Perempuan yang Setia pada Tuhannya

Siti Zahrotul  Luthfiyah
Karya Siti Zahrotul  Luthfiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Juli 2016
Perempuan yang Setia pada Tuhannya

“Carilah perempuan yang setia kepada Tuhannya. ”

Wajah temanku itu serius sekali. Seperti orang tua yang memberikan petuah pada anaknya. Sejak tadi ia tak kunjung selesai menasihatiku. Ini sudah kali ketiga hubungan percintaanku gagal. Dan penyebabnya selalu sama, perempuanku tak lagi setia.

“Memangnya menjamin perempuan yang seperti itu bakal setia? Sudahlah aku sudah bosan berhubungan dengan perempuan. Begitu jemu dengan sebuah hubungan, mereka mudah saja pergi.”

Kawanku itu tertawa. Keras sekali tawanya.

“Hei, kenapa kau tertawa? Lucu memang perkataanku?”

“Iya, kau lucu. Pikiran kau itu seperti perempuan. Biasanya mereka yang menganggap kita seperti itu. Makhluk yang mudah bosan.”

Benar juga. Berarti aku yang sedang tidak berada pada posisi normal. Ditinggalkan begitu saja oleh perempuan. Tiga kali pula banyaknya. Sebenarnya siapakah yang bodoh. Sepertinya aku memang bodoh.

“Kembali lagi ke pernyataanmu. Memangnya menjamin perempuan yang kau sebut tadi akan setia membina hubungan? Tidak akan memutus seenaknya yang sudah dijalin? Tidak akan pergi seenaknya setelah meninggalkan begitu banyak hal untuk diingat.”

Temanku itu diam, lalu tersenyum.

“Tentulah. Perempuan yang setia pada Tuhannya. Pasti setia pada sebuah hubungan. Perempuan seperti itu mampu merawat janjinya yang dia buat dengan Tuhannya jauh sebelum ia lahir. Perempuan seperti itu mampu mencintai Tuhannya yang tak nampak di kedua bola matanya. Ia melihat dengan indra yang lebih tinggi daripada indra penglihatannya. Cuma perempuan perempuan yang hatinya bersih dan bening saja kawan yang bisa melihat Tuhan dengan jelas. Ia akan setia pada hubungan yang dijalinnya, atas dasar setia pada Tuhannya. Karena Tuhan itu kekal, maka kesetiaannya pun kekal.”

Aku melongo. Aku memang sudah hapal betul kawanku ini setengah filsuf setengah seniman. Yang kadang bicaranya seperti bukan bahasa manusia primitif metropolitan sepertiku. Ia bicara dengan bahasa bahasa langit bersama bidadari bidadari yang selalu diimpikannya itu. Tapi ucapannya barusan ada benarnya juga.

“Aku mau perempuan yang seperti itu kalau begitu.”


Temanku itu tertawa. Kali ini agak sedikit terkekeh.

“Sayangnya perempuan seperti itu hanya mau kau nikahi. Bukan kau pacari. Sebab hubungan kau yang selalu gagal itu, kan juga tak lebih dari ketidak setiaan. Tuhan kau tak pernah suruh kau jalin hubungan macam itu kan. Kalau kau ingin perempuan yang setia. Maka kau juga harus setia. Setia pada Tuhanmu.”

Temanku diam sejenak.

“Ku jamin. Setelah itu, kau takkan lagi patah hati kawan.”

 

---

Tulisan lama yang senantiasa kembali mengingatkan, untuk setia kepada Tuhan :)

ditulis 19 Oktober 2015

sumber gambar di sini

  • view 233