mémoire

Siti Zahrotul  Luthfiyah
Karya Siti Zahrotul  Luthfiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 April 2016
mémoire

Agustus.

Saat itu usianya 32 tahun, usia yang muda untuk sebuah vonis yang terasa menyakitkan di dengar. Sebuah kemungkinan yang langka, tapi kenapa kemungkinan itu harus menimpa kami?? Aku menggenggam tangannya, mulai menangis.

?Apa ada obatnya??

Ia bertanya dengan tenang pada dokter di depan kami. Dokter menggeleng. Aku tahu, tak pernah ada obat untuk alzheimer. Obat hanya memperlambat penyakitnya.?

?Pertama tama, anda akan kehilangan ingatan ingatan yang baru. Terus begitu hingga semua ingatan anda hilang.?

Aku menangis? hari itu rasanya begitu nelangsa. Aku tak berani menatap wajahnya.

***

Oktober.

Beberapa kali ia lupa nama anak tetangga kami saat bermain ke rumah.

?Apa jadinya jika nanti kamu lupa namaku??

?Mungkin saat itu aku hanya ingat memanggilmu dengan panggilan ?sayang???

Aku mencubit tangannya. Bisa bisanya bercanda saat aku sedang serius.

?Hahaha galaknya.?

Aku menangis lagi. Aku takut dilupakan.

?Akhir akhir ini kamu cengeng ya?? Katanya menggodaku. Aku kembali mencubit tangannya sambil menyeka air mataku.

?Sudahlah. ?Kita memang tak berhak atas apa apa yang kita merasa memilikinya. Bahkan ingatan yang kita punya.?

Aku mengangguk. Memeluknya. Ia menepuk punggungku. Menenangkanku.

***

Januari.

Ia lupa perayaan hari pernikahan kami. Ia terus bekerja sepanjang malam di kantor sementara aku menunggunya di rumah. Aku menelpon ponsel nya berkali kali tak ada jawaban, hingga kesekian kali ia baru mengangkat telponku.

?Kamu dimana??

?Di kantor sayang. Kenapa? Maaf ya kayaknya gak pulang deh malam ini. Ada deadline.?

?Tapi kan katanya hari ini kamu mau?? pulang cepat, aku menghentikan kalimatku.

?Mau apa??

?Gak papa.? Aku buru buru mengoreksi. ?Mas udah bilang kalau mau lembur kok. Aku aja yang lupa. Maaf ya baru inget.? Kataku berbohong.

Bagaimana jika nanti kamu lupa pertemuan pertemuan kita? Lupa hari dimana kita menunggu interviewer sebelas tahun lalu di perpustakaan kampus. Hari pertama aku tahu ada laki laki bernama Radit di kampus.

***
Juli.

Aku tak mengerti, kenapa dalam kasusnya ingatannya hilang dalam waktu yang begitu cepat. Kian hari ingatan ingatan yang ia lupakan, tak kembali ia ingat kemudian. Tak seperti beberapa bulan lalu, dimana ia lupa sesuatu lalu ia mengingatnya lagi begitu dia tak lagi dalam tekanan. Dan membiarkan pikirannya tenang.

Hari ini, ia bahkan sulit mengingat namaku. Ia juga lupa, kalau anak kami meninggal dua tahun lalu. Tepat di usianya yang kelima.

?Cia mana??

Aku tertegun mendengar pertanyaannya.

?Aku bawa boneka kesukaannya.? Katanya lagi sambil tersenyum lebar. Air mataku berlinang, hampir tumpah.

Adakah yang lebih menyakitkan, dari melihat perlahan lahan orang yang kamu cintai melupakanmu . Sementara kamu masih begitu mencintainya dan masih begitu mengingatnya.

***

Aku menatapnya. Ia tersenyum, masih dengan senyum yang sama seperti sebelas tahun ini. Tapi aku tahu, ia bahkan tak mengingat pada siapa ia memberikan senyumnya. Sesak sekali rasanya. Aku ingin rasanya memukul kepalanya, meneriakinya, memaksanya ingat padaku. Pada hari pertama kami bertemu, hari pertama aku jatuh hati padanya. Pada hari ia melamarku, pada hari kelahiran anak pertama kami. Pada hari anak kami meninggal. Pada hari dimana aku menemaninya. Aku tadinya tak pernah percaya kalau takdir bisa begitu kejam. Sekarang, aku merasakannya. Ia telah kehilangan seluruh ingatannya. Tak mengingatku lagi sama sekali.

Tidak ada yang paling menyakitkan daripada rasanya dilupakan. Dilupakan selamanya, sama seperti berpisah selamanya. Raganya di sini, tapi ingatannya tentangku entah dimana.

Tanpa diminta, air mataku menetes begitu saja. Aku ingin memarahinya, memintanya bertanggung jawab atas perasaan sakit yang kurasakan sekarang. Rasanya seperti ditinggalkan, ditinggalkan mengingat sendiri semua ingatan ingatan. Sementara ia tersenyum lebar menatap laut di depan sana.

Menyedihkan, peringatan hari pernikahan kami yang kesembilan. Aku sendirian mengenang setiap kejadian.

Senja sudah berakhir, malam datang pelan pelan menyisakan perasaan yang makin tak bisa kujelaskan.

?Ayo kita kembali ke resort.?

Ia tersenyum lebar dan mengangguk. Melihatnya lagi lagi tersenyum aku tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Matanya mendadak cemas melihatku, apa ia ingat padaku?

?Kenapa menangis??

Aku menggeleng.

?Jangan menangis. Aku di sini.? Katanya tersenyum. Aku tertawa mendengarnya, dan menangis semakin kencang. Barusan seolah aku merasa ia ingat padaku. Begitulah dia, dengan atau tanpa ingatannya ia selalu sebaik itu pada orang lain. Mengkhawatirkan orang lain, lebih dari dirinya sendiri.

Tega sekali engkau Tuhan. Mengambil ingatannya tentang kami. Tapi memangnya apa yang pernah benar benar kita miliki? Kita tak pernah berhak atas rasa kehilangan apapun. Kita tak pernah punya apapun, bahkan tidak saling mempunya satu sama lain. Kita hanya saling dipertemukan, saling dititipi. Bahkan kenangan yang kita ingat pun, bukan milik kita.

Sebelas tahun sejak hari pertama kami bertemu, aku berjalan menggenggam tanganya. Sementara ia menganggapku begitu asing.

***

Epilog

Pada sebuah sore sebelas tahun lalu. Aku duduk di sebuah kursi ruang tunggu perpustakaan kampus. Menunggu interviewer kegiatan relawan yang ingin sekali ku ikuti. Lima belas menit sudah lewat dari waktu yang ditentukan, tak ada tanda tanda pewawancara datang. Hanya ada seorang perempuan yang sedang membaca buku di pojok ruang dan seorang laki laki selang satu kursi dariku. Sepertinya juga sedang menunggu. Tak lama kemudian ia menoleh ke arahku dan tersenyum, senyum yang sama yang selalu kusukai sampai sebelas tahun kemudian.

?Nunggu wawancara relawan desa juga ya?? Tanyanya.

Aku mengangguk.

?Kenalin, gue Radit.?

?Raya.?

?Salam kenal Raya. Dari fakultas apa??

?Sastra.?

?Gue teknik.? Jelasnya. Padahal aku tak bertanya.

?Gue pasti bakal inget sama lo klo kita ketemu lagi nanti. Ingatan gue ini tajam haha.? Katanya kemudian sambil menunjuk kepalanya.

Ia pembohong.

?

?

catatan : Akhir - akhir ini saya sering berpikir, jika suatu hari Allah mengambil ingatan kita karena penyakit atau sesederhana membuat kita lupa dan membiarkan kita lalai. Apakah saat itu, bagi Nya kita sudah tak layak mengingatNya? memikirkan itu saya merasa sedih.

sumber gambar : ?favim.com