“Styska Se Mi Po Tobe”

Alenia
Karya Alenia  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Februari 2016
“Styska Se Mi Po Tobe”

?When i saw you i fell in love , and you smiled because you knew? Shakespeare

Apakah kau tau? Merindukanmu begitu melelahkan, sampai pada penghabisan malam, tak sedikitpun namamu berhenti terngiang. Mata indah dan lengkungan senyum bibirmu seperti sepasang merpati yang saling setia terlihat jelas antara langit-langit kamar dengan alas tidur. Sampai mata tak kunjung jua ingin terpejam, bayanganmu terduduk dihadapanku pada pertemuan kita yang kesebelas kalinya bergerak satu persatu perlahan lekat-lekat, sekaligus suaramu atas cerita-cerita tentang seharimu kala silam soal keinginanmu yang tak boleh dibantah, terdengar perlahan, mengendap pada gendang telinga mengulangi kata perkata yang pernah terlontar dari mulut penggenap wajah manismu tepat dihadapan mataku yang tak sekalipun ingin berkedip seperti sangsi pada keajaiban.
?
seperti ini kah merindui? Seperti berbicara pada sesuatu yang tidak ada tetapi balas berujar. Mengiyakan atas semua kata ?tidak? yang terucap, tersenyum sekaligus tertahan pada batas bahagia dan merindui. Tertahan antara mengingat dan melupai. Atas hari dimana kau berhenti sejenak sebab kau jumpai diriku ditempat yang tak kau sangka-sangka, hanya pada kepastian yang kau niatkan pada dirimu agar aku melihatmu paling tidak sekali pada hari itu.
?
Apakah aku yang salah? Sebab memberimu satu tempat padaku pada sisi yang paling dalam, karena rindu datang setelah ingatan, dan ingatan tentangmu padaku tak sedikit pun kusimpan dalam kepala melainkan pada tempat yang lebih istimewa. Tidakkah benar, jika kurekatkan mimpiku padamu akan hari esok lewat lembaran-lembaran yang kuharap kau baca tiap harinya agar tidak lagi kuulangi kesalahan yang sama. Agar aku tetap menjadi bagian dari ceritamu suatu saat nanti ketika mimpi itu terjawab atau terabai sekalipun. Sebab ia sederhana mewakili sesederhana cara ku memandangmu pada perjumpaan pertama, hari kutempatkan kau pada keputusan yang tak pernah kupersiapkan.
Siapa yang tahu, pada siapa kau peruntukkan milikmu, seperti halnya aku, ia datang pada siapa yang tak tersadar, pada waktu yang tak pernah ditentukan, tidakpun tiba dengan peringatan seperti kala itu, ia mendatangiku tanpa pembuka, tanpa sebutan, tanpa pengenal melainkan tatapan. Ia mengajakku bernostalgia setiap saat pada namamu yang kau sebut atas pertanyaan yang kutanyakan, hari itu untuk kali pertama aku dan kau saling memberi ruang.
?
Atau hari dimana aku berjudi dengan kebetulan, untuk melihatmu sekali saja meski dari kejauhan sebab rindu yang tak terbendung, mempertaruhkan takdir seperti berkuasa, jika dirimu nampak padaku maka tetaplah disini ditempatmu semula, jika tidak, maka rapat-rapat kututup ia kembali tanpa penghuni, meski aku tau, aku harus menang sebab jika tidak, tentangmu, masih banyak tersimpan perjudian, sampai kemenangan kembali agar kau tetap disana duduk manis tersenyum, untukku, saja.
?
Dan kukirimi kau rindui ini lewat kata, sebab tidak pantas rasanya, memintaimu lebih sedang telah kau berikan padaku lebih banyak. Pada palang pintu yang tertutup erat, kau membukanya dengan sekali tatap. Dan telah aku merindui, menempatkanmu disini, melewati satu musim kemarau panjang sejak penghujung hujan bebarapa bulan silam hingga kini hujan kembali menyapa, aku tetap setia pada keputusanku, sebab hari telah beratus-ratus berlalu sedang aku melihatmu hanya setengah dari seratus kali, maka aku harus merindumu bahkan saat kau dihadapanku sekalipun. Itu melelahkan.
Bukankah pada setiap usaha ada hasil?, pada setiap rindu yang tersimpaan ada perjumpaan, pada setiap derasnya hujan akan ada sehari kering, dan pada setiap akhir kemarau panjang akan ada sehari hujan. Maka dipenghujung kerinduanku akan ada pertemuan. Harapan yang kusimpan tiap paginya, pada kebetulan yang mustahil walau kadang sesekali terwujud.
?
Jika pertanyaanmu, mengapa aku rela merindui tanpa menemui? Adalah penghalang atas pemahaman yang tak sanggup kau pecahkan. Pohon Gaharu, yang kami tanam di sepertiga awal tahun lalu, tidak sedikit yang tidak sanggup bertahan melewati hari tanpa setetes air pun, setelah hari kau bercerita disampingku tentangnya, ia telah tumbuh selutut. Usianya masih dini, jika katamu ia butuh sepuluh tahun untuk bisa menghasilkan dahan-dahan yang besar. Ia harus melewati masa yang suram, ketika ia dipenghujung usia dewasa, disuntiikkan ia bakteri, sekaligus doa untuk sambaran petir setiap saat hujan berderai. melewati itu semua dahan-dahan itu menyerah dan berbau harum, dihargai mahal dan menjadi sangat berharga. Di penghujung akhir tahun lalu, terakhir kali aku berkunjung, hanya tersisa belasan pohon, masih selutut tetapi kokoh menancapkan akarnya menembus tanah, menyatu dan tak ingin lagi melepaskan lagi. Hijau daunnya seolah berkata, tanpa hujan pun aku sanggup.
?
Pada kebetulan, atau mungkin kesengajaan yang tidak disadari membawaku pada cara yang sama. Aku merinduimi melewati kemarau panjang, hingga suatu saat nanti keyakinan-keyakinan kecil itu akan muncul padaku perlahan. tak lagi ingin terlepas pada tanah tempatnya bertumbuh, hingga nanti aku tak perlu merindui sebab keberadaanmu tumbuh perlahan. maka meski melelahkan, aku akan rela.
?
sebab aku benar-benar rindu
?
image :?https://pelangitamansyahid.files.wordpress.com/2011/02/1203344160_1280x768_spring-water1.jpg
?

  • view 308