Lubang

Siti Zahrotul  Luthfiyah
Karya Siti Zahrotul  Luthfiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Mei 2016
Lubang

Maya maya, apa yang kau cari? 

Malam tlah datang dan kau duduk sendiri.

Membicarakan hidup padahal hendak mati

Maya maya, apa yang kau cari?

——–

Apa kamu tahu? 

Manusia itu lahir ke dunia ini dengan sebuah lubang di hatinya. Hanya tak bisa dilihat oleh sembarang mata. Saat kita dilemparkan ke dunia yang fana ini, hati kita ikut tercabik, terkoyak, sebab hati kita sejatinya terhubung langsung dengan Tuhan. Begitu kita di kirim ke dunia ini, kita terluka, kosong sebagian. Sehingga yang dilakukan oleh semua manusia di muka bumi ini sama saja, mencari. Mencari sesuatu yang bisa menyembuhkan perasaan hampa di hatinya. Dan di sinilah aku, duduk di pinggir jalan paling ramai di kotaku, dekat sebuah toko roti yang sepi pengunjung. Di sini sepi, sementara di luar sana ramai, cocok jadi tempatku berburu. 

Berburu manusia, aku suka sekali memperhatikan mereka dan lubang di hati mereka. Memotretnya dalam ingatanku. Mereka lucu, menyedihkan, dan ajaib. 

Lihat di dekat gedung merah itu, laki - laki 30 tahunan yang berjalan cepat sambil terus memandang jam tangan mahalnya. Lubang di hatinya berwarna merah. Merah artinya hatinya kehausan, rakus, karena terus di isi oleh sesuatu yang memakan hatinya seperti ulat bulu memakan daun. Hatinya terus digerogoti dan lubangnya semakin besar saja. Semakin membuatnya kehausan dan memaksanya terus mengisi lubang itu dengan segala hal yang menurutnya bisa sekedar menghilangkan rasa hausnya. Laki - laki itu pecinta uang, gila kekayaan. Dia bekerja dari pagi hingga malam kembali lagi ke pagi untuk mencari uang sebanyak - banyaknya. Dia penuhi hatinya dengan itu, semakin dia mengisi lubang hatinya dengan uang - uang itu semakin lapar ia. Tinggal menunggu hingga ia benar - benar gila nantinya. Aku berharap saat itu dia lewat di jalan ini lagi dan aku akan menyaksikan kegilaannya. Sebuah hiburan gratis yang menyenangkan.

Ada banyak yang menarik selain laki - laki itu. Perempuan berambut pirang yang mengisi lubang hatinya dengan gila pada pencapaian karirnya. Rela meninggalkan anak - anaknya demi sebuah promosi jabatan. Ada juga remaja malang yang sedang duduk di sebrang tempatku duduk sekarang. Wajahnya sedih , kedua bola matanya bengkak seperti bola golf. Semalaman ia menangis karena baru saja ditinggal oleh pacar kesayangannya. Ia memenuhi hatinya dengan manusia, dengan perasaan, dengan cinta pada yang tak memiliki jaminan untuk tinggal. Lubang yang di isi dengan hal itu, menurutku adalah lubang yang paling menyedihkan, pilihan yang paling membuat siapapun menderita. seperti kecanduan yang menyenangkan tapi perlahan merusak orang itu. Ia tertawa dan menangis, ia marah dan berharap, ia mencintai sekaligus membenci.

Di luar sana ada manusia - manusia yang lubang hatinya telah mengerak, busuk, dan berwarna hitam. Mereka tak lagi memiliki kecemasan dan tak ingin lagi melakukan pencarian, mereka telah menemukan pemenuhan itu sendiri. Mereka melakukan kejahatan dan segala tindakan biadab lainnya sebagai pemenuhan rasa puas di hati mereka. Mereka menyaksikan pembunuhan anak - anak kecil sambil tertawa dan makan beberapa porsi makanan mewah di sebuah hotel kelas dunia. Mereka merampas, mereka mengambil, mereka bertindak seolah - olah seperti Tuhan. Mereka tak lagi memiliki lubang yang membuat mereka ingin mencari. Hati mereka mati, tertutup, busuk sekaligus berkarat.

“Maya.” Aku hafal suara itu. Aku menoleh dan melihat wajah cemasnya. Aku tergoda untuk memujinya yang cocok sekali dengan syal biru rajutanku. “Lagi - lagi kamu kabur ke sini.” Keluhnya.

“Aku bosan Dam. Bosan sama bau obat - obatan.”

“Tapi kalau duduk di pinggir jalan seperti ini kamu terlihat seperti orang gak waras. Belum lagi kamu bisa sakit kena udara dingin. Dan kalau sudah begitu aku yang akan kena omel perawat dan dokter sekaligus.”

“Aku kan memang sudah sakit.” Aku menjulurkan lidahku dan memasang wajah jahil. “Sudah sini duduk temenin aku.”

Tanpa kuminta dua kali ia duduk di sampingku. Tak peduli meski terlihat sama tak warasnya denganku.

“Dam.”

“Hmm?”

“Aku penasaran. Kenapa lubang di hatimu berwarna terang bercahaya?”

“Ha?? kau ngomong apa? Kamu demam dan berhalusinasi lagi ya?” Katanya sambil memegang dahiku untuk memeriksa suhu badanku.

“Lupakan. Kuganti pertanyaanku. Apa yang kamu cari di dunia ini?”

“Maya.. kamu semakin membuatku khawatir.”

“Jawab saja Dam..” Kataku cemberut.

“Tidak ada.”

“Tidak ada?”

“Iya Tidak ada. Aku sudah menemukan satu satunya hal yang kucari.”

“Apa?”

“Tuhan.”

“Oh..Aku mengerti sekarang.”

“Mengerti apa?”

“Hahaha. bukan apa - apa. maklum. Orang sekarat yang sebentar lagi mati sepertiku ini suka meracau yang aneh - aneh. Peduli pada hal yang dulu tak kupedulikan. Melihat pada hal yang dulu tak bisa kulihat. Memahami pada hal yang dulu tak sedikitpun kupahami. Termasuk menyadari bahwa kehidupan begitu singkat.”

“Sudah - sudah jangan kebanyakan ngobrol di sini. Kita kembali ke kamarmu sebelum aku kena marah banyak orang.” Ia bertingkah seperti baby sitter membuatku tertawa saja.

Adam, coba saja yah kamu bisa melihat apa yang kulihat di pinggir jalan ini. Aku penasaran, lubang di hatiku berwarna apa? Merahkah? kekuningankah? atau bisakah aku berharap ia bercahaya terang sepertimu? Sayangnya aku hanya bisa merasakan di hatiku memang ada lubang tapi tak bisa melihatnya sendiri. Aku ingin jadi sepertimu, yang mengisi hatiku dengan Tuhan. Karena memang lubang di hati kita adalah tempat Tuhan bersemayam. Apapun dan siapapun yang salah kita letakkan di sana hanya akan membuat kita semakin hampa, kehausan, kelaparan dan membuat lubang itu semakin besar saja.

“Dam..”

“Hmm..?”

“Satu pertanyaan lagi.”

“Apa?”

“Kalau bagimu Tuhan itu cukup. Lalu dimana posisiku?”

“Tuhan ada di hatiku sebagai hidupku. Kamu ada di tanganku untuk kudekap.”

Aku tersenyum mengerti.

Ya Allah mohon letakkan dunia di tanganku, bukan di hatiku..