Uang Logam

Ali Nur  Alizen
Karya Ali Nur  Alizen Kategori Renungan
dipublikasikan 10 Oktober 2016
Uang Logam

Sebagai alat transaksi, uang adalah kunci untuk menukar barang yg kita kehendaki. Betul, alat tukar. Setelah masa barter amatlah menyulitkan, uang membuat semua barang yg kita mau, mampu kita takar untuk dimiliki. Tidaklah perlu petani membawa beras berkintal-kintal saat ia ingin memiliki kambing. Ataupun sebaliknya.

Uang menjelma menjadi hal yg memiliki urgensi penting. Untuk menyambung hidup, memelihara kebahagiaan dan bahkan, tolak ukur kesuksesan. Padahal, kata Cak Nun, Uang hanyalah Kupon belaka.

Tahun demi tahun, nominal uang kian membengkak. Generasi ke generasi semakin luput menyicip nominal yg ada pada generasi sebelumnya. Nominal yg terus menanjak, harga barang juga terkerek naik sepanjang zaman.

Indonesia memiliki dua jenis uang yg terus berputar dan saling bertukar; logam dan kertas. Dua pemisahan uang secara verbal ini dikelompokkan sesuai nominal yg begitu kontras. Serupa kelompok kelas; proletar dan borjuis.

Sebagian diantara kita akan merasa risih bila ada kembalian denga recehan uang logam. Atau malu saat berbelanja dengan jumlah harga yg besar.

Sementara itu tidak ada masalah bila yg memenuhi saku kita adalah uang kertas. Sebab uang kertas lebih mudah dibawa dan elegan, walaupun dengan nominal yg sama dengan uang logam. Begitu bukan?

Betul. Uang logam memang amat risih bila menyesaki kantong celana. Berisik.
Saat kita kehilangan beberapa keping pun, itu bukanlah hal yg berarti.

Melihat kondisi demikian, sebuah toko yg berakhiran mart itu -- entah kenapa mengapa berakhiran mart, mungkin karena didirikan di bulan mart atau alih bahasa dari bahasa Inggris yg sok modern -- mengambil inisiatif yg cerdas nan cemerlang.

Mereka tak mau kalah dengan kotak amal dari beberapa masjid atau instansi swadaya yg ditempatkan di depan muka toko. Mereka mengambil inisiatif kepada pembeli untuk menyumbangkan uang sisa belanjanya. Dan kalian tahu, yg sering mereka minta untuk disumbangkan adalah sisa kembalian yg berupa uang logam saja, bukan?

Begitulah. Mereka amat lihai mengamati kondisi kehidupan masyarakat kita yg miskin namun sombong ini. Padahal kita tidak tahu menahu, apakah benar sisa uang itu benar di donasikan, atau malah masuk saku para pelayan yg selalu tersenyum manis dan tak lupa menyapa saat kita memasuki toko. Dan parahnya kita baru sadar saat hal demikian menjadi kasus yg naik panggung di media. Sebelumnya, boro - boro kita peduli, wong cuma lima ratus perak thok, tho?

Satu kejadian lagi. Beberapa waktu lalu, saya sempat menjaga toko, lalu ada seorang satpam kelurahan datang meminta komisi sumbangan. Memang tidak banyak, sumbangan itu hanya dua ribu rupiah.

Saya memberinya uang logam dengan sejumlah yg dia minta. Namun kemudian satpam itu mengembalikan uang yg saya beri. Dia tak mau menerima uang logam recehan itu. Ribet, malu, katanya.

Bagaimana kita mau menegakkan keadilan, bila dengan uang yg semua orang cari saja kita tidak adil? Bila demikian, mental dan moral kita diam diam sudah jadi seorang hedonis.

Memang betul kata Pram, kita perlu adil sejak dalam pikiran.

  • view 247