"sundala"

Alenia
Karya Alenia  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Maret 2016

?...A voluminous taboo lexicon may better be considered an indicator of healthy verbal abilities rather than a cover for their deficiencies?

?

Oktober 2015 beberapa ahli psikologi yang berkecimpung pada ilmu ?language and science? dari dua kampus di Amerika Serikat pada akhir peneilitannya mengatakan bahwa orang-orang yang menggunakan ?swear words? lebih cerdas dibandingkan yang tidak. Kata-kata kotor dianggap bisa dijadikan sebagai indikator kekayaan kosakata seseorang. Penelitian ini kemudian membawa masalah besar sebab penggunaan bahasa tabu dalam hal ini bahasa kotor dianggap melanggar norma-norma sosial.

Kata-kata kotor (curse word) bersentuhan langsung dengan aspek kesopanan pada parole manusia. Ia harus dilepaskan pada kompetensi penguasaan bahasa. Maka dari itu semua bentuk analisis yang harus dilakukan tidak boleh melepaskan diri dari konteks yang berasal dari co-text, sesuatu yang menemani text. ?Co? yang dimaksud terkait dengan norma kesopanan. Jika dipahami kompetensi sebagai bentuk kecerdasan berbahasa maka jelas penggunaan kata-kata kotor tidak boleh dikaitkan dengan kecerdasan. Akhirnya kesimpulan yang dapat diperoleh adalah penggunaan bahasa kotor bisa jadi dianggap penanda kecerdasan sekaligus bukan. Kuncinya terletak pada pada konteks mana ia ditempatkan.

?Sundala? adalah salah satu curse word pada bahasa bugis makassar, ia digunakan pada konteks yang beragam, sundala sendiri pun bahkan dinilai berbeda oleh penggunanya, sebagian menggap sundala adalah ujaran biasa saja, atau bahkan beberapa berpendapat bahwa sundala adalah kata-kata yang saangat tidak sopan. Lantas apakah pengguna sundala dianggap sebagai orang yang lebih cerdas? Atau bukan?, konteks harus memegang penting untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Sundala berasal dari bahasa indonesia ?sundal? diartikan sebagai perempuan, beberpa pendapat mengatakan bahwa sundala awalnya digunakan oleh kalangan banci atau waria, sama dengan bahasa lainnya semisal eike untuk saya dan lainnya. Oleh pengguna bahasa makassar, sundala diterjemahkan sebagai pelacur, oleh sebab itu seringkali ditemu ujaran ?ana sundala? yang ditujukkan kepada lawan bicara, ?ana sundala? diterjemahkan menjadi anak pelacur sebab ?ana?? berpadanan kata dengan ?anak?, dalam bahasa inggris untuk kasus yang sama ditemui frasa ?son of bitch? yang diterjemahkan menjadi ?anak haram?. Jika dirujuk pada artinya maka bisa dikatakan bahwa sundala salah satu indikator atau ?hedge? dalam istilah linguistik, penanda ketidak sopanan.

Sundala dan konsep kesopanan

Sebelum mengatakan ?sundala? adalah bentuk ketidak sopanan maka perlu dipahami seperti apa konsep kesopanan. Kesopanan telah menjadi perhatian ahli linguistik sejak beberapa tahun silam dan dimasukkan pada materi pragmatik bahasa atau pada tataran sosiolinguistik. Berbagai tulisan ilmiah kemudian diterbitkan, salah satu yang paling fenomenal adalah ?air muka? brown dan levinson. Keduanya mengatakan bahwa kesopanan ditentukan oleh apakah ia mengganggu air muka pendengar atau tidak?, maka dalam penelitiannya lahirlah istilah negatif dan positif face. Pada kesimpulannya Brown dan Levinson menghasilkan beberapa strategi kesopanan yang berlaku universal. Meskipun begitu masih tersisa satu pertanyaan besar sebab brown dan levinson memandang kesopanan hanya dari pendengar, negatif atau postif face yang dimaksud tidak memperdulikan pembicara. Persoalan ini sebenarnya persoalan klasik sebab ia terkait dengan ?language and mind? seperti yang telah dibahasakan oleh pakar bahasa Noam Comsky. Penggunaan bahasa terlepas ia mengancam muka sesorang atau tidak untuk dikatakan strategi kesopanan atau bukan hanya dapat diketahui langsung oleh pembicara, maka sejauh ini yang dilakukan ahli bahasa pada penentuan soapan atau tidak sopan hanyalah sekedar bermain tebak-tebakan belaka.

Watss kemudian memberikan jalan tengah dengan istilah ?politic language? bahasa politik sendiri bisa dipadankan dengan istilah Habitus oleh Bordieu, Watss memahami bahwa konsep kesopanan harus dilihat pada ?formulaic language? bahasa yang disusun sendiri, maka dari itu, Watts kemudian tidak menggunakan istilah startegi melainkan model kespoanan. Contoh sederhana misalnya, apakah duduk diatas meja adalah hal yang tidak sopan? Tentu kita akan mengatakan tidak sopan sebab tidak apda tempatnya, lantas jika seandainya didalam ruangan semua orang duduk diatas meja, apakah duduk diatas meja diakatakan sebagai tindakan yang tidak sopan?. Disinilah persoalan habitus bekerja, sebelum menentukan sesuatu baik atau buruk maka perlu dilihat kebiasaan yang berlaku pada kelompok tertentu. Kebiasaan ini disebut dengan ?politic language?. Semua yang ada pada politic language tidak boleh dikatakan sopan atau tidak sopan. Jika kemudian ada tindakan berbahasa yang diluar dari politic language maka barulah dia terbuka untuk dianalisis sebagai model kesopanan atau bukan. Misalnya jika seorang preman mengucapkan salam, maka preman tersebut melepaskan diri dari politic languagenya, langkah selanjutnya adalah menganalisis apak salam tersebut sopan atau tidak sopan.

Mengikuti apa yang telah diilmiahkan oleh Brown dan levinson, maka sundala jelas merupakan pemagar atau pemarkah ketidak sopanan, sebab secara langsung ujaran ?sundala? atau pelacur pada seseorang jelas melukai air muka pendengar. Pada dasarnya Brown dan Levinson tidak menentukan konsep ketidaksopanan. Hanya saja penggunaan ?sundala? jelas bentuk FTA (fave trething act) yang blak-blakan, tidak ada startegi yang dilakukan maka dari itu secara logika air muka yang diancam secara terang-terangan bisa dianggap sebagai ketidak sopanan.

Jika dirujuk pada habitus mana ia bekerja tentu ?sundala? akan menduduki posisi yang berbeda. Misalnya ?sundala? diucapkan oleh remaja pada sesama remaja, dengan kalimat ?weh sundala, dari manako?? maka pertama harus ditentukan ?politic language? remaja, apakah misalnya remaja yang dimaksud remaja agamis?, ataukah remaja yang bebas norma, pada dasarnya pada kelompok remaja umumnya kebebasan berbahsa yang tidak dihalangi oleh aturan manapun ?sundala? bisa jadi dikelompokkan pada ?politic language? oleh karena itu ?sundala? tidak boleh dianalisis apakah ia model ketidak sopanan atau bukan. Hal ini kemudian membawa kesimpulan bahwa sundala bukanlah pemarkah ketidak sopanan melainka sebuah bentuk bahasa biasa, Politic language.

?

Sundala dan pragmatik

?

Jika dilepaskan dari pada register mana ia bekerja ?sundala? dapat dipahami pada banyak tataran dalam pargmatik.
?
Pertama, ?sundala? sebagai bentuk ketidaksopanan,
?
A : siapa lagi ambil pulpenku?, sundala!
?
Ujaran tersebut secara kontekstual memang merujuk pada sesorang yang dalam keadaan marah, sehingga sundala menjadi kata kutukan. Mengutuk orang yang telah mengambil pulpen miliknya.
?
Kedua, ?sundala? sebagai bentuk penanda hubungan
?
A : dari manako sundala?
B : iye dari rumahka sundala, kenapaki sundala tanya-tanya?
?
Tanpa melibatkan konteks tentu akan diapahami bawah extrak tersebut dapat ditemukan pada adu argumen dalam hal ini A dan B masing-masing saling mengancam muka satu sama lain. Pada kenytaannya percakpan tersebut berasal dari dua orang sahabat yang baru saja bertemu. Sundala dianggap sebagai penanda kedekatan. Sebenarnya hal ini bisa dikaitkan pada prinsip dasar kesopanan yakni kesopnan seringkali berbanding terbalik dengan kebenaran. Semakin sopan sesorang maka semakin tidak benar apa yang diucapkan. Ini sekaligus menjawab mengaapa pada konteks rapat lebih diutamakan kebenran proposisi kalimat dibanding dengan kesopanan. Rapat adalah situasi formal sedang sahabat dekat adalah kebalikan dari model formal. Maka sebenarnya mengaiktkan kesopnan dengan ikatan kedekatan adalah hal yang tidak bisa dilakukan.
?
Ketiga sundala sebagai bentuk penekanan
?
?bitch? pada bahasa inggris akhir-akhir ini mendapat perhatian khusus sebab pada korpusnya ia hampir ditemukan tidak berhubungan dengan ?curse word? melainkan sebagai penekanan. Misalnya pada kalimat ? i do go? saya benar-benar pergi, dapat diganti menjadi ?i go bitch? atau ?i fucking go?, do, bitch dan fucking disni memiliki poisis yang sama yakni menekankan proposisi kalimat.
?
?sundala, cantiknya itu? sundala pada posisi ini digunakan sebagai penekanan bahwa yang dirujuk ?itu? adalah benar-benar cantik. Fuck dalam bahasa inggris dianggap memiliki makna tersendiri terlepas dari posisinya sebagai curse word. Tidak ada kata yang menggantikan poisisi tersebut untuk menjelaskan perasaan.
?
Sundala dan registernya : sosiolinguistik
?
Apakah sundala hanya digunakan oleh remaja saja? Beberapa pendapat mengatakan bahwa sundala hanya digunakan pada kalangan bawah,walaupun belum ada data yang ilmiah mengenai persebaran penggunaan kata ini, tetapi pada kesehariannya dapat kita jumpai pada berbagai kalangan. Sundal digunakan secara distributif mengingat bahwa ia adalah ?curse word? maka ia bisa hadir dalam register manapun. Yang menjadi pertanyaan adalah konteks sundala sebagai model kesopanan dan sebagai politic language tentu akan hadir dalam kelompok tertentu saja. Pada register tukang becak, supir angkot maka pelung sundala diucapkan akan lebih banyak dibanding kalangan guru-guru disekolahan.
?
Yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa sundala kemudian diartikan pada berbagai padanan kata dengan konteks yang berbeda-beda. Sundala adalah bahasa bugis makassar yang seringkali dimasukkan pada bahasa indonesia, ia menjadi salah satu contoh alih kode yang tidak disadari penggunanya, maka kemungkinan besar jawaban yang diperoleh adalah, mengingat makassar adalah ibukota provinsi, maka tentu akan banyak pendatangn dengan latar belakang berbeda, dalam hal ini latar belakang bahasa ibu, banyak kemudian yang menggeser bahasa ibu dari bahasa pertama, dan beralih pada bahasa indoneisa. Sundala dapat diposisikan sebagai bahasa lokal yang kemudian menjadi umpatan pada bahasa pertama bahasa indonesia. Sebab umpatan sendiri lebih bersifat emosional maka akan sulit ditemukan padanan kata yang tepat pada bahasa lain. Karena diucapkan oleh berbagai latar belakang bahasa yang berbeda maka boleh jadi kemungkinan bergesarnya pemaknaan kata ini terjadi.
?
Sundala dan hubungannya dengan kata lain
?
Sundala paling sering didapati muncul bersamaan dengan kata ?ana? ini kemudian disebut sebagai kolokasi. Sundala juga sering muncul bersama dengan ?pasundalaki? ia mendapat awalan pa- dan akhiran ?ki awaln pa menjelaskan kata benda, misalnya pada contoh golo (bola) dan pa+golo pemain bola. Akhiran ki sendiri merujuk pada orang ketiga. Ki juga menjelaskan kata sifat yang di hilaangkan. Merujuk pada sesuatu sifat. Pasundalaki sendiri mengubah arti kata dasar sundala (pelacur) pasundalaki kadang kala dianggap sebagai ?menyebalkan orangnya?.
?
Sundala juga kadang kala dihubungkan dengan kata suntili, ada lolucon mengatakn bahwa sundala lebih kejam dari suntili sebab sundala merupakan kepanjangan ?suntili delapan kali? tapi anehnya suntili merupakan kepanjangan ?sundala tiga kali?. Posisi kata-kata ini digunakan bertingkat. Meskipun demikian penggunaan ketiganya tetap harus dikaitkan dengan konteksnya masing-masing. Poin utmanya adalah sundala menduduiki posisi kata benda pada kelas kata tetapi secara kontekstual ia lebih sering digunakan sebagai kata sifat atau bahakan sebagai kata penekanan (insert word) dan ketiganya digunakan tanpa ada imbuhan, sundala adalah model derifasi tanpa imbuhan.
?
Sundala dan perkembangan psikologi anak
?
Pada salah satu penelitian terkait budaya siri di makassar, sundala sering dijadikan sebagai model percakapan yang didapati kelompok masayarakat kelas bawah. Salah satunya mengatakan bahwa ?sundala? mengandung makna psikologis merendahkan. Orang tua yang sering menyebut ucapan sundala kepada anaknya cenderung menekan perkembangan anaknya. Hal ini dikaitkan dengan sundala yang diucpakan hamapir pada orang tertentu saja, terutama orang yang bersalah. Maka secara logis anak yang dipanggil sundala dapat dikatakn sebagai penekanan mental sejak usia dini. Meskipun begitu ada banyak alasan lain yang menyebabkan perkebangan anak terganggu, pun penggunaan bahasa akan memiliki peran yang besar. Sundala sudah barang tentu memberi kontribusi, sebab bahasa adalah identitas, yang dibangun dan membangun.
?
Lantas apakah oraang-orang yang menggunakan kata sundala lebih sering dapat dianggap orang yang lebih cerdas?
?
Bahasa adalah satu-satunya alat berkomunikasi, maka segala sesuatu yang ada baik itu kongkrit maupun abstrak harus diwakilkan dalam bahasa. Maka memandang sundala sebagai salah satu yang mewakili realitas, tentu butuh pemahaman yang tepat pada saat penggunaannya, memahami teks dan konteks adalah poin utama dalam semua aspek kompetensi bahasa sebagai alat komunikasi. Penguasaan kompetensi yang baik adalah frasaa lain dari kecerdasan berbahasa.
?
NB : Semua yang dijelaskan sebelumnya tidaklah dapat dikatakan ilmiah melainkan hanyalah asumsi belaka, pembenaran yang dilakukakan pun sangat teoritis, dengan melibatkan hanya sedikit bukti-bukti empiris.
?
image :?http://img.banggood.com/images/2014/xuzijiao/10/SKU140181/SKU140181.jpg

  • view 390