Utopia : Kuadran

Alenia
Karya Alenia  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Maret 2016
Utopia

Utopia


cara terbaik untuk melihat kenyataan adalah dengan menggarisnya

Kategori Acak

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Utopia : Kuadran

Tetapi aku coba merangkas, menjadi hidup itu sendiri. Ia seringkali mendebatku dengan cara berfikir tipikal, seperti
?biasanya begini, biasanya seperti itu?, tapi aku bersikukuh, menolak semua prototype yang coba ia masukkan dalam benakku, aku melawan dengan dogma peribadi semacam self-aksioma.
?
?tapi kenapa, kenapa coba, kau harus meninggalkan hidup, banyak orang yang care sama kamu?,
?saya saja iri sama kamu, kamu bisa mendapatkan gadis mana saja, banyak yang titp salam padamu?,
?
ia sekali lagi mencoba hal yang sudah ketinggalan jaman, ia menawariku perempuan. Mungkin sebentar lagi harta,
?
?atau masa depan depanmu akan cemerlang, kamu itu cerdas, pintar, hebat, jika sedikit saja kamu mau mencobanya, kemungkinan besar kamu akan berhasil, saya yakin itu?,
?
nah kan ia baru saja menghujamiku dengan iming-iming harta meskipun ia menyertakan proposisi yang membuatku nyaman, setidaknya, ada induksi sebelumnya meskipun ia terkesan memuji, dan aku benci, sangat benci dipuji,
?
?ah sudahlah,? balasku,
?u will never understand?,
?
sejenak ia mematung, lalu aku lanjukan dengan salah satu falsafah hidup yang aku yakini
?
?leaving life for living, is like a leaf leaving its life to have living with earth, to become the tree, the only way, iya kan??.
?
Nampaknya ia tidak mengerti, kelihatan mimik mukanya bingung, ia mengeryitkan alis mata pertanda keruwetan.
?
?iya kan, kamu itu terlalu ribet, hidupi saja hidupmu, apa sih susahnya, selepas kuliah, nilaimu bagus, kamu diterima kerja sana-sini, tapi kamu menolak. Demi apa coba??.
?
Ah seperti biasa, ia tak mau mengerti dan aku tidak akan memaksa, bagi ku sendiri, hidup seperti ini, kita seharusnya hanya melakukan dua hal, menjawab pertanyaan yang ditanya, kita tidak perlu menjwab sesuatu yang tidak dipertanyakan. Dan bertanya, bertanya hal yang tidak ditanyakan.
?
Akhirnya perdebatan kami berakhir diujung yang sama, setiap kali, setiap pagi selepas ibadah. Ia adalah sahabtku satu-satunya, yang akan menemaniku, setiap saat aku benci pada manusia, setiap saat aku memtuskan untuk menyendiri membuang diri dari semrawut kasak kusuk relasi manusia untuk melihat segala sesuatu bekerja sistemik. Ia sekaligus memposisikan diri sebagai antitesaku sebab itu aku tetap mengiyakan keberadaannya dalam hidupku, pada hari-hariku, sebab apapun yang aku katakan ia akan sigap menjawabnyya dengan negasi-negasi, setidaknya, ia adalah kebalikanku, seutuhnya. Dan akan sulit ditemui orang yang assertive negasional terhadap dirimu sekaligus.
?
Pagi itu kami berencana berkhalwat, bersama, menuju perjalanan panjang, perjalan pulang pada sebuah entitas asli, aku akan pulang, pada sebuah tempat yang kami sebut rumah, tempat aku, mempertanyakan segala sesuatu, dan tempat ia menegasi semua jawabanku, rumah tempat berpulang, sebuah aksis nol, titik terendah pada perpotongan garis yang membagi hidup menjadi empat kuadaran. Kami telah melakukan perjalan pada keempat kuadaran itu, dengan telaten dan sungguh-sungguh, dan setiap kali kami buntu, setiap kali kami tersedak, kami akan kembali pada titik potong, titik jenuh sekaligus titik nol, asal kehidupan. Tempat setiap insan dilahirkan, tempat kami memulai perjalan mengarah ke setiap kuadran, tempat perpotongan, yang menghubungkan antar langit dan bumi sebuah garis horsion yang memotong garis garis vertikal, tepat seperti salib, namun lebih stabil dan tidak neko-neko, sebab seimbang, keduanya, langit dan bumi. bagiku manusia hidup sebenarnya hanya dalam perjalan kuadran dari satu kuadran ke kuadran lain, pada akhirnya semua akan kembali pada aksis nol.
?
Kuadran adalah patokan dasar kami, dalam memetakan kehidupan, setelah aku sendiri menjadi bagian dari pohon, kini aku bisa melihat dengan jelas seperti apa daun-daun menjadi bagian dari cabangan, yang hidup mulai dari pekerjaan keras akar bekerja sebagai kaum buruh proletar, memasok air dan mineral dari tanah, memberi jalan bagi cinta sejati air pada tumbuhan, dan bagiamana semua lapisan sel-sel bekerja sama membawa nutrisi untuk diolah bersama zat hijau daun,klorofil untuk melakukan pembakaran, tumbuhan sedang memasak dan semua proses itu dilindungi kulita epidermis, dan bagiamana semua usaha itu sertama merta dihabiskan manusia, manusia kapitalis sejati, demi keuntungan hidup mereka. Mereka mengelompokkan penghasil dan penikmat, dan mengelolanya sebagai suatu kordinasi, kordinasi fasis, fasis pada kapitalis. Seperti hampir sebagian manusia protes keras sebab asap tak kunjung jua berhenti menjangkiti mereka dengan ISPA, lantas kemudian mereka berkoar-koar menyalahkan pemerintah, menyalahakan pabrik, sebab mereka di lukai, hampir tidak ada yang bergejolak sebab mereka membakar makhluk hidup. Membakar tumbuhan, dan memang seperti itulah menjadi manusia, berlakon manusia yang utuh, seperti mencintai Tuhan sebab iming Surga dan takut neraka.
?
Aku menjabarkannya pada sebuah realitas garis. Sebuah pelajaran matematika sederhana, dimana rumusan rumusan aljabar, posisi x dan y yang mewakili peranggapan abstraksi realitas digambar menjadi benda kongkrit, grafik.yang kiemudian membawaku pada kesimpulan realitas garis dengan semua bentukan ide. Kuadaran adalah kata kunci turunan, bahwa ada 4 kuadaran dalam kehidupan, kuadaran pertama, adalah kuadran postif-positif, kita mengenalnya sebagai kelas atas pada skala moral, kuadaran kedua, kuadaran postif negatif, kuadaran kelas menengah pertama, kuadaran ketiga, kuadran negatif negatif, kuadran kelas bawah, dan kuadran terakhir adalah kuadran keempat, negatif-postif kelas menengah kedua. Semua itu merujuk pada moralitas, bukan ekonomi. Pembagian kuadaran ini sengaja aku bagi dengan urutan melawan perputaran jam, sebab lagi-lagi peroslan waktu, waktu hanya akan membawa kita ke masa depan, dimana segala tindakan akan disesuaikan dengan tujuan, essensional, sedang di tempat yang sudah kita jalani pada perjalan bumi, atau yang sering disebut masa lampau, kita dapat melihat pemetaan yang lebih sempurna. Seperti membaca sekuelan novel serial, kalian mungkin membacanya dari seri satu hingga akhir, tapi aku lebih senang membaca dari akhir, kemudian akan jelas terlihat bagiamana sebuah ide kecil kemudian berkembang, sebuah ide yang tidak pernah kita terka-terka. Dalam aspek apapun aku selalu melakukan hal serupa, aku benci kejutan, hal yang paling disukai wanita, yang jenis manapun. Sebab kebencianku pada kebetulan digadang-gadang bisa sampai tingkat rasial. Bagiku konsep kebetulan hanya diperuntukkan bagi orang ababilan, orang-orangan, yang tidak paham mengenai pemetaan, sebenarnya kebetulan hanyalah konsep keteraturan yang tidak disadari, paling tidak bagi orang kecil tanpa mapping. Olehnya itu demi membenarkan semua ide kecil yang kemudian berkembang besar aku lebih suka, melihatnya dari belakang dengan melawan waktu. Waktu yang membuatmu menjadi manusia, waktu yang memaksamu memakan daging sendiri sebab iming-iming hari esok yang jauh lebih baik.
?
Kuadaran tersebut berputar melawan arah jarum jam, dan ia berputar dengan stabil, tetapi manusia pada setiap kuadaran, tidak mampu mengimbangi, ada yang bisa tetapi bnyak yang tidak sanggup, jurang-jurang kelas ekonomi sebenarnya disebabkan karena ketidak sanggupan manusia melawan perputaran kuadran pada porosnya, mereka jatuh bangun, dan terus berpindah antara kuadran kedua, dan kuadran keempat, bagiku disinilah pertikaian, pertempuran besar-besaran terjadi, antara kudaran kedua dan keempat, manusia yang saling menyalahkan, saling membunuh, sedang kuadran pertama dan ketiga adalah kudaran dengan kemawasan diri yang sempurna. Kudaran yang diisii oleh manusia yang tahu tempat dimana ia seharusnya berada. Keduanya saling simetris pada tataran geomteri, manusia berpindah kuadaran karena kestabilan perputaran kuadaran. Manusia melalu aksis nol akan berpindah kuadaran, seperti pertengahan jam pasir yang diputar, chaos atau lebih tepatnya anarkisme bergejolak di dua kutub maka kestabilan ada pada titik tengah, titik stabil, yang kemudian menciptakan lorong hijrah dengan pemikiran yang sadar sekaligus dalam pengarus adiksi, manusia akan melewati celah sempit yang aku sebut kremasi dan kemudian akan bebas pada kaudaran asal sekaligus tujuan.
?
Kali ini kami akan melakukannya lebih lama, uzlah perjalanan kami, sebab ada pertnyaan yang harus dijawab, dan setiap kali aku menyimpulkan, ia akan semakin hebat mendebat, dan ini adalah pertnyaan dengan pembahasan paling panjang. Pertnyaan yang kami temui pada kuadaran pertama, aku percaya bahwa pada kuadran ketiga diisi oleh manusia yang sama saja pada kuadaran pertama, tapi ia tidak setuju sebab, baginya kuadran pertama adalah kuadaran kebaikan, kuadaran yang suci, tempat dimana kebaikan bersemayam. Sedang kuadaran ketiga adalah nyata-nyatanya sebuah kebalikan.
?
Perjalan akan kami mulai siang itu, tepat pukul 12, penujuk waktu geometris, dimana hidup dibagi pada se-per-empat-se-per-empat bagian,
?
?bukannya satu dan tiga adalah bilangan ganjil?, keduanya sama saja , keduanya adalah bentuk negatif dari prototype kehidupan manusia? ucapku, membuka perdebatan.
?
?iya tapi, bagiamana mungkin kamu menyamakannya pada tataran ide, bukan realitas, tujuan manusia dibumi itu sekedar menjadi baik atau buruk, siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka, persoalan cara sudahlah, it shouldnt be part of the fabric, stop count your egg before they hatch?,
?
aku tidak terima, sebab ia kembali pada dirinya,
?
?oh come on, kita sudah sepakat, tidak ada persoalan induksi dan tujuan yang diperdebatkan disini, kamu tidak bisa begitu, kuadaran pertama dan ketiga adalah kaudaran yang sama, kuadaran cerminan, kamu boleh saja, bercermin, lantas kamu bilang bayangan dicermin adalah bukan kamu??,
?
?ia kan, ia hanyalah bayangan bentukan kedua, kita sepakat bukan ia adalah turunan, ia adalah diferensial manusia dalam bentuk yang utuh?? bantahnya,
?
?tapi coba kamu perhatikan, apa yang berbeda, nothing, kecuali tempat, pernahkah kamu mebayangkan manusia dalam cermin memiliki perilaku yang berbeda denganmu?, tidak akan mungkin bukan??,
?
aku mencoba menjawab dengan analogi yang sistematis,
?
?ah wait, kamu tidak bisa serta merta meyerempet menganlogikan keduanya pada sebuah cerminan, we are talking about different people, they are not the same right??,
?
?ah bukankah kita tidak membicarakan manusianya, melainkan konsep manusia??
mencoba meluruskan, aku kembalikan ia pada logika dasar, bahwa akan sangat berbeda membicarakan teman dan pertemanan, teman adalah manusia sedang pertemanan adalah konsep teman, teman adalah objek, sedang membicarakan pertemanan akan dibicarakan teman, hubungan, kesetiaan, Friend dan friendship, akhiran ship menjeleasnkan secara gamblang bahwa ship yang diartikan sebagai alat bantu menjelaskna perbedaannya dengan jelas. Dan aku tidak perlu mengulang penjelasann ini karena sudah barang tentu ia akrab dengan penjelasan ini.
?
Perdebatan ini harus diselesaikan, sebab kami berdua adalah benda nyata ujud dari ide pencerminan ini, kami adalah sepasang manusia yang secara geometris simteris saling bercerminan, ia adalah manusia pada kuadaran ketiga, dan aku adalah manusia pada kuadaran pertama, baginya dan bagiku. Anehnya ia seolah-olah memaksa kesucian kuadaran pertama, sedang aku mati-matian membela kesetaraan kuadran. Dan proposisi ini kemudian menjadi benar. ?we expect what we are excepted?.
?
***
?
image :?http://d35brb9zkkbdsd.cloudfront.net/wp-content/uploads/2013/03/utopia-road-sign-e1364410297392.png

  • view 158