The Nostalgia

Alenia
Karya Alenia  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Februari 2016
The Nostalgia

?Sehnsucht nach der Vergangenheit, nach der verlorenen Kindheit, nach der ersten Liebe?

Adalah tiga buah frasa berturut-turut bahasa Jerman yang dapat diterjemahkan ?rindu pada masa lalu, rindu pada masa kanak-kanak, rindu pada cinta pertama?. Kata ?sehnsucht? adalah kata yang mewakili ?rindu?, rindu yang dimaksud adalah rindu pada kenangan bahagia, baik itu kerinduan pada sesuatu yang ada, atau yang tidak pernah ada. ?sehnsucht? tidak boleh serta merta diterjemahkan menjadi rindu juga, sebab rindu kadang kala bernuansa negatif. Sedang ?sehnsucht? adalah rindu pada bahasa yang positif maka dari itu ia digunakan pada kalimat ?Sehnsucht nach der Vergangenheit, nach der verlorenen Kindheit, nach der ersten Liebe? bukan pada kalimat lain.

Jumat malam, diantara perdebatan orang-orang tentang segala hal dan usaha saya menarik kesimpulan atas pertanyaan besar mengenai ?mengapa jumlah jomblo tidak juga menurun? saya terhenti pada sebuah buku yang berjudul ?agama-agama manusia? tepatnya pada sebuah kata. kata tersebut membawa saya pada ruang imajinasi yang sebelumnya saya isi dengan persoalan ?jumlah jomblo curhat dan musim hujan selalu berbanding lurus?, paling tidak kata ini memberi benang merah atas kesimpulan tersebut. Kata tersebut membawa bukti dan andil besar perubahan dramatis generasi muda manusia. Kata tersebut bukan ?sehnsucht? melainkan ?Nostalgia?.

Tulisan ini saya persembahkan pada jomblo-jomblo pada umumnya, dan jomblo terjebak masa lalu pada khususnya, tulisan ini saya masukkan pada label ?menolak move on? satu frasa yang saya temukan beberapa hari silam, dengan tagline ?karena kamu jomblo bukan berarti kamu bodoh?.

Nostalgia

Banyak mengira bahwa ia adalah bahasa indonesia, saya harus membenarkan sebab ia disebut dalam KBBI sebagai satu ?headword? yang berarti kerinduan (kadang-kadang berlebihan) pada sesuatu yang sangat jauh letaknya atau yang sudah tidak ada sekarang; kenangan manis pada masa yang telah lama silam. Pernah suatu saat seorang teman yang memilih menolak move on bertanya apa bahasa inggris dari nostalgia, banyak yang mungkin membuka kamus dan kemudian nostlagia ditemukan sebagai bahasa inggris juga. Maka dua hal ini benar, membawa kita pada kesimpulan bahwa nostalgia adalah bahasa indonesia yang diserap dari bahasa inggris.

Disaat yang lain seorang teman sambil tersenyum berucap ?ah nostalgia dulu ces? atas pertanyaan yang saya ajukan padanya ?bahagia begitu, apa kobikin??. Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa ?nostalgia? adalah hal positif. Kesimpulan ini tampaknya agak sedikit keliru, sebab nostalgia berasal dari bahasa latin yakni dari kata ?nostos? dan ?logia? (bukan buah logia yah), nostos berarti ?return home? atau kembali kekampung halaman, dan ?logia? bearti? ?Pain? atau rasa sakit. ?Logia? pun otomatis menjelaskan kesan negatif, bahwa tidak seorang pun yang bernostalgia yang tidak mengalami rasa sakit ?pain? pada prosesnya.

Pada bahasa lain misalnya, orang-orang jerman menggunakan kata ?Heimweh? yang berarti ?homesickness? dengan sedikit modifikasi orang belanda menggunakan kata ?heimwee? keduanya mewakili kata ?nostalgia? yang berarti merindukan kampung halaman. Orang iceland kemudian menggunakan dua kata berbeda, mereka menggunakan ?soknour? untuk menjelaskan arti nostlagia pada umumnya seperti yang dipahami oleh pada bahasa indonesia dan menggunakan kata ?heimpra? untuk menjelaskan kerinduan pada kampung halaman. Yang paling menarik adalah orang-orang ceko menggunakan kalimat ?styska se mi po tobe? yang berarti ?i yearn for you?, i am nostalgic for you, i cannot bear for your absence? ?saya tidak dapat mengemban ketidakhadiranmu?, untuk mengungkapkan perasaan ?saya mencintai kamu?. , pada bahasa spanyol dikenal kata ?anoranza? yang merupakan derivasi dari kata kerja ?anora? anora berarti ?merasakan nostalgia?, anora berasal dari catalan ?enyerar? yang diturunkan dari bahasa latin ?ignorare? sekarang dalam bahasa inggris kita mengenalnya ?ignore?

(disadur dari novel Milan kundera yang berjudul Ignorance, dua hari setelah saya menemui lukisan Giorgio De Chirico yang berjudul Nostalgia of the infinite, seorang teman wanita saya (tolong jangan diterjemahkan menjadi girl friend) yang sedang jatuh cinta pada seorang pencipta lagu dengan kepribadian introvert, menemui saya untuk alasan curhat, disela-selanya ia menunjukkan saya bab kedua novel ini)

Dalam bahasa indonesia kita mengenal ignorance dengan terjemahan diabaikan. Maka dari itu nostalgia bersahabat secara logis dengan ignorance, orang yang mengalami nosatlgia berarti mengalami penolakan. Maka melalui milan kundera jelas rasanya terjemahan KBBI tentang kata nostalgia agak sedikit asal-asalan. Kamus reader digest ?the right word at the right time? memang mengakui bahwa penggunaan kata ?nostalgic? telah melebar, bahkan di Amerika sendiri digunakan dua kata berbeda yakni ?naseous? dan ?soforofic?. Misalnya pada kalimat ?i felt nauseous after watching that play?, akan tetapi kedua kata ini digunakan berpasangan dengan antiseden benda mati.

?

***

?

Pada luksiannya, Giorgio De Chirico ia menggambarkan kerinduan terhadap ketidak terbatasan, bahkan lukisan yang diberi judul ?nostalgia of the infinite? hampir bisa menjelaskan falsafah agama hindu secara universal, bahwa manusia pada dasarnya merindukan ketidakterbatasn. Jika melihat fenomena sekarang hampir bisa dikatakan bahwa setiap pemuda mengangkat beban yang sama yakni merindukan ketidakterbatasan, yang jauh-jauh hari telah dijelaskan oleh Chirico dalm lukisan tersebut.

Merindui dan remaja adalah dua kata yang paling tidak telah berjalan seiring, maka percakapan yang tidak pernah lepas dari topik kesepian adalah hal yang lumrah. Merindui yang dimaksud adalah merindui dengan nuansa negatif maka dari itu menggunakan kata nostlagia adalah momen yang tepat. Sebab nostalgia pada artian sebenarnya memang berhubungan erat dengan remaja sekarang.

Persoalannya adalah bagaimana hampir setiap remaja harus diakui. Bukti yang dapat dilihat adalah pada media-media sosial, dengan menjamurnya hastag misalnya, untuk mengatasi kemacetan maka kita menggunakan #atasimacet, penggunaan hastag pada dasarnya sama dengan demonstarsi dijalan, hanya saja pada media yang berbeda, semenjak runtuhnya Rezim Soeharto bisa dibilang perubahan media media pemberitaan mengajarakan masyarakat secara tidak langsung untuk diakui. Setiap persoalan harus diselesaikan dengan pola yang sama, persoalan-pengakuan-penyelesaian. Setiap masalah harus muncul diruang publik barulah kemudian diharapkan untuk diselesaikan.

?Pengakuan? dengan hubungan yang logis bisa disamakan dengan ?nostalgia?. mengulang kembali penyetaraan kata ?nostalgia? dan ?ignorance? maka hubungan keduanya dapat dilihat jelas pada contoh tersebut, rasa pengakuan adalah perwujudan dari penolakan. Orang yang ditolak adalah orang-orang yang ingin mendapatkan pengakuan. Maka relasi logisnya adalah Pengakuan-penolakan-nostalgia. Maka ?nostalgia? adalah kata kunci hampir pada semua fenomena sosial.?

Demosntrasi mahasiswa dijalan sebenaranya tidak boleh serta merta dianalogikan pada konteks yang sama, sebab bagaimanapun juga demonstrasi melibatkan psikologi massa yang tidak pernah sehat, persoalan konten demonstrasi dan perilaku demontsran adalah dua hal yang harus dianalisis terpisah, akan tetapi pengakuan dalam bentuk media sosial tetap menujukkan konteks-konteks personal yang dapat dianalisis tidak pada tingkatan massa. Maka dengan mengikuti pola ?pengakuan-penolakan (kesepian)-nostalgia? dapat dijelaskan mengapa remaja cenderung terlibat pada percakapan ?jones? atau ?kesepian?. Fenomena sosial ini tetap terjadi secara massif olehnya itu harus ada pola umum yang menjadi alasan utama. Dan satu-satunya asumsi yang bisa muncul adalah sebab ?nostalgia?.

Kalau terlalu sulit dimnegerti, sederhananya seperti ini, kesepian sebenarnya bukan karena tidak ada orang disekelilingmu, melainkan orang yang kau maui disampingmu tidak bisa disana, itulah yang disebut penolakan, penolakan memaksamu melakukan hal-hal yang harus diakui oleh yang menolakmu, hingga tiap saat yang kamu lakukan hanya satu hal, ?bernostalgia?

Jika manusia adalah makhluk yang paling usil maka remaja adalah manusia yang paling usil pada masa lalunya.

Seperti kata seorang kawan Zain, dipertengahan bulan desember beberapa hari silam, dua hari menjelang hari ulang tahun wanita yang ia taksir ?masa lalu adalah bayang-bayang, tak bisa kau sentuh, tapi mampu melukaimu melebihi apa yang bisa kau sentuh?

?Setiap remaja berada pada ambang batas rindu pada ketidakterbatasan, setiap remaja kini menjadi pemeluk agama hindu yang taat, shanti shanti shanti, damai, damai, damai, tetapi setiap pemeluk agama yang taat bukan berati hadir dengan prilaku yang terbaik. Seprti salib, dengan garis vertikal yang terpotong horizontal atau sebaliknya, menejlaskan hubungan manusia yang harus diimbangi dengan hubungan dengan Tuhan atau sebaliknya, Hablu minallah wa hablu minannas kata muslim. Tidak selamanya yang beribadah itu akhlaknya baik kan??

Pada hari yang sama, saya telah didatangi 4 orang bersamaan dengan satu tujuan yang sama ?curhat? entah kenapa dimusim hujan jumlah orang curhat terus meningkat tajam, mungkin karena hujan adalah perantara nostalgia yang terbaik, mungkin! Ketika keduanya bertemu, Hujan-nostalgia, keduanya bernostalgia, seperti Psyche jatuh cinta pada Cupid, bagiamana mungkin dewa cinta jatuh cinta!

?iya kan? karena kamu jomblo bukan berarti kamu bodoh, apalagi kesepian?

Dan pada saat menulis kalimat terakhir ini setidaknya saya curhat pula, entah dimana dibagian dunia ini orang-orang akan berhenti berbicara soal pasangan, jodoh, jomblo, kesepian dan sendiri. Sesekali bisakah kita berhenti bernostalgia? Saya harus tersenyum dulu barang dua tiga menit.

Image :?http://www.mayanrocks.com/blog/nostalgia.jpg

?

  • view 312