Mahasiswa dan semangat wirausaha

Alenia
Karya Alenia  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Oktober 2016
Mahasiswa dan semangat wirausaha

Saya kira anak muda sekarang (tidak semua) agak naïf dan jail, yang justru ber-pendidikan tapi jahil apalagi berbicara semangat “entrepreneurship” yang akhir-akhir ini terus disokong oleh pemerintah yang berdiri seperti cagak (penyokong).

Sayangnya “entrepreneurship” rasa-rasanya menjadi paradoks, alih-alih semisal pegadaian yang menyelesaikan masalah tanpa masalah, “entrepreneurship” nampaknya menghasilkan masalah baru. 2010 silam saat sedang gencar-gencarnya semangat berwirausaha ditanamkan pada pola fikir mahasiswa mengganti pola fikir lama. Pemerintah dan akademika khilaf pada acuan dasar undang-undang pendidikan. Saya harus kepros (objektif), sebab pemerintah dan siapapun itu yang meletakkan pola fikir wirausaha pada mahasiswa meskipun dengan niatan bagus keliahtannya salah menggunakan padika(metode) yang kemudian berakhir pada capaian yang kurang sangkir(efisien) atau malah menghasilkan masalah baru.

System pukul rata mahasiswa sangat keliru. Amanat UU Pendidikan tentang klasisfikasi Perguruan Tinggi hanya menjadi angan-angan belaka yang ditilik ketika berada pada pembicraan formal dan dilupakan pada praktek keseharian. Pendidikan dengan orientasi akademik seharusnya dipersiapkan pada pengembangan ilmu. Tidak lebih dan tidak kurang. Dengan mendobraknya pola fikir “wirausaha” yang terus bermain pada soal untung rugi, dan “cashflow” yang terus diusahakan untuk tidak Jombrot(bangkrut) yang kemudian mengantikan pola fikir riset dan pendidikan akhirnya menghasilkan Pendidikan akademik yang utopis.

Mahasiswa yang seharusnya belajar dan meneliti kemudian ditanami pola fikir “time is money”. Saya tidak tahu, tapi boleh jadi kurangnya budaya literasi dan diskusi serta hasrat belajar dan meneliti dipengaruhi oleh mindset wirausaha, paling tidak salah satunya.

Ambillah contoh sederhana, keputusan mahasiswa sarjana muda yang nekat membangun kursusan atau lembaga pendidikan. Jika berbicara soal bisnis saya kira gampang saja menghasilkan uang melihat peluang besar setiap tahun ajaran penerimaan mahasiswa baru untuk level enam kkni (strata 1), pelajar smu atau sederajat khususnya dari derah –yang masih belum terlalu melek pendidikan, yang rata-rata maksimal generasi pertama terdidik dalam keluarganya, membawa animo besar perihal berkuliah. Pebisnis muda hanya perlu bermain taktik jaminan lulus dengan biaya bimbingan selangit. Apalagi gengsi pendidikan di daerah masih memegang peranan penting. Jadi anggap saja Orang tua pelajar akan merelakan uang berapapun atas jaminan lulus. Tak ada rotan akar pun jadi, jika tidak kedokteran asal kampus “itu” saja tidak masalah. Disinilah Mindset wirausaha kemudian membentuk pola fikir anak muda, yang memang beda dan berbahaya-menurut band lokal-superman is dead-. Dan jaminan lulus itu hanya perosalan pilihan "passing grade", sang anak muda tahu, jaminan lulus selalu bermain pada pilihan dengan "passing grade" terendah, maka jangan heran jika ada satu lembaga pendidikan yang menerima siswa jaminan lulus kedokteran yang malah melebihi kuota satu kampus.

Apakah itu berpengaruh buruk?. Jelas, pendidikan alternative rintisan anak muda masih sangat labil dari visi misi pendidikan, apalagi yang telah membawa pola fikir wirausaha yang selalu mengacu pada cashflow perusahaan. Pola fikir ini kemudian selain akan memberntuk jurang pengetahuan antara pelajar menengah atas dan mahasiswa juga akan membentuk pola fikir baru sehingga tujuan pendidikan semakin kesini semakin menjadi cita-cita saja. Lulus Sma, kuliah, kerja, beristri, beranak, berucucu, mati kemudian akan terus melekat. Alhasil banyak pelajar yang hanya berorientasi ijazah dan pekerjaan. Padahal untuk pelajar yang mencapai level enam kkni diharapkan mampu menganalisa tapi kemudian penyerangan brutal pola fikir wirausaha yang tak pandang bulu akhirnya membentuk pelajar yang sekadar menjadi “operator”.

Pada tataran yang lebih jauh, saya harus curiga kementrian pendidikan tinggi selingkuh denga nawacita nya sendiiri terutama pada poin lima, “meningkatkan kualitas hidup Indonesia melalui kulaitas pendidikan dan pelatihan dengan program –indonesia pintar” jika tidak, mungkin saya yang salah menafsirkan.

Pemerintah malah merstui kurikulum pendidikan akademik yang kemudian dibawah kearah vokasional. Tarulah terakhir saya melawat ke kampus almamater yang saya temukan mengahpuskan dan mengganti beberapa matakulaih baru yang lebih kearah terapan. Saya agak heran sebab ada beberapa mata kuliah kemudian dihapuskan sedangkan jika merujuk pada level pendidikan selanjutnya mata kuliah tersebut adalah “core” atau dasar utama. Jadi biarlah saya menaruh rasa curiga pada pelaku pendidikan tinggi ini teruatama PT akademik yang ternyata menganut pola fikir “wirasuaha”.

Pada satu cermah dikatakan bahwa untuk mengahncurkan sebuah perdaban hancurkanlah tiga hal, tatanan keluarga, pendidikan dan pengaruh tokoh teladan. Jika betul arah pendidikan kita telah hancur dan dihancurkan oleh anak muda sendiri yang jail sekaligus jahil. Maka matilah kita. krena berwirausaha.

Waktu adalah uang tidak lagi penting, sebab uang hanya bisa membeli ijazah tidak pengetahuan dan pendidikan.
selamat hari sumpah pemuda!

 

image : http://1.bp.blogspot.com

  • view 288