The more you give, the more you get

Alistha Supardi
Karya Alistha Supardi Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 16 September 2017
The more you give, the more you get

Gambar. Sedekah via google.com
 
“Meski dalam derma harta berkurang, seratus hidup datang ke hati sebagai imbalan. Menebarkan benih suci di bumi-Nya dan tiada ganjaran? Mustahil!” – Rumi
 
Mengatur pengeluaran bulanan terbilang susah- susah gampang. Susah karena dengan budged terbatas harus mampu memenuhi keinginan yang tak terbatas. Gampang jika kita mampu komitmen dengan diri sendiri. Bagi mereka yang pernah mengalami ngekost, pasti mengalami suka duka seperti ini. Terlepas mereka orang berada atau pun tidak, setidak nya pernah merasa terpojokan dalam mengatur pengeluaran. 

Lantas bagaimana dengan para pejuang yang tinggal di negeri orang? Apakah mereka pun mengalami kesulitan dalam mengatur pengeluaran bulanan? Tentu saja jawabannya “Iya”. Setidaknya itulah pengakuan salah seorang kawan, sebut saja Bang Yok. Seorang sarjana Fakultas Syariah, Mutah, Yordania.  

Bang Yok bukanlah seorang scholar, dia kuliah di Yordania dengan jalur pribadi. Lahir di lingkungan keluarga berada, namun tak terelakan untuk berada di posisi ini. Posisi yang mengajarkan arti sebuah mata uang yang bernilai satu dinar. 

Awal kuliah adalah tahap terberat yang pernah dia alami dalam mengatur pengeluaran. Dengan berbekal uang sebesar 6-7 juta dalam bentuk cash ditukar menjadi kurang lebih 500 dinar. Karena terbiasa melihat deretan angka nol yang cukup banyak, menyebabkan dirinya mudah untuk mengeluarkan uang dengan besaran 5-10 dinar, dan tanpa sadar semua uang yang dia bawa habis di bulan pertama. 

Biaya hidup di Yordania terbilang tinggi. Standar hidup 200 dinar perbulan bagi Bang Yok sudah memberinya ketenangan, 300 dinar perbulan memberikan kenyamanan. Dan di bulan berikutnya  Bang Yok mendapat kiriman 2 juta rupiah senilai dengan 140 dinar saat itu. 

Bagi Bang Yok  uang sebesar itu cukup untuk memenuhi kebutuhan pangannya, meski dia harus menekan dalam- dalam keinginannya untuk membeli kebutuhan sampingannya. Karena menurutnya 'bertahan hidup itu lebih penting daripada bergaya'. 

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan, itu lah yang Bang Yok  rasakan saat kurs dolar mengalami kenaikan. 2 juta rupiah hanya senilai dengan 100 dinar. Sedangkan dia harus membayar tagihan listrik senilai 50-60 dinar perbulan, tersisa uang saku makan sejumlah 40 dinar. Disaat seperti inilah dia dituntut untuk bijak dalam mengeluarkan uang. Lantas bagaimana cara dia mengatasinya?

Bang Yok memiliki kebiasaan menyedekahkan sebagian uangnya ketika shalat jum’at. Berapa pun uang yang ada disakunya saat shalat jum’at tiba , dia tak pernah lupa untuk bersedekah. 

Pernah suatu ketika uang yang tersisa hanya tinggal lima dinar di saku. Saat tiba shalat jum’at, selayaknya seorang muslim dia pun bergegas menuju masjid. Kegalauan pun menghampiri pikirannya. Kini di sakunya hanya tersisa lima dinar untuk sebulan. Jikalau uang itu disedekahkan, lalu bagaimana keberlangsungan hidupnya di hari kemudian. Tapi, kalau pun tetap disimpan hanya mampu membeli makan dua kali. Pertentangan batin pun tak terelakan. Akhirnya dia pun memutuskan untuk menyedekahkan uang yang hanya tinggal lima dinar disakunya itu. Adapun kehidupannya ke depan, gimana nanti. Pikirnya saat itu. 

Keesokan harinya Bang Yok sama sekali tak mempunyai uang sepeser pun. Hingga hari yang menunjukan kekuasaan Allah itu tiba. Tepat pada hari Rabu, panggilan masuk dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) tertera di layar handphone-nya. Dia pun segera menjawabnya.

“Mau pulang nggak ke Indonesia?” Tanya suara disebrang sana dengan nada yang sedikit sinis.

“Pulang? Duit dari Hongkong?”Jawab Bang Yok bercanda.

“Mau pulang nggak? Tiket dibayarin, uang harian dikasih, semuanya ready, tinggal kamunya mau nggak?” Tanya suara di seberang sana sekali lagi dengan nada sedikit serius.

“Iya, mau," jawab Bang Yok mantap. 

Tak lama setelah percakapan singkat itu, siang harinya Bang Yok  pun mendapat telepon pemberitahuan bahwa keperluan penerbangannya telah siap. Meski tugasnya yang paling utama bukan pulang ke Indonesia, melainkan menjadi utusan perwakilan mahasiswa Yordania dalam acara Perkumpulan Pelajar Mahasiswa se- dunia di Thailand. Tujuan ke Indonesia hanya sekedar singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke Thailand.  

Tepat pukul 08.00 waktu Yordania. Pesawat menerbangkan tubuhnya ke pangkuan ibu pertiwi. Dan dia pun melewati senja di Indonesia dengan linang air mata. Bersyukur atas nikmat yang Allah beri. Tanpa harus menunggu waktu lama dari saat dia menyedekahkan uang lima dinarnya, Allah langsung membalasnya. 

KBRI memberikan uang saku perhari selama acara tersebut sekitar $.300-400. Dengan kurs dolar yang sedang membumbung, jelas bilangan tersebut tidaklah sedikit. 

Kisah kawanku Bang Yok ini mengingatkan ku akan perkataan ustz Felix Xiau dalam bersedekah. Beliau mengatakan; 
“Dalam bersedekah harus gimana nanti, bukan nanti gimana."  

  • view 128