Tahapanku Membaca Buku

Ali Nur  Alizen
Karya Ali Nur  Alizen Kategori Inspiratif
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Tahapanku Membaca Buku

 

Saya membaca buku sejak kecil. Sejak usia dini di Sekolah Dasar. Di sekolah, SDN 1 Cigedang, saat itu belum memiliki perpustakaan yg baik, atau saya kira memang belum punya koleksi buku yg banyak. Maka, selama belajar sambil menabung disana, saya tak pernah masuk dan berkunjung ke perpustakaan.

Saya hanya membaca buku dirumah saja. Memang ayah dan ibu tidak memiliki banyak koleksi buku dan bahkan tak ada rak buku samasekali. Di rumah hanya ada buku sejarah Walisongo, yg dibawa bapa pulang dari ziarah ke makam 9 wali, dan buku agama yg entah dari mana, yg saya tahu sudah ada di bupet lemari di atas TV.

Saat ada bazar buku di bale desa, saya meminta uang pada ibu untuk membeli beberapa buku. Saya masih ingat, buku itu adalah kamus bahasa Inggris, RPUL, ATLAS Indonesia dan Dunia, dan Buku Cerita Rakyat Nusantara.

Pada kelas lima, saya pindah ke pesantren. Sekolah di Madrasah dan mengaji lebih rutin. Saya banyak menemukan perbedaan suasana di sekolah yg baru, tapi tidak dengan perpustakaannya. Sama saja dengan sekolah di desa sebelumnya. Di pesantren, saya malah banyak membaca komik disamping buku-buku pelajaran. Padahal saat itu komik adalah bacaan yg dilarang. Dimana kita dipergoki sedang khusyuk membaca, pengurus akan merampas dan membakarnya tanpa sekalipun merasa berdosa.

Menginjak Sekolah Menengah, saya masih lanjut di pesantren yg sama. Paruh pertama di masa putih biru itu, saya sering meminjam koran bola pada teman yg biasa membeli setiap jum'at dan pada waktu istirahat sekolah. Saya hanya mampu mengantri untuk meminjam. Tidak pernah mau membeli koran sama sekali. Saya berpikir sangat kolot saat itu; buat apa membeli koran bila sudah ada yg punya, tinggal pinjam saja tho. Mengapa demikian, sebab saya akan kehilangan uang saku yg dibatasi perhari nya.

Kemudian, pada saat menjadi pengurus OSIS, saya bersama teman - teman mulai mengelola mading sekolah. Kami mengisi mading dengan berlangganan Koran. Menggunting setiap informasi yg pantas di pajang dan mendekorasinya supaya sedap dipandang. Tentunya saya akan melahap habis lebih dahulu setiap koran sebelum saya pajang. Sampai masa itu, saya masih keukeuh untuk tidak mau membeli koran, sebab koran akan hadir setiap minggu ditanggung kas OSIS. Hehe

Di Jenjang putih abu-abu, saya mulai membaca novel. Tentunya novel itu bukan milik pribadi. Novel pertama yg saya selesaikan saat itu, Bumi Cinta Habiburrahman. Entah punya siapa, saya sudah lupa pada siapa sempat meminjamnya. Pada periode ini saya sangat jarang membaca. Saya lebih suka bermain bola di waktu istirahat sekolah. Dan saya masih tetap dengan pemikiran kolot, tidak mau membeli buku, meski uang jajan sudah dikelola secara mandiri.

Masih di masa abu - abu, suatu waktu saya sempat berebut buku pelajaran dengan teman sekelas. Maklum, di sekolah, buku pelajaran masih sangat terbatas. Ketika itu saya berhasil mendapat buku tersebut, dan teman saya yg kehilangan bukunya, hanya bisa menggerutu. Kronologi kejadiannya saya sudah lupa. Sangat disayangkan menjadi saya ini, umur masih belia tapi sudah banyak lupa. Tapi tak apa, hidup semakin menantang saat semakin banyak perlawanan. Melawan kemalasan, ketidaktahuan dan lupa itu sendiri.

Saya tidak merasa bersalah dan berdosa atas perlakuan pada teman saya yg kehilangan bukunya. Pikiran saya sangat kolot seperti sebelumnya. Saya merasa itu adalah hak saya dari sekolah, tanpa peduli bagaimana saya mendapat buku tersebut. Tidak pernah berfikir solusi lain. Seperti meminjam buku itu di paruh waktu atau memfotokopi buku tersebut. Saya masih sangat setia pada prinsip pribadi, tidak mau membeli buku. Walaupun, padahal, itu sangat dibutuhkan untuk mengikuti pelajaran.

Putih abu-abu, sebagaimana lazimnya pergaulan anak muda, saya mulai dekat dengan seorang gadis. Dia manis, cantik dan pembaca buku yg baik. Seperti apa pembaca yg baik itu? Ya, Seperti dia, dia memiliki koleksi buku yg dia suka. Atau setidaknya dia lebih mau menyisihkan uang saku untuk hobi nya sendiri. Sementara saya, hanya bisa meminjam saja.

Saya bertransaksi pinjam-meminjam buku dengannya, sampai pada akhirnya, dia memberi hadiah sebuah buku untuk dibaca. Bukunya novel remaja biasa. Tapi keputusannya memberikan buku, merupakan teguran yg besar bagi saya. Seolah-olah saya mendapat Ilham, atau mendapat kepekaan tingkat tinggi, bahwa sikapnya itu menegur saya untuk berani mandiri terhadap kebutuhan. Untuk mengawali diri saya mulai membeli buku tanpa harus meminjam dan meminjam lagi. Pada saat itu juga, saya futuh. Prinsip yg dipegang sekian lama gugur seketika. Saya berterimakasih dan berhutang besar padanya.

Semenjak kejadian itu, saya mulai memiliki ketertarikan lebih pada buku. Tentu dengan ghirah yg baru, ghirah untuk tidak meminjam, dan mau bermodal untuk setiap lembar pengetahuan. Sampai saat ini, saya dengannya sepakat untuk membentuk perpustakaan bersama.

Kejadian itu seakan titik balik perubahan. Seolah didukung oleh keadaan pula. Di kelas, saya bertemu dengan guru yg luar biasa. Beliau menekankan dan memaksa kami untuk membaca. Waktu kami diminta 1jam setiap harinya untuk melahap setiap lembaran buku. Bebas buku apapun. Kemudian untuk mengetahui bukti, beliau akan meminta kami untuk bercerita dari apa yg dibaca.

Di bangku perguruan tinggi, saya sangat terlambat dari teman-teman sebaya yg sudah menghabiskan banyak buku. Mereka memulai lebih awal dengan prinsip yg baik. Bacaan saya jauh tertinggal. Beberapa buku terbaik yg pernah saya baca di waktu SMA mereka selesaikan semasa SMP.

Pada akhirnya, saya merasakan bahwa membaca adalah sebuah kebutuhan. Bukan lagi untuk mengisi waktu senggang saja. Buku sudah menjadi makanan pokok. Dia menjadi wadah pengetahuan yg paling bersahabat. Betapa banyak pengetahuan dan ilmu kita dapat dari setiap lembarnya. Betepa merdekanya kepala kita yg berhasil memecahkan tempurung ketidaktahuan. Tapi buku bukan Tuhan, dia tak akan memberi apapun tanpa kita membacanya.