Kelana (1) : Pelukis Langit

Siti Zahrotul  Luthfiyah
Karya Siti Zahrotul  Luthfiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Juni 2016
Kelana (1) : Pelukis Langit

Namanya Kelana, seorang pencerita di bukit Madara. Ia tinggal di sana, di sebuah rumah mungil dekat pohon randu. Setiap bulan baru ia selalu membawa cerita yang juga baru.

Namanya Kelana, ia selalu berkelana. Ia pergi ke tanah – tanah yang tak pernah kutahu. Ia melihat langit – langit yang tak pernah ku pandang.

Namanya Kelana, dan aku selalu mendengarkannya bercerita. Hari ini ia berjanji bercerita tentang kenapa langit berwarna kelabu.

Desa kami memang berlangit kelabu, tak seperti desa – desa lain yang pernah Kelana kunjungi.
Kelana bilang di tanah – tanah yang lain itu, langit berwarna biru, kadang juga kuning, kadang perpaduan keduanya. Bahkan ada yang berwarna violet dan jingga.

Semua ini terjadi karena ulah sang pelukis langit. Aku tak tahu siapa itu pelukis langit. Aku tak pernah mendengarnya. Begitupun belasan anak yang datang bersamaku hari ini. Sejak lahir, yang kami tahu langit memang sudah berwarna kelabu. Kami duduk melingkar mengelilingi Kelana yang bersandar di pohon randu. Kalau sedang musim pohon randu bersemi, kegiatan Kelana bercerita akan semakin indah saja. Randu – randu akan pecah dengan bunyi yang begitu merdu. Serat – serat kapas putih akan jatuh dari atas sana.

Kelana hendak membuka mulutnya untuk mengatakan kalimat pembuka. Aku selalu suka bagian ini. Ia selalu pandai membuat kalimat pertama. Aku membenarkan kain batikku agar dudukku nyaman. Seperti biasa, sebelum kelana memulai ceritanya angin, akan berhembus pelan – pelan ke arah kami. Aku curiga, kelana berteman dengan angin dan berkonspirasi untuk membuat pertunjukkan ceritanya menjadi luar biasa.

“Teringat akan sebuah kisah di balik kelabu, ketika langit tak secerah dulu.”* ia mulai menyenandungkan kalimat pertama. “Aku pernah bertemu seorang pelukis langit. Ia yang menceritakan kisah ini padaku.”
“Siapa itu pelukis langit Kelana?” Tanya Maya. Perempuan paling cantik di antara kami. Usianya setahun lebih muda dariku. Orang desa selalu menyebutnya perempuan Maya, ia seperti lukisan imaji yang seolah – olah keberadaannya di muka bumi ini tak nyata, karena terlalu indah. Ia selalu mengikat rambutnya menampakkan kulitnya yang putih bercahaya, seperti satu – satunya cahaya di desa kelabu kami. Persis seperti bidadari.

“Pelukis langit itu, yang bertugas melukis langit seluruh semesta. Ia tinggal di ujung dunia.”
“Dimana itu ujung dunia?” Tanyaku penasaran.
“Di tempat yang jauh. Yang tak bisa kau bayangkan jauhnya.”
“Boleh kulanjutkan ceritanya?” Kami semua mengangguk, dan berjanji masing – masing tak akan memotong perkataan Kelana lagi.

“Pelukis langit punya semua warna yang ada di dunia ini. Ia dibekali oleh Tuhan keajaiban itu. Melukis seluruh warna di langit dan di bumi. Jauh sebelum langit desa kita berwarna kelabu. Langit berpadu antara warna biru dan kuning yang indah. Ia melukis matahari lebih dulu lalu kemudian matahari yang akan membiaskan warna – warna lain. Begitu pun caranya melukis langit desa kita.”

Aku terus memandangnya, menyukai caranya bercerita. Ia seperti anai – anai yang menari – nari tertiup angin, mengalir tenggelam dan larut bersama angin.

“Hingga pada suatu hari. Matahari marah pada bumi, ia letih terus bersinar. Dan sejenak ia beristirahat tanpa izin. Itu pun yang akan terjadi padamu jika terlalu bersinar.” Ucapnya sambil tersenyum tipis pada Maya. Maya tersipu, antara malu disanjung atau disindir.

Aku merasa senang. Kelana tak seperti penduduk desa yang begitu memuja kecantikan Maya. Kadang aku takut Kelana juga memuja Maya. Aku tidak tahu kenapa hal itu membuatku takut.

“Langit pun mendadak hitam pekat. Kupu – kupu yang pertama kali mengetahui ulah sang Matahari. Ia segera saja berteriak pada angin untuk segera memberitahu pelukis langit. Agar pelukis langit bisa segera melukis warna baru menggantikan matahari. Sebab tak ada yang bisa melihat dalam kegelapan. Ia harus melukis warna baru untuk langit.”

“Mendengarnya. Pelukis langit lari terburu buru, hingga dia lupa warna kuning dan biru. Hingga yang ada hanya kelabu.” Kelana menyenandungkan lagi bagian itu.

“Warna pertama yang dilukis baru oleh Pelukis langit adalah desa kita dengan warna kelabu. Begitu ia ingin melukis desa lain, matahari telah kembali. Dan membiaskan warna – warna yang dimilikinya lagi. Sayang di sayang, langit desa kita telah terlanjur di lukis dengan kelabu.”

Beberapa anak bergumam kecewa. Kecewa pada pelukis langit yang lupa. Kecewa pada kupu – kupu dan angin yang tak sabaran. Matahari hanya butuh waktu untuk istirahat. Beberapa juga ada yang kecewa karena matahari terlalu egois. Beberapa memprotes dan kesal. Kelana tertawa melihat respon pendengar ceritanya. Sementara aku termenung lama.

“Bukankah berarti, kelabu ini sebuah jejak. Bahwa ia telah pernah mengusir gelap?” Aku berbisik pada teman di sampingku. Sebab malu mengutarakan pendapatku.

“Kelana, menurutku. Kelabu justru harusnya kita syukuri. Karena ia sudah mengusir gelap. Itu artinya langit desa ini adalah sebuah jejak tentang matahari yang pernah letih pada bumi. Bukan?” Tiba – tiba aku mendengar suara yang begitu ku kenal. Wajah Kelana sumringah. Maya.

“Luar biasa Maya. Kupikir kau hanya bisa bersolek. Tapi ternyata aku salah menduga. Jarang sekali orang yang berpikir sepertimu.” Kelana memuji Maya, perlahan tatapan Kelana berubah dari sebelumnya pada Maya. Maya tersenyum cantik.

Tapi Kelana, tahu kah kau? Aku juga berpikir seperti Maya. Matahari dalam hatiku tiba – tiba letih. Lalu menyisakan kelabu.

—————————————-

Serial cerpen kelana merupakan bentuk apresiasi sekaligus didedikasikan untuk band indie favorit saya “Banda Neira”. Cerpen pertama ini terinspirasi dari lagu mereka yang berjudul “Pelukis Langit” Bait – bait cerita yang dinyanyikan oleh Kelana dalam cerita, merupakan penggalan dari bait lagu Pelukis Langit. Untuk kamu yang belum tahu lagunya dan ingin menikmatinya bisa dengarkan di link ini https://m.soundcloud.com/elbanditos/pelukis-langit-banda-neira-cover

sumber gambar : pinterest.com

  • view 218