Kelana (3) : Kisah Matahari

Siti Zahrotul  Luthfiyah
Karya Siti Zahrotul  Luthfiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Juni 2016
Kelana (3) : Kisah Matahari

“Matahari sudah miliaran tahun berdiri di atas sana.” Kata Kelana sambil menunjuk matahari, yang kadang datang kadang tidak ke desa kami.

Aku mendengarkan seluruh ceritanya sambil menikmati angin barat dan sentuhan ilalang di tanganku. Kelana mengajakku berjalan - jalan hari ini. Esok ia akan pergi lagi, ke tempat yang jauh. Tak tahu kapan akan kembali lagi, dan menceritakan segudang cerita untuk ku dengarkan lagi.

“Aku selalu suka kawanku yang satu itu, apalagi jika ia muncul pada pagi yang dingin. Seperti penyelamat.” Ia tertawa.

Hari ini hanya aku saja yang mendengar ceritanya. Pagi pagi sekali ia datang di depan rumahku, ia bilang akan menceritakan cerita tentang kawannya. Tapi hanya aku saja yang boleh ikut kali ini.

“Pada suatu waktu, matahari pernah mencintai seorang perempuan.” Aku terdiam mendengar kalimatnya. Matahari yang itu? Matahari yang rasanya tak pernah terjangkau siapapun, pernah mencintai seorang perempuan?

“Perempuan pagi, begitu dia menyebutnya. Kalau ia bercerita tentang perempuan pagi, kamu harus liat dirinya. Matahari tak sama seperti yang biasa kita lihat. Seketika ia tak terlihat angkuh lagi, ia tertawa seperti tak pernah tertawa. Mendadak keangkuhannya seperti menguap, dan yang tersisa hanya kerendahan hati sekaligus kesedihan yang entah datang dari mana. Kesedihan yang berusia ribuan tahun.”

“Siapa perempuan pagi itu Kelana?” Tanyaku sambil menatap matahari.

“Seorang perempuan yang sama sepertinya, ceria dan hangat. Meski agak sedikit angkuh, bisa dibilang karakter yang membuatnya terasa begitu mahal dan berharga sebagai perempuan.” Ia tertawa, aku ikut tertawa.

“Untuk terlihat mahal perempuan tak harus angkuh.” Aku nyengir. 

“Iya ..iya..” Timpalnya. “Cukup menjaga kehormatannya dan budinya bukan?” Kelana meminta persetujuanku, Aku mengangguk mantap.

“Lalu apa yang terjadi pada Matahari dan Perempuan Pagi?” Aku ingin segera mendengar kelanjutannya.

“Matahari mengagumi perempuan yang selalu datang menyapanya setiap pagi. Perempuan pagi yang selalu merawat bunga dan tanaman - tanaman di depan rumahnya dan bernyanyi dengan suaranya yang indah. Perempuan yang selalu mencuci pakaian di sungai sambil bercakap - cakap dengan teman - temannya. Kau harus tahu, perempuan pagi memiliki begitu banyak teman. Kabar baiknya, ia tak memiliki satu kekasihpun. Baginya tak ada satupun laki - laki yang menarik hatinya. Mengetahui hal itu, Matahari semakin menyukai Perempuan Pagi.”

Kelana diam sejenak, lalu mengarahkan ranting pohon sedang yang cukup kokoh kepadaku. Tanda ingin membantuku menyebrangi sungai kecil yang ada di hadapan kami sekarang. Aku mengikuti langkahnya, melompati satu persatu bebatuan di sungai. Ada suara burung - burung berkicau yang terdengar seperti suara musik.

“Matahari selalu memandangi Perempuan Pagi. Begitupun sebaliknya. Seperti ada cerita yang dipahami hanya oleh mereka. Tanpa kata tanpa dialog. Seperti ada kesepakatan yang telah terjadi tanpa pernah saling mengucap. Mereka saling jatuh cinta. Sampai pada suatu hari..”

Aku menahan napas, seperti takut pada kalimat yang akan diucapkan Kelana.

“Gerombolan perampok dan penjarah memasuki desa Perempuan Pagi. Mereka merusak semua yang mereka lewati, seperti wabah yang menghancurkan. Tak diharapkan tapi begitu biadab. Sampailah mereka pada rumah Perempuan Pagi. Mereka tertawa, mereka menyeringai seperti predator yang melihat mangsanya. Kejadiannya terjadi saat malam, Matahari tak pernah mengira hal buruk akan terjadi pada perempuan yang dicintainya.”

Seperti ada yang perih di mataku. Rasanya sesak sekali.

“Perempuan Pagi berlari menghindari para penjahat itu. Ia berlari sekuat tenaga. Ia telah berjanji untuk selalu datang pada pagi dan menyapa kekasihnya Matahari. Ia berjanji untuk hidup hingga pagi. Sebagaimana matahari yang tak pernah ingkar untuk bersinar di pagi hari. Perempuan pagi terus berlari sekuat tenaga, hingga malam mulai berganti fajar. Dan tak ada lagi tempat yang bisa ia tuju kecuali jurang dalam di depannya. Sementara para penjahat dengan ekspresi yang begitu beringas tertawa saling bersahut satu sama lain. Ia hanya perlu bertahan beberapa puluh hitungan saja, dan ia akan bisa menepati janjinya.”

Kelana memejamkan matanya, kemudian memandang ke arah Matahari, kawannya. Mendadak langit menjadi terasa sendu. 

“Matahari baru saja tiba pada pagi, Perempuan Pagi begitu bahagia memandangnya. Ia menatap tersenyum kekasihnya. Lalu kemudian melompat dari atas bukit demi menjaga kehormatannya. Langit mendadak beku, mendung. Matahari ingin marah dan merusak segala yang ada. Namun ia teringat Perempuan Pagi yang selalu begitu penyayang pada makhluk bumi. Ia urung melampiaskan kehilangannya. Dan pergi untuk beberapa waktu, menyisakan musim dingin yang panjang.”

“Lalu bagaimana dengan para penjahat itu?” Aku penasaran, aku geram.

“Matahari tak pernah menceritakannya padaku.”

“Kenapa begitu?”

“Kadang kita memang hanya perlu memahami satu bagian dari sebuah cerita. Tanpa perlu mengetahui bagian lain yang bukan menjadi hak kita, Citra. Mungkin saja dengan mengetahui bagian lain, kita justru akan kecewa dan sulit menerima apalagi memaafkan hal yang telah terjadi.”

Aku mengangguk. Aku kembali menatap Matahari.

“Sejak kepergian Perempuan Pagi, Matahari tetap melaksanakan tugasnya seperti biasa. Menyinari bumi dan sinarnya yang paling indah adalah pada pagi hari. Ia ingin seperti kekasihnya yang selalu merawat makhluk- makhluk kecil dengan kasih sayang yang dititipkan Tuhan ke dalam hatinya.”

Setelah Kelana menyelesaikan ceritanya, ia berdiri mendekat ke arahku. Merogoh sakunya, seperti mencari sesuatu. 

“Ini untukmu.” Katanya sambil menyerahkan sebuah benda mungil dengan jarum di tengahnya yang kadang bergerak - gerak. “Namanya kompas, aku tak tahu kali ini kapan akan kembali ke desa ini. Bisa jadi tidak kembali, tapi aku sangat ingin selalu kembali. Menemuimu dan teman - teman lainnya lalu menceritakan semua hal menakjubkan di dunia ini. Tapi jika aku tak diizinkan Tuhan untuk kembali. Gunakanlah kompas ini untuk kamu memiliki petualanganmu sendiri. Berkelana, mendengar dan membuat banyak ceritamu sendiri. Ya Citra?” Ia lagi lagi seperti meminta persetujuanku.

Aku menangis, seperti merasa kali ini ia akan pergi sangat lama, sangat jauh, dan tak tahu kapan aku akan kembali melihatnya tersenyum seperti ini. Aku menerima benda mungil itu. Lalu tersenyum.

“Pergilah.. berjalan ke bumi mana yang kau sukai. Aku akan miliki petualanganku sendiri. Tak perlu khawatir.”

Kelana tertawa. Aku tertawa. Lalu kami melambaikan tangan pada sang Matahari yang sedang ikut tetawa.

Matahari pagi. Hangat dan menerangi. 

Dunia yang gelap, hati yang dingin.

—-

Kelana #1 : Pelukis langit

Kelana #2 : Perempuan yang Menjelma Hujan

Serial cerpen kelana merupakan bentuk apresiasi sekaligus didedikasikan untuk band indie favorit saya “Banda Neira”. Cerpen ketiga ini terinspirasi dari lagu mereka yang berjudul “Matahari Pagi”. Untuk kamu yang belum tahu lagunya dan ingin menikmatinya bisa dengarkan di link ini

sumber gambar di sini

  • view 149

  • Intan Retma
    Intan Retma
    1 tahun yang lalu.
    Saya menyimak dari awal serial cerpen Kelana ini. Selalu menyentuh. kakak keren sekali membuat saya ikut terbawa arus perasaan si Citra *sejak awal* Masih ada lanjutannya kah? Penasaran hehe. anyway salam eknal dari Intan

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    mmm...masih terinspirasi dari lagu Banda Neira, yah? Tapi syairnya tak ada di cerpen ini, kan?
    Semoga tak ada.

    Apa ini akhir dari cerita Kelana?
    Ke mana Maya?

    Seperti biasanya, Kelana bercerita dengan lembut dan asyik dibaca.

    Pesan moral dari cerpen ini juga bagus, yang saya tangkap sekilas ada tiga:
    1. Berbagi kehangatan dan kebaikan untuk orang di sekitar kita;
    2. Kesetiaan;
    3. Pentingnya menjaga harga diri walau nyawa taruhannya.

    Salah satu alasan saya menyukai serial Kelana karena kamu pandai menggambarkan emosi tokoh dan setting tempatnya dengan baik. Alurnya juga mengalir tanpa dipaksakan. Untuk kelas flash fiction ini sangat bagus. Sok ahli banget sih, saya. Wkwkwk.. Saya tidak tahu banyak tentang sastra tapi karyamu memang bagus-bagus bagi penikmat awam seperti saya.

    Bravo!

    • Lihat 1 Respon