Kelana (5) : Raja Laut

Siti Zahrotul  Luthfiyah
Karya Siti Zahrotul  Luthfiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Agustus 2016
Kelana (5) : Raja Laut

Aku selalu bertanya – tanya, apakah yang pergi akan pasti kembali? Meski ia berjanji sekalipun untuk datang, siapalah dia dibandingkan Tuhan Semesta Alam yang mengatur setiap pertemuan. Sebagai manusia, kita tak pernah lepas dari kecemasan – kecemasan. Cemas akan masa depan, cemas menunggu seseorang.

Sudah sekian hari sejak aku melihat punggung Kelana semakin menjauh dari desa kami. Desa dimana kami dibesarkan. Desa yang menjadi saksi kehilangan – kehilangan yang kualami hingga akhirnya aku menemukan Kelana pada suatu pagi. Hari itu, matahari telah panas terik selama semusim penuh. Saat itu usiaku sembilan tahun, aku menunggu Bapak pulang melaut seperti biasa. Ibuku sudah meninggal sejak aku kecil, aku hanya tinggal bersama Bapak. Biasanya Bapakku akan pergi malam pulang pagi dengan berpuluh – puluh ikan. Laut di balik bukit dekat desa kami sangat kaya dengan kehidupan, ikan – ikan cantik bermukim di antara tumbuhan warna – warni sekeras batu. Tapi kali itu, tak seperti biasanya. Bapak tak pulang pada pagi harinya. Aku menunggu selama tiga hari, tak ada yang muncul. Tuan – tuan desa bilang Bapak tenggelam bersama sampan kesayangannya.

“Tuan pasti bercanda, Bapakku pasti pulang. Dia hanya tersesat.” Kataku mengabaikan perkataan teman nelayan Bapakku. Berhari – hari aku menunggu di tepi pantai. Bapakku tak kembali, hanya Tuan – tuan itu yang setiap hari kuperhatikan berlalu lalang membawa tangkapannya. Aku tak ingin menangis, tidak akan. Aku yakin Bapakku tidak mati. Bapak masih hidup, dia kebingungan di tengah laut sambil mendayung sampannya, mencari jalan pulang. Aku harus membantu Bapak, harus. Aku harus menyusul Bapak ke laut.

Perasaanku cemas sekali, tanpa pikir panjang saat itu aku berlari menuju ombak. Ombaknya kencang sekali. Aku terhempas berkali – kali. Jatuh bangun lagi, begitu terus. Kemudian aku mendengar seseorang tertawa. Aku mencari – cari sumber suara itu. Suara itu berasal dari seorang anak laki – laki yang sepertinya lebih tua dariku. Dia duduk di atas sampan yang dikaitkan ke tepi. Aku menepikan diriku ke dekat pantai lagi.

“Kamu menertawakanku?” Tanyaku masih di dalam laut. Air laut setinggi pinggangku.

“Iya.” Katanya nyengir.

“Kenapa? Apa yang lucu dariku?”

“Tarianmu lucu.”

“Aku tidak sedang menari.” Hampir saja aku berteriak. Aku sedang cemas pada Bapakku, anak laki – laki ini justru menganggap kecemasanku sebagai hal yang lucu.

“Kalau tidak sedang menari, apa yang kau lakukan dengan ombak – ombak itu tadi?” Nada suaranya menyebutkan kata ombak seolah mereka adalah sesuatu yang hidup.

“Aku mau ke laut. Mau menyusul Bapakku.” Jawabku. Ia tertawa keras sekali, membuat aku tersinggung. “Apa yang lucu?”

“Ahaha maaf .. maaf.. kamu mau menyusul Bapakmu ke laut dengan menceburkan diri begitu saja? Kamu mau mati?” Ejeknya. Aku merengut.

“Habis bagaimana lagi? Aku tak punya sampan, aku juga tak bisa diam duduk berhari – hari menunggu Bapak tidak pulang – pulang. Paling tidak aku bisa berenang.” Jelasku apa adanya. Ia tertawa lagi.

“Bodoh sekali nampaknya kamu ini. Siapa nama Bapakmu? Biar kubantu pastikan.” Ia menawarkan bantuan dengan penuh percaya diri.

“Surya.” Aku menyebutkan nama Bapak. “Memangnya bagaimana caramu memastikannya?”

“Dengan bertanya pada Raja Laut.” Jawabnya santai.

“Hah? Raja Laut?”

“Iya, Laut ini temanku. Kami berteman sejak aku masih digendong Mak ku. Karena dia luar biasa digdaya aku memanggilnya Raja. Biar kutanyakan padanya, dimana Bapakmu.”

Aku masih tak mengerti bagaimana dia bisa segila itu menganggap laut ini hidup. Lalu dia berdiri dari duduknya dan perlahan masuk ke dalam air. Dia menatap laut dengan tatapan selayaknya orang yang mengerti. Dia seperti berbicara dengan laut, meski sejatinya ia hanya diam. Lalu dia memperhatikan langit kemudian beberapa waktu kemudian menoleh ke arahku dengan ekspresi yang tidak kuharapkan. Ekspresi wajahnya menimbulkan gumpalan – gumpalan air bening di kedua mataku. Semakin banyak, semakin deras. Aku menjerit, aku berteriak.

“Katakan, kenapa kamu berwajah begitu? Kenapa?!!”

“Tuan Surya sudah mati, tenggelam bersama kapalnya.”

“Bohong! Kamu anak laki – laki nakal. Kamu berbohong. Kamu hanya mengulang perkataan Tuan – tuan desa kalau Bapakku sudah mati. Apalah itu bertanya pada Laut, kamu bohong! Sejak tadi kamu hanya diam begitu seperti orang bisu. Mana yang berbicara. Kamu anak laki – laki bermulut besar, pembohong.” Aku terus berteriak padanya. Aku tak marah padanya, aku hanya ingin melampiaskan rasa sakit yang tiba – tiba menyekapku tanpa ampun.

“Temanku laut, bilang begitu padaku. Langit saksinya. Kau hanya akan mendengar mereka berbicara jika benar – benar mendengarkan. Dan diam.. adalah juga sebuah bahasa.”

Aku terus meneriakinya pembohong, kemudian menangis sekerasnya. Di sisa hari itu aku menangis sementara anak laki – laki itu duduk di sana. Tak melakukan apapun selain diam menatap laut dan menemaniku menangis.

Setelah letih menangis aku mulai menenangkan diri. Ia yang sejak tadi diam, mulai angkat bicara.

“Laut dan teman – teman alamku yang lain tak pernah berbohong. Mereka jadi kepanjangan tangan Tuhan untuk menjadi penyebab takdir manusia. Dulupun, Mak ku sama sepertimu. Duduk di pantai ini sambil menggendongku menunggu Bapak yang tak kunjung pulang dari Laut. Sampai akhirnya Mak sakit dan meninggalkanku sebatang kara. Dan atas segala takdir yang berlaku pada kita, kita tak bisa menyalahkan siapapun tidak pada laut, tidak pada orang lain. Karena semua takdir itu telah tertulis dalam kitab kehidupan yang Tuhan tuliskan.”

Aku tertegun dan melihat kearahnya, ia mengalami nasib yang sama denganku. Aku merasa sedikit bersalah telah meneriakkinya.

“Ahaha tak perlu merasa bersalah seperti itu.” Katanya seolah mengerti ekspresiku. “Aku juga dulu sepertimu, menangis kencang begitu waktu Mak ku mati.”

Aku menyeka air mataku.

“Siapa namamu?”

“Citra.” Jawabku.

“Aku Kelana. Rumahku di atas bukit sana.” Ia menunjuk bukit dekat desa kami. “ Di dekat pohon randu rumahku. Kalau kau mau kau boleh main ke rumahku. Nanti aku akan menceritakan banyak cerita. Tahun depan saat usiaku sudah dua belas tahun, aku akan pergi berkelana keliling bumi ini. Nanti aku akan menceritakan cerita yang jauh lebih banyak setiap kali aku pulang. Jadi kau tidak perlu takut sendirian ya, Citra.”

Aku mengangguk. Sejak saat itu, aku selalu melepas kepergiannya dan menunggu kepulangannya yang datang dengan segudang cerita. Setiap kali tak pernah menjadi mudah, aku selalu cemas menunggu. Aku cemas pada suatu hari ia takkan kembali ke desa ini. Di sini ia tak punya siapapun kecuali pohon randu tua yang hanya pohon itu. Tak ada siapapun yang mengikatnya untuk selalu pulang ke sini. Hingga setiap kali ia pergi berkelana, aku selalu takut. Takut ia tak pulang. Takut ia tak kembali.

Meski begitu, aku selalu ingat perkataannya yang lalu.

“Citra, ada satu tujuan hidup yang mesti selalu kita perjuangkan. Yaitu menjauhkan diri dari segala macam kecemasan. Caranya hanya satu, mempercayakan cerita hidup kita pada Tuhan Semesta Alam.”

Dan pada Tuhan, aku menitipkan cerita kita. Apakah ia akan kembali. Apakah aku yang akan terus menunggu hingga selesainya waktu. Apakah kita akan bertemu lagi atau akan saling mengikhlaskan.

Pada langit dan laut kita menitipkan rahasia dan hal – hal yang tak lagi kita bicarakan.

—-

Kelana (1) : Pelukis Langit

Kelana (2) : Perempuan yang Menjelma Hujan

Kelana (3) : Kisah Matahari

Kelana (4) : Pohon Randu

Saya menulis cerita kelima ini sambil mendengarkan lagu banda neira yang berjudul langit dan laut, sesuai request salah seorang teman pembaca yang baru saya kenal (karena beliau mention akun instagram saya) yang ternyata bernama belakang kelana @fajarsidikabdullah? meminta dimention kalau cerita ke #5 sudah terbit :D

Menulis selalu menakjubkan, kita diperkenalkan oleh teman - teman baru, kita dipertemukan oleh orang - orang baru :)

  • view 229