingin memperjuangkan restu ke ayah lo. Gue udah punya modal yang membuat gue cukup pantas untuk meminta lo dari Ayah lo.?

Sayangnya ia tak berjuang dengan usaha yang seharusnya. Memperjuangkan seseorang bukan hanya dengan kelebihan dan apa yang kita punya. Memperjuangkan seseorang dengan paling berani adalah memperjuangkan dia meski dengan segala kekurangan yang kita punya. Dan ia tidak melakukan itu semua, hingga semua yang dikatakannya menjadi sebuah pernyataan yang ditunggu namun terlambat datang.

Ada perasaan yang hendak berkecamuk dalam diriku. Tapi aku menahannya, ia tak boleh dilepaskan sekarang. Tak boleh dilampiaskan. Tak seharusnya aku dipermainkan perasaanku sendiri. Aku tak mungkin membatalkan rencana pernikahanku yang sebentar lagi dilaksanakan. Ini bukan drama yang menegangkan dimana semua akan happy ending dengan keputusan keputusan tak logis dan radikal. Aku harus realistis, bahwa kereta yang datangnya terlambat tak layak untuk disesali. Ada dua keluarga yang jika aku bodoh mengambil keputusan, akan menyebabkan kerusakan yang parah. Kebahagiaan tak selamanya datang dengan memilih sesuatu yang aku inginkan. Aku menghela napas panjang.

?Terima kasih untuk pernyataannya. Tapi maaf banget Lang, lo gak bisa ke Ayah gue.?

?Kenapa Re? Lo ga mau nerima gue ya??

?Bukan gitu..? Terhenti. ?Besok gue lamaran.?

?Oh?? Hening di sana.

Setelah berbasa basi, panggilan terputus oleh ucapan ?Bye, semoga bahagia ya??

Klik. Aku diam cukup lama, tak bisa mendefinisikan perasaanku sekarang. Aku ingin marah entah marah pada siapa. Aku ingin teriak entah teriak pada siapa. Beberapa detik kemudian aku segera menguasai diriku. Rasionalitasku membungkus emosiku untuk tetap jernih. Aku sudah memutuskan.

?Siapa Re??

?Gilang.?

?Hah? Gilang yang dulu lo cerita pernah suka itu??

?Yep.?

?Ngapain dia??

?Mau dateng ke Ayah.?

?Ngelamar??

?Iya.?

?Terus .. terus?? Ara antusias. Baginya pasti ceritaku ini macam sinetron yang dramatis.

?Gue bilang aja besok gue lamaran.?

?Tapi lo masih suka sama dia Re??

?Masih. Tapi apalah arti rasa suka Ra. Dia cuma satu di antara perasaan yang manusia punya. Gak lebih. Masa depan ga seharusnya cuma diserahkan sama emosi emosi macam itu kan.? Aku berbohong.

?Dasar perempuan es.?

?Hehe.?

Malam itu aku menangis. Menumpahkan semua hal. Tidak pernah ada yang salah dengan skenario takdir, hanya manusia yang sering salah menetapkan rasa.

Aku Realita yang selalu realistis. Kereta yang datang terlambat, memang tak pernah layak untuk disesali.

?

?-

sumber gambar : pinterest.com

  • view 152