Kelana (2) : Perempuan yang Menjelma Hujan

Siti Zahrotul  Luthfiyah
Karya Siti Zahrotul  Luthfiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Juni 2016
Kelana (2) : Perempuan yang Menjelma Hujan

Namanya Kelana, seorang pencerita di bukit Madara. Ia tinggal di sana, di sebuah rumah mungil dekat pohon randu. Setiap bulan baru ia selalu membawa cerita yang juga baru.

Namanya Kelana, ia selalu berkelana. Ia pergi ke tanah – tanah yang tak pernah kutahu. Ia melihat langit – langit yang tak pernah ku pandang.

Namanya Kelana, dan aku selalu mendengarkannya bercerita. Hari ini ia berjanji bercerita tentang Perempuan yang menjelma hujan.

“Apa kalian tahu? kalau dulu hujan yang turun ke bumi hanya hujan lebat. Tak ada yang menginginkan hujan, kecuali pada masa sebelum musim tanam. Sebab sekali hujan turun, seluruh tanaman akan rusak dan para petani akan gagal panen.”
Penjelasannya membuat aku dan yang lain penasaran. Bagaimana mungkin hujan bisa semerusak itu? Hujan itu begitu menyenangkan, aku selalu menyukai hujan.

“Dahulu kala..” Ucapnya, seperti biasa ia akan meminta angin dan dedaunan kering untuk berharmonisasi melengkapi pertunjukkan ceritanya. Ia bersahabat dengan mereka, dengan alam.

“Ada seorang perempuan yang menunggu di bawah hujan dengan begitu lama. Nama perempuan itu Gerimis. Dan ia selalu menunggu seseorang datang. Orang yang sangat berarti untuknya.”

Kelana memetik alat musiknya dan mulai menyanyikan bait ceritanya.

“Semesta bicara, tanpa bersuara. Semesta ia, kadang buta aksara.”

Seperti magis, aku selalu menyukai saat ia menyanyikan bait - bait ceritanya. Terasa seperti mantera yang masuk ke dalam perasaanku, dan menetap untuk waktu yang cukup lama.

“Gerimis dan Semesta, nama laki - laki yang berarti untuknya. Adalah teman sejak kecil. Mereka tumbuh bersama, mereka belajar berburu, memanjat pohon bersama, bermain layang - layang, bahkan memanen cahaya matahari di atas bukit bersama. Semesta menganggap Gerimis sebagai adik laki - lakinya, lupa kalau Gerimis adalah seorang perempuan. Lain dengan Gerimis, sejak ia mulai tumbuh besar ia menganggap Semesta sebagai orang yang istimewa baginya. Orang yang kelak ia inginkan bersama hingga hari tua.”

“Lalu, apa yang terjadi pada mereka?” Tanya Maya penasaran. 

“Sabar Maya, kau selalu tidak sabar menungguku selesai bercerita.” Kelana tertawa, Maya tersipu dan melirik ke anak - anak lain yang juga ikut tertawa. Entah kenapa aku tak suka saat Kelana tersenyum pada Maya.

“Pada usia tertentu, laki - laki di desa mereka sesuai adat harus berkelana.”

Sepertimu. Kamu selalu berkelana. Hingga aku bertanya, kapan kamu menetap untuk waktu yang lama.

“Semesta meminta izin pada Gerimis untuk pergi, ia tak tahu kapan akan kembali. Tapi yang ia tahu ia pasti pulang. Tanpa diminta, perempuan akan selalu bersedia menunggu laki - laki yang dicintainya. Hal itu berlaku juga pada Gerimis. Kenyataan yang mengharukan sekaligus menyedihkan bagiku.”

“Harusnya perempuan sebelum menunggu memastikan lebih dulu.” Gumamku pelan, saking pelannya hingga aku yakin tak ada yang memperhatikan perkataanku. Tapi kelana menoleh padaku. “Memastikan apa Citra?” Tanyanya tiba - tiba, ia mendengarnya. Aku gugup.

“Memastikan perasaan yang ditunggu, memastikan bahwa yang ditunggu akan benar - benar datang.” Jawabku ragu. Kelana mengangguk dan tersenyum. Dan melanjutkan ceritanya.

“Meskipun yang ditunggu tak pasti datang, Gerimis tetap menunggu. Hingga bertahun - tahun lamanya, hingga musim terus berganti. Semesta tak juga datang.”

“Pada akhirnya Semesta sama sekali tak kembali?” Maya bertanya setengah protes. Kelana menggeleng.

“Tak ada yang kembali, kecuali sebuah kabar yang datang pada musim hujan yang panjang. Gerimis masih menunggu seperti yang telah dilakukannya bertahun - tahun. Semesta telah menikah dengan seorang perempuan yang sangat cantik. Gemintang namanya, perempuan yang ditemui Semesta di desa terakhir yang ia kunjungi. Gemintang adalah sosok perempuan yang mudah dikagumi, cantik, cerdas, memiliki segalanya yang harusnya dimiliki perempuan. Bagi Semesta, Gemintang adalah sosok yang sempurna.”

Kelana menghela napas. Membiarkan kami mengambil jeda. Beberapa anak menahan tangis dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata. 

“Gerimis menangis, air matanya tumpah bagai lautan. Bagai sebuah mimpi yang panjang. Kerinduan yang tak berujung temu, dan penantian yang tak berujung kembali. Adalah hal yang menyedihkan.” Lanjut Kelana.

“Lalu apa yang terjadi pada Gerimis setelahnya?” Kali ini aku yang penasaran, aku bertanya seolah menanyakan takdirku sendiri. Kelana tak segera menjawab. Ia menyanyikan sebait lagi cerita.

“Seperti genangan, akankah bertahan? Atau perlahan, menjadi lautan.”

“Gerimis menjelma menjadi hujan. Seperti legenda yang telah terjadi selama ribuan tahun, perempuan yang begitu lama menunggu lalu kehilangan akan menjelma menjadi sesuatu yang berbeda. Ada yang memilih menjadi pepohonan yang membantu pemburu tersesat di hutan. Ada yang memilih menjelma gagak yang merusak hasil panen karena menyimpan kebencian. Gerimis memilih menjelma hujan. Hujan yang turun rintik – rintik saja, yang membawa teduh - mengusir terik. Hujan yang kelak begitu disukai Semesta. Hujan yang menghiasi mimpi Semesta. Setiap kali Semesta dalam tidurnya memimpikan hujan yang turun rintik – rintik. Ia teringat pada Gerimis dan masa kecil mereka. Tanpa sadar, Semesta merasa ada hal yang telah hilang darinya, air matanya jatuh entah untuk siapa. Semesta kemudian menamai hujan di mimpinya sebagai Gerimis.”

“Tidak adil!” Maya protes. Kelana tertawa. “Tidak adil untuk Gerimis. Aku tak suka cerita yang berakhir menyedihkan seperti ini.”

Aku terdiam.

“Maya, bahkan takdir terbaik kadang datang dalam bentuk yang terasa paling tidak adil bagi kita. Kadang datang dalam bentuk yang paling menyedihkan. Semua itu tergantung penerimaan kita. Seperti gerimis yang memilih menjelma hujan dan menenangkan pemilik hati yang bahkan telah mencabik – cabik hatinya.” Kelana mengangkat alat musiknya, hendak menyanyikan bait cerita lagi. Seperti ada yang tergores di hatiku mendengar cerita Gerimis. Sekaligus seperti ada yang begitu lapang.

“Seperti hadirmu, di kala gempa, jujur dan tanpa bersuara. Teduhnya seperti, hujan di mimpi. Berdua.. kita berlari.”

 

—–

Kelana #1 : Pelukis langit

Serial cerpen kelana merupakan bentuk apresiasi sekaligus didedikasikan untuk band indie favorit saya “Banda Neira”. Cerpen kedua ini terinspirasi dari lagu mereka yang berjudul “Hujan di Mimpi.” Bait – bait cerita yang dinyanyikan oleh Kelana dalam cerita, merupakan penggalan dari bait lagu Hujan di Mimpi. Untuk kamu yang belum tahu lagunya dan ingin menikmatinya bisa dengarkan di link ini : https://www.youtube.com/watch?v=30B3xlq7Yvw

sumber gambar : pinterest.com


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang mendayu dengan cara penuturan yang pelan dan memanjakan imajinasi pembaca melalui pemilihan kata yang cukup puitis. Yang paling menyenangkan membaca karya ini adalah menyelami untaian diksi elemen alam, termasuk pemilihan nama tokoh Semesta dan Gerimis. Betapa lihainya si kreator mencomot, memasangkan dan menjahit kata-kata tersebut hingga akhirnya menjadi cerpen yang elok dinikmati. Pesan moral di balik kisah cinta dan penantian yang tak sesuai harapan dari Gerimis ke Semesta membuat karya ini memang berujung melankolis dan lumayan menyesakkan dada, hal yang disampaikan tanpa lebay oleh si kreator. Gerimis mengajarkan "unconditional love" dimana dia justru tetap memilih menjadi hujan dan menyenangkan Semesta yang malah menikahi perempuan lain. Indah sekali, Siti Zahrotul Luthfiyah.

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Akhirnya saya searching juga tentang Banda Neira. Ini gara-gara kamu yg mendedikasikan cerpen Kelana yg 'lembut' ini.

    Bisa tdk pda cerita Kelana selanjutnya jgn mengambil syair dari Banda Neira. Full Karya kamu.

    Kenapa Citra dan Maya selalu 'bertengkar'?
    Cara bercerita Kelana selalu bisa menghipnotisku. Lembut, imajinatif dan penuh pesan tersirat.

    ...itu dulu, capek ngetik di HP. hehe

    • Lihat 3 Respon