Utopia : Daya

Alenia
Karya Alenia  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Maret 2016
Utopia

Utopia


cara terbaik untuk melihat kenyataan adalah dengan menggarisnya

Kategori Acak

977 Hak Cipta Terlindungi
Utopia : Daya

Meski tertunduk lesu tak berdaya Novi tahu ia berjalan kearah yang tepat, tak terbersit sedkit pun dalam kepalanya untuk berbalik. Keputusannya sudah bulat. Dia pergi. Ini bukan paradox hidupnya, sepertinya Novi tahu, semuanya hanyalah anomali. Wajahnya terlihat begitu murung, bahkan eyliner hitam dibwah kelopak matnya tersapu buliran air mata yang semakin dini semakin deras. Tak lagi mempertajam tatapnya, rona merah muda pipinya sirna tertelan pedih, rambut yang tadinya selalu ia pasangi bando putih kini terurai bebas novi tak sedikit pun peduli.

?

?Wajahnya yang semayu meski sedih menegaskan dia adalah gadis ayu yang dari sudut manapun kau memandang selalu ada celah yang dapat membuatmu jatuh hati. Ia benar-benar sedih, gundah gulana. Meski begitu? analoginya tegas, terpatri lugas bagi pengampu wajah manis itu. Tak adalagi yang perlu dilanjutkan, Novi kini ikut berderet pada jajaran manusia yang ?lelah dengan semua ini?

?

Sebntar lagi ambang pintu akan dilewatinya, siapapun yang melihatnya akan terjamah, raut muka nya tajam setajam keputusannya untuk pergi, namun langkah kakinya goyah segoyah hatinya untuk kembali. ?

?

Baginya Nauval adalah ?zing?-cinta pada pandangan pertama- nya. Novi tahu harus pergi, sekarang juga. Tak boleh ada kompromi lagi. Kerja sama hanya akan menjelaskan betapa lemahnya dirinya. Tapi nauval. . .,menyebut namanya saja, kompromi bukan jadi pilihan.

Semua terlalu berat buat gadis manis seukuran Novi. Seperti membawa gunung dipundaknya, bahkan berdiam pun terasa berat baginya, lalu hidup terus menyuruh dan memintanya untuk jalan tergopoh-gopoh hingga memaksa berlari ,pundak tak lagi dihiraukannya, kakinya tak lagi kuasa berjalan sementara perjalanan panjang 30 tahun lamnya masih tersisa,

?

sama dengan semua orang Novi ingin berhenti sejenak atau selamnya merasakan betapa segarnya oksigen tanpa toxin hingga sebentar saja ia mencobnya, hidpu menuntutnya lagi berjalan, dalam detik waktu jalan yang ia jejali dari mendaki bukit menuruni lembah dari rasa panas berlebih hingga hawa dingin yang menusuk, siangnya dia jumpai matahri, malamnya ia jumpai rembulan meski sebnarnya mereka menghilang! Membiarkan kakinya berjalan dengan meraba, lalu setelah lama berjalan sedikit demi sedikit Novi mulai paham bahwa ternyata bukan beratnya yang menyiksa, bukan tubuhnya yang tak mampu bukan pundaknya yang kelelahan, tapi tuntuhan hidup yang menjadikannya seperti mayat hidup . ?

?

Nauval, . . . disebrang sana tak berbeda dengan mantan kekasihnya, ia terus membisu, tak bisa memaksa. Melihat setetes air mata wanita yang dicintainya pun ia tak sanggup. Ia ingin mendekap kekasihnya penuh kasi sayang, ia selalu ingin memeluk Novi hingga novi merasa aman. Ia selalu ingin mencium keningnya seperti yang selalu ia lakukan. Baginya Novi adalah hadiah terindah dari Tuhan. Pemberian tanpa cacat. seperti, Dia adalah kejahatan lalu Novi datang dengan segala kebaikan. Nauval bahkan selalu berifkir bahwa ketika dia dilahirkan dengan segala kekurangannya Novi dilahirkan pula disaat yang sama dengan segala kelebihannya. Nomos dan fisis. Baginya Novi adalah segala keteraturan alam-fisis yang ia butuhkan sebagai Nomos-bentuk teraturan buatan. Novi adalah pelengkapnya seperti bumbu bawang goreng dipuncak gunungan nasi? uduk. ?

mereka sepertinya mesti bersama! seperti peruntukan "teuku" pada "cut" semisal garis sejarah tanpa retakan diskontinitas,

seolah bidang putih tanpa bingkai!

?

?

Nauval selalu mencintai gadis manis dengan gigi sungging yang serasi dengan lesung pipinya itu. Mencintainya selalu, setiap saat. Termasuk sekarang!

?Siapa sangka Novi harus pergi meninggalkan Nauval, sendiri dengan kesedihannya.? Meski begitu nauval hanya bisa terdiam, tak mampu berbicara banyak. Ribuat kosa kata yang ia pelajari tak satupun mampu di de-codekan secara semantical. Kasatnya mata sempurna memberitahu, betapa sedihnya Novi harus berjalan kedepan dan tak boleh menoleh,tapi mengethui betapa sedihnya perasaan Nauval sekarang, tak sanggup siapapun bayangkan , kecuali Novi dan Nauval sendiri.

?

Keduanya kini terpisah ruang hampa, sepersepuluh massa gravitasi bumi serasa tak berguna. Novi-Nauval ibarat manisfestatsi elektrostatistikmagnet tarik menarik, namun disaat yang sama tolak menolak.

?

?novi. . .!? dari ribuan kata yang Nauval susun secara gramatikal dari jutaan pilihan-pilihan diksi yang ia pilah satu persatu tak satupun ada friksi yang menghalangi kata ?novi?, entah karena memang begitu atau karena hanya itulah kata yang ada sekarang.

?

?nov . . .!?, ?bukankah hanya kebahagianku yang kau peduli? Apakah aku terlalu egois? Apakah salah jika mauku hanya melihatmu tersenyum?? ?apakah pantas aku kau sebut kekasih jika kau pergi dengan air mata berderai dihadapnku??

?

?kak nauval? Masih tertunduk tanpa menoleh novi menyebut nama lelaki yang kini berdiri dibelakangnya, meski sulit membedakan antara isak tangisnya atau ucapnya. ?iya aku peduli dengan kebahagian kakak! Dan Cuma itu yang kupeduli sekarang, bukan masa depanku, bukan sekolahku, bukan teman-temanku, tapi kak Nauval.???? ?

?

?tapi nov!? sela Nauval ?bagaimana mungkin aku bahagia jika tanpamu? Tolong aku akui, aku egois, aku salah mencintaimu! Tapi itulah kenyataanya?

?

Pembicaraan kedaunya selalu sebatas itu, tak kurang tak lebih, tarik menarik, tolak menolak. Manifestasi elktrostatistik menciptakan ruang bagi mereka membetuk rangkain rantai cinta yang tak berujung tapi linear. Bagaiman mungkin 2 cucu adam saling mencintai sekaligus saling membenci.

?bukannya memaksa kak, bukan egois!? ujar novi? ?

?

?karena kebahagiann itulah aku harus pergi, melihatmu bahagia juga mnembuatku bahagia, seperti kata kakak, sederhanakan semuanya?.

?begitukah caramu menyedrehanakannya? balas nauval. ?bukan penyeederhanaan namnya jika kau beresdih aku bersedih? ?bukan keserhaannan namnya jika cinta bukan kata kunci?

?

?iya kak, aku paham! Tapi . . .? sesaat keduanya terhening waktu memaksa berhenti, mencerna semua percakapan, mengikuti ritme-ritme kesedihan,waktu tak curiga pun take menolak. Bagi waktu, demi kebaikan, keduanya harus berbicara! Tendensi hati masing-masing

?tapi bagiku itulah kesederhanaaku, cinta tak harus memiliki!?

?

?novi. . . tolong! Sudah kau ucapkan itu, tak ada cinta yang tak salaing memiliki, mungkin kebahgaian terbesar mencintai orang yang mencintai kita, tapi tanpa meilliki . . . ?

?

?bullshit!?

?

Novi terpaksa berbalik menoleh tak sangka rupanya Nauval menyebutkan kata itu. Lalu apakah Novi marah?

Jawabannya tidak, wajah yang kini ia tatap itu meluluhkan segalanya. Seolah kau memakan kue coklat isi keju. Entah wajah itu, wajah Nauval selalu menyederhanakan cara berfikir Novi. Alhasil tak seuntai kata pun yang berhasil diucapkannya. Ia tahu betul Nauval hilaf, tak pernah Nauval sekasar itu, lelaki yang dicintai nya itu adalah lelaki terlembut tutur katanya yang pernah ia temui.

?

?kak?!

?

Panggilan yang tak pernah nauval ladeni sebagai panggilan biasa membuat nauval terdiam kembali.

?kak? ucap Novi kembali.

?aku akan pergi?

?maaf?

?

Tak ada lagi suara tak ada lagi cakap!, pintu itu kini terbuka lebar tak ada lagi gadis manis itu disana, tak ada lagi senyum indah besrta sorot mata ayu nya. Nauval berdiri seorang diri memandang pintu itu yang tertutup dengan perlahan. Ia tahu bukann masalah fisik, tapi setelah ini takkan lagi pintu itu sanggup ia buka. Takkan lagi sempat ia menkan bel lalu bertanya ?apa novi ada bu??? dan yang paling tidak mungkin. Takkan lagi bidadari tanpa sayap berdiri disana terlebih lagi menyuguhkan senyuman yang sedari dulu menyedrhakan masalah apapun yang Nauval hadapi. Mungkin saja nauval menekan bel itu lagi,, mungkin saja nauval bertanya kepadaseorang ibu, tapi mustahil Novi akan ada disana.

?

Malam kian larut, jam tangan hitam analog miliknya memintanya kembali keperaduan. Langkahnya tak pernah seberat ini . Asanya tak pernah se aus ini . Tapi mau dikata apalagi. itulah yang terjadi.??? Perjalan kerumah pun tak lagi ia ingat. Kelihatannya ia tak berniat hidup, bunuh diri bisa saja terciprat dalam benaknya tapi cinta akan selalu membersihkannya. Baginya kekasihnya memintanya bahagia! Maka itulah kewajibnnya. Hidup harus belanjut, Novi harus bahagia dan itu tanpa dirinya. ?

?

Perlahan-lahan pintu ia tutup, Novi menutupnya dengan perlahan sekali, namun tak berani ia melongok, hanya gagang pintulah yang paling dekat dengannya, bukan urusan fisik tapi setelah ini takkan lagi pintu itu ia buka lalu disana sang pangeran menunggunya menyuguhkan sekedar kata ?hai cantik? tak lagi sempat ia mendengar teriakan ibunya, ?nov, ini nauval nak, ayo turun!?? dan yang paling tidak mungkin takkan lagi senyuman malu-malu kekasihnya akan ia jumpai disana. Mungkin saja bel berbunyi, mungkin saja ibunya memangil, mungkin saja ia membuka pintu tapi msutahil Nauval yang akan ada disana.

?

Ia seolah menjadi manusia dengan kemampuan yang paling kecil, daya upaya pun tak ada. Secuil. Malam ini akan panjang, ia takkan mungkin tidur nyaman. Matanya munkin saja bisa tapi hatinya kan terus menangis. Hingga hidup ini bukanlah ada artinya lagi, namun karena itulah keputusannya hidup harus berlanjut Nauval harsu bahagia dan itu tanpa dirinya.

?

image :?http://clashdaily.com/

  • view 104