Utopia : Garis

Alenia
Karya Alenia  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Maret 2016
Utopia

Utopia


cara terbaik untuk melihat kenyataan adalah dengan menggarisnya

Kategori Acak

983 Hak Cipta Terlindungi
Utopia : Garis

?Garis? inilah kata kuncinya, kata kunci dari segala sesuatu, baginya kata ini melebihi partikel Tuhan yang akhir-akhir ini marak dibicarakan oleh para psikopat astronomi. Garis adalah konsep yang sempurna, yang mewakili segala bentuk yang ada, kongkrit ataupun abstark. Garis secara magis mampu merepresentasikan setiap inci benda-benda baik itu sekedar ?ada?, ?ada dan hidup?, ?ada, hidup dan bergerak?, bahkan ?ada, hidup, bergerak dan berfikir? . Ia melebih magnum opus Nitzche Thus Spoke Zarathustra. Ini adalah penemuan besar melebih besar fungi terbesar yang pernah ada sekalipun. Mendekati ketidak laziman, sehingga ia sering kali dikatai ?gila?.
?
Ia memulainya dengan sederhana, ia kembali kemasa silam, Waktu!, sebenarnya ia tidak terlalu suka dengan penggunaan masa, waktu atau momentum, seperti yang ia akui pada pengakuannya, baginya waktu adalah omong kosong belaka, penemuan paling sia-sia yang pernah ditemukan oleh simpanse yang berifkir, manusia!. Ia hanya beranggapan bahwa tubuh kita, termasuk semua organ didalamnnya berkembang, bertambah besar dan seriing kemudian mati. Semua itu hanya perangkat biologis. Dan waktu? Tidak ada pengaruh waktu, manusia dibumi, berjalan, melakukan perjalanan yang jauh , ia tidak berani menyebutnya mengelilingi, melainkan berjalan. Manusia diwakilkan oleh bumi, melakukan perjalanan menyusuri tata surya, mencoba keluar dari galaksi bima sakti, meskipun tidak akan pernah bisa, sebab bumi sekaligus bimaskti bersama-sama berjalan. Ini seprti digaram ven, dimana bumi menjadi bagian dari galaksi bimasakti, yang menyatu dan bagaimanapun bumi mencoba keluar dari gabungan galaksi bimasakti, ia tidak akan pernah, karena pergerakan keduanya sama, konstan. Inilah yang sering ia sebut sebagai utopia. Utopia zaman, yang serta merta mempengaruhi hiudp sosial di atas permukaan bumi. Bukan mengenai persoalan filsafat, tujuan,ekonomi, budaya, dan lainnya yang bahkan menyebabkan satu manusia membunuh manusia lainnya demi hal sepele yang selalu menjadi kambing hitam, sedang masalah sebenanrnya adalah persoalan psikis. Kenapa manusia mati?, kenapa manusia berkelahi?, kenapa manusia berpolitik dan sekian banyak pertanyaan mengenai kenapa manusia ia selesaikan dengan satu jawaban yang sederhana, sebab manusia lelah berjalan.
?
Waktu, hanyalah media, yang kebetulan menjadi pilihan, entah mengapa disini disebut ?waktu? mengapa bukan hal yang lain. Suatu ketika ia mencoba keluar dari bentuk retorika waktu, ia mengatur semua alat penunjuk waktu, sebab kadang kala ia harus tertawa sendiri. Jam sebagai penunjuk waktu ibaratnya maling teriak maling, waktu adalah alat, media, sedang jam adalah media waktu, maka jam adalah media dari media, alat dari alat, maling teriak maling. Ia paling tidak memiliki lima alat pengatur waktu, masing masing ia set dengan waktu yang berbeda, ada yang ia buat lebih cepat dan ada yang lebih lambat. Alhasil waktu dengan segala kesetiannya yang terus berdetak secara teratur menghianati dirinya. Inilah pertanda, bahwa kestiaan sebesar apapun akan selalu mengandung unsur penghianatan didalamnya. Dan itu akan lebih sakit dari biasanya. Meskipun ia secara terang-terangan dihianati oleh penunjuk waktu ia tetap tidak bisa membungkam efek sinar matahari pada rotasi bumi pada porosnya, siang dan malam adalah pergantian yang mutlak, meskipun sesekali ia mendesak bahwa ini hanya persoalan cahaya. Segala sesuatunya, seperti kebiasaan, tidur, makan, peneysuaiaan alat-alat biologis hanyalah perosalan kebiasaan. Ala bisa karena biasa.
?
Dengan cara yang sederhana ia memulai kata kuncinya, bahwa waktu dibenarkan oleh perpindahan ide, bukan benda fisik. Setelah sekian lama ia beruzlah pada kendarannya, ia sampai pada satu pendekatan, ia tidak serta merta menyebutnya sebagai aksioma, postulat, atau bahkan teori, baginya ia lebih nyaman dengan sebutan pendekatan. Pendkatan garis. Ia mengibartkan sebuah kotak nyata, benda tiga dimensi, yang bagi kebanyakan orang bergerak seiring waktu, benda itu ada, hingga hari ini dan telah melalui masa lalu dan kemunkinan ia akan sampai pada masa depan. Kotak yang ia bentuk kemudian ia beri garis pinggir, terciptalah sebuah bentuk dua dimensi, kotak, yang merupakan hasil replika benda tiga dimensi. Ada cara yang unik yang coba ia lakukan, ia menggap gambar kotak dua dimensi adalah perwakilan ide, ide tentang benda kotak tiga dimensi. Dan garis hanya alat untuk merelasasikan kotak asli. Benda asli kapanpun jua akan sama stausnya dengan manusia melakukan perjalan bersamaan diwakili bumi, sheingga konsep waktu nihil tidak bekerja sama sekali, akan tetapi waktu kemudian berterima pada satu-satunya celah yang ia temukan, ide. Waktu ada hnya karena realisasi ide dalam bentuk garis membuktikan waktu ada.
?
Masa depan, hanyalah sebuah kata, kata yang tidak sekalipun boleh direalisasikan, sesekali ia berfikir bahwa masa depan sebenarnya tidak pernah ada melainkan hanyalah mimpi, dan jika itu kesampaian, masa itu menjadi masa sekarang. Lantas apa guna masa depan, dengan sebuah modalitas akan, ,mau, ingin?, semua itu hanya untuk menjawab keingintahuan, memenuhi ego manusia. Seperti motivator dengan segala retorika bahasanya agar kalian senang dengan cara yang sederhana. Instan dengan harapan palsu.
?
Ia sudah bilang, jangan percaya waktu, semua itu omong kosong, Garislah yang kini ia akan jadikan tuhan dalam cara berfikirnya, garis yang mewakili segala realitas, bagiya tembok besar cina tidak lebih sekedar kumpulan garis yang menumpuk memanjang dan berkelok. Yang pada akhirnya membentuk pola dan menciptakan keajaaiban dunia, ia tidak pernah mengungkapnya dengan segala bentuk interjeksi yang berlebihan, ia memilih diam, dan melihat garis bekerja pada setiap kepala manusia, melihatnya seperti dua kstaria yang terus menerus bercumbu sekaligus saling membunuh seperti belalang yang akan memakan pejantannya saat kawin.
?
Dan kini garis adalah satu-satunya cara agar ia mendekati cinta yang memberinya teka-teki paling besar. Bahwa semua pertnyaannya paling tidak ia akan temukan jawabannya meskipun ia hanya akan berkahir pada lexem iya atau tidak.
?
Persoalan itu sama rumitnya dengan sebuah furniture yang menghalangi jalannya, yang memungkinkan ia tidak sanggup bergerak kemanapun. ?Habadu Bashubi?!
?
image :?http://roundhouse-assets.s3.amazonaws.com/assets/Image/7097-fitandcrop-594x337.jpg

  • view 184

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Satir... ^_

  • Alenia 
    Alenia 
    1 tahun yang lalu.
    hahaha ia mas saya paham. persoalan tanda baca sya sudah sering kali dapat kritikan keras. dari dosen ataupun teman2. tapi untuk tujuan tertentu saya tidak bisa mengkoreksinya. maaf pak polisi sy minta yg lembar biru saja boleh? hahah

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    Waktu!, => ini adalah sebentuk penulisan yang aneh secara tata bahasa. Tanda seru dan tanda tanya selalu mengandung titik. dan karena itu agak lucu jika ada koma setelahnya. Otomatis, setelah tanda seru dan tanda tanya akan dimulai dengan huruf besar.

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    kembali kemasa silam => kembali ke masa silam