Utopia : pencerminan

Alenia
Karya Alenia  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Maret 2016
Utopia

Utopia


cara terbaik untuk melihat kenyataan adalah dengan menggarisnya

Kategori Acak

1 K Hak Cipta Terlindungi
Utopia : pencerminan

Pada magnum opusnya, karya terbesarnya, ia berakhir pada satu tendensi, pada satu arah pembicaran, bahwa kita akan memahami orang gila itu dalam sudut pandang orang gila itu sendiri.
?
Sebenarnya aku tidak benar-benar mau menjelaskannya, tapi gadis ini, sofie, matanya terlalu ayu terlalu polos untuk dibuat berderai air mata, tatapannya ayu semayu, dan aku kini sperti diserang pukulan pada otot-otot tegangku, meski itu hanya tatapan rasa-rasanya aku baru saja selesai sesi pjat refleksi. Aku dbungkam dengan dosis hipnosis yang berlebihan. Dan mau tidak mau aku dicekoki tidak pada pilihan manapun, tapi pada perintah yang terdengar seperti bentanngan lirik lagu The king, Elvis Presley, ?wise man say. Only fool rush in, but i cant help falling in love with you? dengan setidaknya ketukan yang dibuat serendah mungkin, mundur dua sampai tiga not.
?
?kenapa kamu menyebutnya sebagai benturan psikis??
?
Sofie memulainya dengan pertanyaan mendasar, ia tahu betul bagiamana memulai pertnyaan, ia adalah wanita lulusan perguruan tinggi, dengan jurusan psikolog, ia meraih gelar strata satu hanya dalam waktu tiga tahun, sebuah prestasi yang jarang ditemui, dan yang lebih kurang ajar lagi, ia berkhir pada nilai indeks rata-rata kurang 0,09 untuk smpai pada nilai sempurna, ?summa cum laude? sama seperti hidupnya, ia kekurangan seorang lelaki yang mendampingnya, dan pantas rasanya menempatkan poinnya sekedar 0,09dari total, 4,00 sebab lelaki mana yang tidak mau berdiri disampingnya, wajahnya ayu, tetapi pengetahuannya luas, ia seperti wanita dengan otot bisep yang keras, dibaluti kebaya merah muda dengan motif bunga, ia wanita, yang sekaligus ?fabolous? juga ?classy? memenuhi persyaratan wanita menurut coco chanel. semua terserah padanya, ia seperti lepas dari ikatan takdir, dan wajar saja pendamping baginya ia bersi skor 0,9 dari semua proritas hidup, lebih tepatnya skala dayanya dalam melawan takdir.
?
?kenapa bisa seperti itu, padahal manusia bekerja memang secara fisik pada tataran otak, tapi jangan lupakan ruh, mental, proses itu tidak secara fisik, semua terjadi pada alam yang tidak bisa kita kendalikan, ia melibatkan memory, ia merupakan kesimpulan panjang dan kemudian dibentuk pada alam bawah sadar?,
ia bertnya perihal kenapa padaku, dan sedikitnya menjelaskan mengani salah satu pehaman dasar psikolog dalam menjawab mengapa manusia berbuat baik, sebab mereka melihat pengalaman, sederhanya.
?
?kamu harus membuat definisi ulang, psikis maksud saya dan yang kamu maksud berbeda, kamu menempatkannya pada sistem kerja otak, tetapi saya tidak, saya menyebutnya sebagai matematika sederhana, realitas garis, dimana yang kamu maksud moral, ruh dan benda-benda abstrak yang kamu wakili dengan istilah-istilah tertentu saya realisasikan ulang dalam bentuk matematis, dan yang itu saya sebut sebagai pisikis, kamu paham?,?
?
aku seskali mengecek mimik wajahnya, aku belajar memhami setiap ekspressi manusia, aku dilahirkan pada keluarga pendidik, ayah ibuku, dan bahkan nenek ?kakek semuanya guru, alih alih aku mencoba peruntungan lain, menjadi guru selalu membuatku merasa nyaman, aku meneptakannya pada posisi bakat, bukan minat sebab aku tidak pernah mau sudi menjadi guru, dan seperti itulah takdir bekerja, aku sedikitnya mencoba menghindar menjadi guru, tetapi ada beberpa bagian yang tidak bisa kuhindari dan disanalah kewajibanku untuk membaca mimik muka sesorang harus aku jejal betul. Dengan semua pengalaman, empiris, mengenani mimik, aku selalu berakhir sama pada gadis ini, wajahnya menggambarkan segala hal, seolah-olah ia berbalik berkata tegas padaku, bahwa dia lah yang selama ini kucari,
meskipun begitu, aku tetap memaksa dan mencoba mencari jalan tengah,
?
?mungkin kamu tidak paham? ujarku
?
Dan benar saja, ia adalah wanita yang benar-benar tangguh,
?
?aku paham, dan sekarang aku mau lihat presfektifmu? jawabnya datar
?
?baik sekarang singkirkan semua pemahamnmu tentang pisikis sebagai kerja otak yang sistemik! Ok??
?
aku sengaja membuat penekan pada question tag yang sengaja aku buat dengan model lain, yang lebih positif dan menekan, sekaligus sedikitnya kulibatkan beberapa fitur para linguistik agar tanggapan nya yang datar bisa aku imbangi, alasannya jelas, aku tidak ingin kehilangan momen ini, satu-satunya wanita yang bisa aku ajak bercerita penuh, seolah aku sedang menurungkan beban yang kubawa dari perjalanan panjang dipundak sejak seminggu lamanya.
?
?oke fine!? ia memalingkan muka sedikit dariku, dengan bibir yang sedikit cemberut, pertanda kecewa, bagaimanapun juga ia jarang menyerah dalam perdebatan, sayangnya ia tidak bisa mengalahkanku kali ini, paling tidak baginya, sebab bagiku, aku kalah telak, tidak bisa melawan, dialah satu-satunya wanita yang telah membuatku mampu berbicara banyak, paling tidak belakangan ini, sejak empat tahun terakhir. Dialah pemenangnya, semakin kesini, aku merasa semakin kalah, tak sanggup melawan, seperti kutu yang tertangkap basah sedang maling ditempat yang paling ruwet, rambut.
?
?manusia pada dasarnya sedang bercermin, jika kamu biasa berdialog dengan dirimu sendiri maka secara praktik kamu sedang berbicara dengan cermin, kamu melihat cermin dan kamu berbicara padanya, ia membalasmu tetapi dengan cara komunikasi yang berbeda?
?
?lantas itu sebabnya kamu mengahrgai orang gila?? potongnya
?
?tunggu dulu, justru manusia yang menyadari ini adalah manusia yang paling waras, dan mereka ada dikuadaran pertama dan ketiga, tergantung proritas mereka?
?
Ia semakin penasaran dengan istilah baru yang kusebbut barusan ?kuadaran? tapi ia lebih cerdas dari yang kukira, ia pandai mengelompokkan, ia menyimpannya pada bagian serebrum nya dengan petanda, penting tapi tidak mendesak, didalamnya ada beberpa istilah, ?kuadran?, termasuk istilah yang aku kenal betul ?carpe diem?, sekaligus didalamnya ia simpan, ?zing? mengikut ?boyfriend?.
?
Aku leluasa masuk pada bagian memorinya, memberi kesadaran baru yang singkat pada realitas kedua yang kumiliiki, sesuatu yang telah kulatih selama ini, realitas banyangn realitas aksis negatif. seklaigus memberi pertnyaan baru bagiku, aku dan sofie bru saja mengalami tuburkan, syncrhonized. Seperti tuburkan pada teori bigbang, yang kemudian menyebabkan keteraturan. Meskipun aku memilih melakuakan pola yang sama dengan yang gadis cantik ini lakukan, aku emnyimpannya pada serebreum, ?penting tapi tidak mendesak?ku ?sychronized dengan tanda panah kutuliskan satu tambahan kata kunci ?sofie?.
?
?manusia tidak semua, secara rata bercermin pada cermin yang rata dengan garis lurus, ada yang bercermin pada cermin cekung dan ada yang bercermin pada cermin cembung, saya sudah bilang bahwa kuadran tempat tinggal kita terus berputar, seperti jam pasir yang diputar, diastu pihak kita akan menemukan cermin cekung, disatu sisi, kita akan perhadapan dengan cermin cembung, tapi dipihak yang terbaik, kita akan terdiam, dan berada pada posisi mawas, itulah yang saya sebut pencerminan datar, garis lurus?
?
?terus??
?
ia smakin penasaran, dan entah ia mengerti atau tidak, tetapi semua induksi yang kulakukan memaksaku berkata tegas, ia mengerti, dan aku benar-benar dibuatnya menyatu.
?
?baik, manusia yang bercermin cekung, cenderung akan menjatuhkan dirinya, menggap diri mereka tidak mampu, mereka minder, dan semua itu dibangun sesuai konstruksi pengalaman mereka, doxa (sebuah seprihan pengalaman kecil)?
?
?lalu bagaiaman deangan cembung, kebalikannya yah?, mereka yang sombong?, mereka yang merasa serba bisa, dengan energi yang kuat? Mampu melakukan apa saja??
?
Ia mecegatku sekaligus menggenapai penejelsanku, syukurlah, aku tidak perlu menejlaskan lagi
?
?tepat!?, jadi seperti presiden, ceo, dan manusia-manusia sukses lainnya, adalah manusia dengan cermin yang cembung, tetapi jika mereka sanggup merendah, berarti mereka berada pada posisi cermin datar, dan cermin cembung hanya menjadi pengalaman yang pernah ia kecap?
?
Ada hening sejenak, sengaja kubiarkan ia berfikir, agar semua proposisi yang aku sebutkan, sanggup ia bangun sendiri, aku senang melihat manusia mebangun perasaannya sendiri tanpa tendensi apapun. Mereka akan lebih berintegritas dibanding manusia pengikut, pemakan mentah teori.
?
?nah tapi jangan salah ada manusia yang bermain pada kedua cermin, cembung dan cekung, karena kuadran terus berputar, maka ada beberpa manusia yang terjebak, tidak tahu arah, kadang down, kadang bersemangat, kadang minder, kadang antusias. Kadang tertutup kadang terbuka?
?
?bipolar disorder? tangkasnya, sekali lagi ia benar-benar penggenap yang tepat
?betul, dan seperti itulah orang gila meggambarkan pemikirannya, mereka tidak gila hanya saja ada garis dan cerminan yang sedang ia perdebakan, berdua, lebih tepatnya dengan dirinya sendiri? tambahku.
?if u can forgive, we can trully live . . .?
?
Aku tersadar terdengar lagu pavoritku salah satu origina soundtrack book of life, dan benar saja itu adlaah nada ponselku yang berbunyi pelan berulang hingga tiga kali, terpampang sebuah nomer tanpa nama, dan aku tahu semua percakapan ini harus aku hentikan, ini adalah panggilan serius,
?
aku tidak sekalipun menyimpan nama pada telfon genggam milikku, aku sedang berusaha mengobati akutnya pelupa, aku bahkan smpai pada stadium ikan, daya ingat tiga detik, dan sebagai ganjaran, aku harus menghapal semua buntut nomer handpone yang ada pada kontak list.
?
?ia halo, waalaikumsalam, ia tunggu, sebentar lagi?
?
Bunyi bip berulang kemudian mengahiri pembicaranku ditelefon sekaligus menjelaskan pada sofie, kami harus rehat sejenak.
?
?saya harus pergi sofie, ada panggilan darurat?
?hm. Okay, kamu hutang banyak penjelasan padaku, aku mau tau apa itu kuadaran? timpalnya
??Sip?, aku mengacungkan jempol sekaligus menutupi mata sebelah kanan, menyisahakn yang kiri terbuka, lalu dengan sedikit tersenyum
?
Dalam hati aku bertanya pada diriku sendiri, sejak kapan aku berhutang padamu?,
Diruang lain, pada dimensi berbeda, johan berkata padaku, sejak kamu melewati sedetik fase tubrukan mu, sychronized. Aku Nauval kemudian terdiam, dan termangu,
?
?bye sofie? menutup pembicaran
?
?tetap seperti itu, aku benar-benar menemukan apa yang kucari? tambahku dalam hati.
?
Senyumnya menyisahkanku pada alamku sendiri, malam ini, pada pertengahan bantal dan langit-langit rumah, ?zing?.
?
***
?
Manusia tidak pernah menetap pada satu kuadran, se-stabil apapun mereka, yang hanya sekelumit, mereka akan suatu saat tergoncang dan akan berpindah. Perputaran bumi pada porosnya, perputaran bumi pada matahari, dan perputaran matahari pada galaksi dan perjalanan galaksi yang tak tentu arah, akan menyisakan kuadran yang terus berputar satu-satunya yang bisa dianggap tidak berputar dan statis adalah titik nol, aksis nol, asal muasal kehidupan sekaligus kremasi, titik berpindah.
?
Ia akhirnya harus mengakui, menerima kekalahan, benteng pertahanan yang ia bangun sekuat mungkin selama empat tahun terakhir untuk menjelaskan keberadaannya di kuadran pertama kini dihantam bola meriam besar, sofie. Guncangan itu teramat besar hingga jiwanya yang paling dalam, sebentar lagi ia akan berakhir di ketidak stabilan perputaran kudaran, ia bisa saja berkahir di kuadran ke dua, atau keempat.
?
Pembicaaran yang singkat dengan sofie, pada pertemuan pertama, menggertaknya hingga keubun-ubun. Tabrakan yang ia alami menyebabkannya pemetaannya terurai hingga detail, ia hanya bisa manggut-manggut, memilih menjelaskan relitas garis dibanding proses penyatuan serebrum hingga hancurnya benteng pertahanannya, sedikit-demi-sedikit, malam tiap malam.
?
Nauval kini menyisakan satu bagian tersendiri untuk sofie, bagian yang pasif, yang kemudian dicerna habis-habisan oleh penghuninya, sofie, menjelaskan kekuatannya dengan mengabil alih semua teritori menegaskan kuasa, bahwa kini semua mata harus tertuju padanya, tidak kesadaran tidak pun kegilaan.
Akhirnya Ketakutan Nauval terjadi yang selama ini ia wanti-wanti selama empat tahun terakhir,
jatuh cinta!
?
image :?http://www.criticatac.ro/lefteast/wp-content/uploads/utopia-sign.jpg

  • view 209