Tentang Murid_1: Petis

Alistha Supardi
Karya Alistha Supardi Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 22 September 2017
Tentang Murid_1: Petis

Wawan adalah salah seorang murid yang pernah saya ajar di salah satu Madrasah Aliyah di daerah Palabuhanratu. Wawan merupakan murid kelas XII IPA saat saya menjadi wali kelasnya. Sebagai wali kelas tentu sudah menjadi kewajiban saya untuk memperhatikannya tidak hanya tentang hal yang berkaitan dengan pelajaran saja tapi juga mengharuskan saya untuk menyentuh bagian dari kehidupannya. 
 
Di kelas Wawan dikenal sebagai murid yang rajin dan juga cerdas. Teman sekelasnya begitu nyaman berteman dengannya. Terlihat dari caranya memperlakukan mereka dengan begitu baik saat pelajaran berlangsung. Tak hanya itu, jika sekolah mengadakan kompetisi antar kelas, Wawan selalu ikut andil dalam acara tersebut. Itulah sebabnya Wawan di percaya sebagai ketua kelas.
 
Kecerdasan dan kerajinannya dalam belajar pun diakui dikalangan guru. Hampir seluruh guru mengakui kemampuannya. 
 
Dengan demikian Wawan tampak seperti murid sempurna. Namun siapa sangka ada kehidupan Wawan di luar sekolah yang tidak pernah terduga khususnya oleh saya sendiri. 
 
Suatu masa, disaat liburan sekolah. Saat dimana semua murid menghabiskan waktunya untuk berlibur. Saat dimana Palabuhanratu yang terkenal dengan daerah pariwisata dipadati turis domestik. Saat dimana saya beserta keluarga pun memilih berlibur dengan menikmati keindahan pantainya. Disaat itu saya melihat sosok lain dari Wawan. 
 
Dahi saya mengernyit sesaat mendapati sosok anak remaja yang jaraknya beberapa meter dari tempat saya berdiri. Pantai yang dipenuhi turis domestik memungkinkan terjadinya kemiripan dari sesorang yang kita kenal. Karena itu saya beberapa kali memperjelas penglihatan saya untuk memastikan bahwa sosok itu adalah sosok yang saya kenal. 
 
Sesosok anak remaja tengah memanggul bungkusan petisan- Aneka buah seperti jambu, mangga muda, kedondong, dan bengkoang yang dilumuri sambal ulek khas petisan- di bahunya. Dengan mengenakkan stelan baju olah raga dan juga topi dia menawarkan kepada turis yang ada disana. 
 
Saya hanya mampu terdiam memerhatikannya dari kejauhan. Ingin rasanya saya mendekatinya dan membeli dagangannya. Namun entah mengapa, kaki saya terlalu lemas untuk melangkah ke arahnya. Hingga saya dan keluarga memutuskan untuk pulang, dia pun masih belum menyadari keberadaan saya disana. 
 
Tak terasa liburan pun usai. Saya pun menjalani rutinitas mengajar seperti biasa. Meski demikian tetap saja suasana liburan masih tertinggal di pribadi murid-murid. Jasad mereka memang terlihat di kelas, tapi entah dengan pikirannya. Entah di mana pikiran mereka tertinggal. 
 
Karena hal itu juga akhirnya ku putuskan untuk mempersilahkan anak bercerita mengenai liburannya saat pelajaran berlangsung. Mereka hanya terdiam. Hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk bercerita tentang pertemuan saya dengan sosok Wawan. Sekaligus mengonfirmasi kebenarannya. Wawan pun mengakui. Bahwa sosok yang saya lihat adalah benar dirinya. Dia pun bercerita alasan dia memilih berjualan saat liburan. Dengan santai dia bilang:
 
"Iya, bu. Daripada nganggur di rumah lebih baik saya berjualan. Hitung-hitung uangnya bisa buat bantu orang tua."
 
Pernyataan Wawan membyat saya penasaran tentang berapa harga yang dia tawarkan untuk satu bungkus petisnya. 
 
"Berapa harga yang kamu tawarkan untuk satu bungkus petisnya, Wan?"
 
"Tiga ribu, bu." Jawabnya santai.
 
"Tidakkah itu terlalu murah?"
 
"Itu saja masih ada yang nawar, bu. Paling Wawan kasih 5 ribu dua bungkus." 
 
Wawan pun menjelaskan bahwasanya memang modal petisnya 2 ribu per bungkus. Dia berprinsip lebih baik mendapat untung sedikit daripada mematok harga terlalu mahal. Itulah sebabnya Wawan memilih menjualnya dengan harga 3 ribu per bungkusnya. 
 
Tak lama bel tanda pelajaran selesai pun berbunyi. Hari itu adalah hari dimana saya selaku guru dan murid-murid belajar tentang kehidupan dari Wawan. 
 
Bahwasanya tak perlulah kita gengsi dengan suatu profesi. Selama hasil yang didapatkan dari profesi itu halal kenapa mesti merasa gengsi. Bahwasanya selagi muda tak ada salahnya mengisi liburan sekolah dengan hal yang bermanfaat. Apalagi dapat menghasikan uang dari kegiatan tersebut. 
 
Wawan memang sosok murid yang sempurna. Meski perekonomian keluarganya tak sempurna temannya yang lain. 
 
Dan lagi-lagi Wawan berhasil membuat saya terkejut dan juga bangga. Ketika dimana dia lulus sekolah, dia memutuskan untuk melanjutkan ke sekolah tinggi yang berbasis pesantren. Saat itu kami masih suka saling memberi kabar via sosmed. Dan suatu hari sebuah pesan masuk atas namanya. Pesan itu berisi: 
 
"Assalamualaikum. Bu, bagiamana kabarnya? Wawan ingin meminta doa, bu. Besok Wawan akan pergi ke Mesir untuk melanjutkan studi lanjutan."
 
Bening membasahi pipi saya saat membaca pesan tersebut. Dengan penuh haru dan bangga saya pun segera membalasnya. 
 
"Wa'alaikum salam. Alhamdulillah ibu baik. Doa ibu selalu menyertaimu, Nak. Semoga kamu sukses di sana. Jangan lupa jaga kesehatan."
 

  • view 37