AADM (Ada Apa Dengan Minimarket)

Alenia
Karya Alenia  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Februari 2016
AADM (Ada Apa Dengan Minimarket)

?Selamat datang di Alfamart, itu aja mas? Ada yang lain?, ada kartu membernya? Isi pulsanya sekalian?, 200 nya mau didonasikan?. Kembaliannya mas, terimakasih, silahkan datang kembali?

Kasir minimarket boleh jadi calon pacar yang paling possesif, coba saja bayangkan berapa pelanggan yang keluar masuk minimarket dalam sehari, hampir tidak satupun yang luput dari sasaran pertanyaan, beli dikit, tanya!, beli banyak, Tanya!, beli banyak banget, tanya!. Kalau dibayangkan sosok kasir tersebut bertengkar hebat dengan kekasihnya mungkin modelnya semacam, ?selamat yah, itu saja? Ada yang lain kamu yah?, ada pacar barunya? Tidak selingkuh sama 2 orang sekalian?, perasaannya mau didonasikan?, kembali sana, terimaksih, silahkan cari pacar lain?. Well, siapa yang tidak jengkel dengan percakapan retoris seperti itu, sebenarnya percakapan bukan kata yang tepat, lebih tepatnya ?pidato?, sebab hampir sebagian besar pelanggan tidak merespon, meskipun mbak atau mas kasir tetap setia bertanya, mungkin pada proses rekrutmen pegawai selalu ada persyaratan ?terlatih patah hati? atau ?memiliki pengalaman cinta bertepuk sebelah tangan?.
?
Pelayanan tersebut tentu tidak didapatkan pada retail tradisional, sebab memang toko-toko tradisional kalah bersaing dengan minimarket moderen, baik dari segi pendanaan, fasilitas, harga, stok barang bahkan pada pengetahuan. Hampir semua syarat dagang dengan pemasok dipenuhi dengan baik, bahkan pemasok pada akhirnya sakau. Sedang retail tradisonal, mau tidak mau hanya bisa menatap pasrah. Inilah yang kemudian disebut sebagai proyek kemiskinan struktural, sebab memang pemerintah mengalokasikan 13 persen pangsa pasar bisnis ritel secara bebas, alhasil indonesia yang nota bene menganut ekonomi kerakyatan kelihatannya lebih liberal dibanding negara liberal sejati sekalipun.
?
Membahas topik ketimpangan ekonomi yang disebabkan oleh bisnis retail terutama yang berbebntuk ?convenience store? tentu sangat menarik meskipun begitu saya tidak akan membahasnya berpanjang lebar sebab tulisan ini akan berfokus pada tindak-tanduk berbahasa yang digunakan pada minimarket. Alsannya jelas, pertama, saya sedang mengusung proyek pemerintah revolusi mental, maka setiap pemuda dan pemudi indonesia harus belajar pada startegi berbahasa minimarket agar kesepian dan sakit hati harus dituntaskan pada waktu yang sesingkat singkatnya, paling tidak, tidak ada lagi pemuda dan pemudi yang galau hanya karena perbedaan bengbeng dingin dan bengbeng biasa dengan kata lain pemuda pemudi harus harus bermental progressif dan produktif. Kedua, mengamalkan sila pertama panca sila, sebab sebetulnya menuliskan hal seperti ini secara tidak langsung dapat dihitung sebagai ibadah, bukannya Tuhan menyimpan pelajaran pada alam terutama pada pergantian siang dan malam?, ketiga, karena saya tidak berlatar belakang pendidikan ekonomi. Jelas.
?
Saya akan memulai dengan pemahaman wacana fisik. Terlalu naif sebenarnya, jika saya menggunakan istilah wacana fisik, sebab pada semua istilah kebahasaan tidak pernah ditemukan istilah wacana fisik, jadi bisa dibilang inilah yang pertama, but its not a big deal anyway bukannya cinta pertama itu selalu paling berkesan? (baca : yang paling menyakitkan, yang paling berkesan). Istilah ini saya gunakan hanyalah sebagai analogi agar memudahkan analisis.
?
*minimarket adalah wacana fisik
?
Sebuah wacana paling tidak akan berbentuk tertulis atau dalam bentuk ujaran. Dalam proses analisis wacana, data terakhir yang dianalisis adalah data yang berupa tulisan. Maka bagaiamanapun bentuk ujaan/ide yang disebut sebagai wacana semua akan berakhir pada wacana tulisan ?written discourse?. Pada wacana tertulis selalu ada tiga bagian utama, pembuka-isi-penutup. Pidato misalnya, bagian pembuka diisi dengan sambutan, isi berupa pokok yang ingin disampaikan, dan penutup diisi dengan kesimpulan.
?
Minimarket adalah sebuah wacana fisik, jika dipandang secara utuh, proses seorang pelanggan memasuki sebuah minimarket maka tentu ia akan masuk dari depan, atau yang bisa dianalogikan sebagai pembuka, sedangkan bagian dalam toko dapat dianalogikan sebagai isi, ketika pelanggan hendak keluar maka bagian tersebut dapat dianalogikan sebagai penutup. Melihat pola yang sama, maka dapat secara logis minimarket dianalogikan sebagai wacana fisik. Tentu saya tidak akan menyarankan metode ini digunakan pada analisis ilmiah sebab metode ini saya gunakan untuk memudahkan proses penarikan kesimpulan. Terkecuali jika anda agen MLM.
?
*pembuka
?
Pada salah satu minimarket sebut saja Alfamart menuliskan pada bagian depan dengan huruf yang besar, ?Semua bisa di alfamart?, adalah strategi yang efektif. Menggunakan kalimat ?deklaratif? untuk menyampaikan informasi. Jika diterjemahkan dalam bentuk proposisi kalimat, ada tiga ?sense? makna yang dapat dikeluarkan, 1. semua, 2. Bisa, 3. Di alfamart. Maka kalimat ini secara kasat mata berarti hanya menginfokan, tapi jika dianalisis lebih jauh kalimat ini kurang lebih sama dengan ?nda ada ji yang marah kalo kutelfonki??? (bahasa indonesia dialek makassar). Austin menyebutnya sebagai ?ilokusi? dimana sebuah bahasa digunakan untuk mengimplikasikan sesuatu. ?semua bisa di alfamart? memang kalimat deklaratif tapi sebenarnya ia meminta pembaca untuk berkunjung di alfamart, ?semua? merujuk pada aktifitas membeli. Maka kalimat ini sebenarnya mengatakan ?masuklah di alfamart, semua yang anda butuhkan ada disini?. Kesimpulannya boleh jadi alfamart adalah seorang perempuan seperti pada kesimpulan sebuah penelitian bahwa perempuan cenderung menggunakan ilokusi tidak langsung, menggunakan kalimat pertanyaan untuk meminta. ngomong-ngomong pernahkan perempuan menggunakan ilokusi langsung? TIDAK.
?
Siapa yang tidak merindukan, sms, bbm, line, wa, dll dipagi hari dengan conten, ?selamat pagi?? (pertanyaan ini ditujukan kepada jombloan dan jomblowati yang dimuliakan oleh Tuhan), maka mini market adalah jawaban yang tepat, silahkan datang dipagi hari maka anda akan disambut ?selamat pagi?. Ujaran-ujaran seperti ini atau yang dikenal dengan kata ?basa basi? merupakan salah satu startegi berbahasa, pewicara sedang membangun relasi. Apalagi manusia sekarang benar-benar kecanduan ucapan salam. Meskipun sebenarnya agak sedikit membingungkan sebab jumalah yang mengirim salam justru lebih banyak. ?basa-basi? adalah bentuk pembuka percakapan, kadang kala ia disebut sebagai pemarkah, dalam ilmu pragmatik ia disebut ?hedge? pemagar terutama dalam startegi kesopanan. Minimarket secara tidak langsung telah menggunakan metode ini, maka wajar saja pelanggan rela keluar masuk, meskipun ada yang memang murni hanya butuh ucapan ?selamat pagi?
?
*isi
?
Pada bagian dalam mini market, strategi yang digunakan misalnya pembagian kelompok, misalnya kelompok satu ?harga murah? kelompok dua ?beli banyak? kelompok tiga ?diskon?. Sebenarnya tanpa ilmu bahasa pun model-model persuasif dapat dilihat jelas. Terutama ?diskon? dan penggunaan kata ?murah? diskon dan murah. Jika ditinjau menggunakan analisis semiotika barthez, maka ?diskon? ataupun ?murah? dapat diterjemahkan, pertama, denotasi. ?Diskon? berarti potongan harga, dan ?murah? berarti harga yang lebih rendah? .Tulisan ?diskon? dan ?murah? disebut sebagai Ekspresi dan maknaya disebut sebagai Conten. Barthez kemudian menggunakan istilah pemahaman sekunder, yakni makna konotasi untuk analisis tingkat kedua. Ekspresi ?murah? dan ?diskon? kemudian diterjemahkan dalam konten yang beragam. Misalnya ?murah? berarti hemat, kelas menengah, dapat beli banyak, kupon, kualitas buruk dll. Dan ?diskon? diterjemahkan menjadi hemat, uang sisa banyak, maskrakat kelas manapun boleh membeli, boleh jadi ada kualitas baik dengan harga murah dll. Makna konotasi adalah makna yang disesuaikan dengan pemahaman pembaca. Sedangkan makna denotasi adalah makna yang disampaikan penutur atau penulis. Jika keduanya sejalan maka penulis (pihak mini market) berhasil menarik pelanggan.
?
*penutup
?
Penutup dalam wacana terutama pada iklan atau wacana yang berbentuk persuasif biasanya berupa penegasan atau ajakan. Penutup menjadi senjata utama hampir semua iklan. Misalnya, anda jomblo?, butuh kehangatan?, hubungi kami!. Hubungi kami adalah bagian penutup berupa tindakan Perlokusi. Kasir minmarket menggunakan hal serupa, dengan menggunakan kalimat ?silahkan datang kembali? kata silahakan digunakan hanya untuk mengurangi ?friksi? atau gesekan, brown dan levinson menyebutnya sebagai strategi posifif face. Sedangkan inti kalimatnya adalah kalimat imperatif atau perintah ?datang kembali?, sebelum sampai pada kalimat tersebut, biasanya kasir beranya perihal lainnya semisal ?itu saja? Ada yang lain??, atau ?kembaliannya sekian? semua itu adalah startegi berbahasa yang efektif. Poin utamanya adalah tarnsparansi pelayanan yang diwujudkan pada penggunaan bahasa. Yang perlu menjadi perhatian juga adalah penggunaan dialek formal. Seperti yang telah saya tuliskan pada tulisan sebelumnya dialek formal dapat dengan leluasa digunakan untuk mengajak.
?
Donasi. Tentu siapapun paham kata ini, pada American Corpus ?Donate? muncul ribuan frekuensi untuk kolokasi dengan kata ?money?. Donate yang merupakan asal donasi diartikan pada hal positif. Misalnya saja ia banyak tergabung dalam kalimat yang mengandung kata ?charity?. Donasi pada kepala orang-orang telah berkaitan erat dengan kata amal. Ini adalah pekerjaan ?mind set? seperti kenapa perempuan cantik tidak pernah ?kentut??. Karena mind ?kentut? berkontasi negatif, maka ?cantik? yang berkonotasi positif, tidak akan berterima dengan konteks negatif. Meskipun kebenarnanya semua manusia pasti mengeluarkan gas.
?
200 nya mau didonasikan? Ini adalah salah satu startegi yang sangat menarik, pihak minimarket menggunakan kata donasi, sebab kolokasi positifnya dengan amal. Sekaligus penggunaan stratgei ?odd pricing? yang mengharuskan setiap pelanggan memberikan donasi. Odd pricing yang dimaskud adalah harga ganjil, semisal, 998 rupiah, tapi beberapa minimarket tampaknya agak sedikit berlebihan dengan mengambil standar ganjil pada peredaran uang. Mislanya uang dengan jumlah terkecil 100 rupiah sangat sulit ditemukan, bahkan pada nominal 200 sekalipun. Alhasil ditentukanlah harga lebih 200 atau lebih 300, sehingga bagiamanpun hasilnya selalu ada donasi 200 atau 300 sebab nominal uang yang beredar untuk angka terendah adalah 500. Untuk menghilangkan donasi satu-satunya cara adalah membeli banyak untuk kelipatan 200 atau 300 yang mencapai nilai harga pas untuk kelipatan 500. Dengan kata lain mau tidak mau tetap menguntungang minimarket.
?
Alfamart misalnya menggunakan donasi untuk acara amal bekerja sama dengan beberapa organisaisi seperti PMI, Unicef, dll. Akan tetapi penggunaan kata donasi adalah magnet besar, terutama untuk pelanggan yang cuek dengan angka 200 atau 300. Ini kemudian mengakibatkan perilaku konsumtif yang berlebihan, yang menyebabkan kemiskinan kultural. Saya tidak mengatakan mengatakna bahwa bersedekah menyebabkan kemiskinan, tidak, saya hanya mengatakan bahwa nominal 200 dan 300 adalah jebakan. Pada akhirnya donasi yang dimaksud bukanlah donasi pada arti yang sebenarnya tapi lebih tepatnya iuran amal.
?
Terakhir, alfmart mengusung tagline ?belanja Puas, harga pas?. Sekilas tidak ada yang aneh, tapi jika kedua frasa ini dibalik menjadi, harga pas, belanja puas, maka tagline tidak akan sesuai dengan kenyataan. Pada faktanya harga di alfamart jauh berbeda dengan harga minimarket lainnya terutama pada ritel tradisional. Sehingga dengan mendahulukan belanja puas, mengikut harga pas, alfamart telah menyesuaikan philosofi penjualannya. Maka wajar saja metode ?odd pricing? tidak boleh diganggu gugat. Sebab bukan harga yang pas yang menyebabkan kepuasan belanja, melainkan belanja puas adalah hal lain, dan harga pas adalah hal yang lain.
?
Penggunaan bahasa yang efektif dan variatif oleh ritel moderen jauh membuktikan bahwa tradisonal minimarket jelas kalah bersaing, meskipun ini hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor yang mengunggulkan ritel moderen.
?
Catatan :
?
Jika anda bertanya mengapa saya lebih banyak menyebut alfamart dibanding Indomaret, maka inilah jawabannya
?
?suatu malam, pada pertengahan tidur saya yang lelap, saya bermimpi, orang-orang berperang satu sama lain, memilih mana yang terbaik, alfamart atau indomaret, tidak adalagi peperangan karena gereja dibakar, mesjid dihancurkan, tidak lagi Islam dituduh teroris atau kristen melakukan kristenisasi terstruktur, atau yahudi dengan illminatenya, tidak lagi amerika menjadi adikuasa, Kim jong un menutup negaranya, atau agresi putin ke negara lawannya, warga iran tidak bebas keluar masuk arab saudi. melainkan dunia secara terpusat hanya berperang pada dua pihak, indomaret dan alfamart, semua berjuang, karena ini persoalan ekonomi, tidak ada konflik fisik, baik pendukung alfamart atau pendukung indomaret, maka keseimbangan ekonomi antara permintaaan dan penawaran bertarung sengit tidak ada yang kalah tidak ada yang menang, hasilnya persoalan ekonomi dunia seperti mimpi Adam Smith tercapai ditangan alfamart dan indomaret?
?
Saya harus memilih indomaret, paling tidak mereka menjual ?indomie goreng besar rasa ayam bawang? seharga 3000 rupiah sedangkan alfamart memasang harga 3600 rupiah.
?
Image :?http://deepskystudios.com/wp-content/uploads/2015/05/S7_p9exterior-of-convenient-store22.jpg

  • view 330