Kelana (4) : Pohon Randu

Siti Zahrotul  Luthfiyah
Karya Siti Zahrotul  Luthfiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Juli 2016
Kelana (4) : Pohon Randu

Aku pohon randu tua yang tumbuh di bukit Madara. Usiaku sudah mencapai sekian ratus tahun, tepatnya aku tidak tahu karena tak pernah menghitungnya. Kalau kau sudah tua dan ditakdirkan terus hidup, kau mungkin saja akan enggan lagi menghitung usiamu. Sama sepertiku.

Sepanjang hidup, aku di sini diam menyaksikan banyak kisah, banyak wajah, dengan berbagai perasaan masing – masing. Aku menyaksikan bagaimana manusia saling berbagi tawa, air mata, pun cinta. Juga melihat mereka saling memaki dan berteriak. Tapi di antara semua kisah itu, aku adalah teman setia bagi mereka – mereka yang menunggu. Menunggu apapun dan siapapun. Seorang yang tua menunggu malaikat maut. Seorang perempuan menunggu lelakinya. Seorang anak menunggu ayahnya. Seorang ibu yang menunggu kepulangan anaknya. Sebagian dari yang ditunggu kembali, sebagian yang lain tidak. Aku menyaksikan begitu banyak mata penuh rindu, mata yang menangis, pun mata yang kehilangan kehidupannya.

Sejak berbulan – bulan lalu, giliranku menyaksikan gadis di depanku. Yang setiap bulan baru selalu datang mengajakku berbicara. Dia memang aneh, mau sesering apapun ia bercerita padaku aku tak bisa membalas perkataannya. Apalagi jadi teman yang menenangkan perasaannya. Aku hanya pohon randu tua yang sudah semakin menua. Aku sudah bosan dengan semua cerita manusia, kecuali yang satu ini. Gadis di depanku menunggu seseorang bernama Kelana, temanku. Ia teman semua makhluk di alam. Ia berbicara pada kami. Entah bagaimana caranya, yang jelas ia mengerti bahasa kami. Sebenarnya tak sulit mengerti bagian dari alam, sebab langit, laut, pepohonan, bintang, bulan, matahari bahkan seluruh jagat raya telah dipertalikan oleh Tuhan Semesta Alam pada manusia. Hanya saja tak banyak manusia yang mau mengerti. Mereka berbicara dengan bahasanya sendiri. Melakukan banyak hal sesuka hati mereka sendiri. Mereka merusaknya, memanfaatkannya berlebihan, sampai lupa bahwa kami dititipkan Tuhan untuk mereka jaga. Lain dengan Kelana, ia berteman dengan kami. Karena Kelana pulalah, gadis di depanku ini pun menjadi istimewa. Aku dengan senang hati menemaninya menunggu Kelana pulang.

Biasanya jika Kelana pulang ke rumahnya di bukit Madara, tepat beberapa belas hasta dariku. Ia akan menceritakan banyak cerita. Anak – anak akan berkumpul untuk mendengarkannya, aku pun ambil bagian untuk membuat ceritanya menjadi menarik. Seperti menjatuhkan kapas – kapas halus untuk memperindah suasana. Atau menggugurkan daun – daunku. Di antara anak – anak yang selalu berkumpul di bawah ranting – rantingku, ada gadis ini yang selalu memperhatikan Kelana dengan sangat baik. Citra, aku mendengar Kelana beberapa kali menyebutnya begitu. Beberapa hari lalu ia datang dengan menangis, ia bilang ia rindu Kelana. Begitupun denganku.

Ratusan tahun menyaksikan manusia menunggu, aku mengerti tentang satu hal. Bahwa tak ada kata mudah dalam menunggu. Sekuat apapun seseorang itu, setegar apapun ia. Menunggu selalu ada sepaket dengan kerinduan, pengharapan, kekhawatiran, rasa cemas yang mencekat di dada. Meski begitu, menunggu terkadang menjadi pilihan paling rasional untuk impian – impian yang sedang berusaha saling mereka perjuangkan. Sekali memilihnya, mereka paham konsekuensi logisnya. Dan itu yang dilakukan gadis di depanku. Ia telah kenyang mengunyah rindu, menelan ragu, dan menahan untuk memuntahkan rasa cemas yang terus menyerangnya. Bagaimanapun perasaan, takkan indah jika disampaikan bukan pada waktunya, bukan pada haknya, bukan pada tempatnya. Bagaimanapun pengakuan, tetap harus tertahan untuk tidak merusak impian seseorang. Ia tak ingin Kelana berhenti berkelana hanya karena ia yang mencintainya memilih untuk tinggal.

Aku pohon randu tua yang tinggal di bukit Madara. Usiaku sudah mencapai sekian ratus tahun, tepatnya aku tidak tahu karena tak pernah menghitungnya. Awalnya aku bosan dengan semua cerita manusia. Tapi hanya dengan menyaksikan kisah gadis di depanku bersama Kelana, temanku. Aku merasa kembali ingin terus hidup. Untuk melihat Kelana pulang untuk melihat gadis di depanku tersenyum seperti yang selama ini ia lakukan saat mendengar Kelana bercerita.

—-

Kelana #1 : Pelukis langit

Kelana #2 : Perempuan yang Menjelma Hujan

Kelana #3 : Kisah Matahari

sumber gambar : pinterest

Cerita kali ini sengaja dibuat sebagai transisi dari kisah Kelana yang mulai berkelana lagi :) Tidak ada dedikasi khusus untuk lagu tertentu, namun tetap saya ditemani oleh playlist band indie favorit saya. Banda Neira, Pygmy Marmoset, Senar Senja. 


  • Fahmi Aziz
    Fahmi Aziz
    1 tahun yang lalu.
    "Aku merasa kembali ingin terus hidup. Untuk melihat Kelana pulang untuk melihat gadis di depanku tersenyum"
    Andai Citra "ngeh" belajar dari pohon randu, mgkin ia ngga tersiksa di masa tunggunya,

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Transisinya mengalir lembut, sudut pandang sang pohon randu, keren!

    Moga saja, pada Kelana (5), sang tokoh utama akan bercerita dengan riang lagi tanpa harus menunggu syair dari Banda Neira...

  • Intan Retma
    Intan Retma
    1 tahun yang lalu.
    yang selalu ditunggu-tunggu serial Kelana ini. Aku suka, sangat