Tentang Murid_2: Sayembara

Alistha Supardi
Karya Alistha Supardi Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 22 September 2017
Tentang Murid_2: Sayembara

Dua tahun sudah aku mengajar pelajaran eksakta di sekolah ini. Tak tanggung-tanggung bagian kurikulum menugaskan ku untuk memegang tiga mata pelajaran (mapel) sekaligus, yaitu kimia, fisika dan biologi. Semua terlihat berjalan normal namun, ada rasa tak puas yang menggelayut dalam hati. Apa lah semua pelajaran yang ku ajarkan ini sebatas menjawab rumus dan menghapal teori? Bukan seperti ini hasil yang kuinginkan.

 Disela- sela anak mencatat aku mencoba berpikir bagaimana anak mampu menghasilkan produk dari penerapan materi eksakta tersebut. Hingga ide pun datang dalam pikiran, "kenapa tidak ku buat sayembara," gumamku dalam hati. Kita tak kan pernah tau sebelum mencoba bukan, setidaknya kata mutiara itu yang pernah ku dapat dari pondokku dulu.

 Esok harinya sebelum ku tutup kegiatan belajar hari itu, aku mencoba mengumumkan sayembara yang terlintas kemarin.

 "Anak-anak, sehubungan dengan Ujian Akhir Semester (UAS) akan segera datang, ibu ingin menantang kalian untuk membuat produk hasil terapan materi pelajaran, baik biologi, fisika, maupun kimia. Bagi yang mampu akan ibu beri nilai 9 di rapot. "

 Ku tatap seluruh anak muridku, terpancar binar-binar ketertarikan. Nilai yang ku tawarkan cukup tinggi untuk di dapat meski dengan belajar sekalipun. Meski begitu aku tetap berharap akan ada minimal satu dari beberapa yang mampu mendapatkan sayembara itu.

 Beberapa minggu setelah ku umumkan sayembara tersebut datang dua anak muridku dari kelas X lelaki - disekolahku mengajar kls x dipisahkan antara murid lelaki dan perempuan. Mereka bernama Ridwan Abdurrahman dan Ridwan Setiawan. Mereka berniat untuk konsultasi masalah bahan bahan yang akan dipakai dalam pembuatan projek tersebut.

 Selang satu minggu dari konsultasi, aku di kagetkan dengan benda yang terbungkus rapih di didalam kotak yang diletakkan tepat di atas meja guru. Saat ku buka, Subhanallah, replika tamiya yang terbuat dari limbah pulpen. Pulpen bekas mereka sulap jadi kerangka mobil, baterai HP sebagai sumber listrik nya dan dinamo bekas untuk motor penggeraknya. Aku tak menyangka selama ini aku memiliki murid yang sekreatif ini. Tentu saja aku pun menepati sayembara itu. Nilai mereka ku beri 9 di UAS semester ganjil.

 Selepas sayembara, anak tersebut terus mengasah kemampuannya. Tepat di semester akhir aku mengajar di sekolah tersebut - Lamaran yang ku sebar di kota lain membuahkan hasil, hingga mengharuskan aku resign- menunjukkan karya selanjutnya. Sound system mini buatan sendiri yang begitu unik. Aku bangga dengan dirinya yang terus berusaha untuk menghasilkan karya.

Meski aku sudah tak mengajar di sekolahnya, dia sesekali bertukar kabar via SMS. Hingga suatu hari dia mengirimkan ku SMS,

 "bu doakan Iwonk ( panggilan dari Ridwan Abdurrahman), besok saya akan mencoba membuat helikopter mini yang bisa terbang. Sayangnya ibu sudah tak lagi mengajar disini untuk melihat karya saya."

 Air mata pun tak mampu ku bendung.

"Subhanallah , ibu bangga padamu, Nak. Teruslah  berkarya dan asah kemampuan. Dari jauh ibu doakan untuk kesuksesanmu."

 Aku pun menekan tombol "send."

  • view 22