BAHAS-(A)

Alenia
Karya Alenia  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Oktober 2016
BAHAS-(A)

Premisnya adalah setiap perubahan selalu membawa gelagat gejolak baik kecil maupun besar, yang lebay dan menjadi-jadi, dari perubahan tata negara misalnya, atau peralihan orde-orde dahulu, sampai pada perubahan status berpasangan menjadi sendiri. Ambilah contoh gejolak pemilihan gubernur DKI yang akhir akhir ini digiring pada ranah rasial atau kasus Awkarin yang ditinggal Gaga. Keduanya membuktikan premis tersebut. Bahwa perubahan dan gejolak adalah pasangan kekasih, bukan karena cocok, tapi karena seringnya kedua variabel tersebut muncul bersamaan. Maka bisa jadi benar bahwa yang dicintai akan kalah oleh yang selalu ada.

Tapi diantara riak-riak pembenaran itu ada satu perubahan besar yang diam-diam terus berubah semacam tulisan pada gapura-gapura markas TNI, “senyap, cepat dan tepat”. Yang terus berubah tapi bergejolak hanya dalam hati, semisal ungkapan Maudy Ayunda “Jakarta Ramai-Hatiku sepi”. Perubahan itu adalah perubahan bahasa. Saya serius bahasa diam-diam berubah, sampai-sampai saya harus menghukum diri saya sendiri karena tidak menemukan padanan yang tepat untuk kata “launching” (maaf tapi secara personal saya tidak suka peluncuran).

Bahasa diam-diam telah berubah, seperti pacar yang selingkuh dengan sahabatnya sendiri, baik karena kesengajaan-pengaruh politik atau karena ia berubah dengan sendirinya disesuaikan kebutuhan dan didukung oleh kearbitreran bahasa itu sendiri.

Taruhlah kata seronok yang dipahami berbeda penggunaanya dan pengertiannya dalam lema (entri) KBBI, para Munsyi (ahli bahasa) pun saling kelahi, bahwa paling tidak seronok masih bisa diselamatkan sedang disisi lain menyebut “seronok” dibiarkan saja mandiri –move-on- berangkat menjauh dari masa lalu lalu dibiarkan diapahami sebagai sesuatu “yang terbuka dan tidak sopan’’.

Biarpun bahasa terus berubah dengan sendirinya ia tetap berubah dengan “membabi buta” (biasanya babi yang buta itu cenderung lebih pendiam) dan perubahannya tidaklah kecil. Ambil saja contoh yang sempat dibahas oleh pemerhati bahasa Indonesia pada rubrik bahasa, perbedaan memenangkan dan memenangi, pada kalimat, “Spanyol (memenangkan/memenangi) pertandingan semalam”. Kelihatannya tidak ada persoalan, sedikit banyaknya makna yang dapat ditarik tetap sama, baik itu menggunakan imbuhan “me-kan” ataupun “me-i”. Tapi bagaimana jika kasusnya kata dasar “menang” diganti dengan “tidur”? tentu gejolak akan timbul sebab, “menidurkan” sangat berbeda dengan “meniduri”.

Saya tidak tahu, apakah memang bahasa seharusnya dibiarkan saja tetap diam-diam berubah, atau kini harus diangkat kepermukaan dan trus diberi cagak (penyangga). Kasus persidangan Antasari beberapa tahun silam jelas menujukkan bahwa bahasa mengambil peran besar,
atau kasus kalimat aktif dan pasif yang digunakan oleh calon gubernur DKI yang memicu konflik sara yang berujung gejolak besar, atau soalan Jessica (saya lebih suka dengan meme yang menyebut sebenarnya semua ini hanyalah acara surprise untuk Jessica yang sedang ulang tahun) dengan bahasa dan ekspresinya, atau bahasa para ahli yang dihadirkan persidangan, dan atau ujaran-ujaran Otto Hasibuan yang kini menjadi istilah baru, malah sekarang sianida bukan lagi perosalan mati, hukum, Mirna, Jessica, tapi Sianida justru smapai pada istilah (siap nikah sesudah wisuda) ,
atau istilah istilah yang telah melewati masa-masa pemiuhan (distorsi), semacam jatuh bangun dikejar bayangan mantan, seperti kata menodai, mengentaskan, penjaja seks pra-sejahtra sebagai terjemahan dari memperkosa, memberantas, pelacur dan miskin yang ternyata menurunkan kesadaran kolektif pengguna bahasa, yang secara tidak langsung mem-pra-sejahtera-kan masyarakat secara struktural. (maksud saya eufuimisme jelas-jelas memberi alternatif (pembenaran) bagi orang-orang yang depresi untuk tetap merasa nyaman dipanggil “pra-sejahtra” dibanding disebut “miskin”)

Tapi jika harus memilih bahasa akan diapakan baiknya, saya lebih suka mengamini istilah Hasif Amini : “hmm, anjing mengonggong, kucing mengeong, manusia mendehem”.

Atau jika harus mengamini orang lain, saya akan memilih Goenawan mohammad, pada paragrafnya : “Walhasil pepatah yang mengatakan “bahasa menunjukkan bangsa” kali ini bagi saya berarti bahasa Indonesia memang menunjukkan bangsa ini; manusia kepulauan yang merantau, berpindah, berniaga, membentuk kerajaan besar kecil yang tak pernah panjang umur, mendirikan kota tanpa tembok, menganut agama yang berbeda . . .Dengan kata lain, sebuah bangsa yang tak mengenal segregasi. sebuah bangsa yang menyukai gado gado. Itu saja membuat saya bersyukur kita masih punya bahasa ini”.

Catatan tambahan :

Dalam Islam, selama ini kita diminta “meneladani” nabi Muhammad SAW, tapi jika merunut ke kamus-kamus bahasa Indonesia “meneladani” berarti memberi teladan.

  • view 165