Perangai Rindu

Alenia
Karya Alenia  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Februari 2016
Perangai Rindu

Semoga kamu membacanya hingga akhir, agar rindunya tersampaikan
Ia menitip salam padamu, entah apa maksudnya tapi ia bilang ?jika seandainya kamu harus memelihara kucing lagi, tolong, kukunya jangan kamu potong?
?
Baginya berkendara dengan sepeda motor pemberian ayahnya 5 tahun silam adalah tempatnya beruzlah, memerhatikan segala bentuk hubugan manusia, bagaiamana manusia bekerja menempatkan diri pada bagian mereka masing-masing bukan demi uang tetapi demi eksistensi manusia mereka. Maka acap kali ia menempuh ratusan kilometer jalanan tanpa alasan logis, ketika ia ditanyai, diceceri dengan pertanya untuk apa, ia punya satu jurus pamungkas, dan baginya siapapun tak bisa melawan, ?karena mau? katanya. Disana pada uzlah itu ia selalu hadir dengan pertnyaan-pertnyaan ?Mengapa?, akan beruntung rasanya jika ia akan berakhir pada kata ?ohh? tetapi akan sia-sia rasanya jika pertnyaannya belum terjawab sedang kendaraan harus ia hentikan karena ia sampai pada tujuan yang tak pernah ia gadang-gadang.
Termasuk perihal seseorang yang ia cintai, ia menyiapkan satu perjalanan khusus untuk menjawab jejearan pertnyaan mengapa yang membubuni ingin dijawab segera, mengapa ia harus blak-blak mencintai gadis itu, mengapa ia harus mengungkapkannya padahal selang dua hari saja ia kenali, dan tentu pertnyaan mengapanya yang paling besar, mengapa ia mencintai gadis tersebut.
?
Ia paham betul secara psikologis bagaimana mendapatkan hati wanita, menjadikan ia kekasihnya, sperti misalnya menciptakan rasa penasaran, menarik ulur layangan, semua itu ia baca pada sumber-sumber yang berseliweran, meskipun begitu dengan alasan tertentu ia tidak mau. Baginya ia mencintai gadis ini dengan sebetul-betulnya. Cinta bukan hal yang harus diupayakan, ia berdiri secara independen, seperti jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar. Bukan ia yang mencarinya, atau sbealiknya, tapi mereka dipertemukan, atau mungkin hanya ia saja yang dipertemukan. Tidak baginya, Dia. Atau seperti sambaran kilatan petir, culpo de fulmine, cinta datang tetiba. Dan ia harus siap. Atau seperti repsentasi lelaki perempuan pada bangsa sumeria, antara air tawar dan air garam, tidak dipertemukan tanpa tujuan.
?
Dulu ia pernah sekali merasakan hal yang sama, lalu ia mendahulukan perasaan, mengikuti tanpa dasar pemikiran yang bagus, akhirnya ia harus berkahir pada ujung yang sesenggukan. Ia benar telah mencintai seseorang, tapi caranya salah. Karena ia berusaha. Dari semua pertnyaan, mungkin pembahasan itulah yang selalu mengadem berjam-jam, ia merenunginya detail demi detail, susanan tingkatan pertanyaan ia susun sedemikian rupa dari apa siapa hingga mengapa. Dan akhirnya ia akan berakhir pada satu simpulan yang absurd. Ia takkan boleh jatuh pada lubang yang sama, dua kali.
?
Gadis itu yang kini ia cintai, selalu ia ibaratkan sebagai sebuah titik pada selembar kertas putih yang lebar, ia melihatnya sebagai satu hal yang menonjol, ia sadar betul bahwa gadis itu entah ada dimana, dibatsi tembok-tembok berlapis tapi ia tetap melihatnya pada satu titik tertentu. Jika kamu pernah jatuh cinta, kamu pasti tau, selama ia tetap di bumi, kamu menggapnya sebagai satu titik hitam pada kertas putih. Kamu tahu dia disana, dan cintamu yang meperlihatkannya. begitu yang selalu ia jelaskan pada dirinya sendiri untuk melepas rindu.
?
Kali ini ia tidak lagi boleh mencintai dengan salah, bahkan sekedar rindu pun ia rela, sedang setiap manusia tau betapa sulitnya merindui, seperti mengingat orang yang tak pernah ditemui. Sebab rindu hanya bisa dijawab dengan bertemu. Dan ia memtusukan hanya ingin merindui tidak lebih, baginya itulah cara mencintai dengan benar. Seringkali ia berfikir untuk menemuinya, memberinya sepaket bunga kesukaannya, atau memberikan anak kucing kecil yang lucu dengan pita-pita ungu. Ia selalu mau, ingin, dan akan, dengan frekuensi sangat, tapi ketiga modalitas itu harus berkahir pada satu modalitas negasi, ia tidak boleh. Akhirnya ketidakbolehnya itu menyisakan ia pada posisi merindui. Bahkan ketika gadis itu tetpat di hadapnnya, ia tetap merindukannya. Ia tahu itu membenani, tapi demi cinta ia rela.
?
Bumi keliahatan yang paling mengerti dirinya, bumi merindukan hujan, bau-bau tanah petichor yang muncul sebab kontraksi antra bulir-bulir air dengan spora yang dihasilkan abkteri auchomynotes tak tau kapan terjadi, tapi mungkin ia lebih akut, sebab ia merindui sesuatu yang nampak padanya. Sedang hujan, sebuah konsep penggambaran cinta sejati. Ia berputar mengeliling bumi, menaiki atmosfer, satu benda zat liquid yang mampu menghubungkan langit dan bumi, satu-satunya. Bulir-bulir hujan, tak siapapun menyangka ia mencintai tanah, dan menumbuhkan appapun diatasnya, ia melwati rintangan bertubi-tubi, merambat, menaglir, memasuki sistem pencernaan makhluk hidup berubah bentuk, sedang ia pernah berada diatas, ia berada disana dengan tenang dan senang, tapi ia kembali ke bumi karena cinta, air tak pernah habis, jumalanya konstan, baginya ia adalah represntasi cinta yang sempurna. Meskipun kini, ia sekarat karena bumi tak jua kedatang cintanya, padahal rindunya sudah dikerongkongan. Pun ia demikian, cintanya tak pernah berubah, sejak dari awal, ia tetap teramat, melainkan rindunya, yang semakin hari semakin naik hingga ke kerongkongan pula.
?
***
?
Itulah yang ia ucapkan padaku sejak pagi buta, ia berceloteh panjang lebar mengnai seorang gadis dengan senyuman manis, rasa-rasanya ia tak akan berhenti, sampai aku berjanji menyampaikan rindunya. Matanya berkaca-kaca, menggambarkan rindu yang sepertiganya telah ia lepaskan. Ada lega yang nampak, sekaligus ada cinta yang teramat. Aku tidak bisa apa-apa karena begitulah manusia, ia ditakdirkan mencintai dan merindui, manusia tidak membuat ikatan yang sederhana, manusia dibaptis dengan semua keruwetan yang mengikut, ia tidak sperti simpanse yang melepas ikatannya sekali. Bagi manusia, cinta adalah sesuatu yang melampaui waktu, ia merembes pada masa depan meski seharusnya ia dimasa lalu atau sebaliknya. Cinta datang sepaket, rindu datang sepaket, sebab apa yang tidak kesampaian akan berkahir pada kesendirian.
?
Ia menceritakan pertemuan pertama mereka dengan hidmat, aku betul-betul merasa terhanyut, tapi aku lebih senang dengan kisah pertemuan ketiganya, dia, gadis itu mengenakan pakaian dan jilbab hijau dengan jeans biru berikut dengan warna yang sama pada sepatunya, hanya tas yang dia kenakan luput dari ingatnnya sebab saat itu dia menggunakan tas pada bagian belakang. Tapi yang paling ia ingat adalah seperti biasa senyumnya, dia, berjalan disamping lelaki yang agak lebih muda darinya dan lebih tua dari gadis itu, mata mereka tak sengaja harus bertemu, dan yang membuatnya terhanyut adalah gadis itu tersenyum lalu tertunduk malu. Ia kemudian mengutipkanku sebuah syair dari shakespeare, ?when i saw you, i fell in love , and you smiled, because you knew?. Aku harus terdiam, dan menngguk, betapa indahnya jatuhnya cinta lirihku dalam hati.
?
Sudah hampir 5 bulan, ia selalu datang padaku sejak kali pertama ia mencintai gadis tersebut, ia selalu bertnya perihal mengapa ia bisa jatuh cinta, kami mencoba menghilangkan semua aspek-aspek mitos seperti angka kembar tiga yang ia temui setiap kali memikirkan gadis itu, sebaiknya kami mengedepankan analisis ilmiah, dimulai dari menigkatnya zat endorfin pada manusia, sebab diuadara ada sebuah atom yang kamis sebut atom cinta, yang keduanya saling tarik menarik dan kebetulan ia hadir pada saat mereka bertemu. Sekaligus kami menjelaskan mengapa kebanyakn pria memberi wanita sebuah cokelat, coklat mampu meningkatkan zat endrofin sekaligus memicu atomik positif dan negaitf yang menguatkan rasa ketertarikan. Atau persoalan psikologis, bahwa cinta pada pandangan pertama hanya sebuah efek psikologis yang kami sebut efek jangkar, yang kemudian secara berkelanjtan mengahsilkan bias kognisi, yang menyebabkan manusia menyukai hanya apa yang ingin mereka sukai.
?
Tapi itu tidak menjawab apa-apa, karena pertnyaannya terlalu abstrak, tidak ada data satupun yang bias di analisis menjadi abtsraksi. ia mencintai gadis ini, dan itu tiba-tiba, bagaimana mungkin sejak kali terkahir ia mencintai seseorang, beberpa tahun silam, mengapa mesti hari itu, padahal dihidupnya, ia dijuntai banyak gadis cantik dan baik, seringkali ia mendapatakn salam, atau setidaknya pemberian yang menyiratkan perasaan, tapi tak sekalipun menggugah hatinya, mengapa, baru kali ini. aku saja dibuat bingung olehnya, sayang aku berhutang budi, jadi aku harus menemaninya mencari jawaban.
?
Jadi aku harus menemaninya dengan kendaraanya kali ini, ditengah temaran lampu kota jalanan kami susuri, pertnyaan kami coba satu persatu, sayang, seberapa keraspun kami mencoba, usaha kami selalu gagal, nihil. Satu-satunya cara adalah dengan melupakan. Seperti pertemuan dipahami karena adanya perpisahan. Rindu dan cinta dipaahmi karena ada pelupaan.
?
Tapi aku yakin ia tak sanggup, Ia mencintai gadis itu dan yang lebih penting, ia merinduinya, dengan teramat. Dan memang seperti itulah perangai rindu
?
?
image :?http://olieve04.blog.com/files/2011/01/webjong_cartoon_girl_1141837_top.jpg

  • view 165