Sisifus dan Kisahmu

Alenia
Karya Alenia  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Maret 2016
Sisifus dan Kisahmu

Sebelum kau membaca bagian-bagian yang khusus kuperuntukkan padamu aku akan bercerita tentang kisah Sisifus. Sebab sisifus telah ditulis pada berbagai macam buku, ia telah menjadi inspirasi bagi banyak penulis. Termasuk pada bagian ini, kusisipkan nama sisifus pada bagian awalnya, sebab aku tahu betul bahwa jodoh takkan pernah bisa diterka, dan jika nanti ternyata ayah dari anak-anakmu dan ibu dari anak-anakku adalah bukan kita. Maka paling tidak, ditempat yang terpisah atau dengan rentang waktu yang terpisah masing-masing dari kita akan bercerita kepada mereka sendiri-sendiri, mengenai sisifus menjelang mereka mulai bermimpi pada arti yang sebenarnya.
?
Jika kau masih disana, aku akan memulai dengan kata ?pembangkangan?, Sisifus hidup bersama dewa-dewa orang Yunani. Ia membangkang pada dewa, hingga seperti kebanyakan cerita, pembangkang harus dihukum, maka sisifus harus dihukum pula. Dengarlah hukumanyya, tidak terlalu menyeramkan, tidak ada darah, tidak ada gantung menggantung, atau ikat mengikat, dan yang paling penting tidak ada kematian. Sisifus hanya diberi batu besar, tidak terlalu besar. Batu tersebut harus ia dorong dari dasar gunung hingga puncaknya. Tidak mungkin kan ia melawan dewa?, maka dari itu ia pun harus menggelindingkan batu tersebut hingga kepuncak, dan setiap kali batu tersebut berada dipuncak, bergelindinglah ia kembali kedasar. Maka sisifus harus turun dan mendorongnya lagi, begitu seterusnya.
?
Tidak usah terlalu serius, wajahmu tidak terlalu cocok tanpa senyuman, jika pertnyaan mengapa sisifus tidak mengganjalnya dengan sesuatu agar batu tersebut tidak menggelinding turun yang membuatmu cemberut. Maka bacalah bagian ini baik-baik. Tekankan pada pendengarmu, atau jika pendengar kita sama, ceritakanlah dengan lembut agar mereka tau bahwa aku benar-benar punya selera yang bagus. Sebab inilah intinya, sisifus dihukum tidak bisa melaukakan apa-apa selain mendorong batu tersebut terus menerus, seumur hidupnya. Maka ia tahu betul bahwa seumur hidupnya ia tidak akan bermimpi apa-apa. Yang ia lakukan hanyalah rutinitas yang membosankan. Perasaan itulah yang menjadi hukumannya, bukan mengenai tenaga nya yang habis atau beratnya batu yang ia dorong melainkan rutinitas yang kosonglah hukuman sebenarnya.
?
Kuharap aku tidak menyisakan lagi bagian yang harus kau pertanyakan, sebab setelah ini, akan kutulis kisah seseorang yang lain. Kisah seseorang wanita yang nekat membuat seorang lelaki mencintainya sejak pandangan pertama. Dan kisah ini nampaknya cocok buatmu, mungkin karena yang akan kuceritakan sebenarnya adalah kisahmu.
?
Jadi aku akan menyebutnya dengan panggilan ?kau?, kau adalah gadis manis yang baik. Kau selalu ramah pada semua orang, kau seorang gadis pintar dan bersemangat. Maka wajar saja kau selalu disukai setiap orang. Termasuk seorang lelaki yang baru pertama mengenalmu, sebut saja ?aku?. Aku tidak menyangka menyukai seorang wanita setelah sekian lama aku memutuskan untuk tidak berurusan dengan wanita dulu. Atau paling tidak memang tidak pernah menyukai wanita manapun, sebab aku bukanlah orang yang gampang suka pada seseorang. Sampai ketika aku bertemu kau.
Karena cerita ini kisahmu, tentu kau tau apa yang terjadi setelahnya, sudah ada banyak bagian yang aku tulis khusus untuk kau. Dan semua bagian itu adalah potongan-potongan yang diawali oleh pertemuan pertama kau dan aku.
?
Kau masih disana?, inilah bagian yang kumaksud khusus untukmu, salah satu dari potongan-potongan yang lain. Masih ingat sisifus?. kali ini anggap saja aku dewanya dan kau sisifusnya. Kau membangkang pada aturan-aturanku sebab itu aku menyukaimu, tapi kau harus dihukum karena membangkang. Maka sekarang kau harus menjalani hukumanmu. Mengenai bentuknya biarlah aku menyimpan sendiri, dengarlah dulu bagian selanjutnya.
?
Sekarang kau adalah terhukum, senangkah kau menjadi yang terhukum? Kau harus tau dulu kan apa hukumannya?, sebelumnya kau harus tau juga, bahwa pertama, sebenarnya aku bukan dewa, aku hanya memiliki aturan jadi secara artifisial aku dewa, tapi tetap aku bukan dewa, hanya dewa yang sanggup menghukum tapi tidak aku, apalagi yang harus aku hukum adalah kau. Jadi kau bebas membangkang tanpa ada hukuman. Kedua, kau adalah sisifusnya, dewa tidak menyukai sisifus karena ia membangkang, tapi sebaliknya kau membangkang sebab itu aku menyukaimu, dan seperti itulah perasaan bekerja, iya kan? Bagiamanapun logika mu berfikir membenarkan, perasaan selalu punya keputusan sendiri dan sekarang kuputuskan kau tidak bersalah.
?
Kau senang menjadi sisifus? Karena perempuan biasanya lebih senang menjadi apa saja, kau boleh menjadi dewa maksud ku dewi, akulah sisifusnya. Jadi kau adalah dewi dengan segala aturanmu aku sisifus siap menjalankan semua perintahmu, jadi aku akan menggelindingkan batu besar keatas bukit, iya kan?, tapi semua tergantung pada dewi, apakah dewi akan munghukumku dengan sebnar-benarnya hukuman seperti sisifus. Tapi apa kesalahanku?, anggap saja aku bersalah karena aku membangkang padamu, karena aku menyukaimu misalnya. Tapi dewi tetap yang berkuasa bukan. Kalau terlalu ruwet menjadi dewi, mau aku beri saran?, ingatlah saat aku dewa kau sisifusnya. Aku kira kaupun sanggup melakukannya, sebab sejujurnya kita adalah dewa sekaligus sisifus secara bersamaan.
?
Oh aku hampir lupa, kisah sisifus kadangkala menjadi mitos awal mula siang dan malam. Ketika batu yang ia dorong naik dan turun orang-orang menggambarkannya sebagai pergerakan matahari yang naik turun. Seperti kisahmu tadi dengan aku, seperti pergantian siang dan malam. tidak ada akhirnya bukan?
?
Inilah bagian akhirnya, apa kau paham?. Atau tidak sama sekali?, kita bukan anak muda lagi kan, yang harus blak-blak bercerita tentang perasaan. Tapi sungguh, jika kau tidak paham dengan semua kisah itu. Anggap saja aku ingin bilang, ?aku benar-benar mencintaimu?.
?
?
image?: https://socialecologies.files.wordpress.com/2015/12/sisyphusjpg.jpg

  • view 223